Saturday, January 24, 2026
Home Blog Page 38

Kisah Negeri 1001 Dongeng

0

© Ummu Hamima

Duduk bersandar, seorang ibu paruh baya mengawali ceritanya tentang sebuah negeri antah berantah. Anaknya yang mulai beranjak dewasa, menunggu dengan tidak sadar  dongeng yang akan keluar dari mulut ibunya.

“Nak, dengarkan cerita ibu, ya.  Tapi jangan kau sela. Biarkan Ibu selesai, baru engkau boleh bertanya,” ujarnya.

Anak itu mengangguk dan mulailah sang Ibu bercerita. 

“Dahulu kala, ada  suatu negeri yang dipimpin pemimpin dzalim dan otoriter,” sang Ibu memulai ceritanya.

“Masyarakat di sana sebagian besar Muslim,” lanjutnya. “ Namun karena derasnya pemikiran sekularisme dan juga komunisme, rakyat dilihat tak ubahnya santapan di meja makan, yang diperebutkan untuk membuat kenyang perut-perut mereka..

Tanpa disadari, hidup mereka terbelenggu oleh pemikiran dan gaya hidup hedonis. Mereka tidak sadar, cara hidup itu sudah dirancang sangat lama untuk menghancurkan Islam. Berbagai cara dilakukan untuk merusak generasi bangsa dari semua sisi..”

Sang Ibu menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya.

“Tahukah kau, Nak? Semua dongeng dalam cerita itu sudah terjadi di negeri ini.  Bayangkan, orang yang berbohong dihargai, yang jujur dimasukkan dalam bui…

Orang yang melakukan kejahatan diberi medali dan yang menyampaikan kebenaran dihukum mati..”

Suara sang Ibu mulai terdengar serak..

“Mereka racuni anak-anak  dengan pornografi dan aksi. Mereka suapi wanita dengan fenimisme. Mereka paksa para ibu untuk melacurkan diri mencari materi..”

Suara Ibu tiba-tiba terdengar getas menahan amarah…

 “Kaum terpelajarpun mereka sihir menjadi penganut Hak Asasi. Mereka menuntut suatu keadilan dari sistem kufur yang mereka tidak sadari adalah turunan dari musuh islam itu sendiri.”

Sekilas, sang anak melihat mata ibunya berkaca-kaca. 

“Namun, Nak.., “ lanjut sang Ibu. “Saat ini,  asal kau tahu,  sebenarnya masih ada orang-orang sholih yang memperjuangkan tegaknya syariat Islam.

Dalam lembut suara ibunya, sang anak menangkap secercah kekuatan dan harapan.

“Mereka tegar memperjuangkan tegaknya syariat islam. Mereka tidak rela mati dalam keadaan jahiliyah jika dipundak mereka tidak terdapat baiat dari sang khalifah…

Merekalah para pejuang, Nak.. Tak kenal lelah, tak kenal bosan, dengan jiwa raganya, memperjuangkan kebenaran ilahiyah di negeri 1001 dongeng ini. Negeri dimana kitab suci dianggap sebuah fiksi, dan yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk seolah-olah  mengerti.”

Masih dengan tatapan menerawang, Sang Ibu kembali menghela nafas berat.

“Nak, para pejuang ini layaknya bintang yang menerangi kegelapan malam menuju cahaya. Keimanan mereka akan Allah, Malaikat, Kitabullah,  Rasulullah, hari akhir dan Qodlo dan Qodarullah menghujam bagaikan pedang yang tertancap di hati.”

Si Ibu tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada si Anak

 “Ingatkah engkau cerita Ibu tentang seorang laki-laki di jaman Rasulullah SAW.  Ia tak berdaya, tubuhnya diikat tak bisa bergerak. Detik-detik kematian kian mendekat dan seorang algojo dengan pedang terhunus bersiap memancung kepalanya. … dan ketika pedang itu diayunkan secepat kilat ke leher lelaki itu, darah bercucuran membasahi bumi…

Ingatkah kau nama lelaki itu, Nak?  Harits bin Umair al-Azdi. Beliau adalah utusan Rasulullah  yang ditugaskan mengirim surat kepada Gubernur Basrah Syahrahbil bin Amr al -Ghassani, yang berada dikekuasaan Romawi.  Ia telah syahid.

Jangan kau sangka cerita itu sebatas dongeng menjelang tidur. Di   sini, negeri 1001 Dongeng ini sekarang,  ancaman-ancaman seperti itu juga ada didepan mata para pejuang Islam!”

Si anak gelisah. Ia tak tahan untuk bertanya.

“Maaf Iibu, aku harus bertanya.. panas rasanya hati ini, bu. Apakah saat itu Rasul masih ada? Kemanakah khalifah saat itu? Tidak adakah yang menjamin keselamatan mereka?”

Sang Ibu mengelus kepala anaknya, lembut.

“Tidak Nak, Rasulullah SAW sudah lama meninggalkan mereka. Tidak ada khalifah saat itu dan sudah 95 tahun mereka hidup tanpa kepemimpinan khalifah…

 Namun para pejuang selalu merindu akan perjumpaan dengan Rasulullah SAW.  Mereka berusaha menegakkan syariat Islam sesuai dengan Qur’an dan Sunnah dan hanya berharap akan cinta Allah. Mereka sangat yakin janji Allah yang akan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai walaupun belum bisa beramal sholeh seperti yang dicintai.”

Lanjut sang Ibu.. “Ingatkah kau kelanjutan cerita dari meninggalnya Harits bin Umair?”

Anak itu menjawab, “Tentu ibu, para asatidz selalu menyampaikan kepada kami.

 ‘ Saat dimana Rasulullah mengirimkan para sahabat terbaik dalam Perang Mu’tah.  Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah yang syahid pada Perang MU’TAH. Mereka berperang tanpa didampingi baginda Rasullullah SAW .

Dari sisi jumlah, mereka tahu akan sulit menghadapi musuh. Namun walaupun jumlah mereka tak sepadan,  satu hal yang mereka yakini adalah hanya ada salah satu dari 2 kebaikan : ‘ kemenangan atau mati syahid”

“Ya betul nak.” Ibupun melanjutkan ceritanya.

“Para pejuang Islam.. para pengemban risalah gagah berani menyampaikan kebenaran tentang indahnya hidup dalam aturan Islam dalam khilafah dipimpin seorang khalifah.   Layaknya Zaid bin Haritsah sebelum berangkat perang, beliau bangkit, mandi, berselimutkan kafan, mengucap selamat tinggal pada dunia untuk menyongsong surga. Dan syahid dengan sebuah tombak menembus tubuhnya.“

“Disusul Ja’far bin Abi thalib yang mempertahankan panji perang dengan tangan kanan dan kiri yang putus,  dipindahkannya ke pangkal lengan dan tak lama pangkal lengan kanan dan kiripun  terbabat senjata musuh. Di tengah aliran darah dari tubuhnya, ia terus maju mempertahankan panji Rasulullah SAW seraya mendendangkan syair : ’betapa indah dan betapa dekat surga..’

…. dan Romawi telah mendekati azabnya  ….hingga 90 anak panah menghujaninya dan ia pun gugur syahid.

…Tak sempat jatuh ke tanah, panji Rasulullahpun segera disambar oleh Abdullah bin Rawahah, sampai akhirnya tusukan pedang bersarang di tubuhnya. Lalu Tsabit bin Arqam segera mengambil panji untuk diserahkan kepada Khalid bin Walid. Inilah kali pertama Khalid bin Walid memimpin peperangan dalam pasukan Islam…”

Suara ibu terdengar bergetar.  Lanjutnya kemudian..

Tak kalah dengan para sahabat, begitu pulalah jiwa para pejuang Islam di masa adanya negeri 1001 dongeng ini. .

Tanpa didampingi oleh Rasulullah SAW,  tanpa khalifah yang melindungi, mereka pertaruhkan jiwa raga sebagai pembuktian cinta kepada Rabb sang Pencipta langit dan bumi.”

Sang anakpun bertanya, “Siapakah mereka wahai ibu, para pejuang yang gagah berani itu?”

Lirih jawab sang Ibu, “Mereka adalah kakek nenekmu.. yang memulai hijrah dengan memerangi riba bersama  komunitas Masyarakat Tanpa Riba. Dan melanjutkan perjuangan menegakkan Islam tanpa takut akan kehilangan dunia.

Merekalah keluarga  Rasulullah SAW. Para kekasih Allah yang sesungguhNya. Yang tetap memegang teguh Qur’an dan Sunnah bagaikan menggenggam bara api.”

Lengang.  Kedua anak beranak itu  tenggelam dalam pikiran masing-masing. 

Dari ujung kampung, tiba-tiba terdengar takbir berkumandang memecah sunyi malam.  Para Wali mengumumkan dan menyampaikan salam dari Khalifah bahwa esok adalah hari Idul fitri yang pertama di bawah khilafah.

Hari kemenangan yang sebenarnya! Tidak seperti  Idul Fitri di negeri 1001 Dongeng yang berubah  menjadi hari duka.  Syukur dan doapun terpanjatkan selalu untuk para pejuang yang mengupayakan tegaknya khilafah saat itu.

Begitulah cerita seorang ibu kepada anaknya, kisah tentang Negeri 1001 Dongeng.

Seperti apa kelak kita ingin dikenang oleh anak cucu kita? Sebagai penonton atau sebagai pemain? Sebagai pecundang atau sebagai pemenang? Sebagai pengkhianat atau pejuang islam? Pilihan ada pada diri kita masing-masing. Pantaskan diri selalu menjadi PejuangNya.

Semoga Allah selalu melindungi para pengemban risalah negeri 1001 dongeng hingga saatnya Khalifah hadir dan kemenangan pun datang.

Demokrasi Imitasi

0

© MY 120619

Daftar masalah kita itu emang panjang banget, tidak ada jaminan Indonesia tidak tergiring menuju ambang kebangkrutan seperti difiksikan oleh P.W. Singer dan August Cole melalui novel The Ghost Fleet.

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tahun 2017 masih pada katagori sedang. Meskipun meningkat dibandingkan tahun 2016. Naik 2,02 poin menjadi 72,11 dari angka 70,09.

Menyerahkan proses ini pada ‘Sistem KW’ adalah kebodohan, harus ada re-evaluasi pada sistem yang memang terbukti kaleng-kaleng.

Sistem distribusi kekayaan yang diterapkan diantara manusia harus mampu menciptakan keadilan dan kesejahteraan bersama. Apakah sistem yang selama ini dijalankan mampu?

Menurut BPS, aspek IDI yang mengalami penurunan paling signifikan dan termasuk dalam berkatagori buruk adalah Partisipasi Politik dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan (56,16), Peran DPRD (59,78), dan Variabel Peran Birokrasi Pemerintahan daerah (56,26)

 Bahkan menggunakan sistem dan statistik kaleng-kaleng saja kelihatan banget jebloknya gimana kalau pakai standart Tuhan?

Dalam Laporan Democracy Index 2017 oleh The Economist Intelligence Unit (EIU), Indonesia dinobatkan sebagai “demokrasi cacat berkinerja paling buruk”, terjun bebas dari peringkat 48 ke 68 dari 167 negara.

Terancamnya kebebasan sipil menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam kemerosotan kondisi dan peringkat demokrasi Indonesia. Tidak heran jika kemudian tulisan-tulisan seperti Nasarudin Joha yang tegas menyerang kegagalan demokrasi mampu jadi oase di tengah perasaan publik yang bergejolak melihat pembodohan terkonsep ini.

Indeks Demokrasi EIU yang dibangun sejak 2006 terdiri atas lima kelompok variabel, yaitu pluralisme dan proses elektoral, kebebasan sipil, keberfungsian pemerintah, partisipasi politik, dan budaya politik.

Berdasarkan data Freedom House (2018), Indonesia mengalami defisit demokrasi, dari status “bebas (free)” pada 2006-2013 menjadi “bebas sebagian (partly free)” hingga 2018.

Sementara, Timor Leste, negara yang lahir dari rahim Indonesia, naik peringkat dari “partly free” menjadi “free” pada 2018.

Itulah data dan analisa para tehnisi demokrasi. Partisipasi politik dalam pengambilan keputusan dan pengawasan yang buruk melahirkan mahar politik berbiaya tinggi. Partai jadi investasi para pemodal hingga mudah dijual belikan, ditawar-tawar sesuai kepentingan.

Ketika peran parpol sudah terdistorsi, maka kredibilitasnya sangat dipertanyakan. Lahirlah koalisi parpol yang hampa, kosong dan kering dari keberpihakan. Berhala baru itu terus dipuja, bahkan mereka semua tahu, untuk menyelamatkan dirinya saja ia tidak mampu.

Sparta dan Athena yang merupakan contoh produk gagal demokrasi hingga menjadikan keduanya sebagai musuh bebuyutan. Perang selama 27 tahun mengakibatkan seluruh Yunani mengalami kemiskinan dan penderitaan hingga berakhir pada kehancuran.

Mempertahankan sistem imitasi ini adalah legalisasi kebodohan. Demokrasi tak lebih dari menjalankan keputusan dan keinginan kekuatan kapitalis, lebih tepatnya para bankir internasional belaka. Demokrasi adalah sistem politik buruk bagi manusia berwatak buruk.

Insyaflah brother…!!!

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

Hati-hati dengan Uang Kertas Anda

0

©Amir MTR

Ada apa dengan uang kertas? Ah, saya  jadi was-was sendiri saat menuliskan ini. Dan saya berharap Anda juga was-was setelah baca tulisan saya.

Jujur saya bukan analisis keuangan ataupun ekonom. Hanya saja, tiba-tiba saya kepikiran perihal isi dompet saya. Seperti isi dompet Anda,  di dalamnya juga terdapat e-Money.  Ada kartu kredit,  ada kartu debet, e-pay, e-toll, dan masih banyak varian lain yang terus-menerus dikeluarkan oleh vendor-vendornya.

Hampir setiap hari uang  digital itu saya pergunakan sekarang.  Untuk membeli makanan, membeli bensin, membeli voucher pulsa, membayar tol, membayar biaya parkir, hampir semua transaksi saya lakukan dengan e-money.  Kendati baru beberapa tahun terakhir saya adopsi,  e-money telah menjadi cara pembayaran yang begitu akrab dengan keseharian.

Bagaimana tidak,  melakukan transaksi dengan e-money begitu mudah dan praktis. Selain itu, para vendor e-money juga tidak segan-segan menawarkan benefit melalui berbagai program promo menggiurkan, yang merangsang kita untuk terus menggesek-gesek dan gesek.

Lalu bagaimana dengan nasib uang kertas ke depannya? Wah, jangan-jangan uang kertas juga akan diganti semua dengan uang digital. Berarti orang kampung pun besok-besok harus punya e-money?

Tiba-tiba  terlintas dalam pikiran, bukankah semua program ini sengaja dibuat oleh pihak-pihak pengelola uang digital. Tujuannya  jelas,  agar masyarakat pengguna uang kertas berpindah ke cara transaksi baru yaitu e-money.   Masyarakat dibuat kecanduan dengan kepraktisan dan tawaran-tawarannya.   Ia tidak sadar, uang miliknya telah diubah menjadi sekadar angka-angka yang tidak memiliki bentuk fisik.

Ah, saya menepok jidat. Ini adalah bentuk penjajahan baru. Masyarakat  dibuat tergantung kepada pihak bank/institusi keuangan.  Semakin tergantung pada angka-angka yang tercetak dalam rekeningnya itu, semakin tidak berkutik ia melawan imperialisme modern melalui institusi keuangan. Wah, ngeri juga.

Kalau memang analisa orang kampung ini benar,  berarti kita harus sudah mulai antisipasi.  Tidak usah menyimpan uang dalam jumlah banyak, baik dalam angka-angka di rekening maupun dalam bentuk fisik kertas. Siapa yang bisa menjamin keamanan kertas bernomor itu?

Hey, apakah tidak lebih baik kita simpan dalam bentuk yang  memang ada fisik riilnya? Cling! Emas dan perak, itu jawabannya. Tidak mudah rusak, kebal inflasi, dan ada bentuk riil yang valuenya senilai dengan bobot fisiknya.    

Ayooo sahabatku,  kita wajib waspada dengan segala hal yang akan terjadi.  Tampaknya kita hidup dalam kondisi yang memang menutut upaya lebih dari ummat ini.

Membayar Kepastian dengan Ketidakpastian

0

©8370adewe

Salah satu tabiat buruk utang adalah membayar kepastian dengan ketidakpastian. Alih-alih terjadi pemerataan melalui  pembangunan infrastruktur, untuk membangun semuanya ternyata digunakan uang utangan.

Padahal  kewajiban membayar utang adalah kepastian. Sementara uang untuk membayarnya,  diharapkan didapat dari bisnis yang tidak pasti.

Tukang  utang yang begitu percaya diri bisa membayar utangannya, biasanya mudah gelap mata. Apapun keinginan dia, akan diselesaikan dengan utang.  Karena kalau tidak utang, kapan lagi bisa mendapatkannya.  Dia sangat yakin mampu membayar utangnya itu. Apalagi sang menteri ahli utang berbisik semua masih aman.

Di negeri yang dikomandani oleh tukang utang, infrastruktur jadi andalan. Pembagunan jalan digeber, karena jalan tol konon bisa membebaskan masyarakat dari berbagai  hambatan sepanjang Anyer – Banyuwangi.  

Pembangunan infrastruktur akhirnya terwujud. Namun yang tidak diduga rakyat,  ruas-ruas tol baru itu ternyata menyisakan beban utang yang luar biasa. Jalan bebas hambatan yang digadang-gadang bisa menghasilkan uang untuk mengembalikan utang (berserta bunganya, tentu saja), ternyata sama  sekali tidak impas. Bahkan untuk  membayar bunga utang saja, tidak cukup.

Proyek itu tekor besar.  Hingga entah ide darimana, untuk menutup  cicilan utang tersebut, bangunan hasil utangan itupun  diwacanakan untuk dijual kepada sang pengutang.   Mbulet. Begitulah, semua berawal dari terlalu pedenya sang komandan tukang utang.

Utang tak akan lelah menjerat siapapun. Bagi pelakunya,  utang hanya nikmat pada saat cair. Besoknya ia akan dituntut kerja keras banting tulang, hanya untuk membayar cicilan. Mudah-mudahan sang komandan segera menyadari tabiat buruk utang.  Dan kita sebagai pejuang anti riba, berkewajiban melakukan penyadaran akan tabiat buruk utang dan akibat-akibat fatal di belakangnya.  Kepada siapapun, di manapun, dan kapanpun, karena  kebiasaan utang telah menjadi wabah di negeri  yang mestinya kaya raya ini.

Write off BDO dalam 21 Hari

0

©Prof. Dr. Oz MTR

Berkah Ramadhan tiada habisnya.  Ini cerita sukses sahabat saya yang berhasil mendapatkan penghapusan  BDO  dari 2 Abank setelah mengikuti event  Sukses Mengembangkan Harta Tanpa Riba (SMHTR).  

Awal Ramadhan,  sahabat saya mengikuti SMHTR SOLO yang berlangsung 8-9 Mei 2019 lalu. Sejak itu, ia berazam untuk segera meninggalkan utang riba.  Tak menunggu lama, ia pun langsung mendatangi “Abank” untuk menyampaikan  masudnya  secara lisan.

Tak disangka,  si Abank ternyata  bisa memahami keinginannya.  Mereka hanya meminta pengajuan secara tertulis untuk diajukan ke pihak manajemen.

Dua hari setelah dilayangkan surat, si Abank memberikan respon positif. Tak tanggung-tanggung, mereka bersedia memotong bunga,  denda dan ongkos-ongkos lainnya ( BDO)  hingga 0%. Tak hanya itu, si Abank juga memberi kelonggaran waktu 3 bulan untuk segera  menyelesaikan utang yang masih bersisa. Surat balasan resmi dari si Abank ini dilayangkan  langsung kepada sahabat saya.

Tepat 21 hari, terhitung setelah ikut SMHTR tersebut, datang surat persetujuan pernghapusan (write off) BDO dari si Abank. Tanpa harus stop cicilan, tak ada embel-embel tambahan.   

 Begitulah, kita harus yakin, hanya “nasrullah” (pertolongan Allah) yang kita butuhkan dalam ihtiar untuk terbebas dari kutukan riba ini.  

Di luar itu, saat melakukan pendekatan kepada si Abang, jangan lupakan prinsip “bersahabat dalam dahwah”  dan  “kekuatan dalam kelembutan”.   Pendekatan ini dijamin akan memberikan hasil dengan tingkat,  insyaAllah 100%.  Percayalah,  cara dakwah yang ahsan merupakan strategi paling mujarab.  Ingat, lakukan silaturahmi dengan tatap muka, insyaAllah semua urusan akan lancar. 

Dengan strategi di atas, sahabat saya sudah mendapakan 2 BDO sekaligus dari 2 Abank Pelat Merah.

Jika Anda tertarik, saat mudik atau bertandang  ke daerah Jawa Tengah maupun Jawa TImur, mampirlah kepada sahabat-sahabat di MTR Solo. InsyaAllah kami siap berbagi tips untuk mendapatkan penghapusan BDO.

Buktikan sendiri Hoax’s ini supaya  tidak Hoax’s …….

Apa Jadinya kalau Mr. President ikut SMHTR?

0

©M. Aly – MTR Sumut

Negara ini katanya sudah merdeka sejak  17 Agustus 1945! Tapi benarkah demikian? Nyatanya, Indonesia masih menanggung utang Rp67 triliun yang bersama cicilan bunganya harus ditanggung turun-temurun.

Utang hakekatnya adalah alat penjajahan! Bagi negara yang menganut sistem kapitalis,  utang akan dipergunakan sebagai alat mengatur bangsa yang diutangi semau sendiri. Sudah  ada beberapa contoh negara bangkrut gara-gara utang. Sebutlah Yunani, yang sekarang tidak punya  kedaulatan lagi setelah mengalami krisis ekonomi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sudah 7 Presiden memimpin negeri ini. Namun bukan berkurang utang yang dimiliki, justru semakin membengkak dari rezim ke rezim.

Tak  hanya menjadi beban negara, utang juga telah menjadi virus yang menyebar ke seluruh sendi bangsa. Dari pengusaha hingga lapisan bawah. Mereka  seolah tak berdaya tanpa utang. Ketika  berhadapan dengan masalah cashflow atau problem finansial lain,  yang ada di benak hanya kata “utang” sebagai jalan pintas.

Padahal utang merupakan tabiat buruk. Sebutlah beberapa alasan di  berikut ini. Pertama, utang cendeurng akan selalu bertambah. Kedua, orang yang sudah terbiasa berutang, akan sulit menghentikannya. Ya, utang ternyata bersifat adiktif, tak ubahnya candu.

Ketiga, utang akan menambah beban hidup, memperberat beban pikiran, membuat Anda gelisah di malam hari, sengsara di siang hari. Keempat, jangan kaget jika sudah terbiasa berutang, Anda akan mulai menjadi pendusta. Terutama saat ditagih sementara uang belum di tangan.

Kalau Anda cari lagi, sebenarnya masih banyak efek berantai dari tabiat berutang. Semuanya merujuk pada kondisi yang tidak menyenangkan. Namun lantaran sudah menjadi budaya, berutang dianggap gaya hidup yang lumrah.

Pada titik inilah Masyarakat Tanpa Riba (MTR) bergerak. Untuk mengatasi kebiasaan berutang yang sudah membudaya di masyarakat, MTR giat mengedukasi masyarakat tentang tabiat buruk utang dan bagaimana cara keluar dari belitannya.

Inilah bentuk “Bela Negara di Bidang Keuangan”!  MTR Ingin Indonesia meraih kembali kemerdekaan finansialnya  yang sudah tergadaikan.

Kegiatan edukasi yang diandalkan MTR antara lain adalah seminar SMHTR (Sukses Mengembangkan Harta Tanpa Riba). Seminar ini terbukti ampuh untuk menyadarkan banyak pengusaha dan masyarakat dari tabiat buruk utang.

Besarnya antusiasme peserta yang berasal dari berbagai pelosok tanah air merupakan bukti, bahwa hampir seluruh lapisan masyarakat sebenarnya ingin  bangsa ini berdaulat secara finansial.  Mereka siap bahu membahu menyelamatkan masa depan dari jeratan utang.

Pada titik lain, mari coba berimajinasi, apa jadinya kalau Mr. President juga mengikuti Seminar SMHTR? Jika itu terjadi, InsyaAllah dalam waktu tidak lama, Indonesia  mampu merebut kedaulatannya lagi dari penjajahan para kreditor yang mengisap kemakmuran bangsa.

Dengan segala hormat, kami mengundang Anda, Mr President.  Bergabunglah untuk menjadi anggota kehormatan SMHTR!

Salam lunas untuk Indonesia!

Azam Baru Warga MTR

0

©EditorMTR

Ramadhan yang penuh berkah telah berlalu. Namun semangat untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, mestinya tak lekang oleh waktu.

Assalamualaykum warga dunia yang merindukan kemerdekaan dari penjajahan utang dan riba.

Berakhirnya bulan puasa tidak seharusnya menurunkan kualitas dan kuantitas ibadah kita.  Lepas dari “madrasah” Ramadhan yang mulia,  warga Masyarakat Tanpa Riba (MTR) berazam untuk aktif menghidupkan web ini dengan lembaran dan semangat baru.

Sejalan dengan azam untuk meningkatkan intensitas amalan vertikal, kami telah menabalkan janji untuk lebih aktif menulis, mengabarkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran Islam rahmatan lil alamin. Terutama terkait dengan visi MTR untuk mengajak segenap masyarakat memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan riba dan utang, yang telah merasuk ke seluruh sendi-sendi kehidupan duniawi.

Kami tidak main-main. Lebih dari 100 warga MTR saat ini tengah bertransformasi menjadi “the best opinion leader”.  Mereka siap berperan sebagai the messenger of truth, berdakwah dan berbagi edukasi mengenai bahaya transaksi riba serta muamalah batil lainnya. Kami yakin, kembali kepada aturan  Allah secara total adalah satu-satunya cara agar hidup semakin berkah.

Dimulai dari skala komunitas dan umat, kami percaya, value ini akan memberikan efek bola salju yang pada saatnya bisa menjadi solusi atas berbagai persoalan utang yang mengancam ketahanan Nasional.  

Sudah banyak contoh rusaknya ketahanan suatu negara karena kebijakan utang tidak terkontrol. Santer terdengar beberapa kisah hilangnya kedaulatan karena terjebak utang (debt trap) luar negeri. Haruskah kita ikut terjerumus hangus di dalam lubang yang sama?

Kami,  warga MTR tidak rela bangsa ini tergadai karena tabiat buruk berutang.  Sebagai elemen negeri, kami siap berlepas dari penjajahan utang menuju kemerdekaan financial yang penuh barokah.

Mari  merajut harapan bersama MTR. Membebaskan Indonesia dari riba dan utang, menuju negeri baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur.

Lebaran, antara Kesedihan, Kebahagiaan, dan Harapan Kemenangan

0

©MIslamBisri

Bercerita tentang Lebaran, tak ubahnya akhir perjalanan haji.  Syukur dan penyesalan, gembira dan rasa sedih, campur baur menjadi  satu cerita haru dan seru yang takkan pernah bisa kita elakkan

Panggilan mulia untuk berhaji, pasti memberi perasaan syukur. Begitu juga saat kita bertemu dengan Ramadhan yang penuh  berkah. 

Sebaliknya, saat meninggalkan Makkah dan Madinah, akan menorehkan cerita penyesalan karena banyak  peluang kebaikan yang belum terlaksana.  Inilah yang biasanya membuat orang-orang berkeinginan kuat dan berharap bisa berjumpa lagi dengan Tanah Suci Makkah dan Madinah.  Rasa seperti itu persis terjadi  tatkala kita berpisah dengan bulan suci Ramadhan.

Kita pasti gembira bila saat memenuhi panggilan ke Tanah Suci, telah berusaha sesempurna mungkin melaksanakan berbagai rangkaian ibadah haji.  Begitu juga persis sama, bila kita bisa mengikuti rangkaian ibadah-ibadah di dalam bulan Ramadhan yang diakhiri dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri

Lalu apakah makna atau hakikat  yang telah kita dapatkan dari Ramadhan tahun ini?

Ramadhan sebagai bulan Madrasah, adalah sarana pembelajaran istimewa  yang diberikan Allah untuk kita umat Rosulullah SAW.  Sungguh sangat merugi, bila dalam sebulan pembelajaran yang kita ikuti, tidak ada manfaat yang berarti serta pengampunan dosa yang kita dapatkan.

Selanjutnya, benarkah kita sudah mendapatkan kemenangan di Ramadhan kali ini?

Dalam menempuh ibadah Ramadhan, ada tiga bentuk kemenangan yang ingin dan harus kita dapatkan, yakni :

Kemenangan Spiritual yang menyangkut peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah.

Kemenangan Emosional yang berhubungan dengan kecerdasan dalam mengendalikan diri dan nafsu.

Kemenangan Intelektual yang erat hubungannya dengan ‘Imanan wahtisaban’, kecerdasan yang bisa membuat kita senantiasa bisa membedakan antara yang hak dan yang bathil

Semoga kita semua berhasil mendapatkan ketiga bentuk kemenangan yang menjadi tujuan “Pendidikan Ramadhan” di tahun ini.  Mudah-mudahan juga dijauhkan Allah dari perumpamaan yang pernah disampaikan Rosulullah SAW, laksana seseorang yang menenun benang di pagi hari, namun ketika sore tiba, benang yang sudah ditenun tadi diuraikannya lagi. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah . 

~~~~~~~~~~~

Sila mulai saat ini bercermin dan muhasabah diri. Kita boleh saja bersedih dengan kepergian “sang tamu agung”. Tapi kita juga diwajibkan bergembira menyambut hari nan fitiri

Namun, berbeda dengan kaum kafirun yang berpesta pora dalam mewujudkan kegembiraan hatinya, Islam telah dengan sangat sempurna menunutun kita dalam merayakan setiap kemenangan.

Yakni, bergembira dengan memperbanyak kalimat pujian ke hadirat Allah dan memperbanyak sujud, yang semuanya bermuara kepada kesadaran serta keinginan untuk patuh dan ta’at kepada perintah Allah dan RosulNya. Karena itulah kemenangan yang sesungguhnya!

Bangkinang 0,17 Juni 2019

Lebaran yang Terstruktur, Sistematik dan Massive

0

© MY 05062019

Sebulan tak terasa, Ramadhan pun berlalu. Hari yang mulia sudah kita lewati.

“Selamat Idul Fitri.  Taqoballahu minna wa minkum.” Begitu kita menyambut hari kemenangan itu dengan sukacita.

Namun ketika Idul Fitri dirayakan secara MASSIVE  lewat SMS, WA, dan MEDSOS saja tanpa tatap muka, maka itu adalah bencana.

Keberkahan multidimensi yang TERSTRUKTUR itu, akan  hadir saat silaturahim terjadi secara fisik dan tatap muka langsung.

Anda akan tahu secara SISTEMATIK cerita nikmatnya opor dan ketupat lebaran. Bahkan mendengar sendiri tentang dahsyatnya perlawanan mereka yang rela dipenjara demi syariat. The Untold Story yang tidak akan Anda temukan di manapun kecuali lewat tatap muka.

Brutal copas sana-sini bahkan hoax, seolah telah berempati dan berasa ikut mengubah keadaan? Come on !!! Hadir dan datangi mereka, itu essensi real dari tatap muka.

Sihir pembodohan terstruktur berbungkus lebaran sedang berlangsung sistematik. Ia hanya akan kalah dalam keberkahan silaturahim yang masif.

Anda saat ini mungkin sedang duduk santai sambil menghabiskan cemilan, bisa jadi ikut tertidur dalam acara sihir pembodohan tersebut. Sementara persoalan umat makin menumpuk.

Sebagian bergembira disihir dalam tarik tunai uang kertas yang hanya 5% itu. M-banking, e-transaksi, jadi kalkulator rekening agar terlihat mudah, padahal sedang dibohongi.

Sadar ‘gak sih?

MEMBONGKAR RAHASIA PARA PELATIH BISNIS YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN

0