Ibu Teladan Vs Ibu Telatan

0
59

@Enni Arta – Bontang, Kaltim.

Dahulu saya bangga menjadi wanita karir. Seorang istri yang juga merangkap sebagai karyawan di salah satu Badan Usaha Milik Daerah di kota tempat saya tinggal. Dahulu saya bangga menjadi ibu dari anak-anak yang saya lahirkan, sekaligus menjadi manajer di kantor tempat saya bekerja.

Namun rasa bangga itu berangsur pudar ketika saya mulai mengikuti seminar Meraih Bisnis Untung Bisnis Berkah (MBUBB), salah satu event nasional Masyarakat Tanpa Riba (MTR) di Bogor pertengahan Mei 2019 lalu.

Dalam seminar tersebut, saya tersadarkan bahwa ternyata selama ini saya adalah seorang ibu yang “telatan” . Saya tidak memiliki banyak waktu untuk membersamai suami dan anak-anak.

Selama seminar saya tak hentinya menangis, selalu teringat kedua anak saya yang masih sangat kecil. Kakak Kya dan ade Hawna, yang masih sangat-sangat membutuhkan kasih sayang, perhatian dan tentunya waktu bersama saya ibunya. Beruntungnya, saat mengikuti seminar tersebut bersama suami, anak-anak juga ikut kami boyong ke Bogor. Alhamdulillah ada sahabat yang membantu mencarikan pengasuh untuk menjaga keduanya selama kami belajar.

Semenjak pulang dari Bogor, semangat kerja saya mulai kendor. Fisik benar di kantor, tapi pikiran dan jiwa seperti tertinggal di rumah. Rasanya selalu ingin cepat pulang. Berbagai macam alasan saya buat untuk tidak ke kantor, dan atasan menerima begitu saja.

Suatu ketika saya punya kesempatan berbincang dengan ibu saya di rumah beliau. Saya sampaikan isi hati saya, dan meminta ijin beliau agar saya bisa resign dari tempat bekerja.

Bisa diperkirakan, Ibu menentang keputusan saya. Dengan berbagai macam alasan beliau minta agar saya tetap bekerja, menyayangkan 15 tahun perjalanan karir saya yang dimulai dari staff sampai menjadi salah satu top level di perusahaan. Selain itu, beliau juga mengingatkan mengingatkan bahwa kami (saya dan suami) masih belum bebas utang. Anak-anak masih kecil dan masih perlu biaya sekolah dan bla bla bla. Sebuah alasan yang terasa kuat dari sisi logika.

Perlahan saya menjelaskan kepada ibu. Bahwa, dahulu memang saya pernah berjanji akan berhenti bekerja setelah utang kami lunas. Tapi hal itu ternyata keliru. Suamilah yang menyadarkan saya bahwa mungkin salah satu faktor Allah belum membebaskan kami dari utang, karena saya masih bergelut dengan riba.
Saya dan suami memang sudah berazzam untuk berhenti utang dan menjauhi riba. Tapi ketika masih bekerja, secara tidak sadar tenyata saya masih melaksanakan berbagai dosa riba. Salah satu contoh kecil saja, adalah ketika saya mencatat rekonsiliasi laporan keuangan dengan menyertakan bunga bank maka saya telah berdosa. Atau untuk pembayaran angsuran kredit kendaraan perusahaan. Jelas saya pun juga ikut berdosa.

Orang tua paham yang saya sampaikan, namun beliau masih berat untuk memberikan ijin. Saya pun mengerti dengan respon yang dikeluarkan orang tua.

Dan sampailah saya di titik kebimbangan. Saya mencari sesuatu yang bisa menguatkan saya dalam mengambil keputusan.

Selang beberapa bulan, Alhamdulillah Allah SWT meberi saya kesempatan untuk mengikuti seminar Islamic Business Mastery (IBM) yang saat itu dilaksanakan bertepatan dengan hari raya Idul Adha di Bontang. Ini adalah seminar kajian Fiqh pertama yang saya ikuti. Banyak istilah yang belum saya ketahui sebelumnya.

Saya tersadar dan menangisi diri, ” Ya Allah, kemana saja saya selama ini?” Begitu banyak ilmu agama yang saya lewatkan selama hidup. Allah Swt Maha Pengasih, sangat sayang pada ummatNya. Saya sangat-sangat bersyukur berkesempatan duduk dalam majelis ilmu IBM.

Ketika datang keraguan “jika saya tidak bekerja nanti, maka hilanglah pendapatan yang setiap bulannya saya terima” Allah SWT memberi jawaban lewat IBM.

Kunci jaminan rizki dari Allah SWT adalah TAWAKKAL. Tawakkal adalah aktivitas hati yaitu bersandarnya hati hanya kepada Allah SWT.
Firman Allah SWT: “Siapa saja yang bertawakkal kepada Allah SWT niscaya Dia mencukupinya.” (Surah Ath-Thalaaq ;65 ayat 3)
Posisi tawakkal adalah setelah kita berazzam dan sebelum kita berikhtiar

Bismillah, saya sangat bersyukur berada dalam lingkaran Masyarakat Tanpa Riba. Saya menyadari semua makhluk di dunia ini pasti memiliki ujian dari Allah SWT. Dan ujian itu berbeda-beda. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Tekad saya semakin kuat memutuskan untuk resign. Semoga Allah mudahkan dan mempercepat prosesnya. Sehingga saya benar-benar bisa menjadi seorang istri dan ibu sesungguhnya. Menjadi seorang ibu teladan bukan lagi ibu telatan. Bisa membantu usaha suami saya dalam bermuamallah dan mendampingi beliau dalam berdakwah bersama Masyarakat Tanpa Riba.

5 Sept 2019
Enni Arta – Bontang, Kaltim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here