Friday, January 23, 2026
Home Blog Page 22

Pastikan Kita Ada dalam Barisan!

0

Meyakini bahwa Islam pasti akan kembali berjaya, adalah sesuatu  yang sangat penting

Dan memastikan diri serta keluarga kita, berada dalam barisan insan-insan yang ikut dalam memperjuangkannya, merupakan sesuatu yang lebih penting.  (@MIslamBasri|MTR Riau)

# PIKIR dan RENUNGKANLAH – BangKamRi 1441 S

The Entrepreneur

0

©MY100620|MTR TangerangRaya||

Anggap saja Anda punya uang banyak, tidak ada utang, usaha berjalan baik, lalu ada yang datang mengajak Kerjasama.  Apa yang akan Anda lakukan?

Bingung?

Saya balik sekarang, Anda mau bayar utang tapi gak punya uang, usaha berantakan. Siapa yang akan Anda temui dan apa yang akan Anda lakukan?

Tambah bingung?

Anda ini otodidak, mendadak pengusaha, atau ngaku-ngaku pengusaha, atau usaha warisan, ya? Apapun itu, yang pasti pertanyaan akan seputar aset, value dan investor.

Mari kita bedah…

Apapun jenis usahanya, kita wajib punya portofolio atau semacam oret-oretan tentang usaha apa, di mana, sejak kapan. Tentu nyambung ke logo, visi, misi, sampai IG, FB, hingga ke pemilihan warna, dan semacamnya, agar layak jual. Nah, Anda mulai masuk apa yang disebut ‘branding’.

Orang mengenal dan memanggil kita dengan nama kita yang tak beda dengan  ‘brand’. Demikian juga perusahaan. Brand tidak lahir ujug-ujug, ada proses panjang yang melatarbelakanginya hingga membentuk perusahaan Anda saat ini.

Anda dipanggil Ndut, Gondrong, Selon, Kriting, atau apapun,  itu karena citra yang orang lain tangkap tentang Anda. Demikian juga dengan perusahaan. Ada yang menyebut dengan Aqua, Honda, Indomie, dan lain-lain…

Lanjut ya?

Singkatnya, jika Anda belum punya portofolio berarti Anda gak niat jadi pengusaha dan baru tahap wiraswasta. Di mana bukan sistem yang Anda bangun, tapi keluarga diktator.

Wajar kalau Anda kurang piknik, gak bisa tidur pulas, dan harus selalu ‘stay at office’. Sederhananya Anda gak bisa ngapa-ngapain, apalagi dakwah.

Sebelum uang datang membiayai apa yang Anda kerjakan, mereka akan bertanya apakah usaha Anda layak? Cara klasik biasanya melihat dari aset apa yang perusahaan punya.

Investor yang agak modern mungkin mampu melihat value apa yang dimiliki perusahaan. Misal, apakah jenis usahanya benar-benar baru, model usahanya unik, atau etos kerja yang tinggi, founder yang berkarakter, dan lain-lain. Bisa apa saja…

Sampai sini paham ya?

Jadi, jika ada sahabat yang saat ini benar-benar kebingungan mau mulai dari mana, sedangkan covid sudah tidak bisa lagi jadi alasan, selamat bingung selamanya.

 

Bagi yang gak mau bingung, lanjut…

Apakah perusahaan Anda sedang atau baru mulai, Anda wajib membangun portofolio. Baik yang tercipta, atau yang harus Anda ciptakan.

Bro…

Sebagian besar kita jika bicara bisnis ujung-ujungnya mentok di modal, termasuk saya. Entah karena kelamaan hedon, bossi, dan semacamnya. Yang jelas Anda gak bisa berfikir kalau gak ada uang. Titik! Padahal kalau difikir sehat, kita semua tahu dan sadar kalo rezeki Allah itu gak berbatas ruang dan waktu.

Saat ini begitu banyak ‘crowfounding’ diluar sana. Tentu saja pembiayaan yang kita maksud adalah yang tidak melanggar syariah.

Anda bisa pelajari Urun Dana, Santara, Igrow, dll. Suatu saat kita pasti akan punya platform sendiri dan tanpa was-was bisa bersyirkah. “Ingat! syarat dan ketentuan berlaku”.

Jika Anda tidak tahu arah dan ke mana bisnis Anda, bagaimana 10 tahun ke depan, berapa cabang yang ingin Anda buka, bayangkan apa yang orang lain fikirkan tentang perusahaan model begini?

Bisnis modern minimal terdiri dari tiga hal yang masing-masing kompeten di bidangnya jika benar-benar mau jadi mesin pahala buat akhirat. Product development, business development dan investor. Jangan lakukan all in one. You die!

Waktu berubah, zaman berubah, bisnis pun harus berubah. Tidak ada di dunia ini yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Mustahil melakukan hal yang sama terus-menerus tapi ingin hasil yang berbeda.

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan” (Al-Dzariyat 7).

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

Mengapa Penting Membaca Buku Merah?

0

Konten buku merah mampu memetakan dengan presisi problem utang yang dialami para pengusaha, beserta kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan dalam memutar bisnis melalui utang.

Di kalangan warga MTR, Buku Merah  sudah seperti “legend book” selama 9 tahun terakhir. Buku ini selalu menjadi pembicaraan hangat, dan beredar luas sebagai sarana dakwah yang sudah sampai ke ratusan ribu tangan.  Sejak dirilis pertama 9 tahun lalu, buku ini sudah mengalami 13 kali cetak ulang karena permintaan yang datang bertubi-tubi.

Tahun ini, MTR kembali mencetak  buku merah seri revisi ke-13. Revisi dalam arti penambahan  case study berdasarkan pengalaman pengusaha yang sudah berhasil lolos dari jeratan utang dan riba.  Tidak heran  kalau penampilannya semakin tebal dan modern.

Bagaimana bisa sebuah buku dicetak konsisten puluhan ribu eksemplar setiap tahun hingga sekarang akumulasi penjualannya sudah mencapai lebih dari 150 ribu buku?  Angka itu telah melampaui penjualan  buku-buku regular yang beredar di jaringan penerbitan ternama. Padahal, buku tersebut tidak dijual bebas. Hanya beredar dan diedarkan terbatas oleh tangan-tangan warga MTR

Kuncinya ada pada problem dan solusi.  Konten buku merah mampu memetakan dengan presisi problem utang yang dialami para pengusaha, kesalahan-kesalahan apa yang telah mereka lakukan dalam memutar bisnis mereka melalui utang. Hampir semua pengusaha yang membaca buku ini akan merasa seperti bercermin karena pengalaman yang mereka alami begitu mirip. “Ah, gue banget!”

Tapi, hey.. tetapi bukankah hampir semua orang dewasa pernah melakukan utang? Jadi bukan hanya kalangan pengusaha, semua orang yang punya problem utang –sedikit atau buanyaak, sudah lunas atau masih terpenjara di dalam jeruji  utang entah sampai kapan, sangat relevan membacanya.

Membaca buku ini, Anda akan tersadarkan betapa berbahayanya masuk dalam  jebakan utang, hingga kapok untuk mengambil utang baru. Karena selain pengalaman buruk yang sudah Anda rasakan, juga disajikan dalil-dalil   berupa peringatan dari Allah subhanawata’ala yang akan menyadarkan kita tentang tujuan hidup yang sebenarnya.  Dengan penyajian seperti itu, selama 9 tahun terakhir buku merah telah membantu ribuan pengusaha atau pebisnis lepas dari utang.

Memang sih, sekilas di dalamnya Anda tidak akan menemukan step by step tentang -cara yang mereka lakukan untuk melunasi utang-utangnya. Hampir semua pengusaha yang menjadi nara sumber buku ini menjawab, semua seperti terjadi begitu saja  hingga atas ijin Allah subhanawata’ala.  Dan jreng, dalam satu setahun dua tahun, bahkan ada yang hanya 9 bulan, utang-utangnya bisa lunas.

Namun kalau jeli, Anda bisa menemukan pola baku dari pengalaman para pengusaha tersebut dalam upaya keluar dari problem utang. Yaitu, mulai dari kesadaran akan bahaya utang dan riba yang selama ini telah melilit mereka, kemudian bertaubat, lalu berazzam atau berkomitmen kuat untuk menghentikan kebiasan berutang dan segera melepaskan riba.

Bersamaan dengan itu, mereka action menyempurnakan ikhtiar atau tindakannya dengan memperbaiki pengelolaan usaha. Mereka melakukan perbaikan di sana-sini, mulai dari diri sendiri, keluarga, tim dan binisnys. Dan selanjutnya tanpa disadari utang-utangnya lunas dalam waktu yang tidak lama.

Untuk Anda yang masih pusing dengan problem utang yang tak kunjung selesai, silakan ikuti pola mereka. Anda bisa memulai langkah awal dengan membaca buku merah ini sebagai pintu gerbang perbaikan. Dan ajak rekan-rekan  pengusaha di sekitar untuk mendiskusikan isinya.

Sebagai penguat, Anda bisa menyimak pengalaman Ibu Qimen AdysMiky berikut ini.

“Mengapa penting membaca buku merah? Kalau menurut saya, yang paling utama adalah mengubah mindset kita tentang utang, yang tidak melulu terkait hal duniawi. Saya membeli buku ini dalam sebuah bazaar, dan saat itu sedang berusaha bangkit dari keterpurukan bangkrut untuk kesekian kalinya dengan nominal utang riba satu  miliar rupiah.  Allahuakbar.

Membaca buku ini memang tidak menjadikan utang lunas, namun mengubah mindset, menambah semangaat untuk benar-benar keluar dari kungkungan utang dan  membuat saya makin yakin dan istiqomah untuk meninggalkan utang riba. Sekarang semua sudah berlalu , saya tinggal menata usaha dan melunasi utang riba yang hanya tersisa seperempat dari total utang.”

Jadi, seperti disebut Pak David pengusaha alat-alat kesehatan yang dalam waktu 14 bulan mampu melunasi miliaran utangnya, buku merah adalah pelajaran nyata yang bisa kita jadikan referensi untuk memperbaiki kehidupan. Mari baca dan sebarkan buku merah. Mudah-mudahan Allah meridhai dakwah kita.

Hati-hati dengan #TabiatBurukUtang

0

@SamsulA|MTR||

Suatu ketika, menjelang maghrib pada bulan Desember 2014,  saya bersama Pak Musadik Najri, seorang pengusaha dari Lombok, Warga SW  memasuki salah satu hotel terbaik di Jalan Sudirman, Kota Pekanbaru, Riau. Begitu masuk lobi hotel, seseorang yang berpenampilan necis, sangat perlente, mencegat saya.

“Maaf Pak.. Apa maksud tulisan di t-shirt Bapak itu?” tanyanya sopan.

Pria yang menggenggan gadget terbaru & tas tangan high-end itu bertanya dengan mimik penasaran, menunjuk ke tulisan pada t-shirt merah yang kami kenakan.

“Ooo… ini komunitas yang kami ikuti Pak. Komunitas para pebisnis, investor dan masyarakat lain yang berkomitmen meraih keberkahan hidup dengan mengembangkan harta tanpa riba dan tanpa aqad-aqad bathil lainnya,” jawab saya menyambut kesopanannya.

“Bolehkah kita ngobrol-ngobrol sejenak, Pak? Kita ke café sambil ngopi,” pintanya ramah.

“Hmmm…,” saya berfikir sejenak.  “Bagaimana kalau kita ngobrol di lobi saya, Pak. Saya agak terburu-buru karena ada temu pengusaha nanti malam.”

Kami mencari sepasang sofa kosong di lobi. Ternyata beliau adalah anggota dewan. Dalam obrolan tersebut, tanpa tedeng aling-aling, beliau memaparkan bahwa sebagai anggota dewan penghasilan resminya bisa mencapai Rp200 juta – Rp300 juta setiap bulan. Akan tetapi, penghasilan sebesar itu ternyata tidak cukup karena pengeluarannya bisa mencapai Rp500 juta.

Walhasil, kondisi keuangan itu membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi  ia kemudian terjerat utang yang semakin lama semakin membengkak. Setiap saat, benaknya dipenuhi pikiran bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan.

Sebenarnya ia telah mencoba meningkatkan penghasilan dengan cara membuka usaha bersama sahabat-sahabatnya. Namun  usaha  yang dirintisnya itu ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Malahan makin lama semakin menggerogoti situasi keuangan.

Dan seperti lazimnya para pengusaha pemula, hal pertama yang ia piker bisa menolongnya dalam kondisi darurat adalah adalah “utang”. Namun ternyata keputusan itu sekarang telah menjeratnya ke dalam lubang hitam, yang membuatnya merasa tak berdaya  untuk  mencari bagaimana cara keluarnya.

Ternyata, oh ternyata… seseorang yang berpenghasilan ratusan juta, bisa juga pusing terjerat utang, ya.  Secara logika sederhana, mestinya mereka, para high networth  itu tidak perlu terlilit utang.  Penampilan kerreen, mobil mewah, kongko-kongko di hotel berbintang, tapi kok bisa ya.

Ya bisa saja, karena awalnya ia tidak sadar bahwa utang akan menjerumuskannya ke dalam bahaya yang lebih besar. Karena begitu mulai berutang, orang akan kecanduan, terus dan terus mengambil utang sehingga tidak pernah selesai. Inilah #tabiatburukutang yang bisa dibawa sampai pensiun bahkan hingga meninggal. Naudzubillahi minzalik.

Mengapa hal itu terjadi? Karena di dalam mindset sang pengutang tersebut telah tertanam bahwa utang merupakan cara instan yang gampang tanpa memutar otak.

Masalah menjadi lebih parah karena orang yang sudah memiliki #tabiatburukutang biasanya akan terus meningkatkan jumlah utangnya. Seperti halnya orang kecanduan narkotika dan obat-obatan terlarang, untuk merasa nyaman, ia akan butuh dosis yang semakin hari semakin besar. Maka, lubang menganga itu akan menelannya semakin dalam.

Panjang lebar tentang bahaya dari #tabiatburukutang ini bisa Anda ikuti pada penjelasan saya di  pada video di bawah ini. SIlakan klik https://www.youtube.com/watch?v=l0w7SAQqSXA , jaga keselamatan diri dan keluarga Anda dari bahaya besar akibat #tabiatburukutang.

 

Batu pun Sudah Memilih

0

@MIslamBasri| MTR Riau||

Tabiat sejarah itu sentiasa berulang dan terulang

Tinggal kita memilih/apakah ingin  tertulis dan terpampang di halaman putih dengan hidup dalam keta’atan/  melakukan amar ma’ruf serta ikut berjuang mencegah dan melawan kemungkaran//

Atau membiarkan catatan sejarah diri ditulis di lembaran halaman hitam/ dengan hidup dalam ketidakta’atan dan larut dalam kemaksiatan//

Dan ketika Anda mencoba menorehkan  sejarah dengan mencari jalan aman/ hanya sibuk beramar ma’ruf namun bersikap diam dan cuek terhadap kemungkaran/ sungguh suatu pilihan yang sangat disayangkan/ dan kelak hanya akan menjadi penyesalan nan berkekalan//

Saat anda memilih membisu diri terhadap ketidakbenaran/Anda sejatinya sudah sangat teramat telat dalam menentukan suatu pilihan keputusan//

Karena bebatuan serta pasir di pantai dan bongkahan karang di lautan/sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu/ sudah mendahului pilihan Anda memilih keputusan yang sama//

# PIKIR dan RENUNGKANLAH

BangKamRi 1441 S

I Love Covid

0

© MY090620|MTR Tangerang Raya||

Covid bisa memilah manusia dungu berotak buntu atau orang kreatif penuh solutif. Covid piawai memainkan perasaan pencari alasan, kaum rebahan, dan para pemimpi.

Covid juga mampu menguak isi kepala para pemegang kuasa, otoritas keagamaan, dan para ‘wakil tuhan’ dalam menggunakan kewenangan.

Mesjid yang distempel keras, radikal, anti pemerintah, malah jadi pendukung utama lockdown. Mesjid kampung yang dianggap penurut, nggak nyunah dan cemen, diam-diam tetap membuka pintunya, tetap tarawihanan, gak pernah meniadakan jumatan.

Hmm…

Gegara covid, emak-emak mulai bisa memainkan peran guru, bapak-bapak mulai tahu gimana repotnya ngurus anak. Anak-anak tampak bahagia dan tetap lugu dengan ‘UU Keluarga’ yang baru.

Ada yang dibiarkan main game seharian, ada yang camping di halaman, ada yang malah membebaskan mereka dari ‘pembodohan’ di ruang kelas dan pagar batas sekolah.

Pria-pria otomotif, sporty, the have, mendadak takut kongkow. Wanita pengumbar paha dan dada, sletingnya kini tertutup rapat, ditarik sampai batas tak terlihat.

Orang-orang mulai nyadar, ternyata gak ngemall gak apa-apa. Gak cuci mata artinya gak memberi celah buat dirayu-rayu membeli merk tanpa berfikir fungsi.

Mudah-mudahan sadar permanen bahwa selama ini real dibodohi, diperbudak dan dijadikan target sampai tak bisa bernafas.

Saat pemasukan terbatas kemarin, nyatanya Anda tidak mati. Keluarga masih makan, listrik tetap menyala, tetap bisa online. Keuangan malah stabil, karena tidak banyak pengeluaran.

Sesungguhnys itulah masa-masa paling normal dalam hidup manusia. Saat mereka sadar dan bisa membedakan mana kebutuhan, mana keinginan.

Mungkin Anda telah lama tahu, tapi tak pernah ada kesempatan untuk mempraktekkannya. Anda selalu lupa, dibuat buta, sampai akhirnya harus disadarkan oleh keadaan.

Jadi..?

Covid yang awalnya hanya terdengar di kalangan virologi saja, lalu ada di mana-mana. Sebentar lagi covid dianggap biasa lagi, Anda diminta bersahabat dan hidup berdampingan dengannya. Atau Anda telah jatuh cinta padanya?

Ketahuilah sahabat…

Sesuatu ada dalam fikiran Anda, ketika Anda mengizikannya masuk. Celakanya, apapun saat ini hampir tidak ada lagi diskusi tanpa intervensi politik. Hampir tidak ada opini kekuasaan yang kemudian viral yang tidak dimotori para buzzer yang dibiayai pemodal dan pemangku kepentingan.

Apapun itu aku suka covid. Ia membuat kita semua berfikir apa yang normal, apa yang gak normal. Mana fiksi, mana ilusi, mana hanya sekedar emosi.

Ketika nalar bergerak liar tanpa tuntunan Illahi, maka tak ada cahaya yang bisa terlihat. Bahkan ketika cahaya itu mulai tampak, ia kemudian larut dalam kesombongan akal, lalu manusia akan hilang lagi dalam terang. Dan sejarah terus berulang.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.                           (QS. Al ‘Ashr: 1-3)

Wallahua’lam bisshawab.

✍️ Education For All

Hanafi Rais, Saya Memanggilnya “Bung”

0

©MY070620| MTR Tangerang Raya||

Lelaki sederhana berperawakan kecil ini tampak ‘humble’ saat hadir dalam acara tatap muka virtual bersama rekan-rekan MTR (Masyarakat Tanpa Riba) Tangerang Raya.

Banyak hal yang kita dapatkan, walaupun baru sebatas silaturahim  dari jam 8 pagi sampai menjelang zuhur yang rasanya sangat singkat. Apalagi saat ‘breakout’ WIFLE (semacam acara curahan hati), semua tumpah ruah dalam ruang virtual yang tidak berjarak. Jujur, 30 menit ‘wifle’ pun masih terasa kurang bagi warga MTR.

Kita tidak sedang berteori bagaimana membangun keakraban warga negara, membangun ukhuwah, membuat Indonesia bangkit. Kita telah dan terus melakukannya.

Back to Bung Hanafi…

Kenapa saya sebut bung, bukan Mas Hanafi? Bukankah ia orang Solo? Bagiku ia adalah tokoh nasional, sama seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, dan lain-lain…

Kalau saya sebut Bang Ali Sadikin misalnya, maka semua orang akan berfikir tentang Jakarta, tentang DKI, bukan tentang Indonesia.

Nah, ini tentang nasional…

MTR itu tentang pembelaan umat, membela negara, tentang bagaimana berdaulat secara ekonomi. Darah mereka telah tertanam “chip” khusus kemandirian untuk terbebas dari utang dan riba.

Sebagai homosapiens yang ber-DNA unik, jalan yang mereka pilih adalah jalannya guru-guru kita, jalannya para ulama, jalannya para nabi dan rasul, jalannya kebahagian sejati, jalan bersahabat dalam dakwah.

Lihat bagaimana keluarga Bung Hanafi, meninggalkan banyak hal yang sebagian orang mati-matian mengejarnya. Melepaskan baju PNS-nya, menanggalkan jabatan sebagai petinggi partai, meninggalkan banyak kesenangan justru saat mendapatkanya.

Ini tentu saja tak terlepas dari peran Bu Asri sebagai istri yang mampu memilih jalan hidup sederhana penuh berkah, jalan dakwah. Berani melepas sosialita dan fasilitas yang selama ini ia bangun dan dapatkan. Meninggalkan penghasilan yang sebagian orang masih merupakan mimpi.

Ada puluhan bahkan ratusan hal seperti ini di MTR, yang luput dari pemberitaan media. Warga MTR tidak berminat menjadi populer di mata manusia, biarkan kami focus mengurus ‘visa’ untuk kekal di jannahnya.

Inilah warga MTR, bukan saja warga kelas dunia, tapi juga akhirat. Warga yang telah melakukan dan memilih jalan dakwah untuk kelak berkumpul di telaga-Nya. Warga yang sadar darimana ia berasal, untuk apa ia hidup dan kemana ia akan kembali.

Saat menulis ini, mohon maaf jika ada salah kata dan penulisan nama, terlebih kepada yang bersangkutan. Saya tidak konfirmasi apapun kepada siapapun. Saya hanya mengabarkan kenyataan dan menjadi saksi.

Bersambung seri berikutnya….

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

Syaikhul Hadi; UTANG 252M LUNAS Setahun

0

Kalau ada perlombaan besar-besaran utang di antara warga MTR, Syaikhul Hadi (42 tahun)  mungkin akan menjadi pemenangnya. Tapi itu dulu!

“Ratusan meterlah intinya.  250M lebih. Di komunitas MTR, saya termasuk yang mempunyai utang terbanyak,” papar Syaikhul, CEO PT. Keraton Agri Nusantara saat menjawab pertanyaan tertulis dari admin Masyarakattanpariba.com.

Itu cerita lama, saat Syaikhul belum mengenal komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR). Kini utangnya yang berjumlah Rp252 miliar sudah lunas, dalam tempo tidak sampai 2 tahun, sejak ia bergabung pertama dengan MTR di tahun 2018. Bagaimana kisahnya?

 

Syaikhul mendirikan PT Keraton Agri Nusantara pada tahun 2008 setelah membaca ada peluang di bidang perdagangan pestisida, obat-obat pertanian, pupuk dan benih pertanian. Ia kemudian mendirikan Toko Pertanian Istana Tani yang beralamat di Jl.Raya Jetis – Bungkal, Desa Ngasinan,  Kec. Jetis, Ponorogo untuk melayani kebutuhan para petani  di wilayah Ponorogo dan sekitarnya.

Seiring perjalanan waktu, Syaikhul pun tergerak untuk memperluas skala usahanya. Ia mulai membuka toko cabang di berbagai wilayah Jawa Timur, bahkan hingga ke Jawa Tengah. Dalam kurun satu dasawarsa, bisnis PT Keraton Agri berkembang pesat. Omsetnya melesat sampai bilangan ratusan miliar rupiah.  Mereka memiliki  ribuan pelanggan loyal baik baik di tingkat riteler maupun di tingkat enduser (petani). Karyawannya pun hamper mencapai 200 orang.

Jer basuki mawa bea, keberhasilan butuh pengorbanan. Begitulah, sejalan dengan perkembangan usaha, utang Syaikhul juga berkembang pesat. Untuk keperluan ekspansi, ia butuh dukungan dana dalam jumlah besar dan terus-menerus. Dan ia pun terus mengajukan utang  ke bank dengan jumlah yang semakin lama semakin besar. Ia juga semakin terbiasa dengan pola cashflow berbahaya; menyelesaikan utang lama dengan utang baru.

Syaikul mengaku, saat itu ia dalam kondisi kecanduan utang. Alasan menambah utang selalu ada, bahkan untuk keperluan yang tidak  sangat mendesak.  Dan ibarat pemancing, pihak bank pun semakin responsive menawarkan utang dengan plafon yang semakin tinggi.

Hingga pada suatu titik, saat akumulasi utangnya melewati angka Rp250 miliar,  Syaikhul merasa ada yang tidak beres dengan cara ia memutar bisnisnya. Usahanya mulai memperlihatkan tanda-tanda ketidakseimbangan, justru saat kondisi utangnya luar biasa besar dan tersebar di belasan titik.

“Memang saat itu ada pengaruh kemarau panjang sehingga barang menumpuk, yang otomatis berpengaruh terhadap cashflow. Piutang customer banyak yang mundur dan macet, ditambah beban bunga bank yang terus berjalan,” kisahnya. Dengan kondisi tersebut, lanjut Syaikhul, otomatis pembayaran kepada supplier juga terpengaruh.

Syaikhul mulai gelisah. Makin hari hidupnya semakin tidak tenang. Persis seperti gejala penyakit para penderita kecanduan utang. Siang gelisah, malam tidur tidak nyenyak. Ia seperti berjalan tanpa pegangan.  Dalam kondisi itu, tak ada jalan lain kecuali berserah kepada sang Pemilik Kehidupan.

****

Waktu terus berjalan, melibas apa saja yang ada di belakang..

…. cerita perjalanan Syaikhul mulai menemukan titik terang saat ia berkenalan dengan komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR). Adalah H. Thohir Fauzi (Hasby), yang menjadi wasilah  keterlibatannya dengan gerakan yang concern menyelamatkan umat dari jeratan  utang tersebut.

Dari perkenalan pertama di tahun 2018, Syaikhul menjadi paham  tentang bahaya riba serta ancaman Allah yang sangat berat bagi pelakunya. Ia semakin salut kepada MTR karena menurut penilaiannya, komunitas ini berdakwah murni bagi umat agar bebas dari utang. MTR  gencar mengedukasi umat agar semakin intens berbisnis secara Syariah, dan mengubah pemikiran dari ketergantungan terhadap utang bank menjadi bisnis tanpa utang.

Dalam skala keumatan, MTR bertujuan untuk mewujudkan gaya hidup umat Islam yang kaffah. “Ending-nya adalah hidup bahagia tanpa utang dan beribadah semakin tenang,” tambah Syaikhul.

Dua tahun bergabung, Syaikhul merasa ada transformasi yang terjadi pada dirinya. Ia tidak lagi kecanduan utang. Berbekal ilmu yang ia dapatkan dari event-event MTR terutama BTC,  ia berhasil mendapatkan solusi untuk menyelesaikan masalah utang dengan perbankan.

Demi membebaskan diri dari praktik ribawi, Syaikhul melakukan pendekatan khusus kepada pihak bank yang telah memberinya kredit selama  belasan tahun. Tanpa kenal putus asa, ia terus memberikan edukasi mengenai hakekat riba dan akad. “Harus bolak balik melakukannya sampai berhasil deal dengan solusi yang baik. Ya memang perlu perjuangan dan doa,” ujarnya.

Akhirnya, dengan komunikasi dan pendekatan yang baik, pihak bank bersedia memberinya keringanan dengan penghapusan bunga dan denda yang dilarang Allah. Saikhul bahkan berhasil menjalin kesepakatan baru untuk membayar sisa pokok utang yang masih ada dengan stok barang yang ia miliki hingga lunas.

Bersamaan dengan itu, Syaikhul juga melakukan pendekatan kepada para supplier untuk minta pengunduran waktu pembayaran. Ia berterus terang menjelaskan kondisi keuangan perusahaannya yang berubah setelah tidak mengambil komitmen baru dengan bank lagi. Lagi-lagi ia berhasil mendapatkan kesepakatan.

Proses penuh doa, kerjakeras, dan ketahanan mental itu membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya dalam waktu 2 tahun,  Rp252 miliar utangnya terselesaikan!

Dengan attitude sesama warga MTR yang saling dukung dan menguatkan, Syaikul semakin berani melepaskan ketergantungan finansial usahanya kepada bank.  Saat ini, bisa dikatakan PT. Keraton Agri sudah terbebas dari utang. “Masih tersisa utang dagang, tapi itu   untuk perputaran bisnis,” ujarnya.

Ia juga berhasil membuktikan bahwa tanpa topangan utang ribawi,  bisnis tetap berjalan, bahkan berkembang semakin baik dan sehat. “Ilmunya ada di Be-MiMS. Di sana saya belajar banyak konsep bisnis, inovasi, kreasi dan solusi bisnis,” jelasnya.

Syaikhul sangat bersyukur, melalui MTR, Allah telah menyembuhkan penyakit kecanduan utangnya yang sudah kronis.  Dan yang utama, ia menjadi  punya lebih banyak waktu untuk Allah dan keluarga.

Secara pribadi, ia merasa terjadi perubahan hidup yang signifikan. Ia merasa hidup Bahagia lahir batin tanpa utang.   “Tidak terucapkan dengan kata saja. Yang asalnya saya piker tidak mungkin terselesaikan, ternyata unlogic Allah memberikan solusi dengan cepat.”

Kepada sesame pengusaha Muslim yang masih terjerat utang ribawi, Syaikhul berpesan agar tetap berikhtiar sekuat tenaga untuk terbebas dari utang dan bisnis pun harus tetap berkjalan.

“Lakukan negosiasi dengan baik, senyum, andhap asor, bersahabat dan beretika. Banyak-banyaklah mencari konsep agar permasalahan terselesaikan dengan baik,”pungkasnya.

 

New Normal, atau Kembali ke Hukum Syara?

0

@Elvi Rhinilda|Smart Parent Institute||

Setiap hari yang kita dengar adalah persiapan hidup “new normal” Belajar hidup berdampingan dengan virus, yang akhirnya memaksa manusia menjalankan new normal.

Apa sih new normal ?

Menjaga kebersihan, sering cuci tangan, bukankah itu yang kita lakukan jika rutin sholat wajib dan sunnah ? Subuh, Dhuha, Rawatib, Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, Tahajud, dan lainnya. Belasan kali kita akan cuci tangan. Bukan sekedar membasahi tangan, tapi juga menggosok sela-sela jari seperti ajaran baginda Rasul SAW. Sama seperti yang diajarkan brosur-brosur kesehatan kan ?

Apalagi jika wudhu disertai istinsyaq, menghirup air ke dalam rongga hidung. Virus covid 19 bertahan sekitar 4 jam di rongga hidung sebelum masuk ke paru-paru. Instinsyaq membersihkan virus di rongga hidung.

Berpakaian tertutup sehingga meminimalkan jatuhnya droplet orang lain ke badan kita. Islam mengajarkan bagi wanita hanya wajah dan tangannya yang bisa terbuka di tempat umum. Bagi laki-laki, pakaiannya menutup bagian atas sampai bagian bawah lututnya. Kurang lebih, sesuai kan dengan standar kesehatan tersebut?

Tidak sembarangan bersentuhan dengan orang lain. Ya, memang Islam mengajarkan konsep mahram. Hanya bersentuhan dengan keluarga dekat yang dikategorikan mahram. Itu pun diniatkan untuk menjaga silaturahmi, tidak berlebihan.

Menghindari kerumunan, lebih banyak di rumah kecuali untuk melakukan sesuatu yg sangat penting. Bukankah Islam telah memisahkan kehidupan laki-laki dan wanita ? Tidak setiap kegiatan kehidupan bisa campur aduk, apalagi dengan yang bukan mahram. Bahkan Al Quran mengajarkan maqam (tempat berpijak) wanita adalah di rumah. Makanya pepatah Arab menyatakan: al ummu madrasatul uula.

Bagi laki-laki pun, apa perlu bekerja dari pagi/subuh sampai malam, mengejar harta yang rasanya tidak pernah cukup ? Sampai kurang waktu untuk bersama dengan keluarga. Padahal kebutuhan dasar manusia menurut Islam, hanyalah sebuah rumah, sepotong kain dan sepotong roti.

Baginda Rasul biasa beraktivitas sesudah syuruk. Lalu sesudah Isya beliau tidak lagi menerima tamu, hanya bercengkerama dengan keluarga kemudian tidur tidak lama sesudah sholat Isya. Padahal aktivitas Rasul SAW sebagai pemimpin agama, kepala negara, guru, pemimpin perang, kepala keluarga, ayah bagi anak-anak. Beliau begitu sibuk namun sangat efisien memanfaatkan waktu.

Dengan new normal, restoran, mall, transportasi, tempat umum, tempat wisata hanya beroperasi setengah kapasitasnya karena harus physical distancing. Tentu pendapatan para pelaku usaha akan turun.

Kalau begitu, inilah saatnya meneladani gaya hidup Rasul SAW yang sederhana (bukan miskin, tapi sederhana). Tidak perlu menimbun segala macam barang atau harta yang entah kapan akan dipakai,  hanya teronggok di sudut lemari. Atau bahan makanan yang sangat banyak, sampai tidak disadari sebagian sudah kedaluarsa. Hidup sederhana, sesuai kebutuhan saja, untuk bertahan hidup, karena hidup di dunia kan hanya tempat transit.

Nah kalau kita lihat lebih detail, apa yg disebut new normal itu hanya sebagian dari menjalankan Islam secara kaffah, mengaplikasikan hukum syara sebagai tuntunan hidup setiap hari. Alloh sudah menyatakan bahwa Islam-lah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Jadi kalau kita jalankan Islam secara kaffah, insyaAlloh selamat dunia akhirat.

Jadi, pilih new normal atau hukum syara ? Saya sih pilih hukum syara, sebagai bagian dari taat, tunduk, patuh pada Alloh.

Cibinong, 3 Juni 2020

Misteri ASI dan Karakter Kesatria Agung

0

@AbdulQadeemUst| MTR||

قيل: إن المرأة في سالف العصور كانت عندما تريد أن ترضع طفلها،
Dikatakan, bahwa wanita pada masa dahulu ketika ingin menyusui anaknya,

تسمي الله تعالى ثم ترضع ولدها بنية أن يصبح ذا شأن عظيم عندما يكبر…
Dia menyebut nama Allah Yang Maha Tinggi kemudian menyusui anaknya dengan niat agar anaknya menjadi orang yang memiliki peran besar ketika dewasa ….

فارسا شجاعا …
Menjadi kesatria yang pemberani ….

أو عالما مبرزا …
Atau ilmuwan yang ternama …

أو قائدا محنكا …
Atau panglima yang perkasa ….

لذلك كان أجدادنا عظماء …
Karena itulah kakek moyang kita adalah orang-orang besar/agung.

 

أما اليوم فإن معظم نساءنا يرضعن أولادهن بنية أن يناموا …
Adapun hari ini, maka kebanyakan wanita kita menyusui anak-anak mereka dengan niat agar anak-anak tersebut tidur ….

لذلك فالأمة معظمها نائمة 😴😴

 

Karena itulah maka kebanyakan umat (sekarang) pada tidur! 😴😴
😭😭😭

#MariKitaUbahMindsetIsteriKita