Bosan Aku dengan Penat dan Enyah saja Kau Pekat

0
139

Ada Apa Dengan Cinta?

©MY230619

Engkau bisa membodohi, merayu, menipu, agar rakyat percaya apa yang kau ucapkan. Tapi tidak pada kami. Saat ini, esok, lusa atau nanti. Cukup…!!!

Orang yang tidak tahu beda antara nyinyir dan kritis itu ibarat tidak bisa membedakan antara subuh dan petang. Sama-sama agak gelap, tetapi beda jauh. Satu menuju terang dan satunya menuju gelap. Dalam keadaan gelap, orang mudah tersesat atau disesatkan.

Nyinyir adalah kata yang dipake oleh pemuja kekuasaan untuk menyerang kritikan pada junjungannya. Sama seperti narasi cingkrang, wahabi atau HTI. Tujuannya satu jika tidak bisa ‘digelapkan’ jadikan ‘abu-abu’.

Universitas Harvard, Amerika Serikat, mengabadikan sebuah ayat Alquran di gerbang masuk Fakultas Hukum. Ayat yang diukirkan sebagai bentuk penghormatan itu diambil dari surat Annisa ayat 135.

Coba bayangkan jika ayat tersebut ditulis di gerbang pintu masuk sekolah negeri di Jakarta, maka sekolah terpapar radikalisme, mabuk agama, anti kebhinekaan sampai anti pancasila dengan liar dinarasikan media.

Itu juga yang tertulis di gedung MK dan dibacakan oleh Lawyer 02 pada saat penutupan Sidang Sengketa PILPRES. Akankah pembacaan itu memperkuat stigma Anda bahwa mereka terindikasi dan terpapar radikalisme?

Ataukah mungkin ‘Pasukan JIN dan JIL Nusantara’ dari Jakarta, USA, hingga Australia beramai-ramai bahu membahu dalam semangat menggebu-gebu membantah dan menyerang sesama muslim lain hanya demi mendapatkan ‘label kebodohan’ atas nama moderat, toleran, atau humanis?

Keterangan saksi Khairul Anas, yang merupakan Caleg PBB menyatakan dalam pelatihan saksi TKN 01, narasumber seperti Hasto dan Ganjar Pranowo menyampaikan agar saksi mengidentikkan lawan sebagai kelompok radikal atau Islam garis keras.

Orang dibuat tidak bisa lagi membedakan mana KECURANGAN & KEBENARAN. Lebih jauh lagi, memaksa rakyat menerima kecurangan sebagai realita dan keniscayaan. Inilah puncak dari kejahiliyahan berfikir yang telah diperlihatkan dengan nyata. Anda mau ikutan…?

Lihatlah yang didapatkan dari ungkapan di MK dalam Training of Trainer (TOT), pelatihan untuk pelatih tentang berdemokrasi. “…Kecurangan adalah bagian dalam demokrasi…”. Kecurangan fakta dalam demokrasi, demokrasi dalam curang, curang adalah demokrasi…?

Lihat bagaimana umat dengan mudahnya ‘dibohongi berkali-kali’ lewat demokrasi imitasi ini?

Sidang MK berlangsung dari subuh ke subuh, tapi tidak terdengar hakim, pengacara, atau saksi  yang mati kelelahan? Beda dengan pemilu kemarin, ratusan KPPS tewas. Dan katanya faktor kelelahan, Anda percaya?

Sekarang kalian ingin bicara rekonsiliasi? Bukankah stempel legalisasi kemenangan di MK akan kau dapatkan? Itukan aturan formal demokrasi sesembahanmu? Lalu mengapa rekosiliasi masih diperlukan? Hmm… demokrasi tivu-tivu.

Jadi ingat Cinta & Rangga: “Kenapa tidak kau pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh?”

Ingat !!! Aku tidak akan lari ke hutan atau nyantai ke pantai lagi sampai umat terbebas dari dustamu.

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here