Diterima ataupun ditolak adalah hal yang lumrah ketika kita menyampaikan dakwah kebaikan. Tentu ada perasaan kecewa saat kita mencoba berdakwah kepada seseorang atau suatu kelompok mendapat respon negative, bahkan mungkin dihina dan diremehkan
Sebaliknya kita pasti merasa senang dan bahagia, ketika
usaha dakwah yang kita lakukan, bisa diterima dengan baik oleh orang atau
kelompok yang kita ajak
Namun sadarkah kita, sejatinya ujian terberat dalam melaksanakan dakwah justru terjadi ketika apa yang kita sampaikan diterima oleh para target dakwah kita. Saat mulai ada orang yang mendapat hidayah hijrah lewat dakwah yang kita lakukan, dan mereka pun mulai mengeluarkan pujian, disitulah “ Nafsu Tersembunyi” mulai memasang “ranjau-ranjau dan jebakan”.
Yang paling bahaya adalah ranjau riya , summah dan ujub. Ingin dipuji, dan kagum dengan amalan sendiri. Berhati-hatilah, perasaan ini bisa membakar semua nilai amalan yang kita lakukan, bila kita tidak mewaspadai keberadaannya. Begitu kita terjebak dan masuk dalam perangkap nafsu itu, terhapuslah segala catatan kebaikan yang pernah kita lakukan.
Bagaimana mencegahnya? Selalu Muhasabah dan saling mengingatkan dalam jalan perjuangan dakwah, adalah beberapa cara ampuh untuk mengantisipasinya.
Kedua, sehebat apapun
amalan dan perjuangan dakwah yang telah kita perbuat , jangan pernah menganggap
enteng amalan-amalan ringan yang banyak bertaburan di sekeliling kehidupan kita. Karena bisa jadi, semua catatan amalan yang
kita anggap hebat dan luar biasa , ternyata hanya menjadi debu yang tak berarti
karena jebakan nafsu yang tersembunyi. Sebaliknya, amalan yang kita anggap
kurang boleh jadi, justru itulah yang diterima oleh Allah SWT dan kelak bisa
menyelamatkan kita di hari perhitungan.
Siapapun yang baru membuka usaha atau bisnis pasti bermimpi jualan kita ramai diserbu pelanggan dan langsung mendapatkan margin lumayan. Banyak pemilik perusahaan berskala menengah ke bawah berharap, setelah membuka usaha, pengunjung terus ramai dan jumlah pelanggan terus bertambah.
Namun tahukah Anda, keberuntungan seperti itu adalah
keajaiban yang hanya bisa diraih oleh
perusahaan berskala besar. Minimal level chain
store (toko pengecer yang memiliki lebih dari satu
gerai dan dimiliki oleh perusahaan yang sama) atau sekalian Perusahaan PMA
(Penanaman Modal Asing).
Saat membuka cabang, perusahaan besar tak ubahnya sniper saat membidik calon pelanggan. Dengan berbagai kemudahan dan keleluasaan yang dimiliki, sudah tentu mereka memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi. Tak ada istilah takut rugi atau tidak mendapatkan pelanggan dengan membuka cabang di mana-mana.
Bahkan tak jarang, sebelum launching, produk mereka sudah terjual habis. Anda tidak perlu heran, bisa jadi mereka sudah membuka pre-order sebelum produk masuk ke pasar.
Mengapa mereka selalu sukses membuka bisnis baru di manapun berada? Sekali lagi kuncinya adalah tepat sasaran. Mereka adalah sniper canggih yang tembakannya tidak pernah meleset dalam membidik calon pelanggan (target market).
Bagaimana mereka menguasai teknik menembak pelanggan secara jitu? Jawabnya adalah Identifikasi Target Market (ITM) yang tepat. Tujuan ITM adalah menentukan kepada siapa dagangan Anda ditujukan.
Di lingkungan MTR, istilah ITM diperkenalkan pertama dalam event PBTR (Platform Bisnis Tanpa Riba diadakan oleh Syarea World di Bogor akhir April lalu.
“Bisnis dimulai dari menentukan kepada siapa dagangan kita akan dijual. Itu tujuan kita membuat ITM,” begitu kata coach S. Arifin saat memperkenalkan materi ini.
Dalam event tersebut, teknik menentukan ITM mulai diulas. Yang pertama, ITM bisa dilakukan melalui berbagai cara. Mulai dari identitas target market (nama, usia, gender), dan level SES (status social, pekerjaan/penghasilan, pandangan politik, sampai kepemilikan jenis kendaraan). Selain itu juga bisa dilakukan melalui pendekatan psikografi (kesukaan, kebiasaan, sampai detil ciri-ciri fisiknya).
Pada praktiknya, melalui ITM ini bisa dipetakan beberapa level konsumen. Yang paling tinggi adalah level A, yaitu konsumen Asyik yang selalu mau kita tawari produk ada saja. Setingkat di bawahnya, level konsumen B-Bagus. Yaitu target market yang akan selalu membeli produk sesuai kebutuhannya. Mereka tahu mana kebutuhan dan mana keinginan. Namun begitu punya kebutuhan, dijamin ia akan datang untuk membeli tanpa menawar.
Level C yang ketiga bisa membuat kita menggerutu “Capek, deh” karena datang hanya untuk bertanya harga, sedikit menawar, membanding-bandingkan dengan tempat lain, walaupun bisa jadi akhirnya membeli. Dan terakhir level D, Dadaaaah! Tak ada eksekusi pembelian sama sekali.
Tak sekadar belajar teori, ada event tersebut kami juga diberikan beberapa studi kasus dari bisnis riil yang telah dipratikkan oleh salah satu peserta. Melalui teknik ITM yang tepat, bisnis travel Ahmad Sugiono warga MTR dari Jogja berhasil lolos dari praktik disrupsi travel online yang sejatinya hanya merupakan bisnis sela untuk membentuk ekosistem e-payment di Indonesia.
Tak cukup di situ, kami juga dibimbing untuk melakukan simulasi dalam memetakan ITM sesuai dengan bisnis masing-masing peserta. Melalui moment tersebut, kami tersadarkan sebenarnya selama ini banyak hal yang telah kami abaikan dalam proses bisnis yang telah kami jalani. Kami akhirnya tahu cara memperbaiki bisnis dengan cara yang tepat.
Yakinlah, dengan ITM yang tepat, Anda akan mampu membidik konsumen dengan peluang keberhasilan 99%. Jika itu sudah terjadi, bisnis Anda akan selalu tumbuh dan berkembang hingga lebih dari 100 tahun. InsyaAllah.
Materi ITM yang lebih dalam, akan dipaparkan dalam event Be Master in Marketing & Selling (BeMIMS) yang akan diadakan Syarea World akhir Juni besok. Anda yang ingin merasakan punya bisnis turbo, mari bergabung dalam moment edukatif dari MTR.
Sangat menarik mengikuti salah satu tulisan Om Nasjo yang
kemarin membahas masalah suami isteri dan berbagai teori kebijaksanaannya
Entah apa gerangan yang membuat si Om, mendadak berubah
menjadi sedikit romantis. Apakah beliau lagi dilanda re-kasmaran atau tengah
mendapat protes keras dan kritikan dari sang Ratu ( sudah pasti seorang wanita
yang pintar dan hebat), tentang energi dan pikiran cerdas sang Raja ( om
Nasjo),yang belakangan ini lebih banyak terkuras untuk menulis tentang profil
manusia-manusia 0,50 alias manusia gagal, ketimbang membahas profil orang-orang
sukses. WAllahu a’lam
—————————————
Kewajiban isteri untuk taat dan patuh kepada suami adalah
sesuatu yang sudah digariskan oleh
Allah SWT . Namun tak jarang, hal ini disalah artikan oleh sebagian kaum suami.
Diantaranya, ada yang semi otoriter, dengan mengartikan
bahwa kepatuhan dan ketaatan isteri itu sebagai penyerahan diri total. Walau
sesekali sang suami masih mau memberi
ruang kepada si isteri untuk menyampaikan keluh kesahnya. Namun itupun jarang
dihiraukan
Kemudian ada yang bertipe otoriter, menyimpulkan kewajiban
patuh dan taat seorang isteri kepada suami adalah sebagai penyerahan diri tanpa
syarat. Yang menganggap isteri bisa
diberlakukan suka-suka, serta cenderung menjadikan isteri sebagai budak pesuruh
di rumah tangganya.
Bagi lelaki yang bertipe ini, memerintah isteri dengan
berkacak pinggang sambil menunjuk menggunakan tangan kiri adalah suatu kepuasan
dan kebanggaan.
Apalagi kalau sang suami seorang UTANGERS sejati. Sang isteri tiap hari akan merasakan indahnya alunan suara-suara tak merdu dari sang suami. Padahal dulu, saat pra menikah, bersumpah akan menyayangi dan berlemah lembut kepada sang dambaan hati ( sweet gombal sweet )
Bukankah Rasulullah SAW telah mengingatkan kita melalui sabdanya, bahwa sebaik-baik lelaki itu adalah yang paling menyayangi isteri dan keluarganya ? Kewajiban kita semua belajar dari bagaimana Nabi berperilaku terhadap para isteri nya .
Dengan beban berat setiap hari harus mengurus suami,anak-anak dan pekerjaan rumah tangganya,
sudah semestinya seorang isteri mendapat perhatian yang sangat baik dari
seorang suami
—————————————
Sudah jadi rahasia umum , ‘di belakang seorang lelaki yang hebat, pasti ada sosok perempuan atau isteri yang hebat’
Namun seorang isteri juga harus paham akan hal sebaliknya. Bahwa
di depan dirinya sebagai seorang wanita atau isteri yang hebat, pasti ada sosok
seorang lelaki atau suami hebat yang dititipi Allah dengan sifat Baqo’. Tabi’at yang menjadi benang batas atas
wibawa seorang lelaki yang tidak boleh dilampaui apalagi sampai di injak dan
dirusak oleh seorang isteri
Seorang isteri bisa dengan mudah masuk neraka karena
mendurhakai suaminya. Sebaliknya seorang isteri juga bisa dengan mudah masuk ke
dalam jannah, bila dirinya bisa taat dan patuh sesuai syariah kepada
suaminya
Inilah sebenarnya salah satu hikmah besar, Allah SWT menitipkan kepada sang Nabi Termulia Rosululloh SAW , beberapa orang sosok wanita pintar, cerdas dan mulia. Seperti sosok Bunda Khadijah dan Bunda Aisyah, beserta yang lainnya.
Rumah tangga Rosulullah SAW adalah contoh yang paling ideal di jagad raya ini, tentang sosok wanita-wanita mulia yang taat dan patuh serta menjadi penopang perjuangan dakwah sang suami. Baik melalui harta,pikiran maupun bentuk kemuliaan lainnya.
Begitu juga dengan pribadi agung Rosulullah SAW yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah peradaban manusia dan alam semesta. Sebagai seorang suami terhebat yang sangat menyayangi keluarga dan menghargai kehadiran serta keberadaan sosok seorang isteri . Wallahu a’lam
Pengajuan bebas Bunga Denda & Ongkos (BDO) ke “Abang”
yang saya masukkan sejak Mei 2019 tidak di gubris. Mungkin karena selama itu, pembayaran
kami masih lancar dan tidak bermasalah.
Sampai akhirnya setelah kami melakukan aksi stop bayar
cicilan, pada bulan ketiga si Abank mulai membalas dengan surat cintanya, SP 1
(= Surat Peringatan).
Mendapatkan surat itu, kamipun berkunjung ke kantor Abank, untuk menemui si pembuat surat. Sampai di sana, kami diminta untuk menemui
bagian collection.
Walau baru pertama berjumpa, pembicaraan berlangsung akrab. Petugas itu menyatakan bisa memahami apa yang
kami minta, dan siap membantu untuk mengajukan permintaan kami ke manajemen pusat.
Begitulah, akhirnya permohonan bebas BDO kami layangkan ke
pusat. Namun respon selanjutnya bisa ditebak. Permohonan ditolak!
Kami tidak putus asa. Kami putuskan untuk melakukan
silaturahmi setiap bulan kepada Abank. Hal
yang kami tanyakan selalu sama, bagaimana cara untuk mendapatkan penghapusan
BDO. Akhirnya, kami diarahkan ke Kantor Wilayah si Abank di Yogyakarta.
Namun di sana, mereka pun menyatakan tidak bisa membantu.
Begitupun, mereka mengijinkan kami untuk bertemu dengan manajemen pusat abank
di Jakarta. Maka kami pun segera bertandang ke kantor pusat Abank.
Setelah pertemuan itu, kami intens menjalin silaturahmi baik
secara fisik maupun surat menyurat. Pada
akhirnya, proses itu berakhir dengan keputusan lelang atas asset kami. Dari proses
itulah, kami mengajukan gugatan perdata ke meja hijau kepada si Abank.
Setelah melalui 3 proses persidangan awal, pada sidang ke-4 kami diminta untuk
sidang mediasi. Mediasi ini berlangsung beberapa kali. Dan pada sidang mediasi
ketigalah, akhir si Abank menyetujui penghapusan BDO yang kami ajukan.
Alhamdulillah, kami tidak perlu berdebat melalui pasal-pasal dan pembuktian
di persidangan. Karena dengan tahap
tersebut, bisa dipastikan perdebatan akan semakin panjang. Padahal kami hanya
ingin utang segera lunas. Itu tujuan
kami yang utama.
29 Mei 2019, keputusan penghapusan BDO resmi kami dapatkan setelah melalui proses di meja hijau. Alhamdulilah sekarang kami bisa membawa pulang sertifikat rumah kami ke rumah setelah
melalui proses panjang selama 2 tahun.
Hanya dengan bersahabat dalam dakwah, utang kami bisa Lunas.
”Kesadaran Adalah Matahari, kesabaran adalah bumi,
keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. (WS
Rendra. Depok, 22 April 1984)
Ingat revolusi merah? Berapa banyak komunis yang
mengorbankan diri mereka? Berapa lama Lenin di penjara?
Mari kita lihat bagaimana orang-orang memperjuangkan
keyakinan yang bahkan tidak sedikitpun menyelamatkan manusia dari api neraka.
Lihatlah bagaimana para pejuang demokrasi barat dan timur
mati-matian membuat Konvensi Internasional, UU Ratifikasi, Kesetaraan LGBT,
pengadilan HAM, Sistem Riba, dan lain-lain.
Apakah anda mengira itu ditegakkan dengan main-main? Apakah
mereka hanya dengan teriak “REVOLUSI !!!” lalu saat fajar terbit perubahan
sudah terwujud?
Mereka begitu bersemangat dan berdarah-darah, lalu bagaimana
dengan kita?
Montesqueau, John Lock, JJ. Russou, John Liel dll, butuh
tiga abad berturut-turut untuk keluar dari doktrin gereja yang bertentangan
dengan akal fikiran dan ilmu pengetahuan.
Masa sebagai muslim kita mudah lelah? Padahal:
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kadar kesanggupannya”. (QS Al Baqarah: 286)
Bruno dibunuh, Copernicus dipenjara, Galileo disiksa. Mereka
memperolehnya dengan pengorbanan darah, tulang belulang, dan para pemikir.
300.000 orang dibunuh algojo dan dinas Intelijen, 30.000 diantaranya dibakar
hidup-hidup.
Begitulah para pengikut nafsu dunia mereka pun dengan keras
berjuang. Masa anda mau jadi penyumbang
daftar panjang pembuat alasan ketika diminta berdakwah?
Padahal bebas utang riba, membela hak di pengadilan,
mejalankan syariat itu kelak untuk dirinya lho? Gitu aja nggak punya waktu, nggak
berani, ogah berkorban, atau….ah sudahlah.
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu berharap”. (QS Al
Insyirah: 8)
Pengadilan adalah
forum tamasya kecil kita, tidak ada darah yang tumpah, tidak ada
intimidasi, tidak ada gas dan air mata. Itu adalah praktek dari ‘BERSAHABAT DALAM DAKWAH’ yang sering
kita jargonkan. Walaupun hanya remahan kecil dalam perjuangan, kita tidak akan pernah lemah dan sedih.
”Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu
bersedih hati, padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya jika
kamu beriman”. (QS Al Imran : 139)
Para pengolok-olok berkata, apakah Allah tidak mampu sehingga
hukum-Nya harus ditegakkan oleh kita, apakah Allah butuh tentara, mana SK
pengangkatannya?
Semoga Allah mengampuni…
Bahkan jika seluruh bumi ingkar dan tidak menyembah
kepada-Nya, kekuasaan dan keagungan Allah tidak akan berkurang sedikitpun.
Hukum Allah ditegakkan karena kita butuh aturan ‘ori’, bukan
kaleng-kaleng, agar carut-marut kehidupan manusia bisa teratasi.
Siapa diantara kita yang meragukan orisinalitas dari quran,
siapa yang tidak yakin dengan kebenaran quran, siapa yang masih ragu menerapkannya
dalam kehidupan?
”Hendaknya mereka memenuhi perintah Ku dan hendaklah mereka
yakin kepada Ku agar selalu berada dalam kebenaran”. (QS Al Baqarah: 186)
Lalu mengapa bersemangat mempercayakan aturan selain aturan
tuhan? Bahkan terombang-ambing dalam aturan yang diciptakan makhluk tersebut?
Ketika ujian dan tantangan itu hadir di depan mata, sebagai
muslim pantang berpaling, haram bergeser, karena itu kekufuran.
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah melainkan orang-orang yang
kufur”. (QS Yusuf: 87)
Apakah dengan keyakinan yang maha dasyat itu kita pasti
menang? “Sesungguhnya Allah bebas
melaksanakan kehendak Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu menurut
takarannya”. (QS. Ath Thalaq: 3)
Bagaimana jika kita dikalahkan? Mungkin karena kurang ilmu, kemiskinan, atau
memperturutkan nafsu?
”Bersabarlah kamu dan kuatkkanlah kesabaranmu dan tetaplah
bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu menang”. (QS. Al Imraan:
200)
Karena sesuai janji Allah: ”Berdoalah kepada ku pastilah aku
kabulkan untukmu”. (QS Al Mukmin: 60)
Jadi ketika ‘gelap’ menyelimuti, titipkan saja pada langit
malam, sampai cahaya pagi melebur dalam ribuan asa. Sesuai firman Allah: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada
kemudahan”. (QS. Al Insyirah: 5)
Memiliki anak adalah impian indah setiap pasangan yang
saling mencinta. Bagi istri, mengandung dan melahirkan adalah tujuan besar dari
fitrah kewanitaannya.
Namun apa jadinya jika rahim — “kantung kasih sayang”
tempat bersemayam janin harus ditanggalkan dari perutnya? Tanpa rahim, seorang wanita tak kan mungkin
hamil dan memiliki keturunan yang didambakan.
Itulah mimpi buruk yang pernah menghancurkan hati seorang
wanita. Badan seperti tak bertulang. Lemas dan lunglai saat dokter memvonis
kantung itu harus dibuang karena akan membahayakan jiwanya.
“Mengapa rahimku harus ditanggalkan? Mengapa aku? Hampir
tujuh tahun aku berihtiar untuk mempertahankan. Apa dosaku ya, Allah. Mengapa
Engkau begitu tega,” begitu ratap sang wanita di atas sajadah setiap malam.
“Protes”-nya menembus langit dalam isak yang panjang.
Bagusnya, wanita itu jenis orang yang mudah bermuhasabah.
Tak semata menyalahkan Allah, di sela dukanya menjelang keputusan hari-H
operasi pengangkatan rahim, ia terus berusaha berprasangka baik kepada Allah.
Belajar menerima takdir, sembari menengok ke dalam untuk mencari ”sumber
malapetaka” ini.
“Astaghfirullah, subhanaka inni kuntum minnadzhalimiin.. Aku
mohon ampunanmu ya Allah. Apapun
kesalahanku, tolong jangan ambil rahimku,” begitu ia masih berusaha “menawar”
takdir setiap pertiga malam.
Hingga suatu malam…. DEG!!
Tiba-tiba berkelebat kartu kredit yang selama beberapa tahun ini menghuni dompetnya. Kartu
utang itu sudah seperti teman setia dalam setiap transaksi yang perlu
dilakukan. Ia merasa banyak terbantu dengan kemudahan-kemudahan serta
promo-promo yang menunjang gaya hidupnya sebagai sekretaris. Desainnya yang
cantik memberinya kebanggaan setiap mengeluarkan dari dompetnya.
Wanita itu ingat bagaimana mudahnya ia mendapatkan kartu
tersebut. Ya, bank mana yang tidak
percaya dengan seorang sekretaris muda nan sexy dari sebuah perusahaan ternama. Dan “kepercayaan” itu, ia manfaatkan sebaik-baiknya
dengan transaksi cashless yang begitu intensif. Kadang karena memang tidak
memegang uang tunai, namun lebih sering karena ia mengejar point atau promo
yang menggiurkan.
Wanita itu tidak sadar, si aBank telah menempatkannya sebagi
“lawan perang” terhadap Allah dan Rasul-Nya.
“Maka, jika kami tidak mengerjakan (meninggalkan) sisa riba,
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat
(dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan
tidak (pula) dianiaya.” Gemetar sang
mantan sekretaris itu saat membaca Quran Surat Al- Baqarah : 279.
“Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau
melunasinya, maka ia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai
pencuri.” (HR. Ibnu Majah). Badan wanita itu bergetar lebih hebat hingga ia
tersungkur dalam di atas sajadah biru.
“Ya Allah, ampunilah
hamba. Si aBank hampir membuatku menjadi seorang pencuri dihadapanMu. Si aBank
telah membuatku menjadi budak hedonisme..”
“ Subhanalloh, begitu kelam masa laluku!”
**
R I B A, telah membuatku sampai pada titik nol! Begitu sang wanita kemudian menuliskan di
dalam diarynya.
Riba membuatku sadar bahwa setiap saat Engkau berhak
memanggilku, tulisnya lagi.
“Dan Allah sekali-kali tidak akan
menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya.
Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”
“Riba telah membuatku membuka aurat dan mengharumkan dosa
jariyahku,” batin wanita itu penuh rasa malu.
“Dan yang paling penting, karena ribalah Allah membuat
rahimku harus diangkat,” simpulnya pedih.
“Aku harus TAUBAT dan berhijrah,” tekadnya penuh kesadaran.
Ia ambil tas kerjanya dan dikeluarkannya kartu cantik itu
dari dompet. Ia gunting ujungnya menjadi 2 bagian. Esok ia akan menelpon bank
penerbit kartu utang itu untuk menutup seluruh transaksinya.
**
Awal-awal memang terasa ada sesuatu yang hilang. Namun
hari-hari selanjutnya, langkahnya menjadi lebih ringan tanpa kartu utang. Ia baru merasa manfaatnya,
tanpa kartu kredit pola belanjanya menjadi lebih hemat dan sehat.
Tak lupa, malam-malam panjangnya ia lalui dengan dzikir panjang dan taubatan nasuha. “Kujemput
hidayahMu, ya Allah. Aku yakin dengan janji-janjiMu.”
Wanita itu merasa Allah menjadi semakin dekat. “BARU
SELANGKAH AKU MENGHAMPIRI, TETAPI SERIBU LANGKAH ALLAH MENGHAMPIRIKU”
Hingga ketika waktu itu datang, masyaAllah… dokter tidak
menemukan alasan apapun untuk mengangkat rahimnya. Rahim dan ovariumnya
dinyatakan sehat seperti yang dimiliki semua wanita normal.
Allahu Akbar.. Kuasa Allah melampaui semua perhitungan
logika manusia. Tidak Ada yang tidak
mungkin bagi Allah swt
“Sesungguhnya urusannya-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu
hanyalah berkata kepadanya, Jadilah, Maka jadilah ia.”(QS. Yasin : 82)
Karena selama aku baik-baik saja… Selama aku dalam limpahan kebahagiaan… Selama aku sehat wal afiat… Selama aku menikmati dunia tanpa kekurangan… Saat itulah aku sering melupakanNYA… Sering lupa hanya sekedar mengucap syukur atas segala nikmatNYA… Begitu kilatnya saat menghadapNYA… Bahkan harta yang dilarangNYA pun aku menikmatinya… Pekerjaan yang tersirat kemaksiatan aku menjalankannya… Saat Alloh mengirim ujian untukku…
Iya, DIA sayang padaku…
Alloh kangen dengan tangisan curhatanku… Alloh rindu dengan sujud panjangku… Alloh ingin mendengar asa doaku… Terlalu banyak ku memikirkan dunia… Hingga aku terlena karenanya… Akhirat sebagai tujuan tertutup begitu saja… Bersyukur Alloh berkenan mempertemukanku denganmu… Iya dengan sahabat ahli syurga sepertimu… Mengingatkan dalam kebaikan… Meluruskan ketika dalam kesalahan… Dan karena DIAlah Alloh sayang padaku….
Lebaran Ketupat banyak dirayakan masyarakat Muslim Jawa — terutama
daerah Pantura, dan beberapa wilayah Jawa Timur serta Pulau Madura. Tradisi ini
juga dikenal di beberapa daerah luar Jawa seperti Manado, Lombok, Gorontalo karena dibawa masyarakat
pendatang asal Jawa.
Lebaran Ketupat dilaksanakan 7 di bulan Syawal. Perayaan ini boleh
dibilang merupakan kombinasi tradisi Indonesia dengan Ajaran Islam. Para penganutnya menyebut Lebaran Ketupat sebagai
Lebaran Kecil untuk merayakan selesainya ibadah sunnah, yaitu puasa 6 hari di
bulan Syawal yang sangat dianjurkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dahal hadistnya.
Dari Abu Ayyub radhiallahu ‘anhu, bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa
enam hari bulan Syawal, maka itulah puasa satu tahun.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Ketupat sendiri merupakan makanan yang berbahan dasar beras
yang dibungkus oleh anyaman daun kelapa berbentuk persegi empat. Setelah diisi oleh beras,
selongsong daun kelapa ini direbus dalam waktu yang cukup lama kurang lebih 2
sampai 3 jam.
Dalam makna tersirat, empat sisi dari ketupat itu diartikan sebagai
laku papat (empat tindakan) yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Berikut
penjabaran keempat tindakan tersebut :
1. Lebaran berasal
dari kata lebar ( e dibaca seperti
pada kata sejak) yang berarti selesai.
Hal tersebut dimaksudkan telah
selesainya menjalani puasa dengan datangnya 1 Syawal.
2. Luberan yang berarti melimpah. Diibaratkan air dalam
tempayan yang isinya melimpah hingga tumpah kebawah. Simbol tersebut memberikan
pesan untuk memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin, yaitu sedekan
dengan ikhlas seperti tumpahnya atau lubernya air dalam tempayan.
3. Leburan yang
berarti semua kesalahan dilebur atau
habis dan lepas, serta dapat dimaafkan pada hari Idulfitri.
4. Laburan Di
masyarakat Jawa labur (kapur) adalah bahan untuk memutihkan dinding. Hal
tersebut menandakan simbol yang memberikan pesan untuk senantiasa menjaga
kebersihan diri lahir dan batin.
Usai saling bermaafan atau leburan di momen Lebaran, umat
Muslim diberikan pesan agar tetap menjaga sikap dan tindakan yang baik.
Sehingga hal tersebut mencerminkan budi pekerti yang baik pula.
Dari tulisan singkat ini kita bisa paham makna yang dalam dari lebaran ketupat tersebut, yaitu terus istiqomah dalam hal kebajikan dan mampu menyempurnakan ibadah Ramadhan dengan melaksanakan puasa Sunnah dibulan Syawal. Semoga kita dapat dan diberi kekuatan untuk melaksanakan sunnah Rusullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Aamiin…..
“Magai, how can I be normal?” Her first sentence when Sabrina -my 13 yo- enter my room after school.
“What do you mean kakak?”
“You know Magai, NORMAL like other girls in my school.
They do gossiping, talked about boys, talk about fashion, you know girls stuff.
I dont feel belongs Magai, they read
novel while I read sirah. They talked about boys, while I talk about al-fathih.
They talked about fashion and suprrised thay I choosed jilbab over pants. I dont get them like they dont get me, Magai.
So mamaaaaa they said I’m weird.”
I can see Sabrina is very upset with this situation. I know
at her age having lots of friends is the most valuable thing in her life.
Feeling belongs is matters.
I tried to remind her about Rasulullah’s (peace be upon him)
situation in her sirah’s book. Didn’t
people of Quraish gave him a title of al-amin that means the one who can be
trusted. What happend after Muhammad became a prophet? Every one who trusted
him was against him and said that he is a big liar and a sorcerer.
“With Al-fathih, can you imagine at the age of 21 he can
conquer Constantinople. Do you think he had time for a chit chat with a friend?”
So love, you are not normal and you will never be normal (in
that term) because you are special. You are a leader you are born to be a great
leader and you will be a part of the rising of a great Khalifah. Your level of
thinking is brilliant. Its not shallow, its not deep, but its BRILLIANT.
So my dearest Sabrina dont be upset, if now you havent find
any “good” friend and the girls in school can not catch up with your
thinking, its ok my love, its ok to be different as long as you are in the path
of Allah. You are normal in the eyes of Allah bare that in mind sayang.
Prophet Muhammad (peace be upon him) once said: “The
example of a good companion and a bad companion is like that of the seller of
musk, and the one who blows the blacksmith’s bellows (respectively). So as for the
seller of musk then either he will grant you some, or you buy some from him, or
at least you enjoy a pleasant smell from him. As for the one who blows the
blacksmith’s bellows then either he will burn your clothes or you will get an
offensive smell from him.” [Bukhari & Muslim]
So my dear sweet girl be the best musk you will ever be,
spread your thoughts with your friends and make them have the same pleasant
smell as you are. That is what we call Da’wah my dear.
Pria lain boleh saja berjuang
keras mengempiskan perut agar menjadi six pack demi penampilan. Tapi bagi saya,
cukup menjadi pria bebas utang maka istri sudah memberi gelar pria paling seksi
di dunia.
Masih jelas dalam ingatan, satu
tahun lalu ketika pertama kali diperkenalkan dengan komunitas Masyarakat Tanpa
Riba (MTR) oleh seorang teman. Saat itu kondisi saya benar-benar sedang jatuh,
omset usaha meluncur bebas. Saya bingung luar biasa. Buntu!
“Bro, tidak mungkin saya bisa memperbaiki bisnis tanpa utang modal dari Bank”.
“Lagipula saya justru dapat puja-puji dari bank karena punya utang miliaran. Bukankah itu tada saya dipercaya?”
… Dan masih banyak lagi pembenaran
dan pembelaan diri yang keluar dari mulut saya.
Begitulah. Utang telah mengubah
saya menjadi pria yang gengsian, over
confident, dan pongah meski dalam kondisi tengah jatuh sekalipun. Saya
tetap ngeyel ketika seorang teman mengajak hijrah sekalipun diyakinkan tanpa utang, bisnis
bisa tetap berkembang, bahkan lebih
berkah.
Sampai akhirnya, dia berhasil membungkam mulut saya. “Buku merah” lah yang telah membungkam kepongahan, membuat saya tertunduk dan terdiam…
“Kesalahan-kesalahan Fatal Pengusaha Mengembangkan Bisnis dengan Utang.”
Jebrett! Dari judulnya saja, buku itu terasa menghantam harga diri saya.
Saya baca seluruh isi buku merah
tersebut dengan serius. Awalnya dengan kening berkerut, hati berkabut. Namun lembar
demi lembar itu, terlalu menarik untuk
dilewatkan hingga saya khatamkan dalam waktu singkat.
Setelah itu, hari-hari saya diselimuti gelisah, galau, rasa
bersalah dan takut mati. Namun di sisi lalin,
ada penasaran dan harapan. Ribuan tanya berkecamuk di benak.
“Jika mereka saja mampu terbebas dari utang dan riba, kenapa saya tidak bisa??”
“Ternyata banyak orang-orang di MTR yang berhasil membangun bisnisnya tanpa utang. Bagaimana caranya, ya?”
Buku Merah itu akhirnya menjadi jalan pembuka hijrah. Muncul kesadaran dalam pola pikir saya tentang bisnis, utang dan riba. Toh faktanya ketika saya terjatuh, tidak ada satupun orang bank yang peduli. Mereka hanya tahu menagih dan mengejar-ngejar saya untuk membayar angsuran tanpa peduli kondisi usaha yang sedang jatuh.
Saya makin sadar ternyata selama ini
“main kurang jauh”, kopi saya kurang pahitt, hidup jauh dari rasa tenang. Dari
sini niat hijrah saya terasa mengkristal semakin kuat.
Perjuangan saya mulai dengan mengikuti event seminar MTR
satu per satu. Dimulai dari Sukses Mengembangkan Harta Tanpa Riba(SMHTR) dan
dilanjutkan dengan berbagai event lainnya. Semakin banyak event yang saya
ikuti, semakin yakin hanya Allah dan diri saya sendiri yang mampu mengeluarkan
saya dari belenggu utang.
Dan Alhamdulillah, saat ini saya sudah bebas utang. Usaha berkelimpahan, keluarga juga makin adem tentram… Masya Allah tenang bangat rasanya hidup tanpa utang!
Efek lain, .… saya merasa sangat “seksi” hidup tanpa utang.
Saya pikir, PRIA SEKSI yang hakiki mestinya bukan hanya milik pria
berbadan atletis yang memiliki perut six
pack.
Pria seksi adalah pria tanpa utang,
yang di dompetnya tidak ada lagi kartu utang. Pria yang sholeh dan menyayangi
istri – istrinya…eh typo maksudnya
istrinya