Pejalan dan Perjalanan Taubat (dari Riba)

0
220

©SulistyoB

Kesuksesan sejati adalah sukses di atas segala sukses,  yang nilainya tak bisa dinilai oleh kesuksesan itu sendiri.

Kesuksesan  perjalanan menuju Allah akan mencapai finishnya setelah sampai di jannah yang istimewa.  Kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang tak pernah dilihat mata,  belum pernah didengar telinga dan belum terdetik dalam hati manusia. Itulah ”perniagaan” yang Allah sediakan bagi siapapun yang berani membayar harganya.

Nabi bersabda

 الا ان سلعة الله غا لية، الا ان سلعت الله الجنة

 “Ketahuilah bahwa perniagaan Allah itu mahal,  ketahuilah bahwa perniagaan Allah itu adalah jannah. ” ( HR Tirmidzi,  al-Albani mengatakan shahih)

 Tak ada hasil istimewa yang ditempuh dengan cara berleha-leha. Tak ada cita-cita besar melainkan harus diraih setelah melewati berbagai rintangan,  menaklukan tantangan. 

Begitupun perjalanan menuju Allah. Sebuah perjalanan pamungkas,  dan satu-satunya perjalanan yang akan diridhoi oleh Sang Kholiq. Perjalanan yang dilalui oleh para anbiya walmursalin.

Di dalam perjalanan ini, rintangan senantiasa  terpampang di hadapan.  Ganguan dan godaan bertebaran sepanjang jalan.  Dan musuh cita-cita selalu mengintai dan menjegal para pejalan.

Maka,  para penempuh jalan Allah harus memiliki kepekaan dan kewaspadaan terhadap segala rintangan perjalananan. Atau yang diistilahkan dengan ‘Hadzar’, waspada.

***

Rintangan dan musuh perjalanan tak selalu muncul dari luar.  Musuh berbahaya dan yang pertama layak diwaspadai justru ada pada diri manusia sendiri,  yakni nafsu.  Karena keinginan nafsu umumnya berkebalikan dengan cita-cita mulia. 

Nafsu ingin berleha leha,  sedangkan cita cita mengharuskan kerja keras dan segera.  Nafsu menyukai kelezatan dan kenikmatan instan,  padahal cita cita hanya bisa diraih oleh orang yang mampu menunda kenikmatan dan menangguhkannya.

Nafsu yang cenderung ingin sesegera mungkin mengenyam nikmat yang segera,  menyebabkan ia lupa arah dan tujuan perjalanan atau menunda keberangkatan.  Anganpun melayang,  seakan tak ada batas waktu untuk berjalan mencapai finish perjalanan.

Akhirnya ia menunda dan memperlambat perjalanan demi merasakan rehat atau mengenyam sedikit kenikmatan. Padahal, makin lama ia rehat dan berpangku tangan,  akan terasa makin berat perjalanan.  Semakin lama orang menunda taubat atau amal kebaikan,  makin sulit baginya untuk memulai dan mewujudkannya.  Al-Ghazali dalam ihya ulumudin memberikan perumpaamaan yang bagus dalam hal ini.

Perumpamaan orang yang menunda taubat itu seperti orang yang ingin mencabut tanaman,  namun terbayang olehnya bahwa untuk mencabutnya perlu mengerahkan tenaga ekstra. Dia kemudian mengatakan,  “Kalau begitu saya tangguhkan sampai tahun depan, dan saya akan kembali untuk mencabutnya.”

Dia tidak sadar bahwa selama satu tahun berjalan,  pohon itu semakin kuat,  sementara dirinya makin bertambah lemah, karena umur bertambah.

Sungguh menunda-nunda taubat adalah perbuatan yang amat buruk,  karena kita tidak  pernah akan tahu kapan ajal menyapa. Sungguh menyedihkan orang yang menunda nunda untuk taubat dengan dengan berbagai alasan.

Mereka shalat,  rajin puasa,  rajin ibadah namun tidak mau bertaubat dari makan Riba.  Padahal mereka sudah yakin bahwa Riba suatu keharaman sesuai dengan Alquran surat Al Baqarah ayat 275

واحل الله البيع وحرم الربوا

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba”

Namun mereka masih menunda tidak segera menyelesaikan Riba dengan berbagai alasan.

***

Saya punya pengalaman yang sangat menyedihkan dengan seseorang pengusaha di Jakarta, beliau memiliki utang sekitar Rp13 Milyar. Beliau ingin sekali bergabung dengan Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR),  dan ingin segera terbebas dari Utang dan Riba.

Kami sudah berkomunikasi sangat lama. Sudah beberapa kali saya mengajak ke SMHTR, baik yang di Jabodetabek,  maupun yang di luar kota, Namun beliau selalu saja menolak. Diajak ke Temu warga MTR (TPWPMTR) pun tidak pernah  hadir.

Beliau bilang belum bisa langsung action dalam waktu dekat, menunda nunda karena berbagai alasan.  Padahal  sudah paham riba adalah haram.

Beliau selalu berargumen,  keluarga  belum bisa menerima. Rekan bisnis juga belum menerima  konsep non riba dalam sistem bisnis. Bisnisnya belum stabil, nunggu stabil dulu. Bagaimana nanti kalau rumah dilelang? Nggak enak, orang bank sudah baik memberi bantuan. Dan lain-lain, ribuan alasan dijabarkan.

Saya hanya bisa tersenyum, membiarkan beliau  bergolak dengan seribusatu alasan untuk mengambil keputusan.

Hingga suatu ketika…

Pada siang yang panas, ada pesan whatsap masuk, mengabarkan berita duka. Teman yang saya ceritakan di atas  meninggal dunia.  Keluarganya mengundang saya untuk menghadiri doa Tahlil di kediaman beliau..

Saya  kaget,  sedih, haru bingung campur aduk..   Orang yang biasa berkomunikasi dengan kita,  yang saya masih ingat juga logat cara bicaranya yang berapi-api dan bersemangat..  telah menyelesaikan perjanjian umurnya di dunia..

Hal lain yang langsung terpikirkan, bagaimana dengan utang piutangnya? Ya Allah….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here