Saturday, January 24, 2026
Home Blog Page 29

AFTER BDO FREE, SO WHATS NEXT…

0

By Erik H Sitepu

Insya Allah jika kita menerapkan prinsip prinsip yang ada di PBTR, penghapusan BDO adalah sebuah keniscayaan, dan ini sudah proven.

Setelah BDO dihapus, tibalah pertanyaan pamungkas dari si Abang, “Kapan Anda bisa melunasi utang pokoknya?”. Jika jawaban Anda, saya harus menjual agunan saya terlebih dahulu berupa rumah atau ruko, kita harus ingat bahwa agunan tersebut tidak likuid, dan untuk penjualannya relatif dibutuhkan waktu, jika kita PHP apalagi berbohong sudah tentu Anda melakukan kemaksiatan dan urusannya akan bertambah runyam.

Cara yang elegan yang bisa dilakukan adalah dengan mencicil utang pokok kita, menggunakan income yang kita dapatkan dari bisnis yang dijalankan, sembari Anda berusaha menjual aset yang dimiliki. Bahkan dengan income yang bagus kita bisa merundingkan schedule pembayaran utang tanpa harus menjual aset yang ada. Asyik atau asyik

Becoming Master in Marketing and Selling

0

MEMBONGKAR RAHASIA PENJUALAN

✔ Ingin tahu cara mendatangkan pelanggan lebih banyak?
✔ Ingin tahu cara membuat pelanggan rela membayar dimuka 100%?
✔ Ingin tahu cara menjadikan pelanggan loyal sehingga membeli, membeli lagi dan terus membeli.
✔ Ingin tahu cara menconvert pelanggan menjadikan penjual kita yang tidak perlu kita bayar?

Dan masih banyak lagi Rahasia berbagai tehnik dari Ilmu Penjualan, jadi pastikan Anda hadir di Be-MiMs pada :

Ibu Teladan Vs Ibu Telatan

0

@Enni Arta – Bontang, Kaltim.

Dahulu saya bangga menjadi wanita karir. Seorang istri yang juga merangkap sebagai karyawan di salah satu Badan Usaha Milik Daerah di kota tempat saya tinggal. Dahulu saya bangga menjadi ibu dari anak-anak yang saya lahirkan, sekaligus menjadi manajer di kantor tempat saya bekerja.

Namun rasa bangga itu berangsur pudar ketika saya mulai mengikuti seminar Meraih Bisnis Untung Bisnis Berkah (MBUBB), salah satu event nasional Masyarakat Tanpa Riba (MTR) di Bogor pertengahan Mei 2019 lalu.

Dalam seminar tersebut, saya tersadarkan bahwa ternyata selama ini saya adalah seorang ibu yang “telatan” . Saya tidak memiliki banyak waktu untuk membersamai suami dan anak-anak.

Selama seminar saya tak hentinya menangis, selalu teringat kedua anak saya yang masih sangat kecil. Kakak Kya dan ade Hawna, yang masih sangat-sangat membutuhkan kasih sayang, perhatian dan tentunya waktu bersama saya ibunya. Beruntungnya, saat mengikuti seminar tersebut bersama suami, anak-anak juga ikut kami boyong ke Bogor. Alhamdulillah ada sahabat yang membantu mencarikan pengasuh untuk menjaga keduanya selama kami belajar.

Semenjak pulang dari Bogor, semangat kerja saya mulai kendor. Fisik benar di kantor, tapi pikiran dan jiwa seperti tertinggal di rumah. Rasanya selalu ingin cepat pulang. Berbagai macam alasan saya buat untuk tidak ke kantor, dan atasan menerima begitu saja.

Suatu ketika saya punya kesempatan berbincang dengan ibu saya di rumah beliau. Saya sampaikan isi hati saya, dan meminta ijin beliau agar saya bisa resign dari tempat bekerja.

Bisa diperkirakan, Ibu menentang keputusan saya. Dengan berbagai macam alasan beliau minta agar saya tetap bekerja, menyayangkan 15 tahun perjalanan karir saya yang dimulai dari staff sampai menjadi salah satu top level di perusahaan. Selain itu, beliau juga mengingatkan mengingatkan bahwa kami (saya dan suami) masih belum bebas utang. Anak-anak masih kecil dan masih perlu biaya sekolah dan bla bla bla. Sebuah alasan yang terasa kuat dari sisi logika.

Perlahan saya menjelaskan kepada ibu. Bahwa, dahulu memang saya pernah berjanji akan berhenti bekerja setelah utang kami lunas. Tapi hal itu ternyata keliru. Suamilah yang menyadarkan saya bahwa mungkin salah satu faktor Allah belum membebaskan kami dari utang, karena saya masih bergelut dengan riba.
Saya dan suami memang sudah berazzam untuk berhenti utang dan menjauhi riba. Tapi ketika masih bekerja, secara tidak sadar tenyata saya masih melaksanakan berbagai dosa riba. Salah satu contoh kecil saja, adalah ketika saya mencatat rekonsiliasi laporan keuangan dengan menyertakan bunga bank maka saya telah berdosa. Atau untuk pembayaran angsuran kredit kendaraan perusahaan. Jelas saya pun juga ikut berdosa.

Orang tua paham yang saya sampaikan, namun beliau masih berat untuk memberikan ijin. Saya pun mengerti dengan respon yang dikeluarkan orang tua.

Dan sampailah saya di titik kebimbangan. Saya mencari sesuatu yang bisa menguatkan saya dalam mengambil keputusan.

Selang beberapa bulan, Alhamdulillah Allah SWT meberi saya kesempatan untuk mengikuti seminar Islamic Business Mastery (IBM) yang saat itu dilaksanakan bertepatan dengan hari raya Idul Adha di Bontang. Ini adalah seminar kajian Fiqh pertama yang saya ikuti. Banyak istilah yang belum saya ketahui sebelumnya.

Saya tersadar dan menangisi diri, ” Ya Allah, kemana saja saya selama ini?” Begitu banyak ilmu agama yang saya lewatkan selama hidup. Allah Swt Maha Pengasih, sangat sayang pada ummatNya. Saya sangat-sangat bersyukur berkesempatan duduk dalam majelis ilmu IBM.

Ketika datang keraguan “jika saya tidak bekerja nanti, maka hilanglah pendapatan yang setiap bulannya saya terima” Allah SWT memberi jawaban lewat IBM.

Kunci jaminan rizki dari Allah SWT adalah TAWAKKAL. Tawakkal adalah aktivitas hati yaitu bersandarnya hati hanya kepada Allah SWT.
Firman Allah SWT: “Siapa saja yang bertawakkal kepada Allah SWT niscaya Dia mencukupinya.” (Surah Ath-Thalaaq ;65 ayat 3)
Posisi tawakkal adalah setelah kita berazzam dan sebelum kita berikhtiar

Bismillah, saya sangat bersyukur berada dalam lingkaran Masyarakat Tanpa Riba. Saya menyadari semua makhluk di dunia ini pasti memiliki ujian dari Allah SWT. Dan ujian itu berbeda-beda. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Tekad saya semakin kuat memutuskan untuk resign. Semoga Allah mudahkan dan mempercepat prosesnya. Sehingga saya benar-benar bisa menjadi seorang istri dan ibu sesungguhnya. Menjadi seorang ibu teladan bukan lagi ibu telatan. Bisa membantu usaha suami saya dalam bermuamallah dan mendampingi beliau dalam berdakwah bersama Masyarakat Tanpa Riba.

5 Sept 2019
Enni Arta – Bontang, Kaltim

Muharram, sang Penasihat yang Menakjubkan

0

@MIslamBasri

Muharram kembali, menampakkan dirinya// Muharram kembali, mengibaskan sayap ajakan muhasabahnya// Muharram kembali dan mengacungkan jari telunjuknya/ pengingat diri yang selalu saja lupa dan terlena// Muharram kembali sembari menggertakkan gigi gerahamnya/memberi peringatan kepada para pecinta kesenangan dan kenikmatan dunia//

Lalu, tidakkah kembalinya sang Rembulan menjadi pelajaran dan peringatan?//Belum cukupkah kembalinya sang Syahrullah meyadarkan, betapa segala nikmat dunia, semakin hari semakin dekat ke ujung jalan?//

Sila bergembira dengan datangnya sang Rembulan Haram/ yang bersamanya, hitungan pahala dilipat gandakan//

Namun, sudahkah diri bercermin muka dan merenungi setiap jejak langkah yang tiada pasti ada bermakna?//

Tiada insan yang tak berkhilaf dan tak bersalah/ Manusia tempat bersemayamnya lupa/ Dan Allah telah menghadirkan Muharram sebagai salah satu penasehatNya//

Sungguh beruntung, kita semua masih diizinkan merasakan begitu banyak petuah dan hikmah/ di setiap sang bulan beranjak dari persembunyiannya//

Semoga Allah SWT sepenuhnya memberi kesempatan dan waktu kepada kita untuk taubatan nasuha/ sembari menyadari tentang semua langkah kaki yang pernah tersesat arah/ lisan yang sering berucap tiada guna/ serta pendengaran dan tatapan mata yang hanya mendatangkan semua cerita khayalan tentang kepalsuan dunia//

MUHARRAM YANG MENAKJUBKAN, SEJATINYA DIPERSEMBAHKAN DAN DIHADIRKAN UNTUK INSAN YANG MAU MENGAMBIL PELAJARAN

Bangkinang 0,17 Muharram 1441

Ikutlah Gila Bersama Dunia, atau Bijaksana Sendirian

0

©MY260819

Hidup sudah susah jangan dibikin susah. Cari saja senang walau banyak utang. Munafik sedikit jangan terlalu jujur, sebab orang jujur hanya ada dikomik. (Iwan Fals dalam Pesawat Tempurku)

MTR, MTR, Pegiat, Pegiat…”Emang bisa bisnis gak ngutang, gak riba? Kurang kerjaan aja kalian ini!”

Itu kalimat pertama yang ingin aku sampaikan. Sebagai teman, cuma mau mengingatkan: “Berhentilah untuk risau”.

Indonesia sudah ada di jalan yang benar. Apalagi kini, ada di bawah kendali seorang presiden yang berasal dari orang kebanyakan dan merakyat. Tidakkah itu jaminan Indonesia bakal gemah ripah loh jinawi dan berkeadilan?

Tidak ada gunanya kritik. Kamu, dan banyak pejuang syariah lainnya, telah keliru menjadi pembangkang dan melawan setiap rezim.

Indonesia membutuhkan “pertumbuhan dan jumlah”. Yang penting ekonomi, ekonomi dan ekonomi. Walau ngutang juga gak apa-apa kan?
Investasi, investasi dan investasi. Walau China lagi, asing lagi, toh kita bisa belajar dari mereka, masa mereka gak kasihan?
Kalaupun mengkritik, kritikmu bakal masuk tong sampah. Atau malah justru akan mempersulit hidupmu sendiri. Gak lihat para mujahid terdahulu diperlakukan penguasa? Kamu akan membusuk di penjara.

Saranku, hiduplah tenang, pikirkan diri dan kepentinganmu sendiri. Ngapain mikirin nasib orang lain. Ngapain ngebela rakyat, petani, nelayan, dan umat. Sudah ada para elit yg ngurus bukan tugas kalian. Mengapa gak jadi ‘sufi’ aja sih?

Bro and Sis, Akhi & Ukhti…

Belajarlah untuk tidak bicara! Pertimbangkan kembali untuk berdiam diri dan berdoa saja, menyepi, atau pulang kampung bangun desa. Bisa sekalian menikmati dan menghayati hidup membebek sesuai keinginan pemerintah.

Bersambung…

✍ Education For All

Geliat sang Bahtera dan Badai yang Semakin Gelisah

0

@MIslamBasri.

Sunnatullah, ketika bahtera yang kita bina semakin besar kapasitasnya, maka laut yang akan diarungi juga semakin dalam dan gelombangnya semakin besar.

Itulah satu kebenaran yang tak akan bisa dihindari, termasuk oleh bahtera besar bernama MTR. Bukan hanya besarnya badai dan gelombang yang akan dihadapi, bahtera MTR juga pasti akan mendapati berbagai intimidasi serta teror oleh kelompok penyamun yang merasa kehadiran kapal MTR sebagai salah satu penghalang dan pengganggu jalannya operasi, serta aksi-aksi serangan melalui ranjau wabah riba yang senantiasa mereka sebarkan.

Sang badai semakin gelisah dan bersiap menghadang. Sementara para perompak, tak kalah resah bermuram wajah. Melihat ke kiri dan ke kanan dengan mata satunya, mencari setiap lubang dan celah, yang bisa mereka jadikan awal untuk menenggelamkan kapal besar berisi orang-orang zolim versi dunia penyamun.

Sementara di sisi lain, kekompakan dan kesetiaan serta ke istiqomahan para awak kapal, juga sangat menentukan apakah sang bahtera besar ini tetap bisa bertahan melayari ganasnya lautan kehidupan.
Semuanya akan ditentukan oleh perjalanan kedepan.

Semoga Allah azza wa jalla, sang Pemilik segala lautan, memberi keberkahan, kekuatan dan perlindungan kepada setiap awak bahtera besar MTR yang rela mengabdikan dirinya untuk berjuang bersama mengarungi samudera dakwah nan pasti akan penuh jutaan halangan dan rintangan.

Satu pilihan hidup yang hanya bisa ditentukan oleh cara berpikir baik dan benar, serta berapa besar rasa kecintaan kita semua untuk meyakini semua aturan yang telah ditetapkan oleh sang Pemilik arah tujuan kehidupan yang sesungguhnya.

Bahtera besar MTR ini sejatinya hanya bisa dinaiki, dan secara bersama senantiasa terjaga dari berbagai penghalang untuk sampai ke tujuan yang dititahkan, dengan satu hal pokok yang disebut IMAN.

Ya, hanya dengan kekuatan kesatuan dan keberkahan iman-lah, sang Bahtera Impian, insya Allah akan berhasil bersandar. Di dermaga terbesar pelabuhan pulau harapan, pulau besar yang berisi segala nikmat yang tiada pernah terbayangkan.. WAllahu a’lam

Mengapa sebagai Dokter Saya Menolak BPJS?

0

@dr. Wiwik Rahayu, M.Kes.
(Penanggung Jawab Klinik Dokter Ari)

Perpres No 82 tahun 2018 mewajibkan pendaftaran peserta mandiri ke BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) kesehatan paling lambat tanggal 1 Januari 2019. Peraturan ini berpengaruh terhadap kunjungan pasien rawat jalan di klinik kami yang menurun drastis. Sebuah perusahaan yang telah lama bekerjasama dengan klinik kam, akhirnya mengalihkan pengobatan ribuan karyawannya ke klinik lain yang menjadi provider BPJS.

Beberapa pasien menanyakan, mengapa memilih untuk menjadi klinik anti mainstream, tetap bertahan tidak bekerjasama dengan BPJS di tengah maraknya klinik dan Rumah Sakit yang berupaya menjadi mitra BPJS ? Apakah disebakan oleh fatwa MUI yang menyatakan haramnya BPJS karena mengandung unsur gharar atau ketidakjelasan akad, mayesir dan riba ??
Ya, memang benar namun bukan hanya itu satu-satunya yang menjadi alasan bagi kami.

Selalu saya mengatakan ini bukan masalah untung dan rugi atau ribetnya birokrasi, namun menyangkut idealisme seorang dokter yang telah disumpah dibawah Kitab suci. Kami memahami bahwa kesehatan adalah sebuah kebutuhan dasar masyarakat yang sangat sulit untuk diwujudkan tanpa kehadiran sebuah negara.

Sering kami menjadi saksi betapa banyak masyarakat yang terpaksa memilih undur diri dari ikhtiar pengobatan. Semua itu karena mahalnya biaya pelayanan kesehatan, yang meliputi harga obat, jasa dokter, alat kesehatan dan lain sebagainya.

Mahalnya biaya pelayanan kesehatan di negeri ini tidak terlepas dari bahan baku obat yang sebagian besar masih impor, distribusi obat yang tidak lepas dari aroma bisnis (sistem obat paten), mahalnya biaya pendidikan kesehatan, dan lain-lain. Semua itu adalah lingkaran setan yang hanya bisa diputus oleh kehadiran sebuah negara.

Namun sayang, ternyata negara ini tidak menyelenggarakan pelayanan kesehatan rakyatnya secara mandiri, justru memilih menyerahkannya kepada pebisnis (swasta). Dengan begitu para kapitalislah yang pegang kendali terhadap urusan kesehatan rakyat. Dan apa yang menjadi tujuan utama mereka? Ya sudah pasti bisnis mencari laba alias keuntungan. Jika demikian, rasanya mustahil mewujudkan pengobatan rasional (efektif, aman dan terjangkau) untuk seluruh masyarakat.

Dalam rangka menyelesaikan permasalahan ini, pemerintah memberi solusi dengan meluncurkan program BPJS semenjak tahun 2014. Dengan harapan pelayanan kesehatan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Namun sekali lagi, alih-alih memberi solusi, justru menciptakan beban baru bagi masyarakat. Di tengah kesulitan perekonomian masyarakat saat ini, mereka juga harus membayar premi BPJS setiap bulan di samping beban hidup lainnya.

Apakah kehadiran BPJS menyelesaikan masalah ?? Ternyata tidak. Gonjang ganjing BPJS terus terjadi, tarif preminya terus bertambah, namun penyakit yang di tanggung BPJS justru berkurang secara sepihak dan defisit anggaran terus terjadi.

Siapakah yang menjadi korban dari bobroknya program ini? Ya sudah pasti rakyat yang akan menanggungnya.

Kehadiran BPJS tidak akan menyelesaikan masalah kesehatan negeri ini karena negara masih belum menjadi penyelenggara pelayanan kesehatan secara penuh. Dalam program BPJS yang sesungguhnya terjadi adalah pengalihan tanggung jawab dari negara kepada rakyat. Rakyatlah yang menanggung kesehatannya dengan prinsip asuransi gotong royong.

Lantas apa yang saya lakukan ?
Ya, saya sangat menyadari jika saya hanyalah seekor semut yang tengah berada dikobaran api, berbekal setetes air untuk melindungi diri. Selama kesempatan masih ada, maka saya berusaha untuk menolak terlibat dalam kezholiman kebijakan penguasa terhadap rakyat. Kecuali jika semuanya telah berada diluar kendali diri.

Ketidak hadiran negara dalam hal ini adalah konsekuensi dari penerapan sistem kapitalisme sekuler. Inilah yang menjadi biang kerok terjadinya berbagai problematika di negeri ini termasuk masalah dibidang kesehatan.

Dengan demikian,program apapun yang diambil oleh pemerintah selama sistem kapitalisme sekuler masih diterapkan maka tidak akan terjadi perbaikan.

Oleh sebab itu cara yang paling rasional untuk mengatasi berbagai persoalan ini adalah mengganti sistem yang buruk ini dengan sebuah sistem yang mewajibkan negara untuk memegang kendali secara penuh terhadap masalah kesehatan rakyatnya.

Sistem itu adalah Islam. Islam mewajibkan negara bertanggungjawab memenuhi seluruh kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, keamanan dan kesehatan. Sehingga seluruh biaya kesehatan masyarakat harus ditanggung oleh negara alias memberi pelayanan kesehatan secara gratis.

Obat merupakan bagian yang tidak terpisah dari kesehatan, oleh sebab itu pengadaan dan distribusinya harus dikelola oleh negara. Begitu juga dengan pendidikan tenaga kesehatan harus ditanggung sepenuhnya oleh negara sehingga tidak ada dokter yang berusaha untuk mengembalikan modal pendidikan. Setelah mereka menjadi dokter akan diberikan gaji yang sangat layak sesuai dengan kompetensinya. Dengan demikian tujuan pelayanan kesehatan semata-mata untuk kepentingan rakyat bukan profit oriented.

Pelayanan kesehatan ideal seperti ini bukan hanya mimpi namun sudah terbukti selama belasan abad ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah oleh daulah Khilafah.

Namun pengaturan aspek kesehatan tidak bisa terlepas dari pengaturan bidang yang lainya seperti ekonomi, pendidikan, politik, pemerintahan dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, semua bidang tersebut juga harus diatur oleh syariat Islam secara kaffah.

Allahu A’lam bishowab..

Elegi Bumi Cendrawasih

0

©MIslamBasri//

Kitorang mengenalmu dengan nama Irian Jaya/ Kitorang mengenalmu dari kemilau warna Cendrawasih-mu yang melegenda/Kitorang mengenalmu lewat mutiara-mutiara hitammu yang tak putus mengarumkan nama bangsa/ Kitorang juga mengenalmu, sebagai negeri kaya emas namun tak pernah bisa berkuasa memiliki, apatah lagi dapat menikmati.//

Kini engkau telah berubah nama jadi Papua// Izinkan beta bertanya, apakah dengan berubah nama, engkau jadi lebih baik dan lebih bahagia?/ Apakah dengan berubah nama, kehidupanmu yang dari dulu jauh tertinggal, kini bisa menjadi lebih sejahtera?/Apakah dengan nama baru itu, harta kekayaan di perut bumi dan diatas tanah suburmu sudah bisa sepenuhnya engkau nikmati?//

Duhai negeri emas yang rakyatnya seperti berada dalam pasungan../Sungguh engkau telah diperlakukan dengan zolim oleh tangan-tangan serakah/Rakyatmu dibiarkan hidup terbelakang dan sepertinya memang sengaja ditelantarkan dalam kebodohan/ agar mereka para gerombolan perampok dan perompak, bisa dengan mudah mengkadalimu, memperkosa bumi mu bertahun-tahun//.

Tak peduli engkau merintih dan meronta dalam tangis yang memilukan/Tangisan mu sepertinya ‘tiada pernah sampai’ ke telinga tuan-tuan penguasa yang setiap malam tidur d kekenyangan //

Duhai negeri yang bergelar Bumi Cendrawasih..//Entah sampai kapan ketidakadilan ini akan menimpa diirmu//

Tapi ketahuilah, hanya dengan Islam engkau bisa terbebas dari segala carut marut keserakahan yang tak pernah lelah menerkam dan mencengkeram dirimu//

Hanya dengan Islamlah engkau akan mendapatkan kedamaian dan keadilan yang pasti engkau ingin dan impikan//

Hanya dengan Islamlah engakau akan bisa terlepas dari segala bentuk penjajahan bumi dan pembodohan ilmu yang telah puluhan tahun engkau rasakan//

Semoga Allah SWT, dengan segala kebesaran dan kekuasaanNya, memberi hidayah segala kebaikan Islam kepada rakyat negerimu/ satu-satunya bentuk keberkahan yang akan bisa mengangkat harkat dirimu sebagai negeri yang bermartabat dan berpengatahuan../ negeri yang bisa menikmati dengan kemandirian dan keadilan, semua kekayaan bumi yang telah dilimpahkan //

Bangkinang 0,74 Agustus 2019

INI IKHTIAR BAGAIMANA BEBAS UTANG TANPA RIBA

0

DAKWAH DENGAN KAPAL PERANG,JIHAD LANGKA YANG TIADA PERNAH TERBAYANG

0

Satu hal yang paling kami syukuri ketika Allah mengizinkan bisa bergabung dan menimba ilmu di MTR adalah, terbuka lebar nya wawasan berpikir dan kesempatan berjihad dalam dakwah menolong agama Allah.

Menuntut ilmu dengan naik pesawat sudah
Berdakwah ke Masjid dan Pesantren dengan mobil juga sudah
Sensasi jihad via udara dan darat sudah pernah beberapa kali kami rasakan. Hanya berjihad lewat jalur air saja rasanya yang belum pernah, mengarungi sungai dan laut.

Alhamdulillah, kesempatan dibukakan Allah.
Bahkan insya Allah akan bisa merasakan sensasi yang tak pernah terbetik dan terbayangkan, dakwah nasional bersama rombongan Komunitas MTR ,menaiki salah satu armada Kapal Perang milik TNI AL.

Dakwah nasional,jihad bersama dan berkapal perang,sungguh satu momen langka yang akan sangat kita sesali bila kita lewati begitu saja. Kesempatan dakwah yang sangat naif jika kita biarkan berlalu.

Hidup ini takkan lama, harta kita sejatinya milik para ahli waris dan kesempatan yang baik itu seringkali seperti air sungai yang mengalir,yang bila kita lewatkan takkan pernah kembali lagi.

Semoga Allah Azza wa Jalla memberi kemudahan dan kesempatan kita semua, untuk bisa mengikuti Dakwah Rombongan MTR Nasional 22-25 Agustus nanti.
Bakal satu pengalaman teramat langka untuk bisa berjihad dalam dakwah sembari merajut tali ukhuwah, bil khusus diantar serta dikawal Kapal Perang Nusantara. I am sailing..to be near YOU, Allahu Akbar !!

Islam Basri – Bangkinang ,24 Agustus 2019