Kebahagiaan diciptakan sampai harus mengadakan sebuah Departemen
Kementrian.
Padahal bau anyir darah korban 21-22 Mei belum juga hilang.
Meninggalnya 700 anggota KPPS belum terungkap dan sepertinya akan menguap
begitu saja.
Tapi apa yang terjadi sekarang? Para parpol anggota koalisi
sudah mulai berebut jatah pembagian kursi menteri. Bahkan kalau masih kurang
akan mengadakan kursi tambahan.
Sungguh miris, mereka
bahagia di atas penderitaan rakyat. Sampai-sampai mengusulkan mendirikan
kementrian kebahagiaan.
Begitulah, mereka berebut kebahagiaan dunia di atas
kekecewaan rakyat terhadap kemenangan yang telah dipersiapkan. Rakyat dipaksa
menerima kemenangan semu ini. Sekerat daging busuk kemenangan membalut
tulang-belulang kecurangan untuk ciptakan kebahagiaan.
Para pelaku dagelan
politik ini sudah gelap mata dengan kenikmatan dan kekuasaan dunia. Mereka
melupakan kebahagiaan hakiki di alam akherat.
Mahasiswa UI rame-rame demo menentang kenaikan biaya parkir
di kampusnya.
Emang urgent banget ya, persoalan parkir UI buat rakyat? Wow!
Kepentingan rakyat banget ya? Hahahahahaha…
Giliran kemaren BBM naik, kemane aje? Giliran ratusan
petugas KPPS mati, kalian ngapain? Saat rakyat ditembakin, ente tidur? Sejak
kapan mahasiswa terlepas dari persoalan rakyat luas? Malu ama emak-emak, Tong
!!!
Kelakuan kalian ‘gak kalah seru dari para pendahulu yang sekarang sibuk rebutan kursi kekuasaan, pasca
pengelabuan besar-besaran dalam parade demokrasi yang tulul kemaren. Mulai dari
ketua DPR, MPR, MENTERI, BUMN, dan lain-lain.
“Tapi stttt…., keknya jabatan KAPOLRI and the gank aman”. Ya
maklumlah, ‘hajatannya’ sukses berat. Apalagi baliho TITO dan HADI, udah kek
UPIN & IPIN.
It’s democracy, stupid…!!!
Hampir semua sistem tata kelola yang telah dicoba umat manusia belum memihak pada rakyat yang sesungguhnya. Termasuk demokrasi. Ia hanya perilaku yang disesuaikan dengan seperangkat aturan sangat spesifik tempat mereka dilahirkan. Hal ini menjelaskan mengapa Aliran Nusantara tidak keluar dari konteks lokal geografis. JLEB !!!
Kita memang tidak pernah bisa keluar secara keseluruhan dari sistem demokrasi. Kita terlahir dengan sistem yang telah seperti ini, dan kita tidak bisa memesan lahir di mana. Tetapi kita bisa mengabaikan banyak hal jika mau. Apalagi jika memang bertentangan dengan aqidah. Simple khan?
Demokrasi sesungguhnya melahirkan kandidat sempurna ‘wong
licik’ versi ‘wong cilik’, gambaran pria lemah tentang pria kuat, gambaran pria
bodoh tentang pria bijak. Dalam sistem demokrasi sejati, orang miskin, lemah,
dan bodoh memiliki hak yang sama untuk memilih sebagai orang lain. Walhasil
lahirlah boneka…
Demokrasi memberi ruang kepada siapapun untuk menjadikan
media sebagai tempat yang berbahaya, sekaligus surga bagi para penipu. Internet
dan medsos sumber daya yang fantastis untuk pikiran yang ingin tahu, sekaligus
merusak. Walhasil lahirlah pencitraan, framing dan penggiringan isu…
Pekarjaan baru pun tercipta. Buzzer bayaran, jual beli
follower, subscriber, dll. Jadilah semua hancur-hancuran, efek dari aturan yang
hanya dalam ukuran moral, tanpa imbal balik akhirat yang mereka anggap khayalan.
Agama jadi sebagai spritualitas personal dan pengalaman batin yang sifatnya
private. Ada-ada saja…
Anda memang tidak pernah bisa memilih keluar dari
keseluruhan sistem global. Tetapi sebenarnya, Anda punya kesempatan memilih
untuk mengabaikan beberapa aspek negatif dari perkembangan global. Kalau alasan
Anda adalah kemajuan teknologi, ketahuilah bagaimanapun teknologi itu pasti
netral, tapi sayangnya ia tidak independen.
Sebagai manusia kita tidak boleh netral, tetapi harus
memihak kebenaran. Manusia punya akal pikiran dan hati nurani, makanya kata
netral sama dengan abu-abu atau munafik. Sekarang sudah paham maksud kaffah
kan?
Bagaimana dengan media? Tidak mungkin media tidak berpihak.
Tapi apakah pegiat media tersebut independen? Silahkan tanya pada ulama yang
berzikir…
Ok, selanjutnya bagaimana bisa bersikap indepanden dan tidak
masuk dalam jebakan kibul-kibul yang menyesatkan?
Sederhananya sih back to quran dan sunnah aja. Hmm… kok anda mulai mengkerut? Awas tanda-tanda sekuler sudah merasuk di hati anda yang soleh sekalipun, jika ibadah mau dilepas dari urusan dakwah.
Hihihihi, lanjut nih…
Agar independen Anda harus berhenti mendengarkan mesin
propaganda yang berjalan di jaringan media negara apalagi pro rezim. Televisi
jadi sihir pembodohan besa-besaran tiap desa dan kota.
Analisa saja semua acara dan jam tayangnya, siapa
aktor-aktornya. Lihat juga bagaimana jaringan global lewat aplikasi menjadikan
handphone sebagai mesin pengrusak dahsyat.
Bahkan mobile legand pun jadi candu baru yang legal atas nama negara. “Ruuaaar
biasa stupidnya…!!!”
Apakah hikmah bila kita senantiasa istiqomah, taat dan patuh untuk meninggalkan semua yang sudah
diharamkan ALLAH SWT?
Hikmah umum memang sudah terkandung dalam syariat, yakni
menguji keimanan dalam ketaatan kepada
ALLAH. Namun di luar itu, ada hikmah khusus jika kita meninggalkan riba.
Beberapa di antaranya adalah :
Ketentraman hati dan jiwa dalam menjalani kehidupan ini. Ingatlah, ALLAH sudah menjamin jiwa dan hati manusia yang selalu berusaha menjaga ketaqwaan kepada ALLAH SWT. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).
Menjaga seorang muslim supaya tidak makan dari harta yang didapatkan dengan cara-cara batil.
Menjauhkan seorang muslim dari perbuatan yang dapat membawanya dalam kebinasaan. Karena memakan harta riba adalah kedurhakaan dan kedzaliman, sedangkan kedzaliman itu mengakibatkan penderitaan. Sesuai firman ALLAH “Hai manusia,sesungguhnya kedzaliman kalian akan menimpa diri kalian sendiri” ( QS. Yunus : 23 ).
Menyumbat atau mencegah seluruh jalan yang membawa seorang Muslim kepada tindakan memusuhi dan menyusahkan saudaranya sesama muslim yang berakibat pada lahirnya celaan dan kebencian dari saudaranya.
Selamat pagi Indonesia, apa kabar rakyat hari ini? Kalau
saya mengucapkan Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ‘gak ganggu
toleransi dan tidak dianggap anti kebhinekaan bukan?
Jika terganggu dengan salam tersebut, fix tanpa sadar Anda sudah terkena virus INUS. Liat jenggot gerah,
lihat jubah kepanasan, lihat sorban jidat mengkerut, denger ‘ana’ dan ‘antum’
nyinyir, ada yang pake cadar dadanya sesak.
Kalian masih Muslim, kan?
Saya bertanya ini setelah melihat fakta sungsang yang bertahun-tahun
disajikan media dalam membela kepentingan para pemodal dan pemilik kuasa kafir,
tapi dibela mati-matian oknum-oknum muslim.
Kita terpaksa berhadapan dengan para pengkhianat umat sekaligus penjilat kekuasaan, yang telah berhasil menjadikan persoalan receh sebagai point perdebatan, hingga lari dari persoalan besar yang sesungguhnya terjadi di negeri ini.
Karena ulah 2 – 3 orang dan kelompok yang selalu gerilya mengumandangkan Islam Phobia, energi umat pun dihabiskan untuk menanggapi itu semua.
Coba catat: Orangnya itu-itu aja, mulai dari barisan
penjilat rezim yang kini jadi benalu di BUMN dan birokrasi, buzzer militan,
ormas dangdutan, sampai jaringan liberal yang sok kebarat-baratan.
Terus berulang…
Kini mereka melenggang manis di pangung kekuasaan yang reyot legitimasi, bahkan jauh dari layak untuk disebut negara berpayung hukum dan berkeadilan buat semua.
Negara jadi ajang pamer kebodohan para badut melaui konten
‘pilox pujian’ di badan pesawat Garuda. Mural yang kalah kelas dari ‘coretan
dinding’ remaja kota. Drama pelepasan haji dan pecahan kendi ketololan
menyempurnakan kemusyrikan kalian. Nyadar ‘gak sih?
Kucing hitam dan penindas sama-sama resah. S.O.P mereka
selalu serang sesama muslim. Entah
berapa anjing lagi yang harus masuk masjid hingga mereka berhenti membela. Sampai
beranak pinak dan ‘ee’ di masjid gitu?
Ngaku paham agama kok yang begini kalian diamkan? Kita curiga, jangan-jangan modalnya Cuma bisa
baca huruf Arab. Atau pernah mondok tapi
‘gak pernah serius mau berdakwah membela Islam.
Dibilang merusak Islam nyolot, petantang-petenteng modal
seragam. Giliran ada yang pake atribut Islam kalian heboh selangit. Pengajian
sana-sini dibubarin.
Mau seterang apalagi sih kebobrokan mereka dibuka untuk menyadarkan kalian?
Sahabatku, inilah kisahku. Bisa jadi cerita Andapun tak jauh
beda. Kisah menjadi orang tua yang tidak mengerti hakekat menjadi orang
tua.
Kami jalani kehidupan menjadi orang tua sebagai mana orang kebanyakan
menjadi orang tua. Menikah dan memiliki
anak, berkerja dan bekerja dengan alasan
memenuhi tuntutan kewajiban.
Benar sahabatku bekerja adalah kewajiban. Akan tetapi ada
kewajiban lain yang ditinggalkan oleh para orang tua saat ini. Apakah itu…? Yaitu pembelajaran menjadi
orang tua.
Begitu pentingkah belajar untuk menjadi orang tua?
Jawabannya penting banget.
Coba perhatikan saat seorang arsitek ingin menghasilkan satu
karya rumah yang elok, bukankah ia harus
melalui proses pembelajaran yang cukup lama?
Lalu bagaimana pula bila orang tua ingin memiliki putra-putri
sesuai idamannya? Yaitu putra dan putri yang shalih dan shalihah. Bagaimana
kalau ia tidak tahu ilmu bagaimana menjadi orang tua yang benar bagi
putra-putrinya?
Yuuk, kita introspeksi bersama dengan menjawab pertanyaan
berikut : “Sebagai orang tua, sudahkan kita belajar menjadi suami untuk
istri kita sebelm menikah? Begitu juga sebaliknya, sudahkah belajar menjadi
istri bagi suami kita sebelum menikah? Dan secara bersama sebagai pasangan
hidup, sudahkan kita belajar menjadi orang tua sebelum menikah? Kemungkinan
besar, mayoritas menjawab belum..
Ada satu catatan menarik dari kisah sahabat pembelajar
“Smart Parent Institute (SPI)”. Beliau adalah Muhammad Mansur, ST, orang tua
pembelajar kelas SPI reguler batch#7. Beliau membuat catatan apik bagaimana menjadi
orang tua yang pembelajar. Berikut catatannya.
“Mendampingi anak itu bukan di belakang atau di depannya. Tapi ada di sampingnya. Agar kita selalu siap menyamakan langkah.”
Kutipan yang menarik
karena tak jarang kita (orang tua) tidak menyamakan langkah bersama
anak-anak kita.
Tak ada waktu….Beda jaman….Beda generasi….Beda usia.
Dan seguuudang alasan, membuat kita, tak terasa, memiliki
jarak dengan mereka. Dengan anak-anak yang kini telah beranjak dewasa. Dan
jarak itu akhirnya menjadi jauuh…sekali.
Mereka tak lagi bermain dengan kita. Mereka tak lagi
merengek pingin ikut kegiatan pengajian atau arisan kita. Bahkan sudah mulai tidak
makan bersama kita lagi…
Padahal, seiring bertambahnya usia mereka, pendampingan itu
tetap harus ada. Hingga anak-anak itu
menampakkan kesiapan terjun di lautan kehidupan.
Sebagai orang tua, kita mesti selalu bersiap agar tak
tertinggal langkah atau mendahuluinya. Bekali diri dengan ilmu, jangan pernah
bosan jadi orangtua pembelajar. (Zulia Ilmawati)
Yuk kita coba..Menjadi pendamping terbaik bagi anak-anak kita.
Yuk kita coba..Sedikit demi sedikit belajar memahami mereka, menjadi orangtua pembelajar yang paham bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya sekolah.
Yuk kita coba…Memperkecil jarak dengan generasi kita, menjadi teman terbaik bagi mereka, menikmati peran penting diri kita sebelum mereka meminang atau dipinang oleh masa depan.
Mungkin Anda beralasan, tidak ada waktu untuk sekolah lagi..
tak ada sekolah untuk menjadi orang tua yang baik.
Lalu harus gimana? Tetap belajar dan istiqomah dlm ketaatan!
Being great parents!!
Apakah Anda ingin berkomitmen menjadi orang tua pembelajar? Segera manfaatkan moment pembelajaran Smart Parent Institute Fundamental Bogor, 27-28 Juli 2019.
Dari kecil kita diajarkan untuk menjiwai pepatah “hemat
pangkal kaya.” Tapi di Masyarakat Tanpa Riba (MTR), kredo itu tidak berlaku.
Dalam Islam, kita justru diwajibkan menyisihkan sebagian harta untuk zakat fitrah dan mal, menolong agama Alloh dan sesama manusia dengan infaq dan sodaqoh. Tujuannya untuk menolong orang lain dan menghapus jurang kemiskinan.
Analoginya begini, kalau diminta hemat dalam berbisnis, apa bisa bisnis kita bisa berkembang ?
Coba bayangkan jika ada lampu di outlet mati dan kita biarkan saja, apa yang akan terjadi ? Padahal outlet kita biasa terang- benderang.
Orang banyak mampir karena tempatnya nyaman dan terang.
Atau juga kalau AC dimatikan atau baru dinyalakan saat
customer datang. Tujuannya untuk penghematan. Tapi akibatnya, customer yang datang masih harus kipas-kipas
mengusir sisa panas. Jangan sekali-kali lupa, kenyamanan customer adalah
prioritas. Kalau pelanggan enggan datang, bisnis bisa tenggelam.
Persaingan semakin keras.
Outlet modern bermunculan dengan disain menarik. Lighting menjadi prioritas dalam
pencahayaan display. Percayalah, outlet bisnis
yang didesaian cantik dengan pencahayaan menarik, akan banyak menarik pelanggan.
Inilah adalah mengapa tidak disarankan berhemat dalam
berbisnis. Karena bisnis yang berkembang, akan bisa memenangkan customer lebih
banyak lagi, dan efektif untuk meraup keuntungan yang lebih banyak pula.
Kaget bukan kepalang, mendengar rumor tentang usulan
diadakannya “Kementrian Kebahagiaan dan Toleransi”.
Pejabat negeri ini sepertinya tak sensitive dan tak punya rasa malu berbuat
semaunya. Bagi-bagi kekuasaan, seakan Negara milik sendiri. Tak mampu merasakan kesempitan dan beratnya beban hidup rakyat.
Padahal mereka sendiri yang membeberkan, utang Negara di
atas Rp5 ribu triliun. Bukankah itu jumlah yang mengkhawatirkan? Ee..masih juga
‘kepingin’ memboroskan uang Negara demi “kebahagiaan” pribadi dan kelompoknya.
Haruskah cukup dengan kata prihatin? Tidak berhakkah kami marah?
Negeri ini seperti dikelola dengan manajemen sensasi. Coba di mana korelasinya, di Negara berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa,
tiba-tiba muncul ide untuk meniadakan mata pelajaran agama di sekolah. Yang bicara
disebut praktisi pendidikan, dan ternyata ia juga taipan property besar.
Umat tak
henti-hentinya dicoba kesabarannya. Semestinya rakyat semesta sadar benar,
siapa yang suka bikin onar. Buat aturan “semau gue”, yang bebannya
ditanggung rame-rame. Aji mumpung jelas terindera dari pejabat yang tidak peka
keadaan rakyatnya. Tak hanya perlu sistem
yang baik dan adil, penggantian personal pejabat yang baik dan amanah sekarang
sudah sangat mendesak. Majulah orang-orang baik!
Mempelajari bagaimana orang-orang besar mewujudkan mimpinya, seperti memberi gizi pada masa depan bisnis.
Tak ada yang instan, semua dibangun dengan kerja keras. Tak
semudah posting IG dan membuka WA,
apalagi sambil rebahan. Mimpi..!!!
Kalau mau ambil bagian kita di dunia dalam mencapai akhirat, tak bisa main-main. Jadikan dunia bertekuk-lutut dulu, baru pantas disebut sebagai khalifah di muka bumi. Vini vidi vici.
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak Menyukai orang yang berbuat kerusakan”. (QS Al Qashash Ayat 77)
Kerja keras yang dilandasi akhirat itu asyik banget karena apapun hasilnya pasti yang terbaik. Dan pasti pula akan indah pada waktunya.
Bukankah itu baik buat semua? Baik di dunia, baik di
akhirat?
“Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami,
berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami
dari azab neraka”. (QS Al Baqarah Ayat 201)
Kerja keras itu berpeluh-peluh dengan darah dan air mata, Bro. Ia menciptakan selera, bukan mengikuti selera.
Jika kita ingin membuat sesuatu dalam hidup, lebih baik
membuatnya dengan sangat indah. Jadi
nggak bisa main-main kalau memang ingin berakhir indah.
“Sesungguhnya Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum
sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri”. (QS Ar Ra’d Ayat 11)
Kita bisa melakukan hal yang mustahil karena Islam mengajarkan kita tak ada yg mustahil bagi Allah. Kita bisa mengubah kenyataan jika kita memiliki cukup hasrat untuk mengubahnya.
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah
diusahakannya”. (QS An Najm Ayat 39)
Masih mimpi benefit meledak dan sukses luar biasa, sedang
produk biasa-biasa saja?
Di tes belum, dirapiin enggak,
di-packaging seadanya. Orang lain
saja belum melihat kesungguhan kita dalam bekerja, gimana produk mau booming?
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada
kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS at Taubah Ayat 105)
Apa yang difikir dan diusahakan itu jika dirangkai dalam passion sendiri, maka orisinilitas produk akan terasa. Produk seperti mempunyai ruh yang bernafas dan hidup.
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan
kamu pemakmurnya,” (QS. Huud Ayat 61).
Sebutir nasi tidak akan berarti. Sama halnya dengan sebatang lidi. Namun jika butiran nasi berkumpul dalam jumlah banyak, bisa mengenyangkan. Lidi pun kalau diikat bersama, tak akan bisa di patahkan! Sama halnya dengan dakwah, akan lebih mudah dikerjakan secara berjamaah!
Tapi apakah cukup dengan berjamaah? Tentu tidak,
berkumpulnya manusia dengan berbagai sifat dan karakter tentu bukan hal yang
mudah. Harus ada hal yang menyatukan.
Itu kata kuncinya.
Di Masyarakat Tanpa Riba (MTR), warga yang berasal dari
berbagai macam daerah, dengan berbagai macam karakter, terbukti dapat bersatu. Kesamaan frekuensi menjadi salah satu
pengikatnya. Yakni sama-sama ingin
terlepas dari jeratan riba, sama-sama ingin berjuang memerangi riba, sama-sama
ingin berkontribusi.
Dari sekian banyak
faktor pengikat, ke-IMAN-an kepada ALLOH lah yang merupakan ikatan terkuat. Karena
imanlah kita tinggalkan riba, karena imanlah kita perangi riba dan karena imanlah
kita melaksanakan apa yang Alloh perintahkan dan meninggalkan apa yang Alloh
larang.
Dan karena imanlah
kita melakukannya berjamaah. Karena tanpa berjamaah, kita seperti domba
sendirian yang mudah menjadi santapan
srigala..
Bergabung di MTR, kita kaya bersama, sukses bersama dan Insyaa
Alloh kelak menjadi AHLI SORGA bersama.
Asyik apa asyik?
Bismillah, mohon ijin saya memakai gelar MTR – Magister
Tanpa Riba. Mestinya saya sudah melalui
jenjang STR (Sarjana Tanpa Riba) terlebih dahulu yaa… Tapi tidak mengapa, karena
ternyata saya juga sudah mendapatkan satu gelar terhormat.
Gelar ini gampang-gampang susah memperolehnya. Pemegang gelar ini dijamin hidupnya tenang
dan enjoy dalam menapaki kehidupan.
“Yang bener aja…!!!” mungkin itu sanggahan yang ingin Anda
lontarkan. Benar! Saat menuliskan ini, saya melakukannya dengan enjoy…hehe.
Anda pasti penasaran, MTR itu sebenarnya gelar apa ya?
Okay, agar tidak semakin penasaran, saya mulai saja cerita
saya. Sebelum mendapatkan gelar MTR,
Alhamdulillah saya juga sudah berhasil meraih gelar “Lc”.
What?!! Apakah saya
ustadz Lulusan Cairo?
Bukan, saudara. Meski juga ingin sekali menimba ilmu agama
seperti yang telah dijalani para alim ulama,
tapi Lc yang saya dapatkan sungguh berbeda. Gelar Lc kami, yang juga patut disandang
warga Masyarakat Tanpa Riba adalah
singkatan dari Lunas Cicilan.. hehehe.
Sahabatku, bukankah sangat menyenangkan menyandang gelar STR
(Sarjana Tanpa Riba), MTR (Magister Tanpa RIba) dan LC (Lunas Cicilan)? Siapa
yang tak ingin tidur nyenyak tanpa utang?
Kalau ada yang bertanya, di mana kuliahnya? Saya akan menjawab penuh kebanggaan,”Aku kuliah di kampus MASYARAKAT TANPA RIBA!” Berkat kuliah di kampus ini, saya mengalami transformasi berpikir luar biasa.
Sebelumnya, proses berfikir saya kacau balau. Saya tidak paham bahwasanya, dalam proses pengambilan kesimpulan yang berlanjut dengan perwujudan perbuatan, ternyata melalui perang hebat antara AKAL DAN PERASAAN. Dan dalam kasus kebiasaan saya BER-UTANG, ternyata peran perasaan sangat dominan sehingga mengalahkan akal.
Benarkah? Untuk membenarkan pernyataan tersebut, mari kita
uji dengan hipotesi “Fakta & realita di balik keputusan orang mengambil
utang.” Kita mulai dengan fakta berikut ini :
1. Orang BER-UTANG, biasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (primer)?
Yuk coba kita telaah bersama dengan pertanyaan awal.. “Jaman
sekarang, ada berapa persen kira-kira orang yang berutang untuk memenuhi
kebutuhan hidup dasar (makan, minum,
berpakaian, pendidikan)? Berapa persen pula yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan sekunder dan tersiernya…?”
In Shaa Allah, saya yakin jawabannya lebih banyak digunakan untuk memuaskan keinginan. Dan keinginan adalah
ranah perasaan!
Anda tidak sepakat? Sebentar, mari coba lihat fakta di lapangan. Saat seseorang timbul keinginan untuk berutang, pasti akal akan melakukan tugasnya dengan menimbang-nimbang, ”Sebenarnya, perlu berutang atau tidak, ya?” atau, “Sebenarnya, masih ada alternative lain atau tidak?”
Di sinilah terjadi perang antara akal dan perasaan. Dan celakanya, dalam kondisi ini seringkali akal terkalahkan, dan perasaan dimenangkan melalui segala bentuk fantasi kesenangan.
Sahabat, ingat ya. Dalam situasi seperti inilah bisikan syaitan
masuk turut andil dalam mempengaruhi
pengambilan kesimpulan dan keputusan.
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – “yang
membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,”
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ -“dari (golongan) jin dan
manusia.” (QS. Annas : 5-6)
Sahabatku, dari hasil telaah diatas, hipotesa pertama bahwa “utang adalah
untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar”, menurut saya telah gagal. Saya
yakin Anda akan sependapat. Lalu bagaimana dengan hipoteasi kedua, ketiga dan
seterusnya?
Ehm, sepertinya tulisan saya sudah terlalu panjang. Semoga
para Sahabat berkenan sabar menanti edisi selanjutnya.
Bismillah, mohon ijin saya memakai gelar MTR – Magister
Tanpa Riba. Mestinya saya sudah melalui
jenjang STR (Sarjana Tanpa Riba) terlebih dahulu yaa… Tapi tidak mengapa, karena
ternyata saya juga sudah mendapatkan satu gelar terhormat.
Gelar ini gampang-gampang susah memperolehnya. Pemegang gelar ini dijamin hidupnya tenang
dan enjoy dalam menapaki kehidupan.
“Yang bener aja…!!!” mungkin itu sanggahan yang ingin Anda
lontarkan. Benar! Saat menuliskan ini, saya melakukannya dengan enjoy…hehe.
Anda pasti penasaran, MTR itu sebenarnya gelar apa ya?
Okay, agar tidak semakin penasaran, saya mulai saja cerita
saya. Sebelum mendapatkan gelar MTR,
Alhamdulillah saya juga sudah berhasil meraih gelar “Lc”.
What?!! Apakah saya
ustadz Lulusan Cairo?
Bukan, saudara. Meski juga ingin sekali menimba ilmu agama
seperti yang telah dijalani para alim ulama,
tapi Lc yang saya dapatkan sungguh berbeda. Gelar Lc kami, yang juga patut disandang
warga Masyarakat Tanpa Riba adalah
singkatan dari Lunas Cicilan.. hehehe.
Sahabatku, bukankah sangat menyenangkan menyandang gelar STR
(Sarjana Tanpa Riba), MTR (Magister Tanpa RIba) dan LC (Lunas Cicilan)? Siapa
yang tak ingin tidur nyenyak tanpa utang?
Kalau ada yang bertanya, di mana kuliahnya? Saya akan
menjawab penuh kebanggaan,”Aku kuliah di kampus MASYARAKAT TANPA RIBA!” Berkat
kuliah di kampus ini, saya mengalami transformasi berpikir luar biasa.
Sebelumnya, proses berfikir saya kacau balau. Saya tidak
paham bahwasanya, dalam proses pengambilan kesimpulan yang berlanjut dengan perwujudan
perbuatan, ternyata melalui perang hebat
antara AKAL DAN PERASAAN. Dan dalam
kasus kebiasaan saya BER-UTANG, ternyata peran perasaan sangat dominan sehingga
mengalahkan akal.
Benarkah? Untuk membenarkan pernyataan tersebut, mari kita
uji dengan hipotesi “Fakta & realita di balik keputusan orang mengambil
utang.” Kita mulai dengan fakta berikut ini :
1. Orang BER-UTANG,
biasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (primer)
Yuk coba kita telaah bersama dengan pertanyaan awal.. “Jaman
sekarang, ada berapa persen kira-kira orang yang berutang untuk memenuhi
kebutuhan hidup dasar (makan, minum,
berpakaian, pendidikan)? Berapa persen pula yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan sekunder dan tersiernya…?”
In Shaa Allah, saya yakin jawabannya lebih banyak digunakan untuk memuaskan keinginan. Dan keinginan adalah
ranah perasaan!
Anda tidak sepakat? Sebentar, mari coba lihat fakta di
lapangan. Saat seseorang timbul keinginan untuk berutang, pasti akal akan
melakukan tugasnya dengan menimbang-nimbang, ”Sebenarnya, perlu berutang atau
tidak, ya?” atau, “Sebenarnya, masih ada alternative lain atau tidak?”
Di sinilah terjadi perang antara akal dan perasaan. Dan
celakanya, dalam kondisi ini seringkali akal terkalahkan, dan perasaan
dimenangkan melalui segala bentuk fantasi kesenangan.
Sahabat, ingat ya. Dalam situasi seperti inilah bisikan syaitan
masuk turut andil dalam mempengaruhi
pengambilan kesimpulan dan keputusan.
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – “yang
membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,”
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ -“dari (golongan) jin dan
manusia.” (QS. Annas : 5-6)
Sahabatku, dari hasil telaah diatas, hipotesa pertama bahwa “utang adalah
untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar”, menurut saya telah gagal. Saya
yakin Anda akan sependapat. Lalu bagaimana dengan hipoteasi kedua, ketiga dan
seterusnya?
Ehm, sepertinya tulisan saya sudah terlalu panjang. Semoga
para Sahabat berkenan sabar menanti edisi selanjutnya.