Thursday, January 22, 2026
Home Blog Page 14

Beredar pdf Buku Merah Bajakan

0
pdf Buku Merah Bajakan

Saya senyum-senyum saja ketika  tahu, diam-diam ada yang menawarkan BUKU MERAH PDF bajakan di Grup FB MTR.  Nggak pake lama, saya langsung kirim pesan WA ke nomor yang tertera, sambil hati bertanya-tanya,”Benarkah buku merahdibajak?

Kalau Kitab Klasik “27 Jurus Jitu Meraih Impian”, sudah lama saya ketahui beredar versi bajakannya.  Cirinya, cetakan soft cover dengan halaman isi mirip fotocopy-an, dijual sama dengan harga di toko buku. Sekitar Rp100 ribu, tanpa bonus VCD di dalamnya.  Yang aseli cetakan hard cover, ada bonus VCD di dalamnya.

Ternyata benar!  Pengedar Buku merah pdf bajakan mengirimkan file itu kepada saya.  Screendhoot percakapan dan kiriman file buku merah pdf bajakan saya lampirkan.

Pengedar wanti-wanti agar saya juga turut menyebarkan kepada yang memerlukan.  Sepertinya itu standar baku dari pembajak.  Mengingatkan “pengedar” untuk turut menyebarkannya.  Rupanya pengedar belum tahu kalau saya adalah Warga MTR. Hehehe.

Setelah menerima file buku merah pdf bajakan itu, saya ingin minta pendapat sahabat-sahabat Warga MTR.

Apa makna pembajakan/tiruan bagi sebuah brand, produk atau jasa?

Selama ini kita sudah banyak mendengar adanya  lagu bajakan, sepatu bajakan, oli bajakan, acara bajakan, dan yang lainnya dengan embel-embel bajakan, tiruan atau KW.

Berikut pendapat  para Warga MTR dari berbagai daerah:

“Tidak dibajak suatu karya apapun jika tidak digandrungi pasar.  Jumlah pembajakan berbanding lurus dengan kualitas, keunikan, dan value karya tersebut.” (Rasdha Tadjuddin, Jogjakarta)

“The most famous book of the year” (Muhammad Mansur, Pemalang)

“Terkenal” (Makhjudin Zein, Pemalang)

“Barangnya bagus.”(Hidayat, Tangerang Selatan)

“Barangnya bagus, sangat dicari, banyak yang membutuhkan, sesuatu yang diidolakan. Ada nilai ++nya” (Thohir Fauzi, Ponorogo)

“The Most Wanted Brand” (Deny Magna Bogor)

“Artinya laku keras di pasaran”(Sulistyo Budi, Bogor)

“Artinya memiliki pasar potensial yang sangat besar” (Ilham Nurzaman, Bogor)

“Artinya banyak manfaatnya, banyak yang suka, banyak yang nyari” (Birrul Walidayni, Bogor)

Bagi saya sendiri, hal ini berarti  kita  harus semakin kencang menyebarkan BUKU MERAH dalam bentuk fisik yang asli.  Oplah 170-an yang beredar masih kurang atau terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah saudara-saudara kita yang membutuhkan buku merah di luar sana.

Oleh karena itu, saya sangat berharap dukungan sahabat-sahabat semua di sini untuk terus menyebarkan Buku merah. Baik dilakukan sendiri, bersama-sama dalam suatu kegiatan dengan pengurus MTR setempat, atau sebagai give-away (hadiah bagi-bagi)  melalui tokoh-tokoh yang berpengaruh atau terkenal di sosial media.

 

Per 1 Dzulhijjah 1441 H yang lalu, telah kami rilis buku merah Revisi ke-14, yang isinya xii + 205 + 6 halaman, atau lebih dari 220 halaman.  Kendati harga dari percetakan naik terus, namun harga jual kepada Warga MTR kami upayakan tetap pada angka Rp 20.000,-.

Oleh karena itu, dari pada beredar buku merah bajakan, mengapa bukan kita saja yang menyebarkannya? Agar faedahnya dapat, kebarokahannya juga berlipat.  Kita lawan pembajakan dengan menyebarluaskan buku merah ori-nya.

Beberapa tokoh terkenal yang telah dan akan menerima give-away 1000 (seribu) buku merah adalah:

  1. Ustadz Khalid Basalamah
  2. Buya Yahya
  3. Ustadz Abdul Shomad
  4. Ustadz Bachtiar Nasir (sudah terkumpul 1000 exp, namun menunggu jadwal serah terima)

Yang sedang dalam tahap pengumpulan masing-masing 1001 (seribu satu) exemplar buku merah:

  1. Ustadz Das’ad Latif
  2. Helmy Yahya
  3. Majelis Az-Zikra
  4. Aa Gym
  5. MUI via KH Didin Hafiduddin

Dukungan donasi give-away Buku merah dari sahabat-sahabat semua, sangat kami harapkan.  Silakan langsung hubungi Team KSW (Kantor SyaREA World) yang biasa melayani Anda.  Mumpung masih Hari Tasyrik, waktu yang utama untuk memupuk ‘amal sholih.

BaarakALLAAHu lana wa lakum jamii’an…

Syamsul

 

Jadilah Ibrahim atau Ismail Abad ini

0

Sahabat, ingatkah kisah mulia nan agung, ketaatan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail ‘alayhummassalaam?

Saat Nabi Ibrahim beroleh titah dari Allaah Ta’aala untuk menyembelih anandanya, yang setelah sekian lama dinantikan kelahirannya…

Beliau sampaikan amanah Tuhannya kepada Ananda, dengan terus terang, penuh kasih sayang. Demi ketaatan paripurna.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ……..

Ibrahim lulus tunaikan titah Allaah ta’aala.

 

Ismail yang kala itu masih remaja, menerima penjelasan Ayahandanya. Dan karena ketaatannya kepada Allaah ta’ala, ia sampaikan persetujuan dengan tulus ikhlas.

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

……..Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash-Shaffat : 102)

Sungguh Ismail  terbukti insan yang sabar. Beliau pun lulus tunaikan perannya dengan sebaik-baik keikhlasan.

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (QS. Ash-Shaffat : 103)

 

Sahabat budiman, apa yang akan terjadi jika hamba-hamba Allaah telah tunaikan perannya dengan tawakkal paripurna?

Yakinlah,  Allaah ‘kan memberi sebaik-baiknya pemberian.

MaasyaAllah.[UALS]

Lunas Utang Miliaran di 9 Dzulhijjah 1441H

0

Maka nikmat ALLAAH mana lagi yang kamu dustakan?

ALLAHu Akbar ALLAAHu Akbar ALLAAHu Akbar

 

Allamdulillah puji syukur kepada ALLAAH SWT. Satu persatu titik UTANG RIBA LUNAS TANPA BDO (tanpa bayar bunga, denda dan ongkos lainnya).

Tepat tanggal 9 Dzulhijjah 1441 H, atau hari Kamis 30 Juli 2020  ini, dua titik utang riba bisa terselesaikan dengan penjualan asset.

Alhamdulillaah Ya ALLAAH, kami ucapkan terimakasih kepada saudara-saudaraku di Masyarakat Tanpa Riba (MTR)  yang telah membantu kami, mensupport kami dan mendoakan kami.

Semoga ALLAAH SWT memudahkan kita semua untuk segera melunasi utang kita semua dan selalu istiqamah. Aamiin Allahuma Aamiin. ALLAAHu Akbar.  (Sofyan Subair & Siti Hamnah Anwar, Pegiat MTR Pare Pare, Sulawesi Selatan)

Cerita Kambing Kurban dan “Tukang Roti” yang Lunas Utang Miliaran

0

Moment Iedul Adha seperti sekarang, selalu menjadi kenangan khusus bagi H. Hidayat, brand owner “Roti Kota” yang berdomisili di Ciputat, Tangerang Selatan.  3 tahun silam, terjadi sebuah peristiwa yang menjadi wasilah untuk hijrah bersama MTR hingga selesailah masalah utangnya yang 1,5 miliar.

Ceritanya begini. Beberapa hari menjelang Iedul Adha 2017, Hidayat melihat anak keduanya yang  waktu itu masih kelas 2 SD, ikut menuntun kambing korban milik tetangga.  Masing-masing anak tetangga menuntun satu kambing dan hanya anak Hidayat yang tidak memiliki kambing untuk dibawanya sendiri.

“Waktu mendengar obrolan mereka, hati saya perih. Berapa sih harga seekor kambing, paling Rp 3 jutaan, tapi kenapa saya tidak mampu membeli yang hanya setahun sekali. Padahal tiap bulan, mau nggak mau, saya harus bisa bayar cicilan Rp40-Rp50 juta. Termasuk kartu kredit,” kisah Hidayat kepada Mas Budi Sulistyo dari KSW.

Yup, di tahun 2017 itu, cicilan utang Hidayat sudah berkisar Rp40-Rp50 juta/bulan, untuk utang yang akumulasinya sekitar Rp1,5miliar.

Pada level itu, Hidayat merasa mulai terjangkit salah satu syindrome tabiat buruk utang; ia mulai kecanduan utang. Dari cicilan Rp7 juta/bulan, utangnya terus merangkak hingga level cicilan  Rp50 juta per bulan. Sebabnya apalagi kalau bukan tergoda iming-iming naik plafon dari bank tempatnya meriba.

Seperti halnya para pengutang, tiap bulan Hidayat selalu dagdigdug kalau hampir sampai waktu tenggat pembayaran cicilan pokok  lengkap dengan ribanya. Kadang karena lebih mengutamakan cicilan bank, SPP anaknya terabaikan.

“Hampir sama seperti teman-teman MTR yang lain, penampilan seperti punya uang banyak, tapi sebenarnya uang cash tidak ada. Saat anak mau ujian, baru pusing luar biasa,” ujarnya.

Dari peristiwa tersebut Hidayat berfikir, jangan-jangan ada yang salah dengan cara hidupnya. Ia merasa, semakin membesar usahanya, ternyata bukannya semakin makmur. Yang ada malah hidup semakin tidak tenang dikejar-kejar cicilan yang semakin besar.

Cari-cari info, akhirnya bertemulah Hidayat dengan MTR. Ia pun nekat ikut seminar terdekat yang digelar di Bandung. Padahal sebelumnya, ia sempat ditawari acara MTR di Jakarta, namun ia abaikan. “Orang lagi banyak utang disuruh bayar mahal,” kenangnya tertawa.

Di Bandung itulah Hidayat menemukan apa yang ia cari. Selain ilmu tentang solusi utang , ia juga mendapatkan support dan kebersamaan yang kuat dari sesama warga MTR untuk bersama-sama lepas dari jerat riba.

“Soalnya setelah tahu ilmunya, godaannya justru luar biasa. Banyak tawaran menggiurkan datang. Kalau sendiri ya dicaplok,” ujarnya tergelak.

Alhamdulillah periode itu sudah lewat. Melalui penerapan ilmu MTR, utangnya lunas semua. Ia merasakan nikmatnya hidup lepas dari utang.

Setelah lunas utang, Hidayay merasa bisnisnya jauh lebih baik. Roti Kota semakin berkembang.  Sempat merasakan mobil dijual, sekarang armada distribusi Roti Kota sudah bertambah  5 kendaraan operasional untuk mengantar  ribuan roti ke agen-agen.  Saat ini ia memiliki 30 karyawan, dengan kekuatan tenaga pemasar 200 orang penjual roti gerobak yang beredar di wilayah Jabodetabek.

Tak hanya perjalanan bisnisnya, Hidayat merasa kehidupan keluarganya juga lebih harmonis.Tidak ada lagi uring-uringan, tidak ada cerita istri marah-marah. Ia bahkan mendapatkan anugerah dari Allah yang  tidak pernah berani ia impikan. 2018 lalu, ia dimampukan untuk memberangkatkan haji satu keluarga besar. Lengkah bersama seluruh keluarga lengkap dengan kedua orang tua dan mertuanya. Tanpa antri.

Hidayat merasa mendapatkan banyak berkah sejak bergabung dengan MTR. Tak teman yang saling saling support, juga persaudaraan  berlandaskan aqidah yang sangat luas dari sabang sampai Merauke. Tak heran kalau istrinyapun selalu bersemangat untuk ikut acara-acara MTR.

 

115 Titik Warga MTR Dzikir Seretak di Seluruh Indonesia

0

Alhamdulillah,  “Dzikir Akbar  Nasional MTR”  bertema “Hati Kita Tidak Berjarak” hari ini, Rabu (29/07/20) berlangsung dengan lancar. Dipandu langsung dari kantor KSW, Sentul, Bogor, event dzikir nasional sukses diikuti seluruh warga Masyarakat tanpa Riba dari Aceh sampai Papua melalui aplikasi zoom meeting dan youtube.

Acara dzikir dipimpin oleh Ustadz Abdusysyukur , Imam Besar dari Masjid Adz Dzikra, Sentul, dari pukul 07.00-10.00. Panitia mencatat terdapat lebih dari 115 titik nobar (nonton bareng)  warga MTR di seluruh Indonesia yang difasilitasi Korwil-korwil maupun Korda di seluruh Indonesia.

Dalam taushiyahnya, Ust Abdusysyukur memberi apresiasi atas  aktivitas dakwah MTR yang mengajak umat berdaya, terbebas dari riba, tidak tergantung pada utang.  Ustadz berharap semua umat Islam tidak perlu berhutang dan bisa malah menjadi pemberi utang, yang bisa meringankan beban sesama.

Terkait dengan kondisi pandemic covid-19 saat ini, menurut Ustadz tidak boleh melemahkan kekutan kita.  “Ini bukan keadaan yang melemahkan, justru menguatkan karena makin memperjelas ketergantungan kita hanya kepada Allaah. Allaahussomad. Usaha menjadi berkah dan diridhai, selama kita terus membangun keyakinan kepada Allah. Yakinlah, Allaah Maha Penolong, jangan pernah tinggalkan Allah, jangan sekutukan Allah. Jangan lari dari Allah, karena Ia yang memberi kebidupan kita. Dan ingat cepat atau lambt kita pasti kembali kepada ALlaah.”

Acara berlangsung khidmat. Tak sedikit  warga MTR yang tertangkap kamera tidak mampu menahan isak tangisnya, merasakan kedekatan kepada Allah sang Maha Pencipta.

Semoga dengan agenda Dzikir dan Nobar MTR ini,  menjadikan hati kita tidak berjarak kepada Allah SWT pemilik alam semesta. Fisik memang tidak berdekatan, namun di manapun saudara warga MTR hati kita tidak berjarak, terpaut dalam satu ikatan aqidah Islam. Hanya satu tujuan kita, menggapai ridha Allah

 

#MasyarakatTanpaRiba

#MTRGerbangCerdasKebangkitanUmat

#MTRRealSectorSynergy

 

Just Do It (DOa Ikhtiar Tawakal)

0

“Tugasmu Maryam, hanya menggoyangkan pangkal pohon walaupun dengan tenaga sisa.. urusan buah datang, itu urusan-Ku..”
“Tugasmu Musa, hanya memukulkan tongkat ke lautan.. Aku yang membelahnya”
“Tugasmu Ibrahim, hanya menyeru orang berhaji saja. Yang mendatangkan mereka, itu tugas-Ku”

 

Lalu apa tugas kita?

Tugas kita, saudara, hanya berikhtiar. Yang melunasi utang,  yang mendatangkan jodoh, yang mengangkat semua masalah, itu adalah urusan-Nya.

Rintangan jangan menghentikanmu. Jika Anda menabrak tembok, jangan berbalik dan menyerah. Cari tahu cara memanjatnya, melompatinya,  atau mengatasinya.
Air turun dari langit, mengalir ke sungai,  juga ke lembah, diikuti buih di permukaannya.
Leburan logam dari tungku tanur dituang ke cetakan, juga diikuti buih di permukaannya.
Air dan leburan logam terpakai, buih terbuang.
Yang bermanfaat akan bertahan,  yang tidak bermanfaat  akan terbuang dan ditinggalkan.

(Arianda DW, Malang).

Hijrah dari Riba dalam Kacamata Warga MTR

0

Keseimbangan Perintah dan Larangan

Sangatlah mudah, ketika azan berkumandang langsung sholat ke masjid..

Sangatlah mudah, mari laksanakan Hajji dan Umroh langsung kuota habis diborong.. sampai antri puluhan tahun…

Sangatlah mudah, ketika Romadhan datang mari berpuasa… laksanakan puasa

 

Tapi…

Sangatlah sulit, ketika mari tinggalkan utang riba….

Banyak yang beralasan, mengelak bahkan mengultuskan  pembenaran … (Mulyono)

 

Perubahan adalah Sunatullah

Perubahan adalah sunnatullah. Ketetapan Allaah atas semua  makhluknya.  Semua yang ada pasti berubah.

Kecuali Allaah. Dia tidak berawal tak berakhir. Takkan berubah…

Jika tak berubah, kita melawan sunatullah. Melawan ketetapan Allaah.

 

Pertanyaannya?

Mau berubah seperti apa kita?  Apakah berubah  menjadi lebih baik atau lebih buruk?

Kapan berubah & bergerak?  Apakah menunggu ajal dicabut baru berfikir untuk berubah?

 

Sekarang moment terbaik.  Bulan Muharram.  Bulan hijrah. Bulan perubahan.   Ingat hijrah…Bergerak & Berubah.

Di era pandemi ini, semestinya tidak hanya mengajak diri individu untuk  bergerak & berubah. Lebih dari itu, semua ummat sejagad raya seharusnya juga hijrah total kaffah 100%.

Manfaatkan sisa kehidupan amanah Allaah yang sangat singkat ini untuk bergerak berubah dalam keta’atan kepada Allaah ta’ala.  BarrakaAllaahufikum. (MA. Ghany)

 

Takut Hijrah 100%

Rasa takut yang lebih tinggi untuk berhijrah adalah :

  1. Takut menjadi bahan perbincangan (bangkrut, nama baik rusak, ingkar janji, dholim)
  2. Takut disita dan dilelang
  3. Takut dengan tekanan debt collector
  4. Takut dengan tekanan keluarga
  5. Takut karena belum cukup ilmu

Rasa takut di atas adalah penggolongan bagi warga MTR yang masih membayar Riba.

Solusi bukan hanya di halaqoh. Tetapi juga tatap muka dengan warga yang sudah Lunas Utang dan Stop cicilan. Karena warga di atas belum mantap jika belum ketemu langsung dengan pelakunya yang sudah sukses (fakta terindra).

Membuat acara tatap muka dengan sahabat-sahabat yang sudah lunas utang miliaran, adalah inspirasi bagi warga yang masih melakukan cicilanEducation for All. (Prof Dr Oz MTR)

 

Aset = Modal + Utang? Yang Bener aja..

0

Perkenalkan, nama saya Udin, Sarjana Pendidikan Ekonomi yang mempunyai akta 4 (mengajar), namun belum terdaftar sebagai guru.

Sewaktu kuliah di jurusan pendidikan ekonomi, kita mungkin sama-sama diajarkan materi persamaan dasar akuntansi, bahwa:

Aset = Modal + Utang

Sambil nyetir pagi ini, otak saya mikir terus teori di atas… sambil melihat sawah nan hijau di dekat rumah saya….. dan ada kuburan di ping“““““““““““““““““giran sawah tersebut.

Ide siapakah ini? Yang demikian dashyatnya membuat orang jaman now mudah berutang untuk menyelesaikan masalahnya?

Mana ada aset yang membuat pemiliknya pusing, stress berkepanjangan, sakit-sakitan, hubungan suami istri memburuk, bercerai bahkan bisa mengakibatkan bunuh diri. (Googling aja = bunuh diri karena utang).

Seharusnya….Seharusnya nih…

Aset itu membuat bahagia, karena pahala kebaikan dari aset itu mengalir terus menerus,  membuat pemilik aset bahagia dunia akhirat.

Sedekah dalam Islam disebut harta yang sebenarnya. Harta yang dibawa sampai mati. Dan itulah aset kita yang tidak nampak dalam persamaan akuntansi

Sedangkan utang? Rasul pun enggan menshalati jenazah yang masih punya utang.

Bahkan deklarasi “utang” pun selalu diulang saat jenazah hendak berangkat ke pemakaman, atau saat jenazah hendak diturunkan ke liang kubur.

Pernahkah kita sebagai guru, mencermati persamaan dasar akuntansi di atas?

Atau, jangan-jangan, karena kelamaan membaca persamaan di atas, kita sebagai guru, ikut-ikutan mudah berutang?

Jadi kalau kita membenarkan persamaan dasar akuntansi di atas, jangan-jangan kita sudah tidak takut lagi akan utang dan dalam menyelesaikan segala macam masalah hanya dengan membuka pintu yang namanya utang.

Segera lunasi utang sebelum jenazah kita masuk ke liang kubur, dan jangan ambil utang lagi, saran saya.

Karena hanya utang piutang yang ditanyakan saat jenazah hendak dimakamkan.

Anda tahu kan, tujuan setelah meninggal? Atau Anda sangat yakin utang tidak akan ditanyakan di hari pembalasan kelak? Hanya Anda yang tahu jawabannya….

 

Salam….

Pemalang 25072020

UMS.

Dakwah Riang Gembira MTR Jogja

0

@Sudjamal | MTR Jogja ||

Ahad (26/7/20),  pengurus, pegiat dan warga MTR Korda Kulon Progo menjadi tuan rumah pelaksanaan sepeda gembira. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda rutin Korwil MTR Jogjakarta dalam rangka dakwah penyadaran bahaya utang kepada masyarakat umum, sekaligus untuk meriayah dan silaturahim warga MTR.

Kegiatan kali ini diikuti 28 pesepeda ikhwan dan lebih dari 20 orang pendukung logistik oleh akhwat/mujahidah warga MTR Kulon Progo. Route yang dilalui adalah dari waduk Sermo sampai alun-alun Kota Wates dengan jarak kurang lebih 10 km.

Dalam sambutan pengantarnya, Ketua Korwil Jogjakarta, Bp. Sigit Ismanto menekankan keselamatan dan disiplin berlalulintas selama bersepeda, terutama untuk tetap jaga jarak dan baris tidak boleh lebih dari dua sepeda.

Perjalanan santai ini tidak melibatkan foriijder pembuka jalan, jadi peserta bisa berbaur dengan pesepeda dari komunitas lain. Di belakang pesepeda, tim pendukung mengikuti dengan mobil pick up. Mereka membawa minuman gula aren, camilan. Selain itu tim tanggap darurat yang terdiri dari pengurus Korcam MTR Kulon Progo.

Dalam perjalanan dakwah ini, kami mampir ke pondok pesantren Darul Qur’an Imam Asy Syafi’i di desa Tunjungan, kecamatan Pengasih. Di sana kami  bertemu dengan ustadz Tohari dan dijamu para santri.

Setelah itu kami singgah ke kantor Koramil dan Kodim, serta mengunjungi salah satu tokoh masyarakat pemimpin ormas Islam Kulon Progo untuk menyerahkan buku merah MTR. Lebih dari 20 buku merah berhasil dibagi-bagikan pada hari itu.

Perjalanan riang gembira diakhiri di toko bakpia Prasojo yang juga menjadi sekretariat Korda MTR Kulon Progo. Di titik akhir ini para akhwat telah menyiapkan nasi soto, telor ayam, buah, gorengan, jus tape yang semuanya merupakan produk internal warga MTR Kulon Progo.

#AsyikGowesUtangBeres nyata adanya, #MTRItunyata. Semua riang gembira, sehat didapat, silaturahim makin dekat, unduh rezekinya makin giat…

Barakallah sahabat-sahabat korcam Pengasih, Kokap, Temon, Lendah, Galur, Wates, Sentolo, dan Kalibawang…

 

Rasdha Tadjuddin, Selamat dari Ranjau Ganas bersama MTR

0

Punya utang Rp9 miliar tenang-tenang saja, bahkan permintaan “top-up” sudah di-acc menjadi Rp12 miliar. Rasdha Tadjuddin baru tersadarkan bahwa ia tengah berhadapan dengan ranjau yang sangat ganas setelah bertemu dengan komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR).

“Ya, seperti umumnya pengutang, dalam mindset saya waktu itu, pengusaha akan semakin dihormati kalau semakin banyak utangnya di bank. Itulah citra pengusaha sukses, karena ia telah mendapat kepercayaan besar dari bank,” ujarnya.

Ust. Rasdha –begitu kami biasa menyapa, sudah mendapat persetujuan untuk “top-up” utang sebesar Rp3 miliar dari sebuah bank ketika bertemu pertama dengan MTR.

Persetujuan itu justru membesarkan hatinya karena cara berpikiran masih terjebak pola usang citra pengusaha sukses. Ia tidak  merasa ada yang salah dengan cara bisnisnya, karena utang sebesar itu belum berpengaruh terhadap perputaran bisnisnya di Jogjakarta, yang bergerak di bidang Internet Learning Cafe, Super Hotspot, Supermarket Air Minum, dan Property (Services, Goods and Property )

Namun Allah Maha Kuasa ketika berkehendak untuk memberi hidayah kepada hamba-Nya. Kesukaan founder MerapiOnline Corp ini bersilancar di dunia maya menjadi wasilah untuk berkenalan dengan MTR pada akhir 2015. Waktu itu, MTR masih bernama Komunitas Pengusaha Tanpa Riba (PTR)

Setelah ikut sesi pembelajaran di MTR, barulah Ust. Rasdha sadar  betapa saat itu ia berada di depan sebuah ranjau besar yang ledakannya sewaktu-waktu bisa mematikan masa depan bisnis, keluarga, bahkan kehidupannya di dunia sampai ke akherat.

Sebenarnya, sebelum ia sudah merasakan ada sinyal-sinyal  yang dikirimkan  Allah terkait tabiat buruk utangnya yang dirasa semakin mencandu. Seperti ketika tengah bercengkerama santai dengan keluarga, bersendagurau dengan istri, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang jika nyuuut, ia teringat dengan utang-utangnya. “Sepertinya kebahagiaan atau kedamaian itu tidak layak dinikmati oleh orang yang punya utang,” ujarnya.

Pelan tapi pasti, keterlibatan Ust. Rasdha di MTR semakin kuat. Sejak bergabung dengan MTR, setidaknya ada 3 point perubahan yang ia rasakan. Pertama, perubahan pada diri pribadi, kedua perubahan terhadap keluarganya, dan ketiga perubahan dalam bisnisnya.

“Kombinasi di antara ketiganya tidak mungkin dipisahkan dalam menggapai hidup berkah,” ujarnya.

Terkait masalah utang-utangnya, Ust. Rasdha bersyukur mendapatkan solusi nyata dalam penyelesaiannya.  Dengan solusi yang diajarkan dalam beberapa event MTR, ia bisa mencapai tujuan lunas utang miliaran tanpa meninggalkan jejak sakit hati bagi siapa pun. Baik pemberi utang maupun penerima utang.

Bagaimana penerapannya? “Kuncinya  adalah adab.  Selama proses negosiasi, saya selalu menerapkan adab-adab yang saya pelajari di MTR,” jelasnya.

Karena prinsip fundamental adab  yang dipelajarinya, bahkan selama memutuskan untuk tidak membayar cicilan –yang sudah ia yakini dan jelaskan posisi ribanya, pihak  bank malah ikut membantu mencarikan solusi.

Semua berkat fundamental adab yang saya pelajari di MTR yaitu andhap asor dan bersahabat dalam dakwah.  Saya ajak DC-nya ngopi-ngopi, cerita hobby mereka, keluarga dan sebagainya. Cerita utang sekadarnya saja. Malah DC-nya saya imbau untuk sering-sering datang, jangan cuma untuk urusan utang saja,” kisah suami dari muslimah bernama  Ega Ambar Gama Puspita tersebut.

Mereka itu, Rasdha menunjuk para pelaku debt collector, sebenanya adaalah saudara kita yang juga sangat memerlukan bantuan. Ia mengaku ada rahasia yang tidak banyak diketahui terkait pekerjaan keras tersebut. (Kalau penasaran, tanya langsung saja saat beliau mengisi materi di event MTR ya. 😊)

Tak sekadar berhasil membayar utang hanya sebesar cicilan pokoknya saja, sikap keukeuh Rasdha untuk tidak membayar cicilan sepanjang permintaan hapus BDO (bunga, denda dan ongkos-ongkos lainnya) belum dikabulkan oleh si abank, ternyata memberikan keuntungan finansial yang di luar dugaan.  Uang yang biasanya dialokasikan untuk membayar cicilan pokok beserta bunga-bunganya, ia kumpulkan dengan cermat selama 1,5 tahun masa “pembangkangan” terhadap bank.

Dan hasilnya nyata. Dari situ ia bisa membangun outlet baru yang memberinya tambahan income.  Tak ayal, laci brankasnya pun semakin gemerincing dengan rupiah.

“Cring..cring..cring. Bayangkan, saya bisa lunas utang miliaran di bank dengan riang gembira setelah satu setengah tahun tidak harus membayar cicilan. Apalagi saya malah jadi punya outlet baru,” ujarnya sumringah.

Yup, dengan strategi cermat dan terukur, ia hanya perlu waktu 1,5 tahun untuk melunasi  Rp9M utangnya, plus outlet baru sebagai bonus.

Dan saat ini, 5 tahun setelah perkenalannya dengan MTR,  MerapiOnline Corp adalah bisnis murni tanpa utang. Ia mengaku sama sekali tidak punya utang, bahkan posisinya berbalik menjadi pihak pemberi utang  kepada saudara yang membutuhkan

“Sekarang 100% pemasukan masuk ke dalam brankas, tidak ada yang nyasar ke brankas si abank,” ujarnya penuh canda.

 

Semua ada di MTR

Satu hal yang membuat seorang Tadjuddin Rasdha semakin lekat dengan MTR (bahkan kini ia menjadi salah satu fasilitator di dalamnya), adalah karena visi komunitas untuk membangun adab. Karena prinsip tersebut, menurutnya, siapapun yang tergabung di dalamnya, insyaAllah akan terjaga adab.

Kesan Ust. Rasdha tidak salah. Perjalanan 5 tahun  di dalam MTR membuktikan, komunitas ini memang berupaya membangun peradaban dengan konten luar biasa. Mulai dari membangun bisnis dengan skala dunia, membentuk keluarga harmonis berdasarkan aturan-aturan Allaah subhanawata’ala, hingga mencetak generasi Rabbani calon pemimpin masa depan.

“Semua ada di MTR,” tegasnya.

Ayah tiga putra kembar ini merasakan begitu banyak hikmah setelah ia bergabung dengan MTR. Antara lain, menjadi lebih mudah mengontrol emosi, jalinan keluarga semakin dekat dan penghasilanpun terasa lebih mendapatkan keberkahan dari Allah sang Maha Melihat. “Hati lebih damai dan penuh dengan keberlimpahan.”

Selain itu, ia juga merasa, kapasitas diri semakin mumpuni, bisnisnya semakin tertata dan siap melesat kapan saja. Ia mengaku, saat ini merasa  dalam kondisi sangat bahagia, optimistis, dan antusias menjalani sisa hidup dengan amal-amal yang diridhai Allah subhanawata’ala.

Untuk para pengusaha Muslim yang masih memiliki utang, Ust. Rasdha memperingatkan agar segera menyelesaikan masalahnya.

“Percuma Anda sedekah ekstrim, sholat dhuha dan tahajud setiap hari, membangun masjid, menyantuni pondok pesantren, tapi meninggal dalam keadaan memiliki UTANG,” tegas pria kelahiran Tana Toraja, 26 November 1975 ini.

Ia berpesan, jika ingin menikmati kehidupan sesungguhnya yaitu kehidupan yang diinginkan Allah dan RosulNya, segera hentikan tabiat buruk utang. “Kenapa? Karena risikonya sangat berbahaya di dunia, terutama di akherat!” pungkasnya.

Ah, Anda yang mengaku sebagai umat  cerdas dari  Rosul kita, Muhammad SAW, pasti mengakui kebenaran pesan Ust. Rasdha. Bukankah Rosul sudah bersabda, orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya? Merekalah orang yang akan pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.