The Entrepreneur

0
50

©MY100620|MTR TangerangRaya||

Anggap saja Anda punya uang banyak, tidak ada utang, usaha berjalan baik, lalu ada yang datang mengajak Kerjasama.  Apa yang akan Anda lakukan?

Bingung?

Saya balik sekarang, Anda mau bayar utang tapi gak punya uang, usaha berantakan. Siapa yang akan Anda temui dan apa yang akan Anda lakukan?

Tambah bingung?

Anda ini otodidak, mendadak pengusaha, atau ngaku-ngaku pengusaha, atau usaha warisan, ya? Apapun itu, yang pasti pertanyaan akan seputar aset, value dan investor.

Mari kita bedah…

Apapun jenis usahanya, kita wajib punya portofolio atau semacam oret-oretan tentang usaha apa, di mana, sejak kapan. Tentu nyambung ke logo, visi, misi, sampai IG, FB, hingga ke pemilihan warna, dan semacamnya, agar layak jual. Nah, Anda mulai masuk apa yang disebut ‘branding’.

Orang mengenal dan memanggil kita dengan nama kita yang tak beda dengan  ‘brand’. Demikian juga perusahaan. Brand tidak lahir ujug-ujug, ada proses panjang yang melatarbelakanginya hingga membentuk perusahaan Anda saat ini.

Anda dipanggil Ndut, Gondrong, Selon, Kriting, atau apapun,  itu karena citra yang orang lain tangkap tentang Anda. Demikian juga dengan perusahaan. Ada yang menyebut dengan Aqua, Honda, Indomie, dan lain-lain…

Lanjut ya?

Singkatnya, jika Anda belum punya portofolio berarti Anda gak niat jadi pengusaha dan baru tahap wiraswasta. Di mana bukan sistem yang Anda bangun, tapi keluarga diktator.

Wajar kalau Anda kurang piknik, gak bisa tidur pulas, dan harus selalu ‘stay at office’. Sederhananya Anda gak bisa ngapa-ngapain, apalagi dakwah.

Sebelum uang datang membiayai apa yang Anda kerjakan, mereka akan bertanya apakah usaha Anda layak? Cara klasik biasanya melihat dari aset apa yang perusahaan punya.

Investor yang agak modern mungkin mampu melihat value apa yang dimiliki perusahaan. Misal, apakah jenis usahanya benar-benar baru, model usahanya unik, atau etos kerja yang tinggi, founder yang berkarakter, dan lain-lain. Bisa apa saja…

Sampai sini paham ya?

Jadi, jika ada sahabat yang saat ini benar-benar kebingungan mau mulai dari mana, sedangkan covid sudah tidak bisa lagi jadi alasan, selamat bingung selamanya.

 

Bagi yang gak mau bingung, lanjut…

Apakah perusahaan Anda sedang atau baru mulai, Anda wajib membangun portofolio. Baik yang tercipta, atau yang harus Anda ciptakan.

Bro…

Sebagian besar kita jika bicara bisnis ujung-ujungnya mentok di modal, termasuk saya. Entah karena kelamaan hedon, bossi, dan semacamnya. Yang jelas Anda gak bisa berfikir kalau gak ada uang. Titik! Padahal kalau difikir sehat, kita semua tahu dan sadar kalo rezeki Allah itu gak berbatas ruang dan waktu.

Saat ini begitu banyak ‘crowfounding’ diluar sana. Tentu saja pembiayaan yang kita maksud adalah yang tidak melanggar syariah.

Anda bisa pelajari Urun Dana, Santara, Igrow, dll. Suatu saat kita pasti akan punya platform sendiri dan tanpa was-was bisa bersyirkah. “Ingat! syarat dan ketentuan berlaku”.

Jika Anda tidak tahu arah dan ke mana bisnis Anda, bagaimana 10 tahun ke depan, berapa cabang yang ingin Anda buka, bayangkan apa yang orang lain fikirkan tentang perusahaan model begini?

Bisnis modern minimal terdiri dari tiga hal yang masing-masing kompeten di bidangnya jika benar-benar mau jadi mesin pahala buat akhirat. Product development, business development dan investor. Jangan lakukan all in one. You die!

Waktu berubah, zaman berubah, bisnis pun harus berubah. Tidak ada di dunia ini yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Mustahil melakukan hal yang sama terus-menerus tapi ingin hasil yang berbeda.

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan” (Al-Dzariyat 7).

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here