Saturday, January 24, 2026
Home Blog Page 36

Bosan Aku dengan Penat dan Enyah saja Kau Pekat

0

Ada Apa Dengan Cinta?

©MY230619

Engkau bisa membodohi, merayu, menipu, agar rakyat percaya apa yang kau ucapkan. Tapi tidak pada kami. Saat ini, esok, lusa atau nanti. Cukup…!!!

Orang yang tidak tahu beda antara nyinyir dan kritis itu ibarat tidak bisa membedakan antara subuh dan petang. Sama-sama agak gelap, tetapi beda jauh. Satu menuju terang dan satunya menuju gelap. Dalam keadaan gelap, orang mudah tersesat atau disesatkan.

Nyinyir adalah kata yang dipake oleh pemuja kekuasaan untuk menyerang kritikan pada junjungannya. Sama seperti narasi cingkrang, wahabi atau HTI. Tujuannya satu jika tidak bisa ‘digelapkan’ jadikan ‘abu-abu’.

Universitas Harvard, Amerika Serikat, mengabadikan sebuah ayat Alquran di gerbang masuk Fakultas Hukum. Ayat yang diukirkan sebagai bentuk penghormatan itu diambil dari surat Annisa ayat 135.

Coba bayangkan jika ayat tersebut ditulis di gerbang pintu masuk sekolah negeri di Jakarta, maka sekolah terpapar radikalisme, mabuk agama, anti kebhinekaan sampai anti pancasila dengan liar dinarasikan media.

Itu juga yang tertulis di gedung MK dan dibacakan oleh Lawyer 02 pada saat penutupan Sidang Sengketa PILPRES. Akankah pembacaan itu memperkuat stigma Anda bahwa mereka terindikasi dan terpapar radikalisme?

Ataukah mungkin ‘Pasukan JIN dan JIL Nusantara’ dari Jakarta, USA, hingga Australia beramai-ramai bahu membahu dalam semangat menggebu-gebu membantah dan menyerang sesama muslim lain hanya demi mendapatkan ‘label kebodohan’ atas nama moderat, toleran, atau humanis?

Keterangan saksi Khairul Anas, yang merupakan Caleg PBB menyatakan dalam pelatihan saksi TKN 01, narasumber seperti Hasto dan Ganjar Pranowo menyampaikan agar saksi mengidentikkan lawan sebagai kelompok radikal atau Islam garis keras.

Orang dibuat tidak bisa lagi membedakan mana KECURANGAN & KEBENARAN. Lebih jauh lagi, memaksa rakyat menerima kecurangan sebagai realita dan keniscayaan. Inilah puncak dari kejahiliyahan berfikir yang telah diperlihatkan dengan nyata. Anda mau ikutan…?

Lihatlah yang didapatkan dari ungkapan di MK dalam Training of Trainer (TOT), pelatihan untuk pelatih tentang berdemokrasi. “…Kecurangan adalah bagian dalam demokrasi…”. Kecurangan fakta dalam demokrasi, demokrasi dalam curang, curang adalah demokrasi…?

Lihat bagaimana umat dengan mudahnya ‘dibohongi berkali-kali’ lewat demokrasi imitasi ini?

Sidang MK berlangsung dari subuh ke subuh, tapi tidak terdengar hakim, pengacara, atau saksi  yang mati kelelahan? Beda dengan pemilu kemarin, ratusan KPPS tewas. Dan katanya faktor kelelahan, Anda percaya?

Sekarang kalian ingin bicara rekonsiliasi? Bukankah stempel legalisasi kemenangan di MK akan kau dapatkan? Itukan aturan formal demokrasi sesembahanmu? Lalu mengapa rekosiliasi masih diperlukan? Hmm… demokrasi tivu-tivu.

Jadi ingat Cinta & Rangga: “Kenapa tidak kau pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh?”

Ingat !!! Aku tidak akan lari ke hutan atau nyantai ke pantai lagi sampai umat terbebas dari dustamu.

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

Paranoid karena Utang

0

©kangHikmat MTRJogja

Selalu ada kejutan dalam tatap muka dengan warga Masyarakat Tanpa Riba (MTR). Terutama ketika  kami saling berbagi pengalaman hidup, khususnya seputar dampak buruk dari utang dan penyelesaiannya.

Namun di situ pula kita bisa menemukan hikmah luar biasa untuk menjadi pembelajaran.  Bukankah Allah sudah berfirman dalam QS. Al Baqarah : 269 yang bunyinya, “Barang siapa yang diberikan hikmah, maka dia sudah diberikan kebaikan yang amat banyak”

Salah satu tabiat buruk utang adalah membayar kepastian dengan ketidakpastian.  Sebuah risiko yang membuat sesak siapa saja yang mengalaminya. Termasuk sahabat kami sendiri. Begini ceritanya.

Awal ketika mengambil kredit modal dari aBank, sudah terbayang profit dari project yang akan diperoleh. Namun apa daya, Allah punya kehendak lain. Untung enggak, buntung iya, stresslah jadinya!

Karena tidak bisa membayar KEPASTIAN, si abank pun mulai intens kontak. Dan saking khawatirnya modal mereka hilang, si abank pun menugaskan staffnya untuk ngantor di kantor sahabat kami itu. Betul, ngantor betulan, tanpa  “…..”.    Bahkan kemanapun sahabat kami itu pergi,  staff aBank selalu mengikutinya. Sampai-sampai istri sahabat kami itu risih dengan kelakuan orang si aBank.

Merasa privasinya sudah terinjak-injak dan TERHINAKAN,  sahabat kami akhirnya memutuskan kost meninggalkan anak dan istri untuk bersembunyi dari si aBank. Bayangkan, pengusaha dengan proyek puluhan miliar, yang rumahnya sangat nyaman, harus tinggal di rumah kost yang sederhana.

Wang sinawang, kendati  rumahnya terlihat bagus, namun hidupnya penuh tekanan dan amat tidak tenang. Ia menjadi orang yang mudah curiga, paranoid kepada siapapun yang datang.

Di tempat kost, ia tidak pernah berani membuka pintu, apalagi keluar kamar. Bahkan pintu kost pun diberi lubang untuk mengintip sesiapapun yang datang. Setiap ada mobil atau motor berhenti depan kost, hatinya berdegup kencang.  Yang terbayang selalu adalah utusan si Abank.

Untuk keperluan makan, ia tidak berani keluar. Kadang istrinya yang mengantar, kadang karyawannya. Hidupunya dilanda kebingungan dan ketakutan luar biasa. Uang yang mestinya bisa membahagiakan, berbalik menyiksanya. Na’udzu billah min dzaalik.

Untunglah Allah menunjukkan kasih sayangNya.  Di tengah tekanan yang demikian berat itu, ia mendapatkan video MTR media sosial. Hal itu terjadi tepat pada hari ke tujuh dalam persembunyiannya dari kejaran si abank.  

Dan hari itu juga, ia langsung memiliki keberanian untuk menghadap si abank. Ya, hanya dengan melihat video MTR saja, belum ikut event SMHTR dan lain lainnya. Keberanian itu muncul begitu saja.

Sadar belum punya ilmu untuk menghadapi si abank, maka semua info tentang MTR dicarinya melalui pegiat MTR JOGJA, Pak Iswandi.  Ia sadar berhadapan dengan si abank akan berbahaya, jika salah dalam tindakan. Tanpa pikir panjang, sahabat kami itu langsung ikut SMHTR, lanjut PBTR.

Dan Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari 2 bulan,  utang Rp20 milyar kini tinggal tersisa Rp0.5 milyar saja!!

“Sekarang saya yang mengejar-ngejar si Abank dan pak le(asing), bersahabat dengan si Deci…he..he..” katanya sambil senyum bahagia.

Kalau Anda tak ingin happy ending dengan urusan utang, jangan bergabung dengan  MTR, tak usah ikut tatap muka MTR, jangan ikuti event-event MTR!

29 Ramadhan 1440 / 02 Juni 2019

Pejalan dan Perjalanan Taubat (dari Riba)

0

©SulistyoB

Kesuksesan sejati adalah sukses di atas segala sukses,  yang nilainya tak bisa dinilai oleh kesuksesan itu sendiri.

Kesuksesan  perjalanan menuju Allah akan mencapai finishnya setelah sampai di jannah yang istimewa.  Kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang tak pernah dilihat mata,  belum pernah didengar telinga dan belum terdetik dalam hati manusia. Itulah ”perniagaan” yang Allah sediakan bagi siapapun yang berani membayar harganya.

Nabi bersabda

 الا ان سلعة الله غا لية، الا ان سلعت الله الجنة

 “Ketahuilah bahwa perniagaan Allah itu mahal,  ketahuilah bahwa perniagaan Allah itu adalah jannah. ” ( HR Tirmidzi,  al-Albani mengatakan shahih)

 Tak ada hasil istimewa yang ditempuh dengan cara berleha-leha. Tak ada cita-cita besar melainkan harus diraih setelah melewati berbagai rintangan,  menaklukan tantangan. 

Begitupun perjalanan menuju Allah. Sebuah perjalanan pamungkas,  dan satu-satunya perjalanan yang akan diridhoi oleh Sang Kholiq. Perjalanan yang dilalui oleh para anbiya walmursalin.

Di dalam perjalanan ini, rintangan senantiasa  terpampang di hadapan.  Ganguan dan godaan bertebaran sepanjang jalan.  Dan musuh cita-cita selalu mengintai dan menjegal para pejalan.

Maka,  para penempuh jalan Allah harus memiliki kepekaan dan kewaspadaan terhadap segala rintangan perjalananan. Atau yang diistilahkan dengan ‘Hadzar’, waspada.

***

Rintangan dan musuh perjalanan tak selalu muncul dari luar.  Musuh berbahaya dan yang pertama layak diwaspadai justru ada pada diri manusia sendiri,  yakni nafsu.  Karena keinginan nafsu umumnya berkebalikan dengan cita-cita mulia. 

Nafsu ingin berleha leha,  sedangkan cita cita mengharuskan kerja keras dan segera.  Nafsu menyukai kelezatan dan kenikmatan instan,  padahal cita cita hanya bisa diraih oleh orang yang mampu menunda kenikmatan dan menangguhkannya.

Nafsu yang cenderung ingin sesegera mungkin mengenyam nikmat yang segera,  menyebabkan ia lupa arah dan tujuan perjalanan atau menunda keberangkatan.  Anganpun melayang,  seakan tak ada batas waktu untuk berjalan mencapai finish perjalanan.

Akhirnya ia menunda dan memperlambat perjalanan demi merasakan rehat atau mengenyam sedikit kenikmatan. Padahal, makin lama ia rehat dan berpangku tangan,  akan terasa makin berat perjalanan.  Semakin lama orang menunda taubat atau amal kebaikan,  makin sulit baginya untuk memulai dan mewujudkannya.  Al-Ghazali dalam ihya ulumudin memberikan perumpaamaan yang bagus dalam hal ini.

Perumpamaan orang yang menunda taubat itu seperti orang yang ingin mencabut tanaman,  namun terbayang olehnya bahwa untuk mencabutnya perlu mengerahkan tenaga ekstra. Dia kemudian mengatakan,  “Kalau begitu saya tangguhkan sampai tahun depan, dan saya akan kembali untuk mencabutnya.”

Dia tidak sadar bahwa selama satu tahun berjalan,  pohon itu semakin kuat,  sementara dirinya makin bertambah lemah, karena umur bertambah.

Sungguh menunda-nunda taubat adalah perbuatan yang amat buruk,  karena kita tidak  pernah akan tahu kapan ajal menyapa. Sungguh menyedihkan orang yang menunda nunda untuk taubat dengan dengan berbagai alasan.

Mereka shalat,  rajin puasa,  rajin ibadah namun tidak mau bertaubat dari makan Riba.  Padahal mereka sudah yakin bahwa Riba suatu keharaman sesuai dengan Alquran surat Al Baqarah ayat 275

واحل الله البيع وحرم الربوا

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba”

Namun mereka masih menunda tidak segera menyelesaikan Riba dengan berbagai alasan.

***

Saya punya pengalaman yang sangat menyedihkan dengan seseorang pengusaha di Jakarta, beliau memiliki utang sekitar Rp13 Milyar. Beliau ingin sekali bergabung dengan Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR),  dan ingin segera terbebas dari Utang dan Riba.

Kami sudah berkomunikasi sangat lama. Sudah beberapa kali saya mengajak ke SMHTR, baik yang di Jabodetabek,  maupun yang di luar kota, Namun beliau selalu saja menolak. Diajak ke Temu warga MTR (TPWPMTR) pun tidak pernah  hadir.

Beliau bilang belum bisa langsung action dalam waktu dekat, menunda nunda karena berbagai alasan.  Padahal  sudah paham riba adalah haram.

Beliau selalu berargumen,  keluarga  belum bisa menerima. Rekan bisnis juga belum menerima  konsep non riba dalam sistem bisnis. Bisnisnya belum stabil, nunggu stabil dulu. Bagaimana nanti kalau rumah dilelang? Nggak enak, orang bank sudah baik memberi bantuan. Dan lain-lain, ribuan alasan dijabarkan.

Saya hanya bisa tersenyum, membiarkan beliau  bergolak dengan seribusatu alasan untuk mengambil keputusan.

Hingga suatu ketika…

Pada siang yang panas, ada pesan whatsap masuk, mengabarkan berita duka. Teman yang saya ceritakan di atas  meninggal dunia.  Keluarganya mengundang saya untuk menghadiri doa Tahlil di kediaman beliau..

Saya  kaget,  sedih, haru bingung campur aduk..   Orang yang biasa berkomunikasi dengan kita,  yang saya masih ingat juga logat cara bicaranya yang berapi-api dan bersemangat..  telah menyelesaikan perjanjian umurnya di dunia..

Hal lain yang langsung terpikirkan, bagaimana dengan utang piutangnya? Ya Allah….

Langkah Awal Meninggalkan Riba

0

Meninggalkan riba bukan hal yang rumit jika kita mau dan mampu membangun pondasi fundamental hidup.

 ©SuwarnaJuraganNgemil

Luruskan Mindset..

Kuatkan Niat..

Mantapkan Akidah..

Tiga point di atas adalah kekuatan yang harus dibangun terlebih dahulu sebagai fondasi sebelum kita melangkah ke langkah-langkah solusi praktis dalam upaya  meninggalkan riba. Dengan kekuatan pondasi tersebut, tidak hanya utang yang akan lunas, tetapi kebiasaan buruk berutang akan ikut tercabut sampai akar-akarnya.  Yakin atas pertolongan un-logic Allah Subhanawata’ala!

Tentang “mindset” contohnya.  Banyak di antara kita yang selama ini memiliki cara pandang terhadap kebiasaan berutang dan riba. Beberapa di antaranya,

  • Utang itu solusi
  • Bisnis tak akan bisa maju tanpa utang
  • Jaman sekarang, hidup tidak akan maju tanpa utang karena kita tidak akan punya apa-apa
  • Bla bla bla..

Begitulah, selama cara pandang masih salah kaprah maka kita akan terus terjerumus dan terjebak dalam kubangan utang dan riba.

Pertanyaan selanjutnya, trus kapan kita akan meninggalkan riba??

Nah, pertanyaan ini akan sulit kita jawab selama mindset belum kita luruskan. Pasalnya, kita akan terus mencari pembenaran dan berharap solusi halal dari perbuatan haram (riba) yang terus kita lakukan dan pertahankan. Kita akan selalu mengatakan:

“Saya tahu riba itu haram, akan saya tinggalkan nanti setelah semuanya siap”

 “Rumah dan mobil ini memang hasil riba. Saya akan lunasi segera setelah punya modal yang tanpa riba.”

“Saya sadar bekerja di lembaga ribawi, saya akan resign.  Tapi nanti kalau sdh ada pekerjaan baru”

 bla bla bla…

Lalu faktanya apa yang sekarang terjadi..kita masih saja terus mempraktikan riba yang seakan tak berujung kan??

Padahal cara ampuh meninggalkan riba adalah berhenti dan meninggalkan seketika itu juga, ketika kita tahu itu riba…

Atau berusaha sekuat mungkin untuk meninggalkannya sampai batas ambang kemampuan kita. Tanpa menunggu dan mempertanyakan solusi praktisnya, karena riba itu haram dan hal itu merupakan perintah langsung dari Allah SWT...no excuse!

Seperti halnya kisah Siti Hajar ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim di tengah gurun gersang bersama Ismail yang masih bayi. Apakah mereka kemudian mempertanyakan solusinya? Bahkan minta disediakan air dan makanan lezat selama di gurun pun, tidak mereka lakukan. Hal itu karena mereka patuh terhadap perintah yang turun langsung dari langsung dari Allah SWT. Maka mereka menurut tanpa membantah sama sekali. Sami’na wa ‘atokna.

Waktu membuktikan, Allah menyelamatkan anak beranak itu. Dan memberikan kelimpahan  nikmat yang luar biasa kepada Siti Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim…

~~~~~~~

Life is Selling

0

©Janu

Mengapa saya mengunakan judul “life is selling”,  hidup adalah menjual?

Karena memang kehidupan ini adalah saling menjual.  Menjual berarti menukarkan manfaat untuk mendapatkan sesuatu. Karena tanpa penjualan, hasilnya nol.

Kehidupan Anda berubah karena ada penjualan. Karena jika dia, berarti Anda tidak menjual apapun untuk mengubah hidup Anda.

Biasanya diam muncul karena rasa malas ,  dan malas datangnya dari syaiton.

Penjualan harus seimbang dengan apa yang kita inginkan. Jika ingin baju, tentunya kita juga harus menjual seimbang dengan nilai baju tersebut. Jika ingin mendapatkan uang Rp100.000.000, yah tentu saja yang Anda lakukan juga harus seimbang dengan nilai Rp100 juta tersebut.

Bisa jadi Anda harus melakukan pekerjaan berat untuk mendapatkan uang senilai itu. Atau menyita banyak waktu Anda. tu artinya Anda harus menjual lebih banyak lagi.

Nah sekarang pertanyaannya, jika Anda ingin mendapatkan syurga, namun Anda tidak menjual sesuai dengan apa yang Anda inginkan.  Misalnya Anda hanya melakukan ibadah di sisa-sisa waktu. Memilah-milah  aturan  hanya yang Anda suka dan tidak mencari tahu aturan yang sebenarnya. Apakah Anda bisa mendapatkan apa yang Anda mau?  Coba pikirkan, apakah  diri Anda sudah sebanding dengan apa yang akan Anda tukarkan?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” _ QS.At taubah ayat 111

Machiavellise Pemilu 2019, Saatnya Kembali kepada Islam Kaaffah

0

Aksi  umat secara haqiqi dipersatukan oleh Aqidah Islam, tanpa pamrih politik partisan yang hanya berorientasi sekerat tulang dunia yang menipu.

© Muhammad Thaha Yasin Al-Amiin

Aksi Massa 212 Bela Al-Quraan yang dinista, dan Reuni 212 Bela Ar-Raayah yang dibakar, mendapat sambutan luar biasa dari umat Islam. Jutaan muslimin/muslimat tumpah ruah di ibukota. Fibrasi positifnya  menggema  secara global, menarik simpati  umat  manusia sedunia.

Mengapa bisa demikian?

Karena,  aksi  umat  (Islam) ini tidak memperlihatkan tendensi pamrih politik partisan yang  hanya berorientasi pada sekerat tulang dunia yang menipu. Umat secara haqiqi telah dipersatukan oleh Aqidah Islam, dan yang dibela adalah perkara pokok Agama Islam.  Karena itu, wajar jika semua elemen umat –termasuk MTR (Masyarakat Tanpa Riba) secara nasional, bersatu membela kemuliaan Islam yang dilandasi ikhlas karena Allah SWT semata.

Aksi 212 dan reuni 212 jelas berbeda dengan fenomena Aksi 22 Mei 2019 yang “konon” menentukan nasib negeri mayoritas Muslim ini lima tahun ke depan. Faktanya, aksi pada hari pengumuman “pemenang” Pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu, cenderung disambut “dingin” oleh umat. Setidaknya dari jumlah massa.   

Berbeda dengan dalam aksi 212 dan reuni 212,  dalam momen tersebut rupanya Allah SWT “tidak menggerakkan” kesadaran dan perasaan Umat hingga turun secara total dengan spirit seperti pada 212.

Bagaimanapun juga, aksi 22 Mei 2019 adalah adalah respon terhadap persoalan hasil keputusan Pemilu curang dari rezim petugas partai.  Mengerucut lagi, intinya adalah tentang perseteruan antara kubu 01 vs kubu 02. Sementara spirit 212, dilandasi isu yang terkait perkara pokok agama Islam.

Ada “benang merah” yang bisa ditarik dari kedua fenomena tersebut. Yakni mulai terbentuknya kesadaran keimanan umat mengenai “Islam kaaffah” sehingga mereka begitu antusias dalam membela perkara pokok-pokok Agama Islam.

Oleh karena itu, pada hari-hari mendatang,  MTR wajib tampil sebagai kekuatan 03 dengan lebih berperan aktif dalam mengajak kalangan Tokoh Umat dan semua elemen Umat untuk mengarahkan Umat berjuang secara lebih esensial-fundamental. Yakni mengedukasi Umat dengan jalan perjuangan tegakkan Islam kaaffah. Karena faktanya, jalan demokrasi yang mereka yakini selama ini berakhir tragis dengan sandiwara penuh selaksa tipuan-kecurangan dan halalkan segala cara untuk menang.

Terbersit pertanyaan besar dalam benak, bagaimana mungkin Umat Islam yang telah dijajah Belanda konon hingga ratusan tahun, dan kemudia merdeka konon juga karena hadiah dari Jepang, Umat dan tokoh-tokohnya bisa “dikadalin” oleh para nasionalis-sekularis melalui penghapusan Piagam Jakarta atau sampai pembubaran Partai Masyumi?

Sekarang Umat telah merasakan bagaimana kondisi itu bisa terjadi. Kata kuncinya adalah banyaknya Tokoh Umat (terutama dari Ormas kultural yang awam politik) yang begitu mudah “dibeli”. Mereka rela menjadi “kacung penjajah” atau jadi komprador asing-aseng atau jadi orang nasionalis-sekularis pembeci Islam kaaffah bahkan menjadi PKI dan derivatnya.

Kini saatnya MTR massive ambil peran sebagai kekuatan 03 : “Bersahabat dalam Dakwah Bersama Umat”,  tegakkan Islam kaaffah dalam sebuah institusi yang telah dijanjikan-difardhukan-diridhai Allah SWT dan telah dikabar-gembirakan Rasulullah Saw. Saatnya Islam memimpin Dunia dengan damai-adil penuh Rahmat sebagaimana masa emas Peradaban Islam yang pernah bertahan 13 Abad lebih.

Jember, 21 Mei 2019

Suara Lirihmu Menggetarkan Dunia

0

©AmirMTR

Sudah terlalu banyak suara yang menjadikan telinga kita pekak. Sudah terlalu banyak suara yang menjadikan kita mendapatkan salah informasi. Sudah terlalu banyak suara yang menjadikan hidup kita gaduh.

Suara-suara yang menjadikan hidup manusia terbelenggu, terperosoknya manusia pada kemaksiatan, kehancuran rumah tangga,  putusnya tali silaturrakhmi,  hilangnya martabat diri dan bangsa,  hilangnya daya saing dengan orang lain, hilangnya ketenangan dan kebahagiaan, dan masih seabreeg dampak negatif yang ditimbulkan dari suara negatif ini. 

Suara buruk itu adalah ((( U-T-A-N-G )))

Namun, bagaimana menghalau suara buruk itu?

Negatif tentu harus dilawan dengan positif. Suara buruk tentu harus diredam dengan sura kebaikan. Maka, dengungkanlah  suara positif secara lantang dan kalau perlu memekakkan telinga untuk membangunkan kesadaran.

Bagaimana bila belum  bisa lantang karena terbatasnya kemampuan pita suara ?

Lakukanlah dengan berjama’ah karena suara-suara lirih akan menjadi dengungan kuat, saat disuarakan bersama-sama.  Siapa yang masih bisa lelap jika dicekoki dengungan jutaan sayap lebah yang bergetar  berbarengan?

Dengungan jutaan lebah itu mungkin tidak akan memecahkan gendang telinga, tapi percayalah, getarannya akan menggedor nurani  terdalam insan yang masih terlelap dalam kubangan lumpur utang.

Alhamdulillah suara itu mulai menggocang kalbu para penikmat utang.  Kita mulai dapat melihat dampak positif yang ditimbulkannya.  Semakin banyak korban riba yang sadar, dan para pelakunya pun mulai  gemetar ketakutan.

Karenanya mari sahabat MTR, gaungkan terus suara positif secara berjamaah, untuk mengalahkan tabiat buruk utang ke seluruh penjuru tanah air tercinta.  Semoga kita adalah bagian dari insan-insan penyelamat bangsa  dari keterpurukan. 

Bawa selalu Buku Merah MTR dan bagikan kepada  setiap komponen bangsa yang Anda jumpa. Segera dapatkan kembali Buku Merah MTR Anda ke nomor 0853 3533 5319

BaraakaAllah Lanna Wa Lakum Jamii’an

Astaghfirullah, Mu’azzin dan Gharim pun Terjebak Riba

0

©MIslamBasri

Riba benar-banar sudah sangat kelewatan dam melampaui batas.  Tak hanya pengusaha dan pedagang serta aparat sipil dan militer  yang jadi sasarannya.  Bunga Racun itu kini bahkan telah menebar bau harumnya yang mematikan sampai menembus dinding-dinding Masjid dan Musholla di negeri mayoritas muslim ini

Entah siapa yang mau disalahkan, ketika mendengarkan keluhan dari seorang muazzin masjid besar di tempat kami tinggal, bahwa dirinya terjebak dalam Utang ke Abang yang lumayan besar menurut ukuran kemampuan diri dan keluarganya.

Dan yang lebih menyedihkan lagi, beliau berani mengajukan pinjaman kredit ke si Abang , setelah mendengar ceramah seorang ustadz yang membolehkan masyarakat berutang, asal di lembaga yang berlabel syar’i. Innalillahi wa Inna ilaihi roojiuun .

Di saat lain, belum lama ini kami juga sempat berbincang dengan seorang Ghorim masjid yang sudah belasan tahun merawat masjid pusat kegiatan salah satu organisasi agama terbesar di negeri ini. Walaupun dia ceritakan utangnya yang dua kali di Abang Syaree telah lunas, namun beliau juga menceritakan betapa susah dan menderita dirinya, harus menjalani hidup dalam beratnya tekanan utang.

Sungguh ironis,  bahkan orang-orang yang lima waktu sholatnya senantiasa dalam lingkungan masjid, bisa terkena jeratan utang dan riba. Apatah lagi dengan masyarakat awam yang jarang, serta jauh dari kehidupan ibadah masjid?

Inilah  indicator kuat,  bahwa risiko serta bahaya penyakit utang dan riba, sangat jarang dikaji dan dipelajari dengan serius  di majelis-majelis ilmu, di dalam masjid, apalagi di luar.

Kami yakin, masih banyak saudara-saudara kita para pengabdi masjid yang terjebak dan terlilit oleh peliknya masalah utang. Karena itu, kita berharap program “MTR goes to masjid”, bisa menjadi salah satu jalan edukasi dan solusi pencerahan yang berguna bagi mereka agar bisa terlepas dari nestapa utang dan riba

Semoga Allah SWT , memberi kemudahan kepada para mujahid masjid –yang kendati masjidnya tersohor namun honornya minim,  agar segera terlepas dari kezoliman utang dan riba. Aamiin.

Bangkinang 0,50 Juni 2019

Meniti Cinta di Jalan Pedang

0

Edisi Khusus

Indahnya Taghoful

0

©MAG

Saudara Sahabat AHLI SORGA yang kami sayangi..apa yang dimaksud “taghoful”?

Taghoful itu artinya melupakan kesalahan saudara kita dan tidak mengingat-ingatnya.  Ia adalah akhlak yang mulia

Al Hasan Al Bashri berkata,  “Taghoful adalah akhlak orang-orang yang mulia.”

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻻﺕ ﻣﻦ ﺃﺭﻗﻰ ﺷﻴﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ

ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻻﻥ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻓﺈﻥ ﺍﻫﺘﻢ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻜﻞ ﺯﻟﺔ ﻭﺧﻄﻴﺌﺔ ﺗﻌﺐ ﻭﺃﺗﻌﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﺬﻛﻲ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺪﻗﻖ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻊ ﺃﻫﻠﻪ

ﻭﺃﺣﺒﺎﺑﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺟﺮﺍﻧﻪ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﺗﺴﻌﺔ

ﺃﻋﺸﺎﺭ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ.

Melupakan kesalahan orang lain adalah sifat orang-orang mulia.  Karena manusia tak ada yang lepas dari kesalahan dan dosa.

Apabila seseorang selalu memperhatikan tiap kesalahan orang lain, ia akan lelah dan membuat orang lain lelah.

Orang yang berakal dan cerdas adalah orang yang tidak menghitung-hitung kesalahan saudaranya, tetangganya, temannya dan keluarganya.

Oleh karena itu imam Ahmad berkata,  “Sembilan persepuluh akhlak yang baik ada pada taghaful.” (Tahdzibul Kamal 19/230)

Bila kita cinta mungkin amat mudah kita melupakan kesalahannya. Tetapi ketika kita benci, kesalahan kecil padanya tampak jelas di mata kita..

Masalah besar yang kita hadapi segera kita kecilkan. Masalah yang kecil kita hilangkan diantara kita.

Apabila saudara kita melakukan kesalahan segeralah untuk diingatkan dengan ahsan dan saling menghargai satu sama lain saudaranya. Peluk dan eratkan ukhuwah Islamiyah diatas segalanya

Itulah akhlak AHLI SORGA.

ALLAhul musta’an..