Friday, January 23, 2026
Home Blog Page 26

(Say Good bye to Career Woman) Welcome Smart Mom!

0

Teman-teman, pernahkah kalian meninggalkan suatu perkara yang tidak disukai Allah Swt? Lalu kalian menjalankannya dengan penuh keikhlasan karena takut akan adzabNya?

@Enni Arta | MTR Bontang||

Sejak aktif di Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR), muncul niat untuk berhenti bekerja dan melepas status wanita karir yang selama ini saya jalani.  Hingga pada penghujung September 2019, saya memberanikan diri menghadap Direktur Perusahaan untuk menyampaikan niat itu secara langsung.

Hari itu tidak seperti biasanya. Ruangan tiba-tiba terasa sangat dingin, kedua telapak tangan saya pun ikut dingin.  “Sepertinya aku sedikit gugup,” saya menyimpulkan dalam hati, setelah melihat cuaca di luar sangat terik. Berbanding terbalik dengan suhu di dalam ruangan ini,.

“Pak, saya bekerja di Perusahaan ini kan sudah cukup lama,” begitu saya membuka percakapan setelah berada di dalam ruang Direktur.

“Memang sudah berapa lama?” tanya beliau.

“Kurang lebih sudah tiga belas tahun, Pak,” jawab saya mengulaskan senyum tipis.

“Iya ya, lama juga. Terus kenapa, En?” tanya beliau kembali.

“Nggak apa-apa sih, Pak,”  jawab saya  yang tiba-tiba agak ragu untuk menyampaikan niat semula.

“Apa mau minta naik gaji ?” tanya beliau setelah saya terdiam agak lama.

Sambil tersenyum lebar saya menjawab, “Oh.. bukan begitu, Pak. Ehm.. justru saya ingin… mengajukan resign, Pak,” jawab saya hati-hati.

Pak Direktur terlihat kaget. Beliau menatap wajah saya dengan cermat. “Kamu serius?” tanyanya. “Memang ada masalah apa?” lanjutnya lagi.

“Iya Pak, saya serius,” kali ini saya mampu memberikan jawaban tegas.

Selanjutnya Pak Direktur menanyakan alas an mengapa saya ingin keluar. Panjang lebar saya jelaskan maksud dan tujuan, serta alasan kuat  yang menyertai keputusan tersebut. Beliau terlihat memahami.

Namun alih-alih mengabulkan permohonan saya, beliau malah memberikan alternative dengan memberikan kemudahan dalam bekerja. Pak Direktur mengatakan ia menyayangkan keputusan yang saya ambil, dan berpendapat masih ada solusi yang bisa diambil tanpa saya harus resign dari pekerjaan.

Dan setelah berdialog cukup panjang, beliau mengambil keputusan :

“En, permohonanmu belum bisa saya terima. Jadi  pikirkan kembali. Sebagai direktur, saya bisa memberikan kebijakan sebagai solusinya. Adapun keputusan saya adalah :

Pertama, kamu boleh datang ke kantor tidak setiap hari. Yang penting semua pekerjaanmu selesai.

Kedua, dalam mencatat bunga ataupun membayar angsuran perusahaan, kamu busa mendelegasikan kepada staff keuangan.

Tiga, jika ada urusan di luarkota, kamu  tetap harus bisa menjaga komunikasi urusan pekerjaan.”

MasyaAllah kini kondisi berbalik, saya dibuat kaget dengan keputusan beliau.  Saya bergegas pulang untuk menceritakan kabar ini dan meminta pendapat suami saya. Dan akhirnya atas persetujuan suami, saya memutuskan untuk mencoba lanjut bekerja.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan saya jalani, saya merasakan ketidaknyamanan dalam bekerja. Saya sadar dan merasa bahwa selama tiga bulan ini saya telah dzalim pada perusahaan.

Saya pun mencari tahu mengapa kondisi ini saya rasakan. Dan alhamdulillah berkat ilmu yang saya pelajari di MTR, saya mendapatkan jawabannya. Salah satunya adalah bahwa ketika melakukan sesuatu tidak 100% maka hasilnya akan 0% .

Akhirnya di bulan Januari 2020 saya kembali menghadap atasan di kantor.  Saya menyampaikan isi hati, dan kembali mengajukan resign. Dan akhirnya dengan berat atasan menyetujui permohonan saya, dengan syarat minta waktu sampai beliau mendapatkan pengganti saya. Saya pun sedikit lega mendengarnya.

Sambil menunggu ada pengganti saya, saya meminta pada Allah Swt, memohon doa suami dan sahabat2 untuk saya bisa mempersiapkan diri terutama hati saya. Juga bagaimana menghadapi kedua orangtua saya, serta kesiapan mental melepas fasilitas-fasilitas yang saya dapatkan dari kantor selama ini. Karena sebenarnya tidak  mudah melepas kemelekatan yang selama ini ada pada saya.

Alhamdulillah Allah Swt mendatangkan kabar baik, atasan saya menelfon memberitahukan bahwa beliau sudah mendapatkan orang yang bisa menggantikan posisi saya dikantor.

Namun hal itu bukan berarti saya sudah bisa langsung berhenti. Di tengah suasana “lockdown” yang dikeluarkan walikota, saya ternyata harus menghabiskan waktu lebih banyak di kantor. Mempersiapkan berkar-berkas  untuk serah terima jabatan dan pekerjaan. Pulang larut malam. Lelah tapi tetap harus dijalani. Namun saya senang dan menikmati karena itu masa-masa terakhir bekerja.

Alhamdulillah 24 Maret 2020 lalu, hari terakhir saya bekerja dan menyandang status wanita karir. Sepanjang jalan saya mencoba untuk menangis tapi kog ya nggak bisa nangis. Saya heran sendiri karena biasanya mudah mellow.

Mencoba mencari pesan Allah di balik setiap peristiwa, akhirnya saya tahu mengapa saya tidak menangis. Yaitu karena Allah Subhanawata’ala sudah memberikan keikhlasan dalam hati saya.

Begitu sampai di rumah, saya langsung mandi dan sholat,  barulah memeluk suami dan anak-anak. Saya merasakan ketenangan dan kenyamanan serta kebahagiaan.

Teman-teman, pernahkah kalian meninggalkan suatu perkara yang tidak disukai Allah Swt? Lalu kalian menjalankannya dengan penuh keikhlasan karena takut akan adzabNya?

Saya yakin setiap warga MTR pasti pernah dan berjuang untuk melakukannya. Karena warga MTR adalah orang-orang yang ingin melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Baik itu untuk diri, keluarga dan bisnis.

“Sesungguhnya tidaklah Engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu (sebagai pengganti) yang lebih baik darinya” HR. Ahmad no.20739.

Salah satu langkah saya dalam bertaubat meninggalkan dosa Riba adalah dengan meninggalkan pekerjaan saya. Dan Alhamdulillah kini Allah memberi sesuatu sebagai gantinya, yaitu calon bayi yang ada di kandungan saya ☺️.

MasyaAllah..

Semua berproses, dan untuk melewatinya salah satu faktornya adalah efek dari ilmu yang saya dapatkan di FMC (Forum Mama Cerdas-Kaltim) ☺️ yang membuat saya semakin mantap untuk menjadi seorang istri dan ibu 100%

 Bahwasanya tugas seorang istri yang sudah menikah hanya ada 3, yaitu : 1. Suami, 2. Anak dan 3. Dakwah

Semoga Allah Swt mudahkan dan Ridho dalam menjalankan kewajiban ini. Aamiin 🤲🏻

 

Semua Berawal dari Sudut Pandang

0

Letakkan semua permasalahan dari sudut pandang aqidah, niscaya tidak ada kata gagal dan tidak bahagia. 

@AmirMahmudin|MTR Jateng||

Mengapa dalam kehidupan ada bahasa gagal dan ada bahasa berhasil? Apakah ada dampak dari tersampainya informasi berhasil dan informasi gagal? Mengapa ada orang yang bisa survival dan ada pula yang tumbang dalam menghadapi dinamika kehidupan?

TERNYATA untuk menemukan jawaban atas pertanyaan – pertanyaan di atas sangatlah mudah. Karena jawabannya langsung ada di dalam diri kita masing-masing.  Yuuuk kita berselancar dengan sumber pertanyaan mengapa dan apakah?

BAHASA GAGAL dari kebanyakan pemahaman orang disimbolkan dengan adanya kerugian fisik dan atau materi. Sedangkah kebahagiaan sering kali disimbolkan keuntungan secara fisik dan atau materi yang diapatkan oleh seseorang.

Akan berbeda makna bila yang memahami  adalah seseorang yang melihat makna BAHAGIA SECARA AQIDAH. Dirinya telah purna memahami keberadaannya di dunia adalah untuk beribadah atas perintah Sang Pencipta Alam Semesta.

Karenanya ia senantiasa memaknai hanya dengan satu kata, yaitu BAHAGIA. Mengapa demikian? Karena kata GAGAL yang menurut orang lain adalah satu bentuk kerugian, sedangkan menurut dirinya adalah satu bentuk aktivitas ibadah yang bernilai pahala…walhasil bahagia dunia dan Insya Allah bahagia pula di akhirat.

Sudut pandang berbeda memberikan pemahaman dan sikap yang berbeda pula.

Dari Zaid bin Tsabit r.a. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288)

Beralih pada pemahaman tentang rizki. Sering kita mendapati pernyataan “rizki saya sedang seret, rizki saya lagi sedikit, usaha saya sedang hancur”,

Atau sebaliknya, kita mendapati sesorang yang perasaannya akan bahagia, damai, tentram manakala isi dompetnya terisi penuh dengan tumpukan rupiah, rekening deposit banknya banyak, dan investasinya sedang berjalan lancar.

Sehingga saat uang di dompetnya menipis, ia gelisah. Saat deposit banknya terkuras, ia gelisah dan lebih – lebih saat invetasinya sedang jeblok, perasaanya kalang kabut, stres, lunglai dan terasa bahagia telah hilang dari kehidupannya.

Mengapa terjadi demikian? Karena pandangan matanya dan pemahamanya mengartikan rizki itu hanya tertuju kepada harta, isi dompet, deposit bank atau lancarnya aktivitas investasinya.

Lagi-lagi bagi sesorang yang memandangnya dari pemahaman Aqidah Islam, purna mengartikan rizki itu bukan semata harta, isi dompet, deposit bank atau nilai investasi. Itu semua adalah bagian kecil dari tidak terhingganya jumlah rizki yang Allah berikan kepada manusia (mahluk).

 Rizki adalah semua pemberian dari Allah, baik terkadang baik, terkadang buruk, terkadang menyenangkan dan terkadang tidak menyenangkan untuk ukuran mahluk. Sejatinya semua pemberian dari Allah adalah baik dan membawa kebaikan untuk mahluk.

Sekali lagi, sudut pandang berbeda memberikan pemahaman dan sikap yang berbeda pula.

“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (QS. Az-Zumar :52)

“….Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq : 2-3)

Selanjutnya bagaimana saat sesorang yang diminta berbagi, sementara dirinya sedang mengalami keterpurukan? Ada sebagian orang memfokuskan pandangannya kepada dirinya, ia fokus memenuhi kebutuhan,  menjaga dan melindungi diri serta keluarganya serta mengabikan keadaan orang lain yang membutuhkan bantuannya.

Menjadi berbeda pada sebagian orang yang memahami kehidupan dengan pemahaman Aqidah Islam, selain dirinya berupaya memenuhi kebutuhan diri dan keluargannya, dalam waktu yang bersamaan ia pun memperhatikan serta berbuat untuk orang lain yang membutuhkan.

Lagi-lagi, sudut pandang berbeda memberikan pemahaman dan sikap yang berbeda pula.

“Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meringankan kesusahan seorang mukmin di antara kesusahan – kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan kesusahannya di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah akan selalu menolong seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim).*

Bagaimana juga pada saat keadaan sesorang yang sedang mengalami kesulitan, sedangkan ia dipanggil oleh agamanya untuk berdakwah risalah agamanya?

Ada sebagian orang abai dan memfokuskan pandangannya kepada dirinya, yaitu menyelesaikan permasalahan kehidupan yang sedang ruwet dan sempit. Panggilan agama ia dengar tetapi bersamaan pula ia abaikan.

Menjadi berbeda sebagian orang yang memahami kehidupan dengan pemahaman Aqidah Islam, selain dirinya berupaya menyelesaikan permasalah kehidupan yang sedang ia alami, dalam waktu yang bersamaan ia pun tetap tampil maju memenuhi panggilan dakwah agamanya.

Ah, masih sudut pandang berbeda memberikan pemahaman dan sikap yang berbeda pula.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Kosekuensi seorang Mukmin adalah beriman kepada yang ghaib. Urusan rizki, urusan kemudahan dalam penyelesaian masalah, urusan kemudahan jalan menuju kebahagian hidup di dunia dan akhirat merupakan sesuatu yang ghaib.

Karenanya tidaklah cukup sebagai seorang yang beriman hanya berkutat pada area yang terindra oleh panca indra saja. Kewajiban dakwah adalah wasilah memantaskan diri agar diturunkanya pertolongan Allah. Menjadi salah besar bila kita abai dan tidak mau mendakwahkan Risalah Allah SWT dan Rasulullah.

 

BarrakaAllahu Lanna Walakum Jamii’an

Bersama kita sebarkan #SejutaBukuMerah

David Mailendra, Bebas Utang dalam 14 Bulan!

0

Bagaimana cara David lolos dari jerat utang dan riba dalam waktu singkat? Ikuti perjalanannya  berikut ini.

2015, saat baru bergabung dengan Masyarakat Tanpa Riba (MTR), David Mailendra (45 tahun) punya ‘penyakit bulanan’ stress dan sakit kepala. Penyebabnya:  cicilan utang yang mencapai Rp100 juta setiap bulan!

Utang mempengaruhi seluruh sendi kehidupannya. Ia menjadi gampang stress dan sering sakit-sakitan.  Kinerja usahanya juga semakin turun karena pikirannya  semakin tidak focus, sudah ruwet  dengan upaya untuk mencari jalan membayar cicilan dari bulan ke bulan.

Tapi itu cerita lama. Sekarang  setelah empat tahun berinteraksi dengan komunitas MTR, hidup dan bisnis David Kembali tertata. Hutangnya lunas semua  dan bisnisnya kembali berputar kencang. Yang berbeda dari sebelumnya, kali ini ia selalu menyertakan Allah dalam setiap langkah usahanya.

Apa sih, yang ia  dapatkan dari MTR hingga bisa bebas utang dalam waktu singkat?  Berikut  kilas balik perjalanan David Mailendra, founder dan owner PT Bintang Mono Indonesia dalam menata kehidupan bisnisnya bersama komunitas MTR, yang selalu memotivasinya untuk berpegang teguh pada tali Allah SWT.

David mendirikan PT. Bintang MONO Indonesia pada tahun tahun 2008.  Perusahaan itu bergerak di bidang distribusi alat-alat  kesehatan (alkes). Sejalan dengan keuletannya, ia berhasil mengembangkan perusahaan ini hingga menjadi distributor alkes  berskala nasional. Tak hanya itu, PT Bintang MONO Indonesia juga dipercaya menjadi  agen tunggal beberapa merek alkes untuk wilayah Indonesia.

Namun seiring berkembangnya usaha, utang David juga semakin besar. Dari waktu ke waktu, ia selalu tergoda untuk memperbesar bisnis dengan modal utang dari bank. Hingga ketika utang itu semakin membengkak, ia merasa semakin berat membayar cicilan utang beserta bunga-bunganya.

Pada titik itu, kinerja bisnis Bintang MONO perlahan -lahan merosot. Perhatian David tidak focus lagi pada strategi pengembangan usaha, karena semakin teralihkan untuk mencari cara bagaimana bisa membayar cicilan dari bulan ke bulan. David semakin stress terjebak utang, namun ia tidak tahu bagaimana cara keluar dari  lilitan riba yang membelitnya semakin kencang.

Hingga akhirnya, pada tahun 2015 David mengenal MTR melalui sebuah postingan di media sosial. Tertarik dengan value yang ditawarkan, ia mencoba ikut kegiatan MTR yang kala itu diselenggarakan di Bandung. Dan betul, melalui acara itulah, titik balik kehidupannya dimulai.

Di seminar MTR tersebut, David mendapatkan pemahaman yang menampar kesadarannya, bahwa bisnis yang ia jalani selama ini tidak berjalan sesuai dengan kehendak  sang pemilik otoritas kehidupan. Pasalnya, ia melibatkan utang dan riba yang sangat dimurkai Allah. Allah bahkan telah menyatakan pelaku riba adalah musuh Allah dan RasulNya sehingga pelakunya harus diperangi.

Namun yang lebih pokok, jelas Davis,  di MTR ia  juga mendapatkan pencerahan yang mengubah cara berfikirnya. Bahwa sebagai pengusaha, ia harus bisa berfikir lebih kreatif untuk tidak menggantungkan perjalanan usahanya kepada utang.

Davis memaparkan, selama bergabung dalam komunitas MTR ia mendapatkan banyak pelajaran bagaimana mengembangkan bisnis sesuai dengan syariat Islam. Di komunitas itu pula, ia merasa mendapat lingkungan yang mendukungnya untuk  memperbaiki semua kesalahandi masa lalu.

Dan hasilnya, hanya dalam waktu 14 bulan sejak ikut acara MTR yang pertama,  ia berhasil keluar dari jeratan utang riba.  Desember 2016, utang David lunas seluruhnya. Ia hanya perlu waktu setahun lebih sedikit untuk membuktikan bahwa bisnis bisa tetap berjalan tanpa utang.

Berkat lingkungan pertemanan komunitas MTR yang saling berbagi ilmu dan motivasi untuk memperbaiki kehidupan di jalan Allah, bisnis dan kehidupan David semakin membaik. Perkembangan terakhir, 2018 lalu PT Bintang Mono berhasil  meraih sertifikat CDAKB (Cara DIstribusi Alat Kesehatan yang Baik). Modal untuk  memutar roda bisnisnya semakin kencang dengan bimbingan Allah SWT.

Value apa yang David petik dari pembelajarannya di MTR? “Cara berpikir saya mengenai hidup dan harta berubah banyak. Sekarang saya sadar bahwa bisnis adalah bagian dari ibadah kepada Allah subhanawata’ala,” paparnya.

Untuk sesama Muslim yang masih terjerat utang dan riba, David punya pesan khusus agar bisa keluar dari problema tersebut. “Utang itu sesuai janji (kita kepada) Allah. Kalau kita punya niat kuat untuk melunasinya, maka Allah akan membantu kita. Karena itu, perbaiki  dan pantaskan diri kita di hadapan Allah supaya Allah mau menolong kita.”

Kapan Sebaiknya Menunaikan Zakaatul-Fithri?

0

@AbdulQadimUst| MTR||

Muzzaki yang benar  sebaiknya menyerahkan langsung zakat yang dia keluarkan kepada mustahiq.

Melanjutkan penjelasan edisi sebelumnya, Muzzaki (orang yang wajib berzaakatul-Fithri) sangat disarankan untuk menyerahkan langsung zakat yang dia keluarkan kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakaatul-fithri). Penyerahan secara langsung tersebut bertujuan agar mendapatkan jaminan keberkahan ukhuwwah sesama muslim melalui proses pertemuan tatap muka yang terjadi.

Selain itu, yang lebih penting lagi adalah agar tumbuh perasaan empati dan kepedulian sesama Muslim yang lebih kuat, karena ia menjadi tahu/paham betul keadaan keluarga mustahiq yang menerima zakaatul-fithri-nya.   Dengan pemahaman tersebut, kepedulian yang ia tunjukkan hendaknya tidak berhenti saat Ramadhan dan menjelang ‘Idul Fithri saja, namun juga berlangsung seterusnya.

Para mustahiq itu tidak cuma butuh kedermawanan setahun sekali. Setiap hari sepanjang tahun, mereka tetap harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dan makan. Bukan Cuma menjelang ‘Idul Fithri saja.

Oleh karena itu, saya anjurkan kepada warga MTR untuk menyerahkan langsung  zakaatul-fithri tanggungannya kepada mustahiq langsung, tidak usah melalui amil atau Lembaga zakat.  Utamakan mustahiq tersebut dari kalangan fakir, miskin dan Ibnus Sabil yang saat ini masih ada.

 

Paling Afdhal Jelang Sholat ‘Idul Fithri

Lalu kapan waktu yang tepat untuk menunaikan zakaatul- fithri, dan terkait dengan itu menyerahkan fidyah?  Dalam hal ini, ada 3 pengelompokan waktu yang masing-masing memiliki status hukum berbeda.

  1. Jika ditunaikan sejak tanggal 1-28 Ramadhan, hukumnya Sunnah Ghayri Mu`akkadah.
  2. Jika ditunaikan tanggal 29 atau 30 Ramadhan karena istikmal (penggenapan bulan menjadi 30 hari sebelum mulai bulan baru – dalam hal ini syawal), maka hukumnya Sunnah Mu’akkadah.
  3. Jika ditunaikan ba’da Subuh hingga sebelum waktu Shalat ‘Idul Fithri, maka hukumnya wajib. Dan ini waktu yang paling afdhal/utama.

 

#MariPeduliKaumDhu’afa`

Semoga manfaat dan mendapatkan pemahaman yang diberkahi Allah SWT.

 

Kisah BUKU MERAH dan Penjual Lele

0

Mengapa penting membaca BUKU MERAH?

Sangat penting, karena (konten) di dalamnya real banget bagi pengusaha dan masyarakat  yang melakukan utang.

Saya pasti bawa  terus ke manapun pergi, selalu sedia di mobil. Kalau sedang kehabisan, sepertinya ada yang kurang. Apalagi kalau mau bepergian,  karena pasti saya akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki cerita persis seperti yang ada di buku merah.

Pernah saya makan di warung pecel lele, saya tanya kepada penjualnya, “Bagaimana Bu, jualannya?”

Lah, beliau malah curhat segala dan ujung-ujungnya masalah utang. Tanpa pikir panjang  saya kasihkan BUKU MERAH yang saya bawa.

Dia tanya berapa harga BMM ini, saya bilang, “Gratis. Silakan baca sampai selesai. Kalau sudah tamat silakan berikan kepada orang terdekat atau orang yang masih punya masalah utang.”

Sebenarnya masih banyak cerita berkaitan dengan BMM. Mulai orang yang utangnya hanya puluhan juta rupiah, sampai miliaran. Mereka tergerak hatinya untuk berubah setelah membaca BUKU MERAH.

Jazakallah untuk buku yang luar biasa ini. Bukan mindset utang kita yang berubah, tapi BMM  mengubah mindset hidup kita tentang dunia akhirat.

Nana Herdiana, Pengusaha

Rukun-rukun Zakaatul-Fithri

0

@AbdulQadeemUst | MTR||

Rukun atau sesuatu yang harus dipenuhi dalam melaksanakan zakaatul- fithri ada empat, yaitu

  1. Niat yang wajib dilakukan oleh Muzakki dalam wujud shighat/ucapan saat diserahkan langsung kepada Mustahiq.
  2. Muzakki (Muslim yang wajib berzakatul-fithri).
  3. Mustahiq/Ashnaf (saat ini tinggal bersisa 5 golongan yang berhak menerima zakatul-fithri).
  4. Bahan Makanan Pokok (beras, jagung, sagu, gandum, kurma, jewawut, dan lain-lain).

Bila salah satu dari rukun di atas tidak terpenuhi, maka Zakaatul-Fithrinya tidak SAH.

 

Contoh kasus :

Seorang Muzakki  percaya dan menyerahkan begitu saja kepada ‘Amil Zakaat di suatu Masjid. Lalu oleh para ‘Amil Masjid, zakat (beras) itu tidak didistribusikan, namun setelah terkumpul dijual  dan masuk kas masjid atau sebagian masuk saku para ‘Amil Masjid. Dengan fakta seperti itu,  bisa dipastikan Zakaatul-Maal tidak pernah sampai ke tangan para Mustahiq. Maka  hukumnya, Zakaatul-Maal Umat Muslim sekampung sekitar Masjid itu menjadi TIDAK SAH.

 

Syarat Sahnya Zakaatul-Fithri:

  1. Telah masuk waktu Ramadhan (boleh ditunaikan mulai tanggal 1 Ramadhan atau paling akhir Subuh menjelang Shalat ‘Idul-Fithri).
  2. Satu Sha’ (bila diwujudkan beras setara 2,176Kg atau bisa dibulatkan ke atas menjadi 2,5Kg).
  3. Semua usia, meskipun bayi. Bahkan ada salah seorang anggota keluarga yang mengalami disorientasi psikologis, tetap wajib dikeluarkan Zakatul-Fithri.
  4. Rizqi dan Beras/bahan makanan pokok dari Muzakki bersumber dari yang Halal.

 

Demikian, semoga bermanfaat dan mendapatkan pemahaman yang diberkahi Allah SWT.

Mari serahkan langsung  Zakaatul Fithri kita kepada mustahiq nya. Jaga zaakatul maal kita,

Utang, Membayar Kepastian dengan Ketidakpastian

0

@MAG| MTR Jogja||

2 bulan ini, pandemic covid-19 telah melanda berbagai belahan dunia, mengobrak-abrik segala tatanan. Kesehatan sudah jelas, begitu banyak korban berjatuhan.

Dan tak kalah berat pengaruhnya ke sector usaha. Banyak pelaku usaha terpaksa menutup tempat usaha, dan merumahkan para karyawannya. Omset penurun tajam, cash out tinggi, cash in turun drastis.

Belum lagi kebijakan tumpang tindih yang membuat para pengusaha semakin bingung mengambil sikap. Padahal fakta di lapangan, hampir 90% pengusaha menggunakan cara utang untuk mendapatkan modal usahanya.

Utang sudah tentu harus dibayar, apapun kondisinya. Alih-alih bisa bayar angsuran, bayar bunganya saja sudah sangat berat dalam kondisi sekarang.

Sadar atau tidak,
Utang adalah kepastian yang harus dibayar, sedangkan penghasilan adalah sesuatu yang belum pasti. Orang yang cerdas mestinya bisa berfikir jernih, berhitung kembali saat akan mengambil keputusan untuk berutang, karena hal itu sangat berpeluang memporak-porandakan bisnis/usahanya.

Hanya orang XXXXX yang berani membayar kepastian dengan ketidakpastian.

InshaAllaah, pengusaha yang tidak menggunakan utang sebagai cara dalam berbisnis akan lebih survive dan eksis. Banyak pengusaha yang tetap tenang sehingga mampu mendapatkan ide-ide berlian dalam proses bisnisnya karena sudah tidak dipusingkan oleh cicilan utang.

Bagaiamana dengan bisnis anda?

Kita sharing yuk… Cerita donk kisah Anda?

BUKU MERAH MTR, Wasilah Hidayah Debt Collector

0

Menurut saya..

BUKU MERAH itu buku ajaib. Ia membawa wasillah hidayah  bagi beberapa sahabat debt collector dan petugas bank konvensional yang saya temui saat mengawali hijrah meninggalkan riba akhir tahun 2018 lalu..

Dari  tampilan covernya saja,  BUKU MERAH sudah pasti sangat penting dibaca oleh seluruh masyarakat,  khususnya para pengusaha  hebat  yang ingin usahanya semakin berkah berlimpah dalam ridho dan kasih sayang Allah SWT.

Itulah kesan singkat saya seputar BUKU MERAH. Itu pula alas an yang membuat  MAQNA FOOD menjadikannya sebagai jalan dakwah terbaik setiap Jum’at.

Kami berusaha konsisten menyisihkan sebagian keuntungan  dengan membagikan BUKU MERAH MTR kepada siapapun, khususnya para pengusaha hebat nasional.  Melalui  BUKU MERAH, kami ingin mengajak masyarakat menuju gerbang cerdas kebangkitan umat.

Deny Maqna Nur Alam,  Petani Ternak Domba untuk makanan siap santap dalam kaleng yang ‘Praktis, Bergizi & Higienis’ IG: @maqna.food

Menjadi Pemuda Baik

0

Sahabat,

Pemuda baik itu yang taat kepada Rabb yang Maha Pencipta, taat pula kepada Rasul Alloh teladan utamanya. Pemuda yang menjadikan bakti kepada orang tuanya,  terutama terhadap ibu, melebihi kepada orang lain. Bukan malah “mimpi” besar bahagiakan wanita yang baru ia kenal. Bukan pula pemudi yang dari entah berantah, yang ia ‘kagumi’.

Sahabat,

Jika Anda telah bahagiakan orang tua maka berupayalah untuk tunaikan kewajiban yang lain. Firman Alloh, “Faidzaa faroghta fanshob wa ilaa Robbika farghob – maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakan dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap”. [QS Al Insyirah (94): 7-8]

Terus berkaryalah sahabat, tempuh perjalanan menuntut ilmu, walaupun boleh  jadi jauh.  Yakinlah, darinya Alloh permudah Anda masuk Surga-Nya. Rasul pernah bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Alloh akan permudah jalan menuju Surga”.

Mari sahabat, jadikan didunia ini tempat menanam kita, tinggalkan ‘atsar’ yang baik, hingga kelak menjadi bekal kita “balik” dan tempat memanen kita.

Salam sukses barakah mulia, sahabat  Anda di Yogya.

 

BUKU MERAH MTR adalah BUKU AJAIB

0

Ajaib karena isinya persis dengan penderitaan yang saya alami selama berutang.

Ajaib karena buku ini semakin meyakinkan saya, bahwa utang adalah sumber masalah.

Ajaib karena utang hanya akan menambah tekanan dan penderitaan dengan tambahan bunga yang AJAIB juga.

BUKU MERAH MTR adalah buku ajaib yang ternyata menginspirasi saya,  membuat saya mendapat semangat baru untuk segera bertobat dan meninggalkan kebiasaan buruk berutang.

Alhamdulillah semua atas pertolongan ALLOOH… saat ini utang saya sudah LUNAS. dan saya bisa menjalani hidup sebagai mahluk MERDEKAAAA, lepas dari belenggu dan tekanan utang…

💪💪🤩

Kang Donnie, Relawan MTR Bandung