Benarkah kalau tak Ngutang takkan bisa punya rumah?
Betulkah bila tak Ngutang takkan bisa punya kendaraan?
Apa iya kalau nggak Ngutang usaha Anda takkan pernah bisa berkembang?
Lantas..
Apakah benar Utang bisa membuat Anda bahagia?
Apa benar Anda bisa merdeka dari beban hidup dan beban pikiran karena Ngutang? ( jawab jang joejoer dengan hati ja )
Faktanya utang adalah salah satu perusak utama iman dan keutuhan aqidah.
Faktanya,terlalu banyak kisah nyata tentang usaha dan keluarga yang hancur berderai disebabkan utang dan riba.
Faktanya penyakit Ngutang adalah pintu besar menuju hidup sengsara dan penuh derita yang sesungguhnya.
Dan faktanya utang adalah jalan pintas mencari bahagia yang seringkali berakhir dengan kehancuran, kemiskinan dan berbagai cerita petaka.
TERJEBAK DALAM UTANG RIBA KARENA KURANG ILMU, BERTAHAN DAN TERTAHAN DALAM UTANG RIBA DISEBABKAN SEDIKIT ILMU. JALAN KELUARNYA TIADA LAIN HANYA DENGAN MUJAHADA MENDAPATKAN ILMU DAN MEWUJUDKANNYA DALAM IKHTIAR YANG NYATA, LILLAAH.
Selamat Merdeka bagi insan-insan yang sudah terlepas dan benar-benar merdeka dari OETANG dan RIBA.
Seperti halnya para pengusaha pemula, Pak Pujiono –pengusaha herbal dari Purwokerto, juga memiliki mindset kalau sukses harus punya utang supaya hidup lebih bersemangat, kalau tak utang tidak akan punya apa-apa dan semacamnya.
Maka tidak heran, sejak masih menjadi karyawan di tahun 2001, ia sudah mulai berkenalan dengan gaya hidup berutang. Awalnya ia mengambil utang Rp1 juta sebagai modal jualan produk-produk herbal karena ingin menambah penghasilannya sebagai karyawan. Setelah itu, pelan tapi pasti, pria kelahiran Cilacap, 18 Desember tahun 1980 ini semakin tergantung pada utang. Hingga terakhir akumulasinya hamper mencapai Rp1,2 miliar.
Waktu utangnya belum terlalu besar, Pak Pujiono merasa tidak ada beban dalam mengangsur cicilan utangnya. Hingga setelah berlangsung 1,5 tahun, ia merasa beban utang itu semakin berat, yang membuatnya tertekan sehingga hidupnya juga tidak tenang. Kalau sudH memikirkan utang, kepalanya terasa “cremot-cremot”.
Ayah 3 orang putra ini mengaku ia menjadi mudah emosi bahkan ringan tangan kepada anak-anaknya. Kehidupan berkeluargapun terasa semakin tidak harmonis dan serba salah.
Sejatinya, sebelum berkenalan langsung dengan MTR, Pak Puji sudah diingatkan oleh ustadz Khotam tentang bahaya utang dan riba sebagai sumber masalah kehidupannya selama ini. Namun ia masih tetap “ngeyel” karena merasa masih mampu membayar cicilan/angsuran utangnya.
Hingga akhirnya pada pertemuan yang ketujuh, Pak Puji mulai tertarik tarhadap untuk menanyakan adakah seminar motivasi tentang bisnis Islami. Dua hari kemudian, Ust Khotam memberikan informasi tentang acara PTR -Pengusaha Tanpa Riba (sekarang programnya berkembang menjadi SMHTR).
28 Februari 2015, untuk pertamakalinya Pak Puji mengikuti event PTR. Pada seminar yang bertempat di Hotel Balairung Matraman itu, Ust. Samsul Arifin SBC membawakan tema “Rahasia Sukses Mengembangkan Bisnis tanpa Riba”. Itulah moment ketika Pak Puji paham dengan sejelas-jelasnya tentang bahaya dan tabiat buruk utang. Dari situ juga, ia mendapatkan motivasi kuat untuk membayar, dan menyelasikan utang secepat mungkin melalui cara yang syar-ie (meninggalkan riba)
Tidak selesai di acara PTR, Pak Puji juga terus mengikuti berbagai program dari SBC seperti BUBB, MLC, MIMS dan lainnya. Berbagai program yang ia ikuti memberinya kekuatan untuk bangkit dan mewujudkan impian-impian bebas utang dan merdeka secara finansial dalam kehidupan yang sesuai aturan-aturan Allaah SWT.
Hingga akhirnya, Juni 2015 atau 4 bulan setelah ia mulai ikut progam SBC, Pak Puji berhasil melunasi semua utang-utangnya!
5 tahun bergabung dengan MTR, Pak Puji merasa sangat bersyukur bertemu dengan banyak saudara sejalan. Relasinya bisnis juga bertambah yang berimbas pada kenaikan omset usahanya. Dan karena MTR pula, ia bisa melanglang buana dari Sabang sampai Papua.
Bersama-sana warga MTR, ia bergerak membuktikan kecintaan terhadap bangsa melalui edukasi kepada masyarakat agar lepas dari ketergantungan terhadap utang dan riba. “Ini adalah bukti bela negara kami dalam bidang ketahanan keuangan,” ujarnya.
Baginya, MTR bukan sekadar komunitas, namun wasilah dakwah untuk menyelamatkan umat di dunia (dari bahaya utang) hingga ke akhirat. Pasalnua, melalui MTR umat diajak untuk memiliki kepribadian Islam mulai dari proses berfikir dan pola sikap sehari-hari. Dimulai dari niat untuk menyelesaikan utang, belajar aturan hidup berIslam, insyaAllah masalah-masalah yang ada pada diri bisa terselesaikan.
”Intinya kita diajarkan untuk istiqomah belajar metode Islam agar hidup lebih berarti. Belajar tiada henti, dakwah sampai mati. InsyaAllah selamat dunia dan akhirat,” tegasnya.
Anda yang belum faham pasti menganggap statement ini kontroversial. Bisa jadi karena pola pikir setiap orang berbeda-beda. Pemahaman (mahafim) yang berbeda-beda, tentunya akan memberikan asil (hasil) yang berbeda pula.
Ada juga yang berfikir, “Ya, kalau ada uang terkumpul semua, untuk bangun rumah. Kalau nggak punya uang, ya harus KPR.”
Begitu juga yang ada dalam pikiran saya dulu….sampai..
saya menghitung ulang simulasi KPR dan…
Dari perhitungan saya beberapa tahun lalu (saat saya belum tau ilmu-nya), ternyata perhitungan bunga dan sistem anuitas KPR begitu mencekik..
Nasabah terkesan diringankan dengan DP (down payment – uang muka) dan angsuran. Tetapi setelah dijumlah justru uang yang dikeluarkan lebih besar 2x lipat sehingga penghasilan nya 15 tahun kedepan tersedot sangat besar dan lama.
Hemmm…
Maka kita bandingkan jika membangun sendiri. Dengan tipe yang sama ternyata kita tidak harus bayar berlipat seperti KPR justru bisa hemat sampai 50% nya.
Sebagai contoh fakta, kalau ada rumah harga Rp500jt, maka dengan KPR, kita bayar 1Milyar. Kalau bangun sendiri, budget Rp300jutaan untuk membangun rumahnya. Ilustrasi diatas itulah yang mudah kita pahami.
Oya, kalau Anda berfikir Rp300jtan harus tunai di satu waktu, tunggu dulu…
Memang perlu proses. Kita bisa beli tanahnya dulu, beli tanah pun jarang langsung tunai, karena balik nama sertifikat pun hampir setahun.. Anda bisa nego 3x -6X bayar, tergantung deal Anda (ada ilmunya).
Kemudian nyicil pondasi, beli batu bata, beli besi dan sebagainya. Nanti kalau punya uang lagi bangun sampai ketutup atap, baru finishing dalam. Barulah bisa siap ditempati.
Terus sebelum rumah jadi tinggal dimana? Sabar…
Yaah, kan fungsi pokok rumah itu untuk berteduh, istirahat, berkumpul keluarga dsb. Sebagai contoh kita bisa mencari opsi kontrakan dulu, tinggal rumah ortu atau lainnya. Pokok e Sabar..
Begitu pula finishing luar dan aksesoris nanti aja kalau dapat rejeki lagi.
Ah… teori..
itulah yang kami dapatkan ilmu dari kisah nyata warga masyarakat yang ogah utang lagi. Ngga mikir ngangsur 15 tahun. Sabar dulu, dan terus berikhtiar..
Kami doa’ kan yg membaca tulisan ini, semoga Allaah melimpahkan rizki , dan bagi yag masihn punya Utang, segera diLunas-kan. Aamiin.
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Lantas ..
* berlomba sedekah sebanyak-banyaknya dengan harapan Alloh ganti berkali lipat agar semakin kaya raya….
* berharap bisnis semakin sukses dan lancar jaya….
* hanya ingin kehidupan dunianya berlimpah bahagia dan terhindar sengsara.
Dunia, dunia, dan hanya dunia saja dalam pikirannya….
Pun Saat datang nikmat sakit sebagai ujian, pergi ke dokter sebagai prioritas tujuan. Minum obat jadi satu-satunya ikhtiar yang dilakukan. Pindah satu dokter ke dokter lainnya berharap kesembuhan. Dan jika tak kunjung sembuh barulah memohon kepada Alloh SWT kemudian. Lupa siapa yang Maha Kuasa menyembuhkan.
“Ya Allah Rabb (pencipta dan pelindung) semua manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkau adalah asy-Syaafi (Yang Maha Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit (lain)”
Salah kaprah yang bikin salah kiprah. Terbukti Alloh SWT sering kita nomor duakan. Bahkan sering kali kita nomor sekiankan disetiap masalah kehidupan….
Juga saat sholat lima waktu yang hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Bukan niat ingin mengharap penilaian dari Alloh SWT. Tapi begitu ingin dapet penilaian manusia.
Begitupun saat menjalankan puasa sunnah. Yang Alloh SWT berjanji tergugurkannya dosa setahun lalu ataupun setahun setelah. Dengan pede-nya kau jalankan maksiat lagi sehari setelahnya. Karena merasa dosa-dosa terhapus sudah.
Salah kaprah yang benar-benar bikin salah kiprah….
Gambar dengan baik pola pikir dalam akal..
Alloh dulu. Karena IA-lah yang Maha menguasai akal,
Alloh lagi. Karena DIA pula yang Maha kuasa tak tertandingi,
Alloh terus. Karena ridho dari-NYA lah semua akan menjadi mulus dan lurus.
Karena Mengingat Alloh di kala senang. Maka Alloh SWT akan mengingat kita kala meriang.
“Dan mereka menjawab cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung” (QS. Ali imran- 172)
Masih ingat kunjungan redaksi Majalah Hidayatullah ke kantor KSW Sentul beberapa pekan silam? Pemuatan profil beberapa pegiat dan warga MTR di majalah tersebut rupanya memancing ketertarikan Pengurus Pusat Hidayatullah untuk mengetahui lebih dalam mengenai komunitas anti riba ini yang sebenarnya.
Dan begitulah, Kamis (13/08) siang tadi, kami mengadakan kunjungan balasan ke kantor PP Hidayatullah yang terletak di Kawasan CIpinang, Jakarta. PP MTR diwakili oleh Amir Mahmudin, Makhjudin Zein, Sunarji, Pujiono, Hidayat, dan Mansur. Kedatangan kami disambut hangat oleh beberapa perwakilan PP Hidayatullah antara lain Ustadz Ruhyadi Sujana dari Dept. Kewirausahaan dan Koperasi, dan Ust. Asih Bagiyo, Ketua Bidang Perekonomian, yang didampingi beberapa pengurus dari divisi Hubungan Masyarakat.
Dalam sambutannya, Ust. Ruhyadi melihat bahwa MTR tak ubahnya “makhluk baru” yang membawa pencerahan bagi umat dengan cara hijrah yang radikal. Beliau juga memberikan masukan agar MTR juga melakukan edukasi dan pemberdayaan kepada masyarakat segmen bawah.
Senada itu, Ust. Asih Bagiyo menyatakan sangat terkesan dan tertarik dengan konsep ekonomi (bahasan syirkah) dari kitab Syeh Taqiudin An Nabano (Nidhom Ihtizodi). Selain itu, beliau juga menyampaikan harapan agar para warga MTR membagikan ilmunya kepada segenap wirausahawan binaan Hidayatullah. Secara khusus, beliau juga mengajak segenap warga MTR untuk memikirkan bersama upaya pemberdayaan ekonomi para dai dan guru.
Pertemuan berlangsung hangat dalam suasana bersahabat dan saling support dalam dakwah. Ust, Bagiyo mengundang MTR agar bisa berbagi kisah hijrah para warganya untuk dipublikasikan di Majalah Hidayatullah. Selain itu, MTR juga diharapkan bisa berkolaborasi dalam kegiatan dakwah Hidayatullah di berbagai daerah.
Pak Guntur, pengusaha kuliner ini punya utang sekitar 2 Miliar tahun 2018. Sempat menawarkan ginjal untuk membayar utangnya. Qadarullah, beberapa hari sebelum penandatanganan transaksi jual ginjal ada tamu datang dari komunitas masyarakat tanpa riba. Siapa sangka, kedatangan tamu itu jadi awal jalan keluar dari lunas utang miliaran.
Setelah pak Guntur ikut MTR, banyak kemudahan yang didapat untuk lunas utang miliaran setelah mengikuti arahan dari para mentor yang mudah dilakukan. Seperti apa arahannya?
Simak penjelasan pak Guntur di video ini.
Jangan lupa, silakan tekan tombol subscribe jika video ini bermanfaat untuk kebaikan umat.
===
Jika Anda ingin keluar dari tekanan utang riba dan Ingin merasakan bahagianya hidup dan berbisnis tanpa utang?
Awali dengan membaca buku merah masyarakat tanpa riba. Dan hadiahkan buku ‘ajaib’ ini pada kerabat dan rekan bisnis Anda sebagai amal sholeh.
WA SEKARANG JUGA ke salah satu nomor di bawah ini untuk pemesanan bukunya.:
untuk pemesanan bukunya. 😊
.
===
Terhubung dengan komunitas Masyarakat Tanpa RIba:
.
*Yuk, TEKAN TOMBOL SUBSCRIBE-nya dan bunyikan loncengnya agar Anda selalu mendapatkan update video terbaru dari kami.*
Saya hanya ingin berbagi perjalanan hidup. Saya adalah seorang ASN, dosen di sebuah Perguruan Tinggi Negeri.
Sepanjang perjalanan menjadi ASN selama 29 tahun, sampai bulan Pebruari 2019, saya tidak pernah lepas dari jerat utang riba. SK ASN selama itu tidak pernah pulang ke rumah. Sementara BPKP kendaraan dan sertifikat juga tidak lulus-lulus sekolah semua di lembaga keuangan ribawi. Selain itu, kerjaan sambilan lain yang saya jalani 10 tahun terakhir sebelum mengenal MTR adalah bisnis MLM.
Semua itu kini menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga. Sejak berazzam untuk berhijrah, semua bisnis MLM saya tinggalkan dan utang-utang riba segera diupayakan diselesaikan.
Alhamdulillah, dengan bekal ilmu yang diberikan para coach dan sahabat-sahabat MTR yang sudah berhijrah terlebih dahulu, dalam waktu tidak lebih dari 4 bulan semua utang riba yang tersebar di koperasi kantor, di abank, di non Lisa, dan di kartu kredit sekitar Rp800 juta bisa dibereskan semua. Semua sertifikat, BPKB, dan SK ASN sekarang sudah rukun berkumpul di rumah. Jika kita berniat serius untuk meninggalkan RIBA maka pertolongan Allah itu nyata.
Rasa syukur dan terima kasih tidak terhingga saya sampaikan kepada semua sahabat MTR yang telah telah mengajak saya berhijrah, sehingga ketenangan hidup tanpa riba saat ini bisa saya nikmati.
Teriring doa buat sahabat semua yg masih berjuang utk lepas dari cengkraman utang riba mudah-mudahan disegerakan lunas oleh Allah SWT. Aamiin!!! (Asrin Akhmad – MTR Bekasi)
Pak M. Riyanto, pengusaha asal NTB ini berkisah bagaimana keberhasilannya melunasi utang 6 miliar setelah menerapkan rule yang ada di komunitas Masyarakat Tanpa Riba. Seperti apa rule-nya?
Simak obrolan lengkap nan penuh hikmah beliau dalam video berikut.
===
Jika Anda ingin keluar dari tekanan utang riba dan Ingin merasakan bahagianya hidup dan berbisnis tanpa utang?
Awali dengan membaca buku merah masyarakat tanpa riba. Dan hadiahkan buku ‘ajaib’ ini pada kerabat dan rekan bisnis Anda sebagai amal sholeh.
WA SEKARANG JUGA ke salah satu nomor di bawah ini untuk pemesanan bukunya.:
untuk pemesanan bukunya. 😊
.
===
Terhubung dengan komunitas Masyarakat Tanpa RIba:
.
*Yuk, TEKAN TOMBOL SUBSCRIBE-nya dan bunyikan loncengnya agar Anda selalu mendapatkan update video terbaru dari kami.*
DBD yang satu ini bukan disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes Albocpictus. Namun bahayanya tidak kalah mengerikan dibandingkan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue itu.
Yup, Demam Berutang Dengue – DBD adalah penyakit yang disebabkan virus bernama “utang”. Selevel dengan bahaya penyakit demam berdarah, penyakit demam berutang dengue juga memiliki status morbiditas dan mortalitas yang sangat tinggi. Penularannya cepat dan angka kematian akibat virus ini semakin lama semakin tinggi.
Ada 3 fase gejala terjangkit virus “DBD” ini. Yaitu:
Fase Demam
Seperti umumnya gejala awal pada penyakit Demam Berdarah yang ditandai dengan demam tinggi, pun sama demam berutang pun ditandai dengan demam untuk terus nambah utang. Pingin utang lagi, lagi dan lagi sampai level kecanduan. Jadi seolah-olah panas jikalau tak nambah lagi hingga di posisi terparah yaitu level “Gila Ngutang”.
Fase Kritis
Fase dimana dia merasa baik-baik saja, seolah sehat keuangan dan keluarganya padahal pasien tak sadar sedang dalam kondisi :”tidak baik-baik saja”.
Hati-hati, di fase ini akan terjadi perdarahan hebat di titik vital kehidupan sang pasien. Bahkan bisa terjadi crying blood tears (nangis darah) jika tidak segera ditangani.
Ada beberapa kasus, pasien mengalami syok, baik penurunan atau kenaikan tekanan darah signifikan, pusing, sering mual, atau bahkan pengin segera hilang dari muka bumi alias bunuh diri jika sudah tingkat parah.
Fase Recovery
Di fase pemulihan ini, pertama kali yang harus dilakukan adalah menyadarkan pasien. Agar pasien bener-bener tersadar akan bahaya “virus utang”, dan kemudian menjalani terapi fundamental ruhani yang berisi hakekat penciptaan manusia : darimana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan kemana kita setelah mati.
Terapi selanjutnya melalui asupan vitamin yang menguatkan iman di hati, karena jika iman sehat, imunpun akan meningkat, fisik pasien akan semakin kuat dan semangat.
Untuk mempercepat pemulihan, sangat dianjurkan melakukan “action on dakwah”.
Apa itu???
Ya, berdakwah untuk menyadarkan orang-orang terdekat tentang bahaya DBD (Demam Berhutang Dengue)
3 fase ini secara normal akan dialami setiap pasien, akan tetapi gejala, tingkat keparahan dan lama penyembuhan masing-masing pasien berbeda.
So, jika Anda merasa terjangkit virus ini segera hubungi dokter MTR terdekat. Minimal Anda akan diberi mood- booster BMM (Buku Merah MTR)
Apakah Anda juga terjangkit DBD? Pada fase apa? Ingin segera sehat? (Solo, 21 Juni 2020)
(Sangat Penting! Begini Skema Utang RIBA Menjadikan Anda Budak)
Terjadi penyesatan logika. Ketika menawarkan utang, abank biasanya mengiming-imingi bunga yang murah sekali.
Biasanya mereka memberi gambaran bunga “hanya” 1% – 2% per bulan.
Logika kita akan menghitung, dengan uang yang kita pinjam, ketika diputar untuk bisnis misalnya, setiap bulan bisa menghasilkan keuntungan katakanlah 5%. Maka dengan beban bunga yang “hanya” 1% – 2% per bulan, kita masih punya peluang keuntungan sekitar 3%-4%.
Katakanlah kita utang Rp.50.000.000,-. Dengan uang tersebut, kita berasumsi bisa menghasilkan Rp.2.500.000 sebulan. Sementara bunga dari abank hanya 1.5% misalnya.
Maka besar bunga hanya Rp, 750.000,-. Itu artinya, keuntungan kita yang Rp.2.5 juta – Rp.750 ribu masih bersisa = Rp. 1.750.000,-. Lalu kita menyimpulkan pinjaman dari si Abank itu masih menguntungkan.
Apakah Anda termasuk orang yang berpikir seperti di atas? (Mari kita bongkar kesesatan logika kita)
Apakah Anda lupa, bahwa modal yang Anda dapat dari abank setiap bulan berkurang karena Anda mengangsur pokoknya?
Anggap Anda bisa dapat keuntungan bersih 5% dan selalu tetap (walaupun hampir tidak mungkin), maka setiap bulan keuntungan akan menurun karena modal yang Anda pinjam harus dikembalikan ke abank dalam bentuk angsuran setiap bulan.
Sementara modal Anda setiap bulan berkurang,ternyata beban bunga yang Anda tanggung tetap.
Di dalam simulasi, seandainya Anda mampu membukukan keuntungan tetap setiap bulan sebesar 5% (walaupun sebenarnya hampir tidak mungkin), maka di bulan ke-27, penghasilan Anda akan minus, karena pemasukan Anda lebih kecil dari bunga yang Anda bayarkan.
Mulai bulan itu hingga cicilan terakhir, uang Anda sendiri akhirnya akan ikut tergerus untuk membayar bunga setiap bulan.
Kondisi ini jauh lebih parah jika Anda meminjam uangnya lebih besar lagi, dan tenornya lebih Panjang lagi.
Kondisi minus seperti itu, biasanya tidak Anda sadari. Anda hanya beranggapan, bahwa Anda butuh modal tambahan, sehingga yang terjadi biasanya, sebelum lunas Anda akan mengambil utang baru lagi.
Ketika Anda memutuskan mengambil utang baru, baik dengan “top-up”, maupun dengan “take over”, maka Anda akan kena biaya-biaya tambahan seperti: bunga berjalan, beban beberapa kali angsuran, pinalti, provisi, biaya notaris, dll.
Sehingga pinjaman Anda yang ke-2, katakanlah Anda meminjam uang Rp100 juta, paling Anda hanya akan menerima beberapa puluh juta saja. Selain karena masih memiliki angsuran yang belum selesai, juga tanggungan biaya-biaya seperti di atas.
Jika sudah seperti ini kondisinya, maka kematian bisnis Anda semakin cepat. Kalau misal di pinjaman pertama A nda minus dibulan ke-27, maka pinjaman ke-2 bisa jadi Anda sudah minus di bulan ke 12, sehingga memaksa Anda akhirnya top up lagi, ataupun take over lagi. Begitu seterusnya.
Yang harus Anda mengerti, bunga dari bank 1.5% itu hanya akan Anda nikmati pada bulan pertama saja. Bukan setiap bulan!
Bank menghitung bunga itu dari NOMINAL PINJAMAN PERTAMA, bukan BESAR UANG YANG MASIH ANDA PINJAM. Jadi, jangan lagi percaya, bahwa bunga 1%-2% itu murah!
SILAHKAN PAKAI LOGIKA ANDA!!
Saya telah menjelaskan bahaya riba, tidak menggunakan dalil Al Qur’an, tak pakai hadits. Cukup pakai akal sehat sudah cukup, maka Anda akan mengerti bahwa riba itu seperti racun yang akan membuat kita mati, baik cepat ataupun lambat.anp
Orang bank boleh saja marah, namun Anda tidak bisa membantah FAKTA.