PRODUK vs BRAND 212

0
454

By Arief Demang, KSW #01 Leaders
WA KSW 0811113139

Ada yg menarik diantara keduanya, yaitu sebuah statement yang diambil secara tergesa gesa. Yang sudah sering bareng ustadz Samsul Arifin tentu sudah tidak asing dengan yg namanya ITM alias Ideal Target Market.

Sebuah kasus, ada sebuah produk, dibeli dan diminta utk diantarkan ke area 212 dan diberi label “gratis”

Dan pihak produsen sepertinya terganggu, dan segera membuat statement, yg dimana salah satu isinya berbunyi “menempelkan tulisan gratis tanpa pengetahuan dan perizinan dari pihak produsen”

Pertanyaannya adalah, dengan hadirnya produk tsb. Di 212 merupakan sebuah dampak akan turunnya market share dari produk perusahaan tsb?

Bukankah bila sebuah produk dipromosikan, metode sampling sebagai langkah yg cukup efektif dalam hal membidik dan bahkan menciptakan ITM? Status produknya sold, tanpa biaya advertisement, dan produknya berstatus sampling pula, brand awareness nya dapet….. hebat bukan?

Namun ternyata pihak management perusahaan tidak menganggapnya demikian.
Malah dengan secara tergesa gesa mengambil langkah membuat suatu pernyataan yg akhirnya jadi blunder….banyak yg menyatakan tidak akan lagi membeli produknya.

Membangun sebuah brand awareness itu tidak gampang. Brand adalah cerminan EMOTIONAL BENEFIT yg dianut konsumen dan produk roti ini sudah lumayan dalam.

Begitu ada pernyataan “blunder” dari pihak produsen ttg keberadaan produknya di 212, maka EMOTIONAL BENEFIT yg ada di benak konsumen menjadi rusak. Mau dibilang konsumen bodoh kek, mau dibilang emosional kek, ya memang itulah realitanya dari attitude konsumen.

Pada dasarnya, keputusan membeli ya karena pembeli impulsif. Level emosi yg dominan mengambil keputusan apakah jadi membeli suatu produk atau tidak. Kaidah ini yg berlaku dalam dunia marketing.

Celakanya, entitas bisnisnya tumbuh dinegara yg mayoritasnya muslim. Pernyataannya tsb. malah dianggap sebagai salah satu bentuk ketidak sukaan akan adanya aksi 212.

Sepertinya ada sebuah “pride & policy” intern produsen roti tsb yg harus dikedepankan tanpa mengindahkan lagi apa itu ITM, apa itu brand awareness……. bolehkah hal ini terjadi? Pada kenyataannya yg terjadi sekarang, anjloknya market share adalah dugaan yg paling kuat.

Langkah BRAND RECOVERY sepertinya harus segera dilaksanakan, dan itu tidak mudah dan murah. Yang untung itu justru PR Agency yg ditunjuk utk melaksanakan Brand Recovery nya…..

Ah, semoga hal seperti ini jangan sampai terjadi pada entitas bisnis yg dimiliki oleh warga KSW.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here