New Normal, atau Kembali ke Hukum Syara?

0
126

@Elvi Rhinilda|Smart Parent Institute||

Setiap hari yang kita dengar adalah persiapan hidup “new normal” Belajar hidup berdampingan dengan virus, yang akhirnya memaksa manusia menjalankan new normal.

Apa sih new normal ?

Menjaga kebersihan, sering cuci tangan, bukankah itu yang kita lakukan jika rutin sholat wajib dan sunnah ? Subuh, Dhuha, Rawatib, Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, Tahajud, dan lainnya. Belasan kali kita akan cuci tangan. Bukan sekedar membasahi tangan, tapi juga menggosok sela-sela jari seperti ajaran baginda Rasul SAW. Sama seperti yang diajarkan brosur-brosur kesehatan kan ?

Apalagi jika wudhu disertai istinsyaq, menghirup air ke dalam rongga hidung. Virus covid 19 bertahan sekitar 4 jam di rongga hidung sebelum masuk ke paru-paru. Instinsyaq membersihkan virus di rongga hidung.

Berpakaian tertutup sehingga meminimalkan jatuhnya droplet orang lain ke badan kita. Islam mengajarkan bagi wanita hanya wajah dan tangannya yang bisa terbuka di tempat umum. Bagi laki-laki, pakaiannya menutup bagian atas sampai bagian bawah lututnya. Kurang lebih, sesuai kan dengan standar kesehatan tersebut?

Tidak sembarangan bersentuhan dengan orang lain. Ya, memang Islam mengajarkan konsep mahram. Hanya bersentuhan dengan keluarga dekat yang dikategorikan mahram. Itu pun diniatkan untuk menjaga silaturahmi, tidak berlebihan.

Menghindari kerumunan, lebih banyak di rumah kecuali untuk melakukan sesuatu yg sangat penting. Bukankah Islam telah memisahkan kehidupan laki-laki dan wanita ? Tidak setiap kegiatan kehidupan bisa campur aduk, apalagi dengan yang bukan mahram. Bahkan Al Quran mengajarkan maqam (tempat berpijak) wanita adalah di rumah. Makanya pepatah Arab menyatakan: al ummu madrasatul uula.

Bagi laki-laki pun, apa perlu bekerja dari pagi/subuh sampai malam, mengejar harta yang rasanya tidak pernah cukup ? Sampai kurang waktu untuk bersama dengan keluarga. Padahal kebutuhan dasar manusia menurut Islam, hanyalah sebuah rumah, sepotong kain dan sepotong roti.

Baginda Rasul biasa beraktivitas sesudah syuruk. Lalu sesudah Isya beliau tidak lagi menerima tamu, hanya bercengkerama dengan keluarga kemudian tidur tidak lama sesudah sholat Isya. Padahal aktivitas Rasul SAW sebagai pemimpin agama, kepala negara, guru, pemimpin perang, kepala keluarga, ayah bagi anak-anak. Beliau begitu sibuk namun sangat efisien memanfaatkan waktu.

Dengan new normal, restoran, mall, transportasi, tempat umum, tempat wisata hanya beroperasi setengah kapasitasnya karena harus physical distancing. Tentu pendapatan para pelaku usaha akan turun.

Kalau begitu, inilah saatnya meneladani gaya hidup Rasul SAW yang sederhana (bukan miskin, tapi sederhana). Tidak perlu menimbun segala macam barang atau harta yang entah kapan akan dipakai,  hanya teronggok di sudut lemari. Atau bahan makanan yang sangat banyak, sampai tidak disadari sebagian sudah kedaluarsa. Hidup sederhana, sesuai kebutuhan saja, untuk bertahan hidup, karena hidup di dunia kan hanya tempat transit.

Nah kalau kita lihat lebih detail, apa yg disebut new normal itu hanya sebagian dari menjalankan Islam secara kaffah, mengaplikasikan hukum syara sebagai tuntunan hidup setiap hari. Alloh sudah menyatakan bahwa Islam-lah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Jadi kalau kita jalankan Islam secara kaffah, insyaAlloh selamat dunia akhirat.

Jadi, pilih new normal atau hukum syara ? Saya sih pilih hukum syara, sebagai bagian dari taat, tunduk, patuh pada Alloh.

Cibinong, 3 Juni 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here