Saturday, January 24, 2026
Home Blog Page 35

Menang yang Menipu

0

“Yang kita sukai belum tentu baik, dan yang kita benci belum tentu buruk menurut Allah.”

Begitu juga, menang itu belum tentu mendatangkan tumpahan kebaikan, dan kalahpun belum tentu serta merta sebagai tanda akan hadirnya bermacam keburukan.

Yang terbaik itu adalah ketika kita bisa meyakini dan menerima dengan ikhlas dan lapang dada, bahwa apapun yang terjadi terhadap diri kita, merupakan sesuatu yang yang sudah digariskan serta  menjadi ketetapan Allah SWT. Hal ini memang mudah diucapkan, tapi sungguh sulit untuk dilaksanakan

Baik atau buruknya suatu masalah yang kita hadapi, semuanya tergantung cara pandang serta cara kita menyikapinya.

Karena baik menurut pendapat kita, boleh jadi buruk menurut Allah. Dan begitu juga, sesuatu yang buruk menurut pikiran kita, boleh jadi menurut pandangan Allah SWT, adalah sesuatu yang sangat baik bagi kehidupan dunia dan akhirat kita

Lalu bagaimanakah sikap yang paling baik terhadap masa depan negeri ini, pasca keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK)?

Biasa sajalah, karena keputusan tersebut boleh jadi sesuatu yang baik bagi nasib bangsa ini kedepan..

Masih ingat fitnah yang terjadi pada bunda Aisyah, yang dituduh berselingkuh dengan sahabat Syofwan saat tertinggal dalam satu perjalanan pulang ke Madinah? Pada akhirnya, kejadian tersebut membuat Rosulullah SAW semakin tahu, mana orang-orang di sekelilingnya yang benar-benar sahabat setia, dan mana pula yang menjadi bagian kaum munafikun dan kafirun.

Kita juga tidak pernah tahu rencana Allah. Boleh jadi keputusan yang dikeluarkan MK, adalah salah satu cara Allah untuk membuka tabir, siapa sesungguhnya para politisi dari pihak nol dua, yang benar-benar berjuang demi kepentingan rakyat atau hanya berjuang bagi kepentingan pribadi dan partainya.

Kita lihat saja setelah pembubaran koalisi partai pendukung nol dua. Dari sana akan jelas perbedaan antara orang-orang jujur  yang berjuang demi masyarakat melalui adanya perubahan. Dan mana pula orang-orang bertipe pengkhianat nurani rakyat, yang akan dengan mudah beralih melangkahkan kakinya, sembari merapat ke kubu yang dimenangkan MK. Bisa saja mereka berdalih,”Begitulah lautan dunia politik, selalu ada gelombang dan dinamika.” ( pret !! )

Saudaraku, biarkanlah mereka di kubu sebelah menikmati “dimenangkan” dan berpesta dengan gelar juaranya.

Begitu banyak kemenangan yang terjadi pada para penguasa di dunia ini, pada saatnya Allah membuka tabir, semua itu hanya menjadi kemenangan semu yang sangat menipu..

Ya.. itulah kemenangan yang kelak akan mengantarkan orang-orang yang terlibat di dalamnya, hanya menjadi butiran-butiran hina dan tak berharga . Yang justeru di hari perhitungan nanti, akan sangat menyesali serta menangisi kemenangan yang dulu dielu-elukan dan dibanggakannya!

Bangkinang 0,33 Juli 2019

The Dark Ages

0

© MY 06062019

Kapan zaman kegelapan dimulai? Bagaimana cara kita dikurung dalam penjara tanpa jeruji baja, rantai, atau gembok? “Satu caranya adalah ketiadaan pendidikan finansial.” -Robet T Kiyosaki-

“Saya percaya bahwa lembaga perbankan lebih berbahaya bagi kemerdekaan kita dibanding tentara”.  -Thomas Jefferson-

Pernahkah Anda memperhatikan dan bertanya mengapa pada setiap uang dolar tertulis: “In God We Trust”. Dalam beberapa literasi dikatakan bahwa kebijakan itu untuk melawan atheisme, benarkah? Bukankah mereka terkenal sekuler?

Coba perhatikan uang kertas di saku anda. Cari tulisan berikut ini:  “Dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa, Bank Indonesia mengeluarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai….”

Tahukah Anda apa tulisan sebelumnya?  ”Barang siapa meniru, memalsukan uang kertas dan/atau dengan sengaja menyimpan serta mengedarkan uang kertas tiruan atau uang kertas palsu diancam dengan hukuman penjara”.

Mengapa Bank Indonesia (BI) ikutan mengganti tulisan tersebut? Benarkah BI percaya Rahmat Tuhan? Lalu kenapa perintah tuhan mengenai RIBA, DINAR dan DIRHAM mereka abai?

Kalau anda baca buku “MONEY” karya Steve Forbes – CEO Media Forbes, ia menggebu-gebu menyerukan agar Amerika kembali ke standar emas. Setidaknya ada tiga alasan:  1. Uang kertas bukan kekayaan.2. Pendapatan bakal naik 50%.3. Emas lebih terpercaya.

Lalu…

Baca juga Michael Maloney dalam Guide to Investing in Gold & Silver: “Emas dan perak telah merevaluasi diri selama berabad-abad dan menyerukan agar uang kertas fiat untuk mempertanggungjawabkan diri. Saat melakukannya, emas dan perak menyeret uang tipuan ke nasibnya yang layak. Kedua logam mulia itu selalu melakukannya dan akan terus melakukannya. Boleh dibilang, itu sama pastinya dengan matahari terbit”

Di Indonesia ketika ada ide untuk menghidupkan kembali syariat dengan dinar dan dirham, mengapa Anda pesimis, curiga, atau skeptis?

Celakanya lagi, kalangan muslim sendiri yang membela habis-habisan. Padahal mereka juga yang dijadikan korban. Kebodohan memang tidak berbatas.

Mulai pikirkan dan wacanakan dari sekarang, karena zaman kegelapan pasti datang. 1400 tahun silam, Nabi Muhammad saw bersabda:

  ﻳﺄَْ عَلى النَاسِ زَمَان مَن لَمْ يَكُنْ مَعَهُ اَبيَضُ ٯَ ﻻَ اَصْفَررُ لَمْ يَتَهِن ِبالْعَيْشِ

Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada saat itu orang yang tidak memiliki putih (perak) dan kuning (emas), dia akan kesusahan dalam kehidupan”. (H.R. Imam Thabrani)

ﻳَﺄِْعَلَى النَاسِ زَمَانﻻَيَنْفَعُ فِيْهِ اِﻻَالدِيْنَارُ وَالدِرهَمُ

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (uang emas) dan dirham (uang perak)”. (H.R. Imam Ahmad)

اِذَا كَانَ فِىْ اخِرِ الزَمَانِ ﻻَبُدَ لِلنَاسِ فِيهَا مِنَ الدَرَاهِيْمِ وَالدَنَانِيرِ يقِيْمُ الرَجُلُ بِهَا دِيْنَه ودُنْيَاهُ

Apabila di akhir zaman, manusia di kalangan mereka itu harus menggunakan dirham-dirham dan dinar-dinar sehingga dengan kedua mata uang itu seorang laki-laki menegakkan agama dan dunianya”. (H.R. Imam Al-Thabrani).

✍ Education For All

Cara Menundukkan Customer agar Membeli Produk Kita

0

©EditorMTR

Satu hal yang sangat penting dalam proses penjualan adalah mengubah ketertarikan (engagement) konsumen agar menjadi sebuah keputusan pembelan (purchasing decision).

Nah untuk sampai para tahap tersebut,  sedari awal Anda harus paham dan mengenali siapa konsumen Anda (consumer insight). Tanpa pengenalan ini, Anda tidak akan bisa menentukan strategi yang tepat untuk menarikan perhatian dan minat konsumen terhadap produk/jasa yang Anda tawarkan, dan kemudian mempengaruhi keputusan mereka untuk melakukan pembelian.

Bagaimana cara menundukkan konsumen  sehingga berakhir dengan keputusan pembelian? Materi penting ini disajikan secara menarik oleh Ust. Samsu dalam event “Be Master in Marketing and Selling” (BeMiMS) yang berlangsung di Sentul akhir pekan kemarin. Berikut tahapan-tahapan yang bisa diterapkan untuk bisnis Anda.

  1. Enrolling positive question. Ajukan pertanyaan yang pasti akan dijawab dengan kata “iya”.  Tujuannya adalah agar Anda mendapatkan pembenaran sejak awal proses.
  2. Emotional stories. Kenali dulu problem dan mimpi (dream) customer. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan,”Siapa yang ingin membahagiakan istrinya?” setelah itu, berikan solusi atas problem dan dreams tadi melalui teknik edukatif marketing. Misalnya, mengadakan lokakarya untuk mengatasi problem penurunan spek dan kualitas oleh kontraktor yang sudah tersertifikasi. Melalui teknik seperti ini, Anda tidak akan dianggap sedang berjualan karena caranya mendidik. 
  3. As permit and say thank you. “Ketok pintu” customer dengan sopan dan jangan lupa ucapkan terimakasih.
  4. Pada level mana produk Anda saat ini? Apakah masih berupa komoditi yang tidak memiliki identitas? Apakah sudah memiliki merek (brand)? Apakah sudah meningkat dengan penambahan servis untuk lebih mendekat kepada konsumen? Ataukah sudah menjadi product concept yang terencana sejak awal?
  5. What is it for? Untuk siapa produk Anda ditujukan? Pertanyaan ini bisa Anda jawab melalui identifikasi target market (ITM) yang menjadi topic event MTR sebelumnya.
  6. What will you get, apa yang Anda ingin dapatkan? Apa yang ANda targetkan?
  7. Price. Untuk menentukan harga (pricing strategy) ada 3 hal yang harus Anda perhatikan. Pertama, total benefit – manfaat apa saja yang bisa Anda berikan melalui produk yang Anda jual? Kedua, regular price – harga yang di pasaran pada umumnya. Ketiga, offering price (penawaran awal).
  8. Testimonial. Testimoni penting sebagai bukti terhadap kualitas produk Anda yang sekaligus akan berfungsi sebagai rekomendasi. Karena itu jangan abaikan testimony. Mari warga MTR saling bantuk untuk memberikan testimony sesame warga.
  9. Additional benefit. Usahakan selalu memberi nilai lebih, bisa berupa bonus kepada customer. Apalagi customer yang sudah melakukan pembelian lebih dari sekali.
  10. Create urgeny. Ciptakan kondisi darurat saat Anda berkomunikasi dengan calon customer. Misalnya dengan mengatakan, “Maaf ya, barang ini jumlahnya terbatas. Siapa cepat dia dapat.

Jika langkah-langkah itu sudah dilakukan dengan benar, bersiaplah untuk panen order dari customer-customer Anda.

Renungan Jiwa

0

©MIslamBasri

Wahai jiwa  yang tiada henti lupa dan berbangga.

Duhai diri yang senantiasa khilaf dan tiada letih berbuat dosa

Bukankah tanah tak  berharga yang menjadi  asal engkau ada berada?

Lalu, apa yang mesti engkau banggakan? Sedangkan dirimu bisa hadir di dunia, hanya dari setetes air keruh yang hina dina.

Wahai jiwa yang tiada pernah bisa Istiqomah dalam bersyukur

Duhai diri yang tiada bosan mengeluh dan berkata dusta

Bukankah sudah begitu banyak nikmat dan karunia Allah yang tiadakan pernah bisa engkau ukur?

Lalu, apa yang membuat dirimu selalu berbusung dada dan mendongakkan kepala seakan dirimu tiadakan pernah punah? Sementara engkau teramat pasti, akan hilang berkalang tanah? ..hanya menunggu saat tibanya malaikat setia..IZROIL..sang pencabut seluruh kenikmatan dunia

Laa ila ha illa Anta subhanaka, inni kuntu minadzdzoolimiin.

Bangkinang 0,57 Juni 2019

Yang Dibutuhkan adalah Harapan

0

©WS 270619

Bapak renta dengan kemeja batik lusuh menghampiri saya. Beliau menawarkan kursi kayu panjang yang katanya dibuat sendiri. Tampak lelah di wajahnya yang legam. Bercucur keringat hingga mengkilat ditempa sinar matahari.

“Mak Itam” begitu beliau menyebut dirinya. Menawarkan dagangan yang dipanggulnya sejauh 15 km. Tidak tega rasanya melihat orang seuzur itu masih mau dan bersemangat mengais rejeki. Berjalan dari pintu ke pintu dengan beban yang sangat berat. Tidak tega rasanya, membiarkan tubuh renta itu terus berjalan, menahan letih dan terik matahari.

“Pak, berapa mau dijual kursi kayunya?” sapa saya agar Mak Itam berhenti.

Dan benar saja, beliau berhenti, berteduh dan menduduki kursinya seraya berkata “Belilah, Buk. Kursinya bagus, kokoh, insyaallah tidak lapuk dalam 5-10 tahun.”

Mm..saya mulai putar otak. Sebenarnya saya tidak mau membeli kursinya. Saya hanya ingin Mak Itam berhenti untuk istirahat sebentar, dan bisa menawarkan minuman untuk pelepas dahaganya.

Akhirnya saya berhasil memberikan 2 botol minuman tanpa menyinggung perasaan Mak Itam walau saya tak berkeinginan membeli.

Singkat cerita, karena sudah waktunya makan siang, saya menyeberang jalan untuk membeli lauk pauk guna menemani nasi di rumah.  Tak lupa saya belikan Mak Itam nasi bungkus. “Mudah-mudahan menjadi amal buat saya membantu org sedang kesusahan,” batin saya.

Saat berbalik keluar dari warung,  saya lihat Mak Itam mulai beranjak dari tempat Beliau istirahat. Saya kejar sambil memanggil namanya. Alhamdulillah terkejar. Saya berikan nasi bungkus itu.

Namun alangkah kagetnya, Mak Itam menolak uluran tangan saya. Saya sodorkan nasi bungkus itu berulangkali dengan sopan, Mak Itam tetap menolak.   Setengah memaksa, akhirnya saya selipkan kantong bungkusan itu ke jari beliau yang memegang kursi kayu yang sudah berada di atas kepalanya. Akhirnya beliau mau menerima.

Saya jadi berfikir ulang…

Semalam, ada  juga teman yang mau saya bantu, tapi dia juga menolak.. Katanya, dia butuh kerjaan untuk suaminya, bukan uang..

Apakah cara saya salah?  Apakah niat saya kurang ikhlas?  Atau apakah jumlahnya yang tidak membuat mereka puas? Wallahualam..

Terkadang manusia tidak ingin terlihat menginginkan walau sebenarnya membutuhkan..

Terkadang manusia butuh kehidupan, bukan hanya sekedar uang buat makan..

Terkadang manusia butuh harapan akan masa depan, bukan hanya bantuan sesaat..

Sepenggal Kisah dari BeMiMS Hari #2

0

  ©Teh NUHA.

Tergopoh-gopoh seraut wajah merengut kusut yang berusaha tersenyum ramah ketika menyapa saya yang lagi beres-beres meja dagangan di event BeMiMS (Be a Master in Marketing & Selling)

Kami Masyarakat yang Berduka

0

©NurzamanIlham

Duka! Istilah berduka kerapkali digunakan untuk mengungkapkan perasaan kehilangan.  Biasanya juga  karena ditinggalkan orang terkasih. Betulkan?

Namun ternyata tak hanya itu. Perasaan duka, ternyata juga sering menghinggapi mereka yang tengah berdakwah mengenai “Tabiat buruk Utang dan Riba”.

Bagaimana tidak? Mereka, para pelaku riba yang belum punya kesadaran, biasanya juga punya sifat “ngeyelan” tatkala mendapatkan nasihat seputar utang dan riba.  Ada saja alasan yang mereka lontarkan.

“Boleh kok, kalau sudah telanjur!”

“Kasih pinjam sini, uangmy!”

“Kalau dikit, kan boleh..”

Bla  bla  bla… lalala.

Kebayangkan, gimana rasanya???

Apalagi kalau yang kita nasehati adalah orang terkasih. Entah itu pasangan, keluarga, teman hingga mitra bisnis.

Campur adukk rasanya. Antara pengen ketawa, sedih bahkan sampai pengen ngajak ruqyah!!!

Jika Anda terus gigih berupaya menyadarkan mereka (tentanga bahaya riba), siap-siap saja risikonya.  Tak jarang hinaan akan Anda alami, minimal dijauhi. Ah, siapa sih yang tak sedih dijauhi orang terkasih.

Benar kan,  rasa duka itu bukan cuma dirasakan tatkala kita kehilangan sosok tercinta? Dalam berdakwah pun, ada  risiko duka. Yaitu saat orang yang kita nasihati tidak percaya terhadap perintah dan larangan Allah yang Maha Kuasa.

Namun Anda pasti juga sepakat. Semua rasa duka itu, tak selayaknya memadamkan semangat untuk terus mendakwahkannya.

Bagaimana caranya?

Bergabunglah dengan Masyarakat Tanpa Riba (MTR). MTR akan menghapus DUKA Anda, menemani Anda yang selalu merasa “sendirian” saat menyampaikan TABIAT BURUK UTANG & RIBA.

Last but Not Least

Dakwah “sendirian” itu berat, Broo..

Yuk BERSAHABAT DALAM DAKWAH

JIL dan JIN nga-NU-Santara

0

©MY260619

Seorang berkata: “Di Arab itu banyak pelacur”

Hamka menjawab: “Saya dari Amerika, Masya Allah disana tidak ada pelacur”.

Orang itu kaget dan berkata: “Mana mungkin Buya?”.

Hamka menjawab: “Kita ini hanya dipertemukan dengan apa yang kita cari”.

Gambaran di atas menunjukkan bagaimana Nadirsyah, Sahal, Ulil, and the Gank yang di gandrungi JIN dan JIL dalam melakukan pencariannya.  Berapa pun kitab yang sudah dibaca, jika tidak jujur maka tidak akan menghasilkan apa-apa.

Nadirsyah Hosen menulis: “Saya telaah 90 kitab  mu’tabar pegangan ulama ASWAJA bidang Aqidah, Tafsir, Hadits, Tarikh, Fiqh & Siyasah. Ternyata riwayat tersebut tidak dibahas atau dijadikan dalil.”

Bro, kebohongan yang dibangun akan menenggelamkan kalian ke dasar peradaban. Perdebatan medsos orang-orang JIL yang berlindung atas nama nga-NU ini mirip debat sama orientalis, “gegayaan” khatam dan paham isi kitab ini itu.

Seorang misionaris mempelajari Al-Quran bukan untuk mencari kebenaran, namun mencari celah. Walaupun kebenaran ada di situ, hatinya tetap aja tertutup pintu hidayah. Mendengar kata misionaris aja bikin merinding, udah kek Christiaan Snouck Hurgronje aja tuh orang.

Emang kalau mau nge-JIL bisa cepet dapat gelar prof ya, Om Nadir? Hahahahaha…

Aneh aja ya, gimana coba menggugurkan hadist-hadits tentang Pasukan Panji Hitam, datangnya Al Mahdi dan Isa al Masih?

Kalau hadits-hadist khilafah direject, semua bisyaroh jadi tidak ada mutunya dong?  Hadits Roma bakal dikuasai gimana? Rasul SAW melihat kekuasaan Islam dari Timur sampai Barat gimana?  Isa as menjadi khilafah akhir jaman, Imam Mahdi, dll, gimana?

Dari sini kita jadi sama-sama mulai ngerti tentang hadits, tentang ulama atau kaum intelektual di akhir zaman. Di sini juga kita jadi ngerti betapa banyaknya Rosulullah berbicara tentang adanya musuh dari dalam. Jadi kalau kini kejadian, harusnya nggak perlu kaget ya? Itung-itung risalah diskusi.

Bukan maksud masuk ranah pribadi, kalau nggak salah orang tua Nadirsyah Hosen ini dulu pengagum NASAKOM dan satu shaff dengan komunis. Telaah lagi deh, atau gugling aja. NASAKOM itu pendukung berat rejim pro Beijing.  Beijingan kan? Upsss…

Sekeranjang Ilmu, Sejumput Kebodohan

0

©MIslamBasri

Pengalaman mahal –berulangkali membeli kebodohan, telah menyadarkan kami tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan

Inilah alasan terkuat yang membuat kami tidak mau melepaskan kesempatan menuntut ilmu, sejak bergabung dengan Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR),  Oktober 2018 lalu.  

Derita setiap bulan mengejar setoran, plus kalimat manis madu tentang ancaman lelang karena keterlambatan setoran, telah menjadi pengalaman yang takkan terlupakan

Atas desakan, arahan serta bujukan manis si Abang, beberapa aset kami lepas tergesa-gesa. Dan “hebat”nya lagi, setelah aset terjual, dengan lugu dananya kami setorkan kepada Abang , tanpa minta pengurangan atau pemotongan secara resmi terhadap sisa utang yang kami hadapi

Allah berkahi kami bertemu dengan MTR.

Melalui berbagai asupan ilmu yang luar biasa, serta momen coaching yang melegakan, kami jadi tahu betapa mahal “Harga Kebodohan” yang selama ini kami bayarkan untuk suatu proses penyelesaian utang. Karena tidak dilandasi pengetahuan yang baik, kami membeli proses itu dengan harga yang tidak pantas.

Alhamdulilah,  dengan pengetahuan mumpuni yang telah kami dapatkan dari MTR, kami berhasil  mendapat pengurangan jumlah utang yang sangat besar  dari si Abank. Kalau dihitung-hitung, jumlahnya  sekitar 10 kali lipat dari total biaya yang kami keluarkan untuk mengikuti pelatihan sejak Oktober 2018 – Mei 2019.   

Rasanya semakin nyata jalan yang kami tempuh selama ini bersama para sahabat MTR di seluruh Indonesia. Semakin benderang kebenaran arah dan tujuan yang kami tempuh!

Sungguh benar, nilai sekeranjang pengetahuan yang bermanfaat, jauuh lebih murah dibandingkan dengan harga yang harus kita bayarkan untuk membeli sejumput ketidaktahuan atau kebodohan.

Bersusah payah mendapatkan ilmu insya Allah akan mendatangkan kemudahan, ketenangan dan keberkahan. Sementara bertahan dalam ketidaktahuan serta kebodohan dengan berbagai dalih dan alasan, hanya akan mendatangkan kegelisahan, ketakutan, kemelaratan  dan penderitaan

Bangkinang 0,84 * *Juni 2019

Parenting; Cegah Racun Sistemik Sejak Dini

0

©Ummu Hamima

Layaknya penyakit yang menjangkiti tubuh secara sistemik, begitu pula racun sekulerisme menyerang ummat dari berbagai sisi.  Tidak ada satu fase kehidupan pun yang terlewati. Bahkan pada periode usia pra baligh pun mereka  tak segan-segan melakukan serangan. Dan ini kadang tidak disadari  banyak orang tua.

Bermula dari pertanyaan anak kami mengenai soal dalam pendalaman materi Bahasa Indonesia kelas 6 SD.   Ia bertanya, “Lihat bun, kok bisa soalnya begini ya? Kakak jawab apa? Nggak ada jawabannya di sini. Jelas-jelas  ini riba. Aneh…. ”

Kami pun coba melihat bentuk pertanyaan yang dimaksud. Pertanyaannya berbunyi :

Bank BRI memberikan pinjaman modal dengan bunga rendah kepada para pedagang kaki lima ( PKL). Hal ini disambut baik oleh para PKL. Adapun alasan Bank BRI meminjamkan modal tersebut adalah agar PKL  mampu mengembangkan usahanya sekaligus memiliki warung tetap. 

Istilah bunga rendah dalam paragraph di atas memiliki arti… A. Keuntungan yang diperoleh orang yang meminjam.  B. Jumlah keseluruhan peminjam yang harus dibayarkan.  C. Kerugian yang diperoleh oleh pihak yang meminjamkan. D. Biaya tambahan ringan pada peminjam yang harus dibayarkan

Hmm.. belum sempat turun alis kami, anak kamipun melanjutkan,  “Bun, harusnya jawabannya kan, yang dimaksud bunga rendah adalah kerugian besar yang diperoleh semua pihak yang terlibat, di dunia, dan akhirat karena riba adalah dosa besar.” Begitulah dengan spontan anak kami menjawab.

MasyaAllah,  kamipun tersenyum haru. Tanpa kami sadari, dengan seringnya mengajak putri kami bertatap muka bersama Komunitas Masyarakat Tanpa Riba ( MTR), ia  dapat mengindera dengan sendirinya dan menemukan konsep yang  benar tentang riba.

Betapa pentingnya sedari dini kita mengenalkan Islam kaffah kepada anak-anak dan menjadi sumber rujukan utama bagi mereka. Karena jika tidak,  mereka (Yahudi dan Nasrani), akan mengambil peran kita. Dengan mudah  merusak generasi bangsa, meracuni secara sistemik sampai kita mengikutinya.

Sebagaimana  Allah Ta’ala berfirman, 

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” ( QS Al-Baqarah: 120)

….”Millatahum”… sampai kita mengikuti mereka. Dan saat itu terjadi setelah kita telah mendapatkan kebenaran, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong kita.

Na’udzubillahi mindzalik.