Hanafi Rais, Saya Memanggilnya “Bung”

0
107

©MY070620| MTR Tangerang Raya||

Lelaki sederhana berperawakan kecil ini tampak ‘humble’ saat hadir dalam acara tatap muka virtual bersama rekan-rekan MTR (Masyarakat Tanpa Riba) Tangerang Raya.

Banyak hal yang kita dapatkan, walaupun baru sebatas silaturahim  dari jam 8 pagi sampai menjelang zuhur yang rasanya sangat singkat. Apalagi saat ‘breakout’ WIFLE (semacam acara curahan hati), semua tumpah ruah dalam ruang virtual yang tidak berjarak. Jujur, 30 menit ‘wifle’ pun masih terasa kurang bagi warga MTR.

Kita tidak sedang berteori bagaimana membangun keakraban warga negara, membangun ukhuwah, membuat Indonesia bangkit. Kita telah dan terus melakukannya.

Back to Bung Hanafi…

Kenapa saya sebut bung, bukan Mas Hanafi? Bukankah ia orang Solo? Bagiku ia adalah tokoh nasional, sama seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, dan lain-lain…

Kalau saya sebut Bang Ali Sadikin misalnya, maka semua orang akan berfikir tentang Jakarta, tentang DKI, bukan tentang Indonesia.

Nah, ini tentang nasional…

MTR itu tentang pembelaan umat, membela negara, tentang bagaimana berdaulat secara ekonomi. Darah mereka telah tertanam “chip” khusus kemandirian untuk terbebas dari utang dan riba.

Sebagai homosapiens yang ber-DNA unik, jalan yang mereka pilih adalah jalannya guru-guru kita, jalannya para ulama, jalannya para nabi dan rasul, jalannya kebahagian sejati, jalan bersahabat dalam dakwah.

Lihat bagaimana keluarga Bung Hanafi, meninggalkan banyak hal yang sebagian orang mati-matian mengejarnya. Melepaskan baju PNS-nya, menanggalkan jabatan sebagai petinggi partai, meninggalkan banyak kesenangan justru saat mendapatkanya.

Ini tentu saja tak terlepas dari peran Bu Asri sebagai istri yang mampu memilih jalan hidup sederhana penuh berkah, jalan dakwah. Berani melepas sosialita dan fasilitas yang selama ini ia bangun dan dapatkan. Meninggalkan penghasilan yang sebagian orang masih merupakan mimpi.

Ada puluhan bahkan ratusan hal seperti ini di MTR, yang luput dari pemberitaan media. Warga MTR tidak berminat menjadi populer di mata manusia, biarkan kami focus mengurus ‘visa’ untuk kekal di jannahnya.

Inilah warga MTR, bukan saja warga kelas dunia, tapi juga akhirat. Warga yang telah melakukan dan memilih jalan dakwah untuk kelak berkumpul di telaga-Nya. Warga yang sadar darimana ia berasal, untuk apa ia hidup dan kemana ia akan kembali.

Saat menulis ini, mohon maaf jika ada salah kata dan penulisan nama, terlebih kepada yang bersangkutan. Saya tidak konfirmasi apapun kepada siapapun. Saya hanya mengabarkan kenyataan dan menjadi saksi.

Bersambung seri berikutnya….

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here