@IlhamNurzaman. Beberapa hari terakhir, media ramai dengan pemberitaan tentang ditangkapnya seorang Kepala Daerah dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yang bersangkutan ditangkap dengan tuduhan tindak pidana korupsi terkait jual beli jabatan di lingkungan pemerintah daerah yang dipimpinnya.
Yang mengejutkan, berdasarkan pemeriksaan KPK, kasus korupsi itu diduga berlatar belang pelunasan cicilan mobil pribadi sang Kepala Daerah. NAH! Utang lagi… lagi-lagi tabiat buruk utang menjadi salah satu sebab kerusakan moral pada seorang pemimpin. Ia menghalalkan berbagai cara, demi bisa menghindar dari kejaran cicilan (yang sudah pasti disertai riba).
Ternyata nafsu berutang, bukan Cuma milik orang kecil untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Penyakit utang ternyata juga menjalar di kalangan pejabat yang tidak mampu menahan nafsu duniawinya.
Alih-alih memberi teladan baik kepada rakyat yang dipimpinnya, tabiat buruk utang telah menghilangkan rasa takut sang umara kepada azab Allah dan rasa malu kepada sesama manusia. Akibat tabiat buruk berutang, hancur kehormatan si pemimpin baik di mata sesama manusia, apalagi di mata Allah SWT.
Sebagai rakyat, Anda tidak ingin mencontohnya, bukan? Anda tentu juga tidak ingin hilang kehormatan karena cengkeraman utang.
Nah untuk Anda yang ingin mengetahui cara cepat BEBAS UTANG TANPA BAYAR RIBA, silahkan daftarkan diri segera di Workshop PLATFORM BISNIS TANPA RIBA (PBTR), 28-31 Agustus 2019, di Bogor yahh..
Jadilah Anda the great people, with Islam sahabatku. Sungguh surga, berikut bidadari di dalamnya insyaAlloh merinduimu. Kuncinya Iman, ikhlas, sabar dan istiqomahlah selalu!
Bisa jadi kemarin hingga kini kita didzalimi selalu. Jangan
pernah bimbang atas pertolongan Ar Rohmaan. Sedemikian besar problem kehidupan
kita, yakinlah pada pertolongan Alloh Yang Maha Besar.
Istiqomah selalu dalam kebenaran, semoga husnul khotimah
kita khan dapatkan. Berdakwahlah hingga
akhir hayah yaa ikhwah!
“Adalah Nabi sholallohu ’alaihi wasallam berpuasa
sembilan hari (pertama) Dzulhijjah, hari Asyura’ dan tiga hari setiap bulan dan
awal Senin dan Kamis setiap bulan.” (HR Abu Daud. No. 2437, dishohihkan oleh
Syaikh Al-Bani rahimahullah)
Beberapa waktu lalu, kami bersama teman-teman Masyarakat
Tanpa Riba (MTR) Riau, berkunjung ke rumah sakit, untuk bezoek salah satu
saudara anggota MTR yang dirawat. Lumrah, beberapa orang diantara kami, membawa
buah tangan seperti umumnya kebiasaan kita menjenguk kerabat yang sakit
Namun, ada sedikit yang mengganjal dan terpikirkan pada saat
kami keluar dari rumah sakit. Mengapa pada waktu kami semua yang datang, tidak
ada berinisiatif untuk mengumpulkan dana, sekedar membantu, minimal meringankan
beban saudara yang tengah terbaring karena sakit tersebut?
Kita semua pasti paham, sebagian
besar anggota MTR sampai saat ini adalah orang-orang yang masih berkutat dengan
utang dan problema penyelesaiannya. Apalagi kalau ditambah dengan beban
penyakit, tentu bukan hanya fisik dan pikiran yang terkuras, sudah pasti dari
sisi keuangan, juga akan terasa sangat memberatkan.
Tulisan ringkas ini
sekaligus sebagai penyampai usulan tentang perlunya dibentuk MTR Care di setiap
Korwil yang ada. Tidak hanya membantu
tugas-tugas MTR Care Pusat bila terjadi bencana alam, MTR Care korwil ini juga
bisa menjadi jembatan bagi sahabat-sahabat MTR yang ingin membantu meringankan
beban dan biaya berobat bagi saudara anggota MTR yang ditimpa cobaan penyakit oleh
Allah SWT. Dengan biaya pengobatan
yang makin melangit, sangat mungkin ia membutuhkan uluran tangan kita
semua.
Semoga usulan ini bermanfaat untuk kemajuan MTR kedepan dan
bisa dipertimbangkan oleh Pengurus MTR Pusat. Wassalam.
Kami tidak tahu apa tujuan Anda beribadah Hajji tahun ini selain untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-lima.
Mungkin Anda sedan mencari solusi atas persoalan keluarga Anda?
Mungkin juga Anda sedang mencari solusi atas problema putra-putri Anda?
Atau… Anda sedang galau karena persoalan keuangan yang menimpa bisnis Anda?
Apakah Anda sudah tidak nyaman dengan tekanan utang yang semakin berat?
Bisa jadi di Kota Makkah ini ALLAAH berikan petunjukNYA..
Masyaa ALLAAH
UNDANGAN SHARING SESSION EDISI SPECIAL KOTA MEKKAH
Bagi semua Warga MTR dan Sahabat-sahabat Pengusaha Muslim dari Asia Tenggara yang sudah ada di Mekkah…..
Insyaa ALLAAH kami akan mengadakan Sharing Session tiap hari setiap pukul 21.00 – 23.00, ba’da dinner (Isya’)
Tempat : Lantai P4 Zam Zam Tower, Mekkah
(Lokasi Food Court area) Cari saja logo atau tulisan MASYARAKAT TANPA RIBA atau tanda BUKU MERAH di atas mejanya.
Silahkan untuk Hadir setiap hari dengan mengajak kerabat, saudara & teman untuk kami tentang MENGEMBANGKAN BISNIS TANPA UTANG
Nara sumber:
Kang Arif dan Nyonya, pengusah rekayasa industri dari Jakarta.
Dokter Isharyadi, pengusaha medis dan kecantikan dari Semarang.
Bang Roy, pengusaha perhotelan dan oleh-oleh dari Medan.
Kang Teddy dan Nyonya, pengusaha (hampir 100) jaringan martabak dari Surabaya.
GRATIS BUKU MERAH MTR bagi yang Hadir. Selama persediaan masih ada.
INFO LEBIH LANJUT, HUB :
wa.me/6281331660979
HP. +966 543751142
Insyaa ALLAAH Sharing session Ini akan dilaksanakan hingga Tanggal 6 Dzulhijjah selama musim Hajji tahun ini.
Info event nasional ke 0811181829.
Pesan BUKU MERAH ke 0853-353-352-19
Kebenaran yang
disampaikan dengan cara salah akan berakhir buruk.
Ketika kita berselisih dengan pelanggan, walaupun menang
pelanggan pasti kabur. Bayangkan jika Anda salah?
Setelah menang dalam debat ‘panas’ dengan rekan kerja apakah
semangat tim bisa terjaga seperti semula?
Ketika berselisih dengan teman, dan Anda menang, apakah
teman Anda bertahan atau pergi?
Ketika berselisih dengan pasangan dan Anda menang, apakah
perasaan sayang Anda berkurang atau bertambah?
Ketika kita
berselisih dengan siapapun, walaupun
menang, pada prinsipnya kita kalah. Yang
menang hanya EGO, yang tinggi hanya EMOSI. Yang tertinggal CITRA BURUK, yang
hilang adalah JATI DIRI.
Kritik dan respon, itu tanda masih ada orang yang peduli. Bayangkan
apa yang Anda lakukan tidak ada respon, artinya Anda ada tapi dianggap tidak
ada.
Jaga ukhuwah dengan menjaga Ego dan Emosi untuk hidup yang lebih indah, lebih mudah dan lebih murah lewat bersahabat dalam dakwah, hingga ia tidak hilang di dalam terang.
Kalau mau menelaah dengan seksama, fiat money (uang kertas dan uang koin logam) yang
selama ini kita gunakan tidak ada bedanya dengan uang mainan anak-anak. Bayangkan saja, uang nominal Rp20.000 dengan
Rp2.000, hanya beda di jumlah angka nolnya. Bahan dan ongkos bikinnya sama. Bedanya, uang uang fiat dikeluarkan oleh
pemerintah selaku produsen dan bank sentral hingga punya legalitas.
Berbeda dengan uang komoditas yang nilainya didasarkan pada barang (biasanya logam mulia seperti emas dan perak), uang fiat memang tidak punya nilai intrinsic (nilai berdasarkan karakter fisik yang dimiliki). Nilai riilnya tergantung dari total nominal yang tersedia untuk bertransaksi dan nilai riil total barang dan jasa yang tersedia ditransaksikan.
Nilai uang fiat yang secara alamiah tidak stabil, dituding destruktif karena potensial menyumbang saham atas kondisi instabilitas perekonomian suatu negara bahkan dunia. Jika peredarannya tidak dibatasi, uang fiat sangat potensial menyebabkan inflasi tak terkendali.
Tapi jaman ayeuna terjadi penggiringan opini yang lebih mengerikan lagi, yaitu digital money transaction. Pemerintah sangat gencar mengampanyekan uang digital, bahkan setengah memaksa penggunaannya, untuk berbagai aktifitas ekonomi.
Padahal jenis transaksi ini semakin mengaburkan nilai uang dan onkos produksinya. Walhasil, uang menjadi semakin sangat tidak bernilai dan orang mudah sekali melepaskan angka-angka dalam uang digital tersebut.
Ancaman itu belum termasuk risiko eksternal seperti hilanganya jumlah angka uang digital tanpa sebab dan tanpa bentuk. Mungkinkah terjadi? Mungkin saja, karena teknologi adalah buatan manusia. Error sedikit, lenyaplah angka-angka uang digital Anda. Contohnya baru saja terjadi beberapa hari lalu di Bank Mandiri, waktu sistem ITnya terganggu selama sehari penuh.
Lalui bagaimana solusinya? Cara terbaik memperlakukan uang adalah dengan memberdayakan uang Anda untuk aktivitas usaha yang produktif. Atau bila sangat terpaksa atau ada uzur yang harus disiapkan, simpanlah uang anda dalam bentuk fisik Logam Mulia. Menyimpan Logam Mulia akan lebih terjaga nilainya sepanjang masa.
Ayoo mulai membudayakan transaksi menggunakan Logam Mulia sebagai mata uang asli umat Islam.
Apakah harus diri kita yang menjadi korban utang terlebih
dahulu, kemudian baru sadar bahaya
utang?
Tabiat buruk utang kembali makan korban. Masih hangat
kabar seorang suami yang menggadaikan
istri dan menjual anaknya karena terlilit utang. Kali ini, tersiar kabar yang
lebih tragis. Seorang wanita kehormatannya diiklankan karena tidak mampu
membayar cicilan pinjaman online yang beranak pinak. Kehormatan tampaknya tidak bernilai lagi, amoralitas muncul dari tragedi
lilitan utang.
Dengan segala macam alasan orang mulai berutang. Namun dari
sekian banyak alasan itu, mungkin hanya sedikit yang alasannya benar-benar
untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Banyak orang tidak
menyadari kalau dirinya berutang lantaran memperturutkan pemenuhan naluri. Naluri
ingin disanjung, naluri ingin tampil
beda, naluri ingin tampak kaya, naluri
ingin diakui di lingkungannya, naluri
ingin memiliki lebih, naluri tidak mau
dianggap orang biasa, dan yang paling
parah adalah naluri keserakahan.
Karena tuntutan
naluri tak terkontrol oleh akal yang benar,
orang yang suka utang makin hari makin kalap dan lupa akan kemampuan
dirinya. Pengeluarannya jauh lebih besar
dari pendapatan. Utangnya semakin hari semakin bertambah besar. Inilah babak
awal kehancuran hidupnya.
Kalau sudah kalap tidak bisa mengembalikan utang, maka orang
yang suka utang akan jatuh dalam kehinaan, kehancuran harta benda, hilangnya harga diri, bahkan kehormatan pun terjual dengan murah
demi untuk membayar utang… Naudzubillah…!!!
Mengapa semua itu terjadi…?
Hal ini tidak lepas dari banyaknya jebakan ranjau utang
di mana-mana. Terlebih, edukasi
masyarakat akan bahaya buruk utang masih sangat kurang. Sebagian besar masyarakat masih memahami
bahwa utang adalah “solusi cepat”.
Menjadi tugas kita bersama,
untuk terus dan terus memberikan edukasi sebagai penyadaran umat akan bahaya buruk utang. Silahkan
hadiahkan Buku Merah MTR sebagai sarana edukasi bahaya buruk utang kepada
saudara Anda, sahabat dan masyarakat luas.
Untuk mendapatkan BUKU MERAH MTR, silakan hubungi call :
0853 3533 5319
Pertama mengetahui hadits Rosululliah SAW tentang dosa terkecil dari riba sama dengan dosa
berzina dengan ibu sendiri, dan juga
hadits tentang satu dirham riba, dosanya
sama dengan berzina dengan tiga puluh enam wanita, terbersit sedikit protes
dan tanda Tanya. Rasanya, level dosa
yang diberikan Allah untuk pelaku riba itu terlalu keras dan kejam, bahkan
terasa agak berlebihan.
Belakangan,dengan berbagai bukti dan fakta yang telah banyak
terungkap, tentang banyaknya
wanita-wanita yang terperangkap dan menjadi korban kebiadaban efek buruk
riba, barulah kami benar-benar menyadari kebenarannya. Peristiwa-peristiwa itu sekaligus
menjadi jawaban atas pertanyaan, mengapa dalam kedua keterangan hadits
Rosulullah SAW di awal tulisan ini, Allah meletakkan perbandingan atas nama ibu
dan wanita. Allah sejatinya telah
mengisyaratkan akan adanya kaitan serta konsekuensi yang teramat kuat, antara
dosa riba dengan harga diri dan kehormatan kaum wanita.
Tragedi besar itu telah banyak terjadi. Berapa banyak wanita yang dijadikan sebagai umpan transakasi riba. Bahkan
sudah ada suami yang tega menyerahkan (maaf ) kehormatan isterinya untuk sekadar
melepaskan desakan cicilan ribanya. Dan yang terakhir, beberapa hari lalu, kita
ketahui dan sempat viral di media, seorang wanita menyatakan menjajakan kehormatan
dirinya, hanya karena kepanikan dan alasan harus segera membayar tagihan utang
riba online yang telah memenjarakan dirinya.
Lalu kemana negara
ini ketika kerusakan telah begitu massive terjadi dan setiap saat mengintai
harga diri para wanita?
Seharusnya para pejabat
wanita yang menjadi wakil suara urusan
wanita di pemerintahan dan para wanita yang menjadi wakil rakyat di parlemen
lah yang paling tersentak serta meneriakkan
perlawanan paling lantang, terhadap tragedy yang banyak terjadi belakangan ini.
Tapi sepertinya, sebagian besar di antara mereka menderita
sindrom kebisuan. Atau, mungkinkah karena sudah “sangat pintar”, mereka
menganggap kehormatan kaumnya, bukan lagi sesuatu yang sangat sakral dan perlu
diperjuangkan untuk dipertahankan?
Lagu emansipasi yang selalu mereka koar-koarkan, sepertinya
tak memiliki syair tentang begitu mulia dan sakralnya nilai kehormatan seorang
wanita. Bisa jadi harga diri dan kehormatan wanita versi mereka adalah bisa
berkarier dan mendapat kedudukan serta
jabatan seperti seorang pria.
Tapi sudahlah, bagi
kita yang masih menganggap betapa suci dan mulianya kehormatan kaum wanita,
mari sama-sama bergerak berjuang melakukan apapun yang kita bisa. Memberi
pengetahuan dan menyadarkan seluruh umat muslim, betapa agama Islam ini, sangat
melindungi dan menghargai martabat diri kaum wanita.
Tiada jalan lain
kecuali kembali ke jalan Allah dan RosulNya. Bersama kita sadarkan para wanita
tentang perbedaan antara kebutuhan dan keinginan nafsu yang selalu
menyesatkan.
Satu hamparan fakta yang tak bisa dipungkiri, hampir seluruh wanita yang terperangkap dalam
lingkaran penjara riba, adalah mereka-mereka yang mementingkan gaya hidup dan
terjebak oleh keinginan nafsu untuk senantiasa mendapat pujian palsu yang
menipu serta selalu berujung kesengsaraan. Bukan karena kebutuhan hidup
mereka yang hakiki. WAllahu A’lam
Sebagai muslim, kita tentu harus membenci semua hal yang
berbau dosa syirik, induk segala dosa yang paling dimurkai Allah SWT.
Untuk urusan dengan sesama manusia, kita mengenal adanya
dosa seperti dosa zina, mencuri, merampok, berlaku curang, maling uang rakyat
dan lain sebagainya.
Namun dalam hal dosa terhadap manusia, rasanya tidak ada dosa
yang lebih membuat muak dan paling menjijikkan, selain dosa seorang suami yang
tega menyerahkan ataupun menjual kehormatan isteri dan anak gadisnya kepada
lelaki lain, apapun dalih dan alasannya.
Inilah salah satu bukti dan hikmah besar, mengapa Rosulullah
SAW begitu melarang umatnya untuk
terlibat dalam hal yang namanya utang. Apalagi
utang yang didalamnya bercampur dengan Racun Riba, yang sudah pasti efek dan
bias kerusakannya akan sangat luar biasa mengerikan serta bisa menghancurkan
tatanan kehidupan.
Kalaulah seorang lelaki, sudah tega menyerahkan kehormatan
isteri atau anak perempuannya hanya karena urusan utang piutang, rasanya tidak
ada lagi kerusakan tentang harga diri di muka bumi yang lebih parah
kehancurannya melebihi hal yang maha memalukan dan memilukan ini.
Seharusnya lelaki banci dan biadab yang menjual kehormatan
isteri ataupun anaknya karena alasan uang dan tagihan, sepantasnya dijatuhi
hukuman dikebiri serta dijatuhi hukuman mati secara perlahan-lahan agar bisa
merasakan azab atas segala ketololan, kebiadaban dan kekurang ajarannya yang
sudah teramat melampaui batas.
Memanglah sangat benar seperti yang diberitakan dalam Al
Qur’an surat Al A’raf 179, yang
menjelaskan, bahwa manusia bila tidak ada lagi panduan agama dalam menjalani
kehidupannya, maka perilaku dan derajatnya akan sama dengan seekor binatang
ternak, bahkan bisa lebih rendah dan lebih hina. Na’uzdubillah tsumma
na’udzubillah
Melihat fenomena yang sangat memalukan ini, tiada kata lain
bagi kita umat muslim yang mengetahui, bersegera menggiatkan dan menguatkan
dakwah tentang berbagai bahaya penyakit utang bagi kehidupan masyarakat.
Bil khusus bagi kaum emak, bersegeralah bangkitkan mujahada
, melawan kebiadaban fenomena penyakit buruk Utang dan Riba.
Sudah banyak terbukti, bahwa urusan uang dan utang lah yang
banyak menjadi penyebab harga diri seorang wanita dikorbankan serta berakhir
dengan derita kehancuran yang sangat meluluhlantakkan, kehormatan dan kemulian
seorang perempuan . WAllahu A’lam