Seperti biasa setiap akhir bulan Fund Raiser dari salah satu Lembaga Sosial Keislaman datang ke kantor tempat saya bekerja untuk mengumpulkan Infaq rutin dari donatur.
Namun sore ini, petugas yang datang berbeda untuk itu saya meminta nomor HP dan saya menginformasikan untuk bulan Januari 2017 dan setelahnya, saya sudah tidak berada di kantor ini.
Mas Salman, ya petugas Fund Raiser tersebut tadi memperkenalkan diri, menanyakan hal yang sama, kemana saya akan pindah. Jawaban saya adalah saya insyaf dan taubat ingin lepas dari pekerjaan terkait riba’.
Mendengar jawaban tersebut, tanpa saya duga Mas Salman menyampaikan bahwa pengalamannya mirip dengan yang akan saya arungi, Hijrah. Lima tahun yang lalu Mas Salman mulai bekerja sebagai Cleaning Service di salah satu Bank BUMN. Karena kinerja baik, kemudian dipercaya untuk menduduki posisi Team Leader untuk General Affair dan Cleaning Service. Tentunya peningkatan remunerasi telah didapatkan.
Sewaktu pulang ke kampung halamannya, Mas Salman bertemu dengan Kyai di pondok pesantren menimba ilmu dulu. Satu Hal yang merubah hidupnya adalah wejangan dari Kyai tersebut adalah bahwa beberapa Imam Mazhab dalam Islam menyatakan bahwa bekerja di tempat yang terkait riba’ adalah haram sedangkan ada satu imam mahzab yang menyatakan apabila belum mengetahui bahwa tempat kerja terkait riba’ maka hukumnya boleh namun jika sudah mengetahui apabila terkait riba’ maka wajib ditinggalkan.
Karena Ilmu Agama mengenai Fiqh Muamalah saya belum dalam, menanggapi yang ditetapkan oleh Imam Mahzab menurut saya ujung2nya adalah tetap wajib ditinggalkan. Hal yang sama yang telah dilakukan oleh Mas Salman. Pada awalnya berat, karena setiap bulan Mas Salman menyisihkan Rp 500rb sd 1 juta untuk Orang Tua dan Saudaranya di kampung setiap bulan. Sempat terpikir olehnya bagaimana kedepannya. Namun niat Hijrah tetap dilaksanakan. Rekan kerja dan Karyawan serta Pimpinan Cabang di Bank BUMN menyayangkan keputusan tersebut. Mas Salman tetap tak goyah. Yakin Rizqi Allah telah disiapkan untuk Hamba-hambaNya yang berusaha.
Beberapa waktu setelah Hijrah. Mas Salman mendapatkan Rizqi diterima sebagai Cleaning Service di Lembaga Sosial Keislaman. Yang dirasakan saat ini sungguh jauh berbeda, merasakan ketenangan batin, pekerjaan yang tidak menimbulkan tekanan pikiran, kesempatan mengikuti kajian keislaman. Semua hal yang tidak dirasakan di pekerjaan sebelumnya.
Menarik lagi dari sisi pendapatan, sesuai pengakuan bahwa gaji yang diterima jauh lebih kecil dari pekerjaan sebelumnya.
Sebagai manusia yang kadang bisikan kecil di telinga apakah cukup untuk mengirim kepada Orang Tua. Namun rupanya karena niat yang kuat, tetap diupayakan untuk menyisihkan sebagian untuk dikirimkan kepada Orang Tua. SubhanaAllah.
Lambat laun nilai uang yang dikirim bertambah besar. Mas Salman mengaku sempat heran koq bisa. Padahal jika melihat gaji tentunya tidak akan cukup. Inilah Janji Allah SWT, jika HambaNya pandai bersyukur maka akan dilipatgandakan Rizqi untuknya. Sebelumnya Orang Tua sering sakit sehingga membutuhkan biaya perawatan inap namun sekarang hanya berobat jalan.
Rizqi Allah SWT tidak berhenti mengalir, melihat kesungguhan dalam bekerja maka Manajemen Lembaga mengangkat menjadi Fund Raiser. Di posisi ini penghasilan meningkat ditambah lagi fee pengantaran pesanan obat herbal yang dijual oleh Lembaga tersebut kepada konsumen.
Informasi yang menarik lagi Mas Salman memiliki rencana menikah sekitar 2 tahun lagi sambil menunggu Calon Istri selesai pendidikan di Pondok Pesantren. Telah diniatkan saat ini mulai disisihkan dana untuk persiapan berkeluarga. Dan indahnya lagi diniatkan tidak akan menggunakan hutang baik untuk biaya pernikahan, perayaan yang sederhana, sampai dengan untuk kehidupan berkeluarga.
Mas Salman berpesan kepada saya agar tetapkan dalam hati
1. Yakin akan Rizqi Allah SWT telah ditetapkan untuk Hamba-hambanya yang berusaha.
2. Selalu ingat untuk bersyukur atas segala Nikmat dan RizqiNya
3. Selalu berusaha maksimal menjemput Rizqi
Wassalamu’alaikum Wr Wb
By Ahdiat Brafiadi, MTR #13 Surabaya
WA MTR 0811113139
Dari Admin;
Alhamdulillaah.. Setelah berkomitmen, ALLAAH mudahkan Pak Hakim al-Ham lepas dari jerat utang dan riba. Silakan saksikan dan bagikan kisahnya pada video di bawah ini ya ??
Oleh: Baba Ali
(http://alimargosim.blogspot.co.id)
Suatu ketika si Udin bertanya, “Ustadz, kenapa ya setiap kali orang china buka usaha, usahanya relatif sukses, cepat besar dan maju?”
Si Ustadz terdiam, kemudian menjawab dengan raut wajah sedih, “Akhi, mereka lebih ikhwah daripada kita.”
“Afwan ustadz, maksudnya apa ya?” Celetuk si Udin dengan raut muka bingung.
Pelan-pelan, Si Ustadz berusaha menjelaskannya dengan runtut.
Saudaraku, setiap pekan kita bertemu dalam majelis yang bernama halaqah. Setiap pekan kita membahas bab-bab ilmu. Setiap pekan kita memutaba’ah amalan-amalan da’awi kita. Kesemuanya itu dalam rangka menjaga dan memperkuat ukhuwah. Namun rupanya, itu semua masih belum cukup. Kita masih kalah ikhwah dengan mereka. Mungkin bab Al-Wala’ wal Bara’ perlu dijadikan kajian wajib setiap pekannya sebelum membahas yang lainnya. Atau mungkin kita perlu liqo’, utsar, setiap malam agar bisa menandingi mereka dalam hal ukhuwah.
Tahun 2005, saya berkenalan dengan saudagar asal Padang di Jakarta. Saya diundang ke rumahnya, kami pun bertukar pikiran. Satu hal yang saya catat, Beliau bilang, “Orang china di sini (di Jakarta), saling tolong menolong.
Sekitar tahun 2006, saya sering silaturahmi ke tempat Etek (bibi) di Indramayu. Para pedagang asal Padang beberapa kali bilang ke saya, “Orang china di sini persatuannya sangat kuat. Prinsip kekeluargaannya sangat bagus.”
Tahun 2008, tanggal 19-21 desember, saya mengikuti seminar bisnisnya Tung Desem Waringin (chinese) di Hotel JCC, Jakarta. Peserta yang hadir saat itu tidak kurang dari 7.000 orang. Kehadiran saya saat itu tidak semata-mata karena ilmu yang akan disampaikan , tetapi juga untuk mengobati rasa penasaran saya selama ini. Apa betul orang china itu lebih ikhwah daripada kita.
Ternyata, apa yang saya lihat semakin menguatkan omongan banyak orang selama ini. Hampir 75% peserta yang hadir adalah orang china. Tua, muda, dan bahkan anak-anaknya juga dilibatkan. Menariknya lagi, mereka tak obahnya seperti tim supporter sepak bola. Dimana-mana training yang saya ikuti, pembicaranya yang bersemangat. Namun saat itu, saya susah membedakan, ini yang lebih bersemangat pembicaranya atau pesertanya. Saya sempat berpikir, mungkin mereka yang 5200-an orang ini adalah teman-teman liqo’an Pak Tung.
Lanjut. Kami yang 25% (pribumi) terbawa suasana. Mereka teriak, kami pun jadi ikut-ikutan teriak. Mereka tepuk tangan keras, kami pun ikut-ikutan sampai telapak tangan kami memerah.
Saat pertengahan dan diakhir sesi selalu diselingi dengan penawaran-penawaran produk. Semua produk yang ditawarkan labelnya china semua. Buku-buku yang penulisnya Koh-Koh, baju, cendramata, seminar dan training dengan pembicaranya juga para Koh-Koh. Dan, semuanya laku keras.
Sepulang dari training tersebut, saya menyimpulkan bahwa mereka sudah khatam QS. 3:103, QS. 49:10 dan 13, QS. 5:2, QS. 8:72. Saya kira tidak berlebihan, bahwa mereka lebih memahami ayat-ayat tersebut daripada kita. Mereka telah berhasil membangun pasar anshar. Mereka lebih memahami makna ukhuwah dalam tatanan sosial.
8 tahun telah berlalu. Keberadaan 9 Naga, polemik Ahok dan drama yang diperankan Harry Tanoe, membuat saya tidak mampu mengubah kesimpulan saya diatas.
Seorang dosen penguji yang adil, sudah pasti meluluskan disertasi mereka tentang Al-Wala’ wal Bara’ dengan nilai mumtaz. Tentu dalam cakupan keyakinan mereka. Bagaimana dengan kita ikhwah? Sudahkah kita pantas lulus dalam bab Al-Wala’ wal Bara’? Sudahkah kita loyal pada saudara kita sendiri?
Kita masih sering membanggakan orang lain daripada saudara kita sendiri. Kita sering memberikan pemakluman atas keburukan orang lain, dan tidak bisa memaklumi saudara kita sendiri. Kita masih cenderung memilih produk orang lain, sementara dalam waktu yang sama saudara kita juga menjualnya.
Ada seorang penulis buku yang dibully habis-habisan oleh pembacanya. Saat utsar, teman-temannya pada bilang, “Kami jadi penasaran, apa isinya buku antum.” Sang penulis balik bertanya, “Owh, antum baru pulang dari planet mars ya?”
Kita kalah jauh dengan mereka. Hari ketiga ba’da launching buku Financial Revolution Pak Tung, langsung terjual 10.000 eksemplar. Begitupula halnya dengan buku-buku Andre Wongso, sepekan pertama ribuan eksemplar langsung habis terjual. Apa rahasianya? Marketingnya bagus? Nggak juga. Promosinya bagus? Masih banyak yang lain yang lebih bagus. Jaringannya bagus? IYA. HAMPIR SEMUA ORANG CHINA BELI BUKUNYA PAK TUNG, BELI BUKUNYA ANDRE WONGSO. Mereka memiliki jaringan komando yang kuat, tertata dengan baik. Ini rahasianya!
Sekiranya Pak Tung jualan daster, maka hampir semua ibu-ibu bermata sipit beli dasternya. Jikalau Pak Andre Wongso jualan bakmie, maka dipastikan hampir semua orang china beli bakmienya.
Lanjut. Para bos yang punya perusahaan mewajibkan karyawannya beli buku pak Tung, bukunya Andre Wongso. Semua karyawannya diwajibkan ikut seminar dan pelatihan Pak Tung dan Pak Andre. Mereka persilahkan Radio, Televisi, dan surat kabar, serta majalah yang mereka miliki untuk mengorbitkan Pak Tung dan Pak Andre.
Inilah ukhuwah. Itulah Al-Wala’ terhadap saudara seiman. Bagaimana dengan kita?
Mari kita belanja di warung saudara sendiri. Sukseskan usaha saudara kita sendiri. Tatkala usaha saudara-saudara kita berkembang, dan maju, maka insyaAllah akan bermanfaat bagi dakwah ini. Dakwah ini membutuhkan dana besar. Dan, dana besar itu kantongnya dibangun dari usaha-usaha yang maju.
Di tangan ikhwah, uang yang kita belanjakan itu insyaallah berkah—bernilai ibadah. Sebab, digunakan untuk kebaikan dan dakwah itu sendiri. Sementara di tangan orang-orang yang membenci agama ini, uang-uang yang kita belanjakan akan dimanfaatkan untuk menodai aqidah kita sendiri. Lihat QS 2:120
Bahwa dengan semakin banyaknya warga yang menghuni Kampoeng SyaREA World (KSW), maka tidak bisa dipungkiri akan terjadi interaksi yang lebih intensif dari sekedar berdialog di halaman WhatApps atau Telegram atau Line.
Dari perkenalan di KSW, lalu ada ketertarikan, dilanjutkan dengan japrian, kemudian berlanjut ke diskusi dan bahkan pertemuan tatap muka. Apalagi rajin hadir pada pertemuan tatap muka KSW.
Maka sangat mungkin akan ada penawaran-penawaran tertentu dari dan antar warga. Baik sekedar penawaran jual beli barang dan jasa, maupun penawaran kerjasama pada usaha atau proyek tertentu.
Oleh karena itu, dengan ini kami menyatakan bahwa, warga yang bertransaksi telah memahami sepenuhnya atas kemungkinan adanya resiko-resiko dari kerjasama tersebut. Masing-masing pihak membebaskan team, MTR dan admin Kampoeng SyaREA World (KSW) dari tuntutan tanggung jawab atas kemungkinan terjadinya resiko tersebut di kemudian hari.
Segala resiko yang bisa saja terjadi di kemudian hari itu, menjadi tanggung jawab sepenuhnya masing-masing pihak yang bertransaksi. Transaksi atau kerjasama yang terjadi tidak ada hubungannya dengan aktivitas team, MTR dan admin Kampoeng SyaREA World.
Warga Kampoeng SyaREA World (KSW) yang dirahmati ALLAAH..
Saya mengingatkan diri dan kita semua agar Waspada terhadap kemungkinan terjadinya PREMATEUR PARTNERSHIP. Yaitu ketika Anda “merasa” cocok, merasa peluang bagus, sehingga Anda termotivasi bekerjasama (bersbisnis) bersama rekan Anda, baik kawan lama, rekan satu komunitas, tetangga sebelah rumah, satu alumni atau lainnya tanpa lebih dahulu menyamakan visi, misi dan budaya kerja, serta pengambilan keputusan dan hal-hal detail laInnyayang mungkin terjadi di kemudian hari.
PREMATEUR PARTNERSHIP sering terjadi pada dua pihak atau lebih yang merasa “satu frekuensi” atau “satu visi” karena telah berkumpul pada komunitas/grup yang sama, telah mengikuti pelatihan bisnis yang sama atau telah sama-sama memenangkan ajang kontes bisnis yang sama, bahkan telah ditokohkan sebagai pengusaha sukses yang sama. Kemudian mereka melakukan interasksi yang lebih intensif.
Karena interkasi yang intensif tersebut, masing-masing pihak mulai merasa cocok untuk bekerja sama untuk memadukan potensi dan kelebihan masing-masing. Tergiur oleh sesuatu yang tampak, sehingga lupa memperhatikan sesuatu yang tidak tampak atau sengaja tidak ditampakkan.
Jika “terpaksa” dan sudah tidak bisa ditahan lagi untuk bekerja sama, kunjungilah rumahnya, temui keluarga (besar)nya, ajaklah jalan-jalan bersama, pelajari hal-hal yang tidak ditampakkan dari calon mitra Anda.
Lakukan due diligent. Surveylah lokasi usahanya. Berdiamlah dengan tenang di sana. Amati perilaku yang terjadi di sana.
Pelajari, baik secara terang-terangan maupun diam-diam, seperti apa track record calon mitra Anda. Terutama dalam hal-hal penting berikut ini;
1. Pengalaman bekerjasama dengan pihak lain
2. Kemampuan menjaga uang
3. Kemampuan mengelola uang
4. Kemampuan membangun team
5. Kemampuan membangun sistem
6. Pencatatan transaksi
7. Pelaporan transaksi
Ingat! Bersikap tenang dan netrallah terhadap sesuatu yang diceritakan dengan semangat oleh calon mitra Anda. Sangat penting bagi Anda untuk mengetahui bagaimana sahabat Anda itu mengambil keputusan. Dan bagaimana pola fikir, pola sikap dan pola tindaknya terhadap kehidupan, keluarga, bisnis uang, spiritual dan aspek-aspek kehidupan lainnya.
Sekali lagi Latih kemampuan Anda untuk memahami sesuatu yang tidak ditampakkan. Apa sebetulnya yang mendorong sahabat Anda itu mengajak kerjasama dengan Anda? Tanyakan pada diri Anda:
a. Mengapa dia mengajak kerjasama?
b. Mengapa dia tidak melakukannya sendiri?
c. Mengapa saya yang diajaknya kerjasama?
d. Apakah ia juga mengajak yang lain?
Sekali lagi.. jangan tergiur pada sesuatu yang tampak! Pekalah terhadap sesuatu yang tidak tampak atau tidak ditampakkan!
JIka Anda masih “ngebet” untuk menerima tawarannya, sudah tak tahan untuk bekerjasama, silakan mulailah dari yang sangat kecil nominal uangnya. Nominal yang Anda sanggup atau rela kehilangan tanpa memikirkannya kembali. Rela ketika suatu ketika terjadi hal-hal yang tidak Anda inginkan.
Lalu renungkan beberapa waktu sebelum Anda mengambil keputusan. Bertanyalah kepada sebanyak mungkin orang yang Anda duga kuat mengenal orang yang mengajak Anda bermitra. Mintalah bantuan “orang luar” untuk membantu Anda mengambil keputusan.
Dan Sholat Istikharahlah. Mintalah petunjuk ALLAAH SWT untuk selalu membimbing kita semua dalam mengambil keputusan. Kemudian, catat atau tulis atau aqadkan kerjsama Anda tadi dengan prinsip-prinsip mu’aamalah syariah. Al-ilmu qobla ‘amal.
Masih ingat prinsip MONEY FOLLOWS TRACK RECORDS kan?
Lebih baik Anda bersahabat baik dalam kehidupan dari pada sakit hati akibat PREMATUER PARTNERSHIP!
Btw, Anda yang mau kerjasama, sudah faham tentang SYIRKAH belum ya? Sudah faham rukun dan syarat kerja sama (syirkah) dalam Islam belum ya?
Semoga ALLAAH SWT senantiasa memudahkan segara urusan dan kepentingan kita semua. Aamien yaa ALLAAH..
Demikian pernyataan DISCLAIMER ini kami sampaikan, atas perhatian dan pengertiannya, kami ucapkan terima kasih.
Wassalaamu ‘alaykum wrwb.
Samsul Arifin SBC
Founder SyaREA World, Syariah Business Coaching
WA KSW: 0811-113-139
Sea. Laut. Lautan. Sejak membayangkan mempunyai seorang anak, sejak itu saya ingin menamai anak perempuan saya laut dan anak laki-laki saya langit. Laut yang menampung segala. Laut yang berombak dan terus bergerak. Langit yang luas dan tinggi. Gagah perkasa mengayomi. Tapi tidak terealisasi pada dua anak saya sebelumnya karena ada pertimbangan lain.
Syarea. SyaREA (Syariah Real Estate Alliance). Kampoeng SyaREA World. Cikal bakal Kampoeng Masyarakat Tanpa Riba. Sebuah wadah tempat saya berproses selama 8 bulan ini. Tepat setelah shock theraphy 2 strip merah di testpack yang diberikan bidan sebelah rumah.
Shock theraphy. Karena saat itu saya masih punya 2 balita, tanggungan pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga dan perjuangan panjang memulihkan kembali keadaan ekonomi keluarga yang porak poranda pasca suami resign dari pekerjaannya sebagai Sales Executive di PT. Astra International Daihatsu Sales Operation karena bersinggungan dengan riba. Terlebih, kenyataan harus menghadapi sectio caesaria ditengah kesulitan ekonomi dan pemahaman baru akan haramnya asuransi, termasuk BPJS.
Perjuangan kami untuk terbebas riba saat itu masih sangat berat karena kurang ilmu dan iman. Sampai gusti Alloh mempertemukan saya dengan AHA RBS, dengan Pak Arya yang akhirnya ‘menjebloskan’ saya pada Seminar CCKU Pengusaha Tanpa Riba di Jember.
Disitulah kali pertama saya bertemu Ustadz Samsul Arifin, founder KSW dan K-MTR. Ketika beliau memperkenalkan diri, memperkenalkan KSW, saya langsung jatuh hati pada kata SyaREA. Sembari mendengarkan paparan materi dan mencatatnya, saya menemukan sebuah nama untuk anak dalam kandungan saya. Sea Syarea. Lautan syariah, demikian saya mengartikannya.
Seminar sehari itu mampu mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan. Ketika kesadaran akan bahaya riba juga menyadarkan banyak hal tentang hubungan vertikal saya dengan gusti Alloh yang ternyata tidak baik-baik saja. Keimanan saya ternyata masih tipis dan ketakwaan saya perlu dipertanyakan.
Dengan support dan doa dari teman-teman MTR, membaca tulisan yang berisi pengalaman-pengalaman dari warga yang lain, membaca buku-buku rekomendasi dimana semuanya memerintahkan untuk mendekat sedekat-dekatnya kepada Alloh membuat saya bangkit dan bersemangat menjalani masa kehamilan sambil merawat 2 balita dan bekerja. Memupuk keyakinan saya pada gusti Alloh bahwa Ia Maha SegalaNya. Membuat saya berani berjuang lebih dan lebih untuk melepaskan satu persatu jeratan riba yang berkelindan dalam kehidupan saya. Terlebih, nama Sea Syarea seolah menjadi simbol pengingat bahwa saya harus terus fight dijalan ini, sesulit apapun keadaannya. Yap, karena terlepas dan melepaskan diri dari jeratan riba di zaman ini bukanlah hal mudah.
Berkali-kali saya ada dalam titik kritis, namun dengan keyakinan, berkali-kali pula tangan-tangan tak terlihatNya menyelamatkan saya. Termasuk episode kelahiran Sea Syarea dihari bersejarah umat Islam Indonesia, 212. Bahwa akhirnya, dalam keterbatasan, saya bisa melahirkannya tanpa BPJS sehingga benar-benar bisa menamainya Sea Syarea. Alhamdulillah.
Keyakinan. Tak berbentuk, tapi mampu mendatangkan energi dan kekuatan yang sangat besar dan tak terduga. Yang terkadang tak mampu dinalar dan mematahkan logika. Sebagaimana aksi 212.
By Rully, MTR #11 Banyuwangi
WA MTR 0811113139
NB: Terimakasih buat semua yang dibalik layar. Sebagai ibu, saya harus memupuk keyakinan bahwa Sea dan anak2 saya yang lain menjadi anak sholih sholihah, pejuang agama Alloh yang tangguh dan mempunyai nasib yang lebih baik daripada kedua orangtuanya.
By Admin:
Silakan saksikan dan bagikan video menarik tentang Pebisnis Tanpa Riba di bawah ini ya.. ??
Bangsa ini terasa seperti dalam mabuk laut karena diayun gelombang. Pusing dan mual berujung muntah membuat gaduh seluruh penumpang. Walaupun yang mengalami kondisi seperti itu tidak semua penghuni kapal namun yang mencemaskan, mabuk pelayaran itu bukan hanya menimpa penumpang kapal tapi juga menimpa banyak awak kapal bahkan juru mesin dan pengawal kapal pun terjungkal.
Kehebohan dan kegaduhan hiruk pikuk terdengar di setiap sudut.
Malangnya lagi, sang nahkoda pun tak menyadari kondisi karena ikutan-ikutan atau barangkali dia lah yang telah mabuk duluan.
Apakah arah kapal akan menabrak karang atau karam dilamun gelombang, sepertinya tidak banyak yang menyadari karena teriakan dan peringatan petunjuk keselamatan kalah bersaing dengan racauan mereka yang dalam separuh kesadaran.
Lebih dari itu semua, ada yang sangat menyedihkan yaitu kompas yang menjadi petunjuk arah, begitu pula peta yang menjadi pedoman pelayaran, minta diganti dan diperbaiki oleh mereka yang kehilangan pedoman fikiran dan peta keseimbangan bathin karena gejolak badai yang memutarbalikkan timbangan fikiran.
Tamsilan di atas menurut penulis adalah gambaran yang lebih mendekati ketika terbaca isyarat seorang pemegang amanah yang ingin mengawasi fatwa MUI dengan menempatkan aparat keamanan. Kalau mau berkoordinasi, kenapa bukan kemenag saja ? Atau memang sengaja untuk menunjukkan ketidak kompakan anggota tubuh penguasa ?!
Kalau sang pemegang amanah menyadari bahwa kompas bagus dan peta akurat mesti dirusak karena tidak faham atau munculnya keinginan berbelok tujuan dari awal, berarti dia sedang mengarahkan kapal ini untuk membentur karang atau tenggelam dalam palung samudera yang sangat dalam.
Jadi, melahirkan fatwa ulama yang telah dilaksanakan oleh MUI selama berpuluh tahun adalah kompas teruji akurasinya bahkan lengkap dengan peta pelaksanaannya yang sudah terbentang untuk diikuti. Namun sayang, ketidak fahaman awak kapal atau keengganan nakhoda karena ingin berputar haluan, telah membuat kedua panduan pelayaran itu menjadi objek kebencian.
Wahai para penguasa ! Sadarilah bahwa kapal ini telah berlayar tanpa panduan.
Bukan kompas dan peta pelayaran yang keliru tapi cara memandang tuan-tuan yang tidak benar karena melihatnya dengan cara terbalik baik lahir maupun bathin.
Fahamilah !
Fatwa MUI merupakan wujud dari peran negara yang menjamin umat Islam bisa menjalankan agamanya sesuai dengan tuntunan Syari’atnya. Itu juga merupakan implementasi dari sila pertama Pancasila.
Dalam Koridor inilah MUI mengelola umat Islam selama ini. Bingkai negara kesatuan telah menjadi sesuatu yang final dalam pandangan MUI. Pertimbangan komitmen kebangsaan tersebut telah menjadi bagian yang menjadi pertimbangan dalam melahirkan fatwa sesuai dengan porsi yang ada dalam proses instinbath (penyimpulan) hukum syari’at Islam.
Konsep mashlahah (pertimbangan kemashlatan menurut syari’at) dan al-‘uruf (tradisi baik yang berlaku) cukup memberi ruang bagi kondisi kebangsaan dan kekinian. Apalagi analisa maqashid (maksud penetapan hukum syara’), merupakan ruang yang cukup untuk mempertimbangkan bahkan memprediksikan berbagai dampak fatwa yang dikeluarkan.
Jadi tinjauan berbagai perspektif yang para penguasa minta, jauh sebelum negara ini lahir telah diamalkan oleh ulama dalam melakukan kajian terhadap berbagai persoalan yang akan difatwakan tapi tentu perspektif yang dimaksud bukanlah “perspektif selera” yang bila diikuti, hanya akan menjauhkan dari petunjuk Rasulullah saw dan menjauhkan dari berkumpul dengan beliau di surga kelak sebagaimana sabda Rasulullah saw:
سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ وَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ
“Akan ada sepeninggalku nanti sejumlah pemimpin. Siapa saja yang masuk menemui mereka, lalu dia membenarkan kedustaan mereka, dan membantu mereka dalam kezhaliman mereka maka dia bukan bagian dariku, aku juga bukan bagian darinya, dan dia tidak akan menemuiku di telaga surga. Siapa saja yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam kezhaliman mereka maka dia adalah bagian dari diriku, aku juga bagian darinya, dan dia akan datang menemuiku di telaga surga. (HR. al-Tirmidzi)
Dan perlu juga tuan-tuan ingat bahwa seluruh penggunaan dalil yang telah tersistematis dalam manhaj al-istinbath (metoda penyimpulan hukum syara’) itu, tidak akan keluar apalagi bertentangan dengan dua sumber utama hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.
Kalau dalam ilmu hukum, tuan-tuan sering menyebut “supremasi hukum” maka para ulama empat belas abad yang lalu telah mempraktekkan siyadat al-nushush (سيادة النصوص/supremasi teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah)
Bila yang diinginkan oleh penguasa adalah pengawasan terhadap fatwa sehingga fatwa bisa keluar sesuai dengan pesanan, sangat tidak mungkin dan sangat tidak pantas dilakukan di negara berketuhanan seperti Indonesia ini.
Ulama manapun yang masih berpegang dengan keimanan dan keilmuannya, akan menolak cara-cara yang tuan inginkan. Mereka akan memilih lebih mengutamakan ketakutan kepada Allah swt dibandingkan kepada penguasa seperti tuan-tuan karena mereka membaca firman Allah swt:
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan keridhaan dari Allah terbesar. itu adalah keberuntungan yang sangat agung. (QS At-Taubah : 72)
juga firman Allah swt:
{يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِن تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ} [التوبة : 96]
“Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu”. (QS. al-Taubah 9:96)
berikutnya firman Allah swt:
…وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ ۖ …
“… dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti…”. (QS. al-Ahzab 33:37)
dan firman Allah swt:
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ
“Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, Padahal Allah dan Rasul-Nya Itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin”. (QS At-Taubah 9:62)
Semua ayat-ayat itu memberikan peringatan keras bahwa ridha Allah swt adalah tujuan utama yang harus dicapai dalam setiap sikap para ulama bahkan seluruh umat Islam.
Malahan dalam ayat itu ada peringatan agar jangan sampai ketakutan kepada manusia dan keinginan untuk mendapatkan ridha mereka, bisa mengalahkan ketakutan kepada Allah swt dan keinginan mencari ridha-Nya.
Di samping itu, peringatan hadits Rasulullah saw berikut ini, juga menjadi teguran yang menakutkan bila mereka mengikuti langkah dan keinginan tuan-tuan.
ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناسَ
“Siapa yang mencari keridhaan manusia dengan menimbulkan amarah Allah maka Allah akan marah kepadanya dan menjadikan manusia juga marah kepadanya” (HR. Ibnu Hibban)
Ketakutan kepada Allah swt itu lah yang mendorong para ulama memberikan persyaratan berat kepada siapa saja yang menempati posisi pemberi fatwa (mufti) di tengah umat.
Bukan hanya syarat keilmuan tapi juga syarat personal yang membuat para ulama pemberi fatwa itu akan berjalan lurus dalam fatwa mereka.
Al-Imam Ibnu Qayyim dalam kitab “I’lam al-Muwaqqi’in” menukilkan dari Imam Ibnu Batthah lima persyaratan yang dikemukan oleh Imam Ahmad Ibn Hanbal yang di antaranya termaktub:
أن يكون قويّاً على ما هو فيه وعلى معرفته
“Hendaklah mufti itu kokoh pendirian dan pengetahuannya”
Al-Imam al-Nawawi dalam kitab beliau “Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti” menukilkan dari Imam Abu ‘Amru Ibn al-Shalah:
ينبغي أن يكون كالراوي في أنه لا يؤثر فيه قرابة و عداوة و جر نفع و دفع ضر لأن المفتي في حكم مخبر عن الشرع بما لا اختصاص له بشخص فكان كالراوي و الشاهد
“Sepantasnya mufti itu seperti seorang perawi (hadits) dalam hal dia tidak terpengaruh oleh kekerabatan, permusuhan, meraih manfaat dan menolak kemudharatan karena sesungguhnya mufti itu dalam posisi penyampai berita syara’ yang tidak ada pengistimewaan terhadap seseorang sebagaimana sikap seorang perawi dan saksi”.
Dengan segala pegangan dalil dan persyaratan seorang mufti yang telah dijelaskan di atas, maka intervensi penguasa terhadap fatwa MUI, menurut saya sudah merupakan pernyataan yang menunjukkan tiadanya penghormatan terhadap lembaga keulamaan umat Islam.
Bila ini dipaksakan maka jelaslah sudah bahwa ulama dengan penguasa di negeri ini, sudah berada dalam posisi saling berhadapan bukan lagi dalam satu barisan. Ini semua tentu tidak kita inginkan bersama !
Kalau saya salah faham dengan arah pernyataan (marma al-kalam) penguasa dan bukan seperti itu yang dimaksudnya, sebaiknya sesegera mungkin diklarifikasi agar kesalahfahaman ini tidak berlarut-larut.
Namun sampai saat tulisan ini saya rangkai kata demi kata, saya masih tetap berkesimpulan bahwa penguasa kita sudah bagaikan petuah masyarakat Minang:
“Kupiah nan sampik, kapalo nan batarah”
(Kopiah yang sempit, kepala yang ditarah/dikikis).
Terakhir, terkait dengan sikap saudara-saudara kaum muslimin yang bereaksi menyikapi fatwa larangan penggunaan atribut non Islam oleh kaum muslimin, saya melihat itu adalah akibat kelalaian dalam menyikapi aspirasi selama ini yang diperparah dengan keberaadan penguasa dalam timbangan toleransi yang tak proporsional.
Ini lah pangkal bala permasalahan bukan ketiadaan rasa kebhinnekaan di dalam diri umat Islam. Untuk itu, sejarah dan fakta kekinian telah cukup menjadi jawaban.
Karena itu, saran saya kepada penguasa negeri ini, “ambillah fatwa itu ! Walaupun ia terkadang terasa pahit namun ia adalah obat yang akan membawa kesehatan dan mengembalikan kesadaran”.
Ke depan, biarkanlah fatwa berperan pada fungsinya dalam merawat keimanan dan ketaqwaan umat mayoritas ini agar bertahan berkah dan rahmat Allah swt yang termaktub dalam pembukaan UUD 45.
Bila tuan-tuan tidak memahami atau terlambat memahami, bukannya fatwa yang harus diawasi tapi latihlah diri untuk bertanya agar berilmu untuk mengawal diri.
Bukankah Rasulullah saw berpesan:
…فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعَيِّ السُّؤَالُ
“…maka sesungguhnya obat ketidaktahuan itu adalah bertanya”. (HR. Abu Daud dari Jabir ra)
Assalaamu alaykum wrwb.
Warga yang dimuliakan ALLAAH SWT..
Beberapa hari belakangan ini muncul ajakan untuk mengembangkan ekonomi Ummat pasca 212. Kendati ajakan itu sangat positif, namun sebaiknya Warga tetap berifkir jernih sehingga tidak larut pada euforia “kemenangan” (pakai tanda kutip). Secara emotional ikut-ikutan “mendukung” tanpa pengetahuan memadai kegiatan pengumpulan dana yang digalang pihak-pihak tertentu.
Sudahkah Anda bertanya, bagaimana konsep syirkah yang dijalankan oleh mereka yang mengajak ummat menginvestasikan uangnya? Sudahkah Anda bertanya banyak hal dan mendapatkan jawaban yang tepat, memuaskan akal dan menentramkan jiwa?
Semoga Warga masih ingat tulisan saya sebelumnya berjudul “STARTING RIGHT FROM THE BEGINNING”. Jika ada warga yang menyimpan tulisan itu, mohon share di sini ya.
Selain itu, mohon warga juga perhatikan “PERNYATAAN DISCLAIMER” yang secara periodik kami posting di sini. Silakan jika ada Warga yang mau memposting ulang pernyataan disclaimer tersebut.
Saya mohon ijin dulu, beberapa hari ke depan mau fokus ke kegiatan khusus yang sedang saya jalani sejak 17 Desember yang lalu. Insyaa ALLAAH akhir 2016 atau awal 2017 ada respon tentang M212M.
Sebagai bahan pertimbangan sementara, dibawah ini saya share tulisan Mas Dwi, Advocate di MTR #09 Surabaya;
????
Sebelum tidur.
Tulisan ini lanjutan dari tulisan saya tentang himbauan berhati2 bersyirkah atau apapun yg kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat.
Tindak Pidana Yang Berkaitan Dengan Perizinan
Tindak pidana ini disebut juga dengan tindak pidana bank gelap. Pasal 46 ayat (1) menyebutkan, bahwa barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurang-kurangnya 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak 200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah).
Ketentuan ayat (2) menyebutkan, bahwa dalam hal kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas, perserikatan, yayasan atau koperasi, maka penuntutan terhadap badan-badan dimaksud dilakukan baik terhadap mereka yang memberi perintah melakukan perbuatan itu atau yang bertindakadedidikirawan sebagai pimpinan dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya. Pasal ini satu-satunya pasal dalam UU Perbankan yang mengenakan ancaman hukuman terhadap korporasi dengan menuntut mereka yang memberi perintah atau pimpinannya.
Terima Kasih
Dwi, MTR #09 Surabaya
WA MTR 0811113139.
Di bawah ini ada tulisan penuh inspirasi dari Mas Tamyiz Sukses, Warga KSW #20 Jawa Timur.
Namun sebelum membaca tulisan Mas Tamyiz, silakan saksikan dan bagikan video kisah Pak Hero & keluarga yang telah berhasil lepas dari jerat utang dan riba ini dulu ya..
SEMUA BISA SUKSES
Tiba-tiba teringat ketika masih menjadi kuli batu (bangunan), beberapa tahun silam, tepatnya di Kertajaya Indah blok O Surabaya, perumahan Sinar Galaxy.
Hanya karena keinginan yg tinggi untuk bisa masuk sekolah SMK seperti anak-anak sebaya lainnya, yg memang bisa sekolah dengan beaya dari orang tuanya.
Iya begitu mahalnya sekolah pada waktu itu, terlebih bagi anak miskin seperti saya ini, yang merantau dari pinggiran desa terpencil, Bojonegoro, dimana desa saya selalu langganan banjir bengawan Solo, belum ada penerangan listrik dan jalannya masih jembrot, belum di aspal, apalagi paving, seperti desa-desa modern.
Sehingga bocah pinggiran kampung terpencil tadi, nekat merantau, ke kota besar Surabaya, walaupun dengan resiku, harus ngemper di samping gudang untuk berteduh, mencari sampah di Keputih Sukolilo, dan menjadi kuli batu untuk mempertahankan hidup, itu saya kerjakan dengan penuh suka cita dan gembira.
Bahkan makan hanya dengan lauk sambal dan sayur kangkung setiap hari, (kangkungnya mencari di sawah sebelah), kadang sarapan hanya dengan ubi rebus (itu kalau ada), atau nasi aking (karak atau nasi bekas yg di keringkan) itu sudah sangat menyenangkan kala itu.
Tidak pernah bermimpi makan dengan lauk tempe, sayur padang atau makan daging, itu hanya mimpi untuk orang-orang gedongan.
Makan dengan lauk ikan asin pun selama lebih 3 tahun, saya belum pernah merasakannya ketika masih sekolah SMK dulu, bahkan tidak jarang makan hanya dengan sambal tanpa sayur, hanya dengan garam saja.
Tapi nikmatnya luar biasa, karena hanya 1 harapanku, yakni bisa sekolah sampai tamat, seperti orang-orang gedongan sana, harapku.
Tekadku, sekolah sampai lulus tanpa meminta-minta, dan dengan jerih payah sendiri, kendati baju sekolah harus beli di pasar loak gembong, dekat pasar krampung, Surabaya, sepeda angin juga mencari yang bekas, di daerah pasar gembong juga.
Kendatipun putihnya baju bekas, tidak seputih baju seragam milik teman-teman sekolah saya, namun semangat dan tekad saya tidak mau kalah.
Iya, dengan pakaian bekas, sepeda angin bekas, ku kayuh sampai sekolah setiap hari.
Namun, aral melintang tak bisa di tolak, sepeda yg menyemangatiku pergi ke sekolah, di pinjam teman dan di hilangkan.
Duuh gustiiiiii ??
Umur 14 tahun sudah harus berpikir keras, bagaimana bisa bertahan dengan keadaan dan kondisi yang ada.
Ternyata, sepeda hilang itu bukan satu-satunya cobaan yang saya alami, masih bertubi-tubi rintangan dan cobaan yang menimpaku.
Cobaan anak urban yg dulu sekolahnya tidak pernah pakai sepatu, bertelanjang kaki, buku 1 untuk beberapa mata pelajaran, dan ketika pulang sekolah, buku sekolah di masukkan dalam baju, juga sebagai penggajal perut yang kelaparan, disamping karena memang tidak punya tas sekolah.
Akan tetapi Allah SWT memang Maha Pemurah, kuli batu dan pencari sampah tadi kini telah beranjak dewasa, telah bisa menjadi Developer/pengembang Perumahan, Kontraktor dan beberapa bisnis yang lain.
Maka jangan berkecil hati para pencari sampah dan buruh kasar, Anda juga berhak untuk kaya, sukses layaknya orang-orang sukses lainnya.
Entah kenapa pagi ini saya teringat dengan Dosen saya yang mengajar mata kuliah “Agama Islam” 11 tahun silam.
Izin sharing ya..??
Siang itu disebuah Universitas Negeri diPalembang tempat saya menimba ilmu, masih melekat dalam ingatan saya kala itu saya tergesa gesa memasuki ruangan kuliah.
Mata kuliah Agama Islam…
Ya…Agama yang kita cintai…
Seperti biasa saya mencari tempat duduk yg paling depan namun hanya dpt dibarisan ke 2.(Allhamdullillah canggih masih inget)?
Ternyata hari itu adalah hari ujian dadakan sodara sodara…???
Berbekal ingatan seadanya sewaktu kuliah ya “show must go on…”
Ujian pun dimulai…
Baca soalnya waduh ????…
Satu kelas pun memprotes..
gemuruh suara kasak kusuk dari yang mencontek dan yg “ngepek” sdh kayak pasar…namun dosennya hanya diam saja…
Tak beberapa lama saya hanya mengerjakan yang saya tau saja sisanya saya biarkan kosong melompong..
Setelah itu segera saya kumpulkan lembar jawaban yang sedikit sekali goresan tintanya tersebut..
Dan alhasil berikut percakapan saya dengan sang Dosen tsb.
Dosen : kenapa masih banyak yang belum terjawab sudah dikumpulkan?,waktu masih sangat panjang…
Mahasiswa : hanya ini yang saya tau pak, mohon maaf atas kebodohan dan kelalaian saya yang kurang belajar.
Dosen : tersenyum dan hanya mengangguk.?
Tibalah hari dimana nilai terbit daaaan “A”, lembar jawaban pun dibagikan dan anehnya lembar saya masih dalam keadaan banyak bersihnya daripada goresan tintanya namun jelas nilai tertinggi yang diberikan.
Dalam keheranan saya mencoba mencari dan berkomunikasi dengan dosen saya.
Saya : Maaf pak sepertinya ini ada yang salah (sambil nenunjukkan lembar jawaban)
Dosen : (sambil memeriksa) oh tidak ada yang salah. Sudah benar. Itu kebijakan saya untuk kejujuran saudara. Terima Kasih
Kejadian itu mengubah sudut pandang saya terhadap nilai nilai yang sekarang hanya kita pandang lewat fisiknya saja yg sering kali kita lupa bahwa ada nilai nilai yg jauh lebih mulia dari nilai yg terlihat.
Akhlak…
Semoga kita disini merupakan orang2 yang sama dari yang terlihat maupun tak terlihat dan selalu memperbaiki keimanan dan ketaqwaan kita terhadap Allah SWT.
Semoga Allah SWT selalu melindungi dan meridhoi dosen saya tsb.
Tak lupa semoga saya bisa memantaskan diri untuk mengejar hutang saya,hutang nilai “A”…
Nb: mayoritas yg jawabannya bener tapi hasil cheat “D”
By Admin;
Lengkapi semangat pagi Anda dengan menyaksikan dan membagikan video inspiratif dari Pak Sholikun yang telah ALLAAH mudahkan untuk melepaskan diri dari jerat utang & riba di bawah ini.
??????
Waktu telah berjalan 3 hari sejak anak pertama kami mendapatkan perawatan di Rumah Sakit karena Radang Usus Buntu.
Sejak Pagi ada beberapa Rekan Kerja yang menghubungi saya melalui telepon selular. Terdapat kesamaan pertanyaan yang disampaikan kepada saya, “Apakah benar mengajukan Resign, Ada apa, Pindah ke mana?”. Tentunya jawaban yang saya sampaikan sama kepada yang bertanya sejak 2 bulan terakhir. “Saya hijrah insyaAllah secara Kaffah. Bukan pindah kerja. Saya insyaf dan taubat dari segala yang berkaitan dengan Praktek Riba’.
Respon yang saya dapatkan juga hampir serupa diantaranya menyatakan kaget, tidak menduga, menyayangkan dan penasaran.
Namun di luar dugaan saya dan sedikit takjub. Hampir semua rekan saya menyatakan sebenarnya dalam hati mereka juga ada keinginan untuk hijrah. Beragam alasan yang membelenggu sehingga memberatkan langkah untuk menuju Jalan yang telah ditentukan Allah SWT. Beberapa Hal yang menjadi pemberat langkah diantaranya,
1. Ragu akan Rizqi Allah (jika tidak bekerja di Bank maka Nafkah akan hilang. Apalagi jika telah menduduki jabatan relatif tinggi)
2. Memiliki Beban Hutang (sebagian besar bentuk KPR n KPM dan KK)
3. Takut Status Sosial menjadi hilang (semula karyawan Bank menjadi bukan karyawan bank)
4. Tidak mendapatkan dukungan dari Pasangan, Keluarga Inti, Orang Tua, Mertua, Keluarga Besar.
Memang pergulatan batin yang dihadapi Rekan2 saya cukup berat. Saya pun mengalami juga sebelumnya. Saya mencoba memberikan beberapa hal untuk menjawab kegelisahan rekan2 saya.
1. JANGAN PERNAH RAGU AKAN RIZQI ALLAH SWT. Sesungguh jika ragu makan sudah sangat dekat dan bahkan masuk ranah Kekafiran. Rizqi dapat dianalogikan sebagai Energi. Tidak akan hilang. Hanya berubah bentuk, berpindah tempat. Karena itu yang benar adalah Menjemput Rizqi karena Rizqi itu pasti ada bukan hilang yang harus dicari. Sebagai contoh Para Sahabat Rasulullah yang kategori Milyarder pada jaman itu tanpa pikir panjang siap mengikuti Hijrah tanpa memikirkan hartanya. Dan terbukti di seberang sana, rizqi itu datang kembali. Penjelasan dalam Al Quran,
1. Rizki berupa Kebutuhan Dasar Makhluk Hidup dijamin oleh Allah SWT
“Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yg bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rizqinya.”(QS. Hud : 6).
2. Rizqi diperoleh sesuai dengan apa yang diusahakan oleh Manusia.
“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS. An-Najm : 39).
3. Rizqi akan ditambah bagi Manusia yang pandai bersyukur
“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)
4. Rizqi datang dari arah yang tidak disangka-sangka bagi Manusia yang bertaqwa dan bertawaqqal kepada Allah SWT.
“…. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawaqqal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.Ath-Thalaq : 2-3)
Wajib selalu diingat bahwa Rizqi tidak hanya berupa materi atau kekayaan. Kadang kita lupa Rizqi dalam bentuk seperti Kesempatan, Kesehatan, Keharmonisan Keluarga, Kemudahan Urusan dsb.
2. HUTANG WAJIB DIBAYAR TAPI JANGAN MEMBAYAR RIBA. Kewajiban harus dipenuhi karena hutang dapat menghambat kita masuk Syurga.
Hadits Rasulullah SAW
“Nasib seorang mukmin tergantung pada hutangnya sampai ia melunasinya.” ( HR. Ahmad dan Tirmidzi )
Agar segera lepas beban
IKHLASKAN ASET yang kita miliki dilepas untuk segera menutup Hutang. InsyaAllah langkah semakin ringan dalam berhijrah jika tidak ada Tanggungan Hutang.
Fokus selanjutnya adalah memacu kreatifitas bidang usaha atau keahlian yang akan kita kembangkan untuk menjemput Rizqi Allah SWT
3. STATUS SOSIAL TIDAK ADA ARTINYA DIBANDINGKAN RIDLO ALLAH SWT. Kita hidup hanya singgah. Kehidupan Akhirat itu Kekal. Logika manusia terpelajar yang mengaku beriman tentu dapat membandingkan mana yang harus dipilih. Jangan mengorbankan yang Kekal demi yang Sementara.
Allah SWT berfirman,
“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu…” ( QS. Al Hujurat : 13 )
4. MOHON KEPADA ALLAH SWT AGAR DILEMBUTKAN DAN DIBERIKAN HIDAYAH. Allah SWT adalah Maha Pembolak balik Hati. InsyaAllah lingkungan yang tadi menolak akhirnya dapat mendukung. Sebagai contoh Umar Bin Khattab sebelumnya adalah musuh Islam paling keras namun dengan mudahnya menjadi Pembela Islam yang Paling Militan. Tidak perlu sakit hati atau benci. Tetap hormati dan doakan semoga Allah SWT memberikan Hidayah. Sampaikan Kebenaran Al Quran dan Hadist serta ajaran-Nya.
Untuk itu Kita jalankan sunnah Rasulullah dengan memperbanyak berdoa
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Pengalaman yang unik juga saya alami, ketika ada yang bertanya perlukan kita Sholat Istikharah untuk memutuskan Hijrah ini. Dengan senyum saya sampaikan Apakah Seorang Pencuri perlu Sholat Istikharah untuk meminta bantuan Allah SWT dalam memutuskan melaksanakan niat mencuri sebuah rumah atau tidak. Sama halnya dengan Riba’ yang sudah jelas hukumnya Haram ?
jika sudah terdapat kegalauan dan keragu-raguan akan sebuah hal atas Halal dan Haramnya (mengikuti fatwa yang berbeda di antara ahli fiqh) maka hukum yang berlaku adalah Tinggalkan karena apa yang menjadi Keraguan adalah lebih baik kita tinggalkan.
Rasulullah SAW dalam Haditsnya,
“Barangsiapa yang menjaga diri dari syubuhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya ( HR. Bukhari )
Dari diskusi bersama beberapa Rekan tersebut ada 1 orang rekan yang menyatakan ingin bersilaturrahim sekaligus menjenguk anak kami di Rumah Sakit sore itu juga. Saya dengan senang hati menunggu kehadiran Rekan Saya tersebut.
Setelah sholat Isya’, Rekan Saya datang bersama Istri dan Anaknya menjenguk. Pada akhir silaturrahim yang tidak saya duga adalah. Rekan saya menyatakan terima kasih bahwa telah diberikan informasi mengenai Riba dan malam itu juga Rekan Saya berAzzam untuk mengajukan pengunduran diri agar dapat Hijrah secara Kaffah.
Kami berpelukan tak terasa air mata menetes.
SubhanaAllah, Indahnya telah Engkau turunkan Hidayah bagi Hamba-Mu.
Engkau berikan kesempatan kepada Kami untuk kembali ke Jalan Yang Lurus.
Engkau berikan kesempatan kepada Kami untuk memulai Hidup yang Lebih Barokah.
Engkau berikan kesempatan di sisa usia Kami untuk Insyaf dan Taubat dimana Sisa Nafas masih belum sampai tenggorokan.
Engkau berikan kesempatan kepada Kami untuk mengajak Saudara Muslim lainnya untuk untuk terus Istiqomah Menjalankan Perintah dan Menjauhi Larangan-Mu
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Allahu Akbar
?
Wassalamu’alaikum Wr WB
Dari Ahdiat Brafiadi, MTR #13 Surabaya
WA MTR 0811113139
By Arief Demang, KSW #01 Leaders
WA KSW 0811113139
Ada yg menarik diantara keduanya, yaitu sebuah statement yang diambil secara tergesa gesa. Yang sudah sering bareng ustadz Samsul Arifin tentu sudah tidak asing dengan yg namanya ITM alias Ideal Target Market.
Sebuah kasus, ada sebuah produk, dibeli dan diminta utk diantarkan ke area 212 dan diberi label “gratis”
Dan pihak produsen sepertinya terganggu, dan segera membuat statement, yg dimana salah satu isinya berbunyi “menempelkan tulisan gratis tanpa pengetahuan dan perizinan dari pihak produsen”
Pertanyaannya adalah, dengan hadirnya produk tsb. Di 212 merupakan sebuah dampak akan turunnya market share dari produk perusahaan tsb?
Bukankah bila sebuah produk dipromosikan, metode sampling sebagai langkah yg cukup efektif dalam hal membidik dan bahkan menciptakan ITM? Status produknya sold, tanpa biaya advertisement, dan produknya berstatus sampling pula, brand awareness nya dapet….. hebat bukan?
Namun ternyata pihak management perusahaan tidak menganggapnya demikian.
Malah dengan secara tergesa gesa mengambil langkah membuat suatu pernyataan yg akhirnya jadi blunder….banyak yg menyatakan tidak akan lagi membeli produknya.
Membangun sebuah brand awareness itu tidak gampang. Brand adalah cerminan EMOTIONAL BENEFIT yg dianut konsumen dan produk roti ini sudah lumayan dalam.
Begitu ada pernyataan “blunder” dari pihak produsen ttg keberadaan produknya di 212, maka EMOTIONAL BENEFIT yg ada di benak konsumen menjadi rusak. Mau dibilang konsumen bodoh kek, mau dibilang emosional kek, ya memang itulah realitanya dari attitude konsumen.
Pada dasarnya, keputusan membeli ya karena pembeli impulsif. Level emosi yg dominan mengambil keputusan apakah jadi membeli suatu produk atau tidak. Kaidah ini yg berlaku dalam dunia marketing.
Celakanya, entitas bisnisnya tumbuh dinegara yg mayoritasnya muslim. Pernyataannya tsb. malah dianggap sebagai salah satu bentuk ketidak sukaan akan adanya aksi 212.
Sepertinya ada sebuah “pride & policy” intern produsen roti tsb yg harus dikedepankan tanpa mengindahkan lagi apa itu ITM, apa itu brand awareness……. bolehkah hal ini terjadi? Pada kenyataannya yg terjadi sekarang, anjloknya market share adalah dugaan yg paling kuat.
Langkah BRAND RECOVERY sepertinya harus segera dilaksanakan, dan itu tidak mudah dan murah. Yang untung itu justru PR Agency yg ditunjuk utk melaksanakan Brand Recovery nya…..
Ah, semoga hal seperti ini jangan sampai terjadi pada entitas bisnis yg dimiliki oleh warga KSW.