Machiavellise Pemilu 2019, Saatnya Kembali kepada Islam Kaaffah

0
103

Aksi  umat secara haqiqi dipersatukan oleh Aqidah Islam, tanpa pamrih politik partisan yang hanya berorientasi sekerat tulang dunia yang menipu.

© Muhammad Thaha Yasin Al-Amiin

Aksi Massa 212 Bela Al-Quraan yang dinista, dan Reuni 212 Bela Ar-Raayah yang dibakar, mendapat sambutan luar biasa dari umat Islam. Jutaan muslimin/muslimat tumpah ruah di ibukota. Fibrasi positifnya  menggema  secara global, menarik simpati  umat  manusia sedunia.

Mengapa bisa demikian?

Karena,  aksi  umat  (Islam) ini tidak memperlihatkan tendensi pamrih politik partisan yang  hanya berorientasi pada sekerat tulang dunia yang menipu. Umat secara haqiqi telah dipersatukan oleh Aqidah Islam, dan yang dibela adalah perkara pokok Agama Islam.  Karena itu, wajar jika semua elemen umat –termasuk MTR (Masyarakat Tanpa Riba) secara nasional, bersatu membela kemuliaan Islam yang dilandasi ikhlas karena Allah SWT semata.

Aksi 212 dan reuni 212 jelas berbeda dengan fenomena Aksi 22 Mei 2019 yang “konon” menentukan nasib negeri mayoritas Muslim ini lima tahun ke depan. Faktanya, aksi pada hari pengumuman “pemenang” Pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu, cenderung disambut “dingin” oleh umat. Setidaknya dari jumlah massa.   

Berbeda dengan dalam aksi 212 dan reuni 212,  dalam momen tersebut rupanya Allah SWT “tidak menggerakkan” kesadaran dan perasaan Umat hingga turun secara total dengan spirit seperti pada 212.

Bagaimanapun juga, aksi 22 Mei 2019 adalah adalah respon terhadap persoalan hasil keputusan Pemilu curang dari rezim petugas partai.  Mengerucut lagi, intinya adalah tentang perseteruan antara kubu 01 vs kubu 02. Sementara spirit 212, dilandasi isu yang terkait perkara pokok agama Islam.

Ada “benang merah” yang bisa ditarik dari kedua fenomena tersebut. Yakni mulai terbentuknya kesadaran keimanan umat mengenai “Islam kaaffah” sehingga mereka begitu antusias dalam membela perkara pokok-pokok Agama Islam.

Oleh karena itu, pada hari-hari mendatang,  MTR wajib tampil sebagai kekuatan 03 dengan lebih berperan aktif dalam mengajak kalangan Tokoh Umat dan semua elemen Umat untuk mengarahkan Umat berjuang secara lebih esensial-fundamental. Yakni mengedukasi Umat dengan jalan perjuangan tegakkan Islam kaaffah. Karena faktanya, jalan demokrasi yang mereka yakini selama ini berakhir tragis dengan sandiwara penuh selaksa tipuan-kecurangan dan halalkan segala cara untuk menang.

Terbersit pertanyaan besar dalam benak, bagaimana mungkin Umat Islam yang telah dijajah Belanda konon hingga ratusan tahun, dan kemudia merdeka konon juga karena hadiah dari Jepang, Umat dan tokoh-tokohnya bisa “dikadalin” oleh para nasionalis-sekularis melalui penghapusan Piagam Jakarta atau sampai pembubaran Partai Masyumi?

Sekarang Umat telah merasakan bagaimana kondisi itu bisa terjadi. Kata kuncinya adalah banyaknya Tokoh Umat (terutama dari Ormas kultural yang awam politik) yang begitu mudah “dibeli”. Mereka rela menjadi “kacung penjajah” atau jadi komprador asing-aseng atau jadi orang nasionalis-sekularis pembeci Islam kaaffah bahkan menjadi PKI dan derivatnya.

Kini saatnya MTR massive ambil peran sebagai kekuatan 03 : “Bersahabat dalam Dakwah Bersama Umat”,  tegakkan Islam kaaffah dalam sebuah institusi yang telah dijanjikan-difardhukan-diridhai Allah SWT dan telah dikabar-gembirakan Rasulullah Saw. Saatnya Islam memimpin Dunia dengan damai-adil penuh Rahmat sebagaimana masa emas Peradaban Islam yang pernah bertahan 13 Abad lebih.

Jember, 21 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here