Saturday, January 24, 2026
Home Blog Page 33

Bahagia Milik Siapa?

0

©8370adewe.

Kebahagiaan diciptakan sampai harus mengadakan sebuah Departemen Kementrian.

Padahal bau anyir darah korban 21-22 Mei belum juga hilang. Meninggalnya 700 anggota KPPS belum terungkap dan sepertinya akan menguap begitu saja.   

Tapi apa yang terjadi sekarang? Para parpol anggota koalisi sudah mulai berebut jatah pembagian kursi menteri. Bahkan kalau masih kurang akan mengadakan kursi tambahan.

Sungguh miris, mereka bahagia di atas penderitaan rakyat. Sampai-sampai mengusulkan mendirikan kementrian kebahagiaan.

Begitulah, mereka berebut kebahagiaan dunia di atas kekecewaan rakyat terhadap kemenangan yang telah dipersiapkan. Rakyat dipaksa menerima kemenangan semu ini.  Sekerat daging busuk kemenangan membalut tulang-belulang kecurangan untuk ciptakan kebahagiaan.

Para pelaku dagelan politik ini sudah gelap mata dengan kenikmatan dan kekuasaan dunia. Mereka melupakan kebahagiaan hakiki di alam akherat.

#salamwaras #selfreminder #streetstory

Festival Demokrasi

0

© MY100719.

Mahasiswa UI rame-rame demo menentang kenaikan biaya parkir di kampusnya.

Emang urgent banget ya, persoalan parkir UI buat rakyat? Wow! Kepentingan rakyat banget ya? Hahahahahaha…

Giliran kemaren BBM naik, kemane aje? Giliran ratusan petugas KPPS mati, kalian ngapain? Saat rakyat ditembakin, ente tidur? Sejak kapan mahasiswa terlepas dari persoalan rakyat luas? Malu ama emak-emak, Tong !!!

Kelakuan kalian ‘gak kalah seru dari para pendahulu yang  sekarang sibuk rebutan kursi kekuasaan, pasca pengelabuan besar-besaran dalam parade demokrasi yang tulul kemaren. Mulai dari ketua DPR, MPR, MENTERI, BUMN, dan lain-lain.

“Tapi stttt…., keknya jabatan KAPOLRI and the gank aman”. Ya maklumlah, ‘hajatannya’ sukses berat. Apalagi baliho TITO dan HADI, udah kek UPIN &  IPIN.

It’s democracy, stupid…!!!

Hampir semua sistem tata kelola yang telah dicoba umat manusia belum memihak pada rakyat yang sesungguhnya. Termasuk demokrasi. Ia hanya perilaku yang disesuaikan dengan seperangkat aturan sangat spesifik tempat mereka dilahirkan. Hal ini menjelaskan mengapa Aliran Nusantara tidak keluar dari konteks lokal geografis. JLEB !!!

Kita memang tidak pernah bisa keluar secara keseluruhan dari sistem demokrasi. Kita terlahir dengan sistem yang telah seperti ini,  dan kita tidak bisa memesan lahir di mana. Tetapi kita bisa mengabaikan banyak hal jika mau. Apalagi jika memang bertentangan dengan aqidah. Simple khan?

Demokrasi sesungguhnya melahirkan kandidat sempurna ‘wong licik’ versi ‘wong cilik’, gambaran pria lemah tentang pria kuat, gambaran pria bodoh tentang pria bijak. Dalam sistem demokrasi sejati, orang miskin, lemah, dan bodoh memiliki hak yang sama untuk memilih sebagai orang lain. Walhasil lahirlah boneka…

Demokrasi memberi ruang kepada siapapun untuk menjadikan media sebagai tempat yang berbahaya, sekaligus surga bagi para penipu. Internet dan medsos sumber daya yang fantastis untuk pikiran yang ingin tahu, sekaligus merusak. Walhasil lahirlah pencitraan, framing dan penggiringan isu…

Pekarjaan baru pun tercipta. Buzzer bayaran, jual beli follower, subscriber, dll. Jadilah semua hancur-hancuran, efek dari aturan yang hanya dalam ukuran moral, tanpa imbal balik akhirat yang mereka anggap khayalan. Agama jadi sebagai spritualitas personal dan pengalaman batin yang sifatnya private. Ada-ada saja…

Anda memang tidak pernah bisa memilih keluar dari keseluruhan sistem global. Tetapi  sebenarnya, Anda punya kesempatan memilih untuk mengabaikan beberapa aspek negatif dari perkembangan global. Kalau alasan Anda adalah kemajuan teknologi, ketahuilah bagaimanapun teknologi itu pasti netral, tapi sayangnya ia tidak independen.

Sebagai manusia kita tidak boleh netral, tetapi harus memihak kebenaran. Manusia punya akal pikiran dan hati nurani, makanya kata netral sama dengan abu-abu atau munafik. Sekarang sudah paham maksud kaffah kan?

Bagaimana dengan media? Tidak mungkin media tidak berpihak. Tapi apakah pegiat media tersebut independen? Silahkan tanya pada ulama yang berzikir…

Ok, selanjutnya bagaimana bisa bersikap indepanden dan tidak masuk dalam jebakan kibul-kibul yang menyesatkan?

Sederhananya sih back to quran dan sunnah aja. Hmm… kok anda mulai mengkerut? Awas tanda-tanda sekuler sudah merasuk di hati anda yang soleh sekalipun, jika ibadah mau dilepas dari urusan dakwah.

Hihihihi, lanjut nih…

Agar independen Anda harus berhenti mendengarkan mesin propaganda yang berjalan di jaringan media negara apalagi pro rezim. Televisi jadi sihir pembodohan besa-besaran tiap desa dan kota.

Analisa saja semua acara dan jam tayangnya, siapa aktor-aktornya. Lihat juga bagaimana jaringan global lewat aplikasi menjadikan handphone sebagai mesin pengrusak dahsyat.  Bahkan mobile legand pun jadi candu baru yang legal atas nama negara. “Ruuaaar biasa stupidnya…!!!”

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

Hikmah Khusus Meninggalkan Riba

0

©MAG

Saudara – sahabat ahli sorga..

Apakah hikmah bila kita senantiasa istiqomah, taat  dan patuh untuk meninggalkan semua yang sudah diharamkan ALLAH SWT?

Hikmah umum memang sudah terkandung dalam syariat, yakni menguji  keimanan dalam ketaatan kepada ALLAH. Namun di luar itu, ada hikmah khusus jika kita meninggalkan riba. Beberapa di antaranya adalah :

  1. Ketentraman hati dan jiwa dalam menjalani kehidupan ini. Ingatlah, ALLAH sudah menjamin jiwa dan hati manusia yang selalu berusaha menjaga ketaqwaan kepada ALLAH SWT. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).
  2. Menjaga seorang muslim supaya tidak makan dari harta yang didapatkan dengan cara-cara batil.
  3. Menjauhkan seorang muslim dari perbuatan yang dapat membawanya dalam kebinasaan. Karena memakan harta riba adalah kedurhakaan dan kedzaliman, sedangkan kedzaliman itu mengakibatkan penderitaan. Sesuai firman ALLAH  “Hai manusia,sesungguhnya kedzaliman kalian akan menimpa diri kalian sendiri” ( QS. Yunus : 23 ).
  4. Menyumbat atau mencegah seluruh jalan yang membawa seorang Muslim kepada tindakan memusuhi dan menyusahkan saudaranya sesama muslim yang berakibat pada lahirnya celaan dan kebencian dari saudaranya.
  5. ….nantikan pada tulisan berikutnya, ya…  

#keep Istiqomah. #Masyarakat Tanpa Riba

Dalam Bayang Penjilat dan Penghianat

0

©MY090619.

Selamat pagi Indonesia, apa kabar rakyat hari ini? Kalau saya mengucapkan Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ‘gak ganggu toleransi dan tidak dianggap anti kebhinekaan bukan?

Jika terganggu dengan salam tersebut, fix tanpa sadar Anda  sudah terkena virus INUS. Liat jenggot gerah, lihat jubah kepanasan, lihat sorban jidat mengkerut, denger ‘ana’ dan ‘antum’ nyinyir, ada yang pake cadar dadanya sesak.  Kalian masih Muslim, kan?

Saya bertanya ini setelah melihat fakta sungsang yang bertahun-tahun disajikan media dalam membela kepentingan para pemodal dan pemilik kuasa kafir, tapi dibela mati-matian oknum-oknum muslim.

Kita terpaksa berhadapan dengan para pengkhianat umat sekaligus penjilat kekuasaan, yang telah berhasil menjadikan persoalan receh sebagai point perdebatan, hingga lari dari persoalan besar yang sesungguhnya terjadi di negeri ini.

Karena ulah 2 – 3 orang dan kelompok yang selalu gerilya mengumandangkan Islam Phobia, energi umat pun dihabiskan untuk menanggapi itu semua.

Coba catat: Orangnya itu-itu aja, mulai dari barisan penjilat rezim yang kini jadi benalu di BUMN dan birokrasi, buzzer militan, ormas dangdutan, sampai jaringan liberal yang sok kebarat-baratan.

Terus berulang…

Kini mereka melenggang manis di pangung kekuasaan yang reyot legitimasi, bahkan jauh dari layak untuk disebut negara berpayung hukum dan berkeadilan buat semua.

Negara jadi ajang pamer kebodohan para badut melaui konten ‘pilox pujian’ di badan pesawat Garuda. Mural yang kalah kelas dari ‘coretan dinding’ remaja kota. Drama pelepasan haji dan pecahan kendi ketololan menyempurnakan kemusyrikan kalian. Nyadar ‘gak sih?

Kucing hitam dan penindas sama-sama resah. S.O.P mereka selalu serang sesama muslim.  Entah berapa anjing lagi yang harus masuk masjid hingga mereka berhenti membela. Sampai beranak pinak dan ‘ee’ di masjid gitu?

Ngaku paham agama kok yang begini kalian diamkan?  Kita curiga, jangan-jangan modalnya Cuma bisa baca huruf Arab. Atau  pernah mondok tapi ‘gak pernah serius mau berdakwah membela Islam.

Dibilang merusak Islam nyolot, petantang-petenteng modal seragam. Giliran ada yang pake atribut Islam kalian heboh selangit. Pengajian sana-sini dibubarin.

Mau seterang apalagi sih kebobrokan mereka dibuka untuk menyadarkan kalian?

✍ Education For All

Menjadi Orang Tua Pembelajar

0

©AmirMTR.

Sahabatku, inilah kisahku. Bisa jadi cerita Andapun tak jauh beda. Kisah menjadi orang tua yang tidak mengerti hakekat menjadi orang tua. 

Kami jalani kehidupan menjadi orang tua sebagai mana orang kebanyakan menjadi orang tua.  Menikah dan memiliki anak,  berkerja dan bekerja dengan alasan memenuhi tuntutan kewajiban.

Benar sahabatku bekerja adalah kewajiban. Akan tetapi ada kewajiban lain yang ditinggalkan oleh para orang tua saat ini.  Apakah itu…? Yaitu pembelajaran menjadi orang tua.

Begitu pentingkah belajar untuk menjadi orang tua? Jawabannya penting banget.

Coba perhatikan saat seorang arsitek ingin menghasilkan satu karya rumah yang elok,  bukankah ia harus melalui proses pembelajaran yang cukup lama? 

Lalu bagaimana pula bila orang tua ingin memiliki putra-putri sesuai idamannya? Yaitu putra dan putri yang shalih dan shalihah. Bagaimana kalau ia tidak tahu ilmu bagaimana menjadi orang tua yang benar bagi putra-putrinya?

Yuuk, kita introspeksi bersama dengan menjawab pertanyaan berikut : “Sebagai orang tua, sudahkan kita belajar menjadi suami untuk istri kita sebelm menikah? Begitu juga sebaliknya, sudahkah belajar menjadi istri bagi suami kita sebelum menikah? Dan secara bersama sebagai pasangan hidup, sudahkan kita belajar menjadi orang tua sebelum menikah? Kemungkinan besar, mayoritas menjawab belum..

Ada satu catatan menarik dari kisah sahabat pembelajar “Smart Parent Institute (SPI)”.  Beliau adalah Muhammad Mansur, ST, orang tua pembelajar kelas SPI reguler batch#7. Beliau membuat catatan apik bagaimana menjadi orang tua yang pembelajar. Berikut catatannya.

“Mendampingi anak itu bukan di belakang atau di depannya. Tapi ada di sampingnya. Agar kita selalu siap menyamakan langkah.”

Kutipan yang menarik  karena tak jarang kita (orang tua) tidak menyamakan langkah bersama anak-anak kita.

Tak ada waktu….Beda jaman….Beda generasi….Beda usia.

Dan seguuudang alasan, membuat kita, tak terasa, memiliki jarak dengan mereka. Dengan anak-anak yang kini telah beranjak dewasa. Dan jarak itu akhirnya menjadi jauuh…sekali.

Mereka tak lagi bermain dengan kita. Mereka tak lagi merengek pingin ikut kegiatan pengajian atau arisan kita. Bahkan sudah mulai tidak makan bersama kita lagi…

Padahal, seiring bertambahnya usia mereka, pendampingan itu tetap harus ada.  Hingga anak-anak itu menampakkan kesiapan terjun di lautan kehidupan.

Sebagai orang tua, kita mesti selalu bersiap agar tak tertinggal langkah atau mendahuluinya. Bekali diri dengan ilmu, jangan pernah bosan jadi orangtua pembelajar. (Zulia Ilmawati)

Yuk kita coba..Menjadi pendamping terbaik bagi anak-anak kita.

Yuk kita coba..Sedikit demi sedikit belajar memahami mereka, menjadi orangtua pembelajar yang paham bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya sekolah.

Yuk kita coba…Memperkecil jarak dengan generasi kita, menjadi teman terbaik bagi mereka, menikmati peran penting diri kita sebelum mereka meminang atau dipinang oleh masa depan.

Mungkin Anda beralasan, tidak ada waktu untuk sekolah lagi.. tak ada sekolah untuk menjadi orang tua yang baik.

Lalu harus gimana? Tetap belajar dan istiqomah dlm ketaatan!  Being great parents!!

Apakah Anda  ingin berkomitmen menjadi orang tua pembelajar?  Segera manfaatkan moment pembelajaran Smart Parent Institute Fundamental  Bogor,  27-28 Juli 2019.

Hubungi 0811 181 829

BarakAllahu lanna walakum jami’an

Wassalamu’alaykum warrakhmatullahi wabarakatuhu

Hemat Pangkal Miskin

0

©Prof. Dr. Oz MTR.

Dari kecil kita diajarkan untuk menjiwai pepatah “hemat pangkal kaya.” Tapi di Masyarakat Tanpa Riba (MTR), kredo itu tidak berlaku.

Dalam Islam,  kita justru diwajibkan menyisihkan sebagian harta untuk zakat fitrah dan mal, menolong agama Alloh dan sesama manusia dengan infaq dan sodaqoh. Tujuannya untuk menolong orang lain dan menghapus jurang kemiskinan.

Analoginya begini, kalau diminta hemat dalam berbisnis,  apa bisa bisnis kita bisa berkembang ?

Coba bayangkan jika ada lampu di outlet mati dan  kita biarkan saja,  apa yang akan terjadi ?  Padahal outlet kita biasa terang- benderang. Orang banyak mampir karena tempatnya  nyaman dan terang.

Atau juga kalau AC dimatikan atau baru dinyalakan saat customer datang. Tujuannya untuk penghematan. Tapi akibatnya,  customer yang datang masih harus kipas-kipas mengusir sisa panas. Jangan sekali-kali lupa, kenyamanan customer adalah prioritas. Kalau pelanggan enggan datang, bisnis bisa tenggelam.

Persaingan semakin keras.  Outlet modern bermunculan dengan disain  menarik. Lighting menjadi prioritas dalam pencahayaan display.  Percayalah, outlet bisnis yang didesaian cantik dengan pencahayaan menarik, akan banyak menarik pelanggan.

Inilah adalah mengapa tidak disarankan berhemat dalam berbisnis. Karena bisnis yang berkembang, akan bisa memenangkan customer lebih banyak lagi, dan efektif untuk meraup keuntungan yang lebih banyak pula.

Aji Mumpung Pejabat Bermasalah

0

©YusufSaliim.

Kaget bukan kepalang, mendengar rumor tentang usulan diadakannya  “Kementrian Kebahagiaan dan Toleransi”.

Pejabat negeri ini sepertinya  tak sensitive dan tak punya rasa malu berbuat semaunya. Bagi-bagi kekuasaan, seakan Negara milik sendiri.  Tak mampu merasakan kesempitan dan  beratnya beban hidup rakyat.

Padahal mereka sendiri yang membeberkan, utang Negara di atas Rp5 ribu triliun. Bukankah itu jumlah yang mengkhawatirkan? Ee..masih juga ‘kepingin’ memboroskan uang Negara demi “kebahagiaan” pribadi dan kelompoknya. Haruskah cukup dengan kata prihatin? Tidak berhakkah kami marah?

Negeri ini seperti dikelola dengan manajemen sensasi.  Coba di mana korelasinya,  di Negara berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa, tiba-tiba muncul ide untuk meniadakan mata pelajaran agama di sekolah. Yang bicara disebut praktisi pendidikan, dan ternyata ia juga taipan property besar.  

 Umat tak henti-hentinya dicoba kesabarannya. Semestinya rakyat semesta sadar benar, siapa yang suka bikin onar. Buat aturan “semau gue”, yang bebannya ditanggung rame-rame. Aji mumpung jelas terindera dari pejabat yang tidak peka keadaan rakyatnya.  Tak hanya perlu sistem yang baik dan adil, penggantian personal pejabat yang baik dan amanah sekarang sudah sangat mendesak. Majulah orang-orang baik!

Kerja Keras adalah Kewajiban

0

©MY 07062019.

Mempelajari bagaimana orang-orang besar mewujudkan mimpinya, seperti memberi gizi pada masa depan bisnis.

Tak ada yang instan, semua dibangun dengan kerja keras. Tak semudah posting IG dan membuka WA, apalagi sambil rebahan. Mimpi..!!!

Kalau mau ambil bagian kita di dunia dalam mencapai akhirat, tak bisa main-main. Jadikan dunia bertekuk-lutut dulu, baru pantas disebut sebagai khalifah di muka bumi. Vini vidi vici.

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak Menyukai orang yang berbuat kerusakan”. (QS Al Qashash Ayat 77)

Kerja keras  yang dilandasi akhirat itu asyik banget karena apapun hasilnya pasti yang terbaik. Dan pasti pula akan indah pada waktunya.

Bukankah itu baik buat semua? Baik di dunia, baik di akhirat?

“Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka”. (QS Al Baqarah Ayat 201)

Kerja keras itu berpeluh-peluh dengan darah dan air mata, Bro. Ia menciptakan selera, bukan mengikuti selera.

Jika kita ingin membuat sesuatu dalam hidup, lebih baik membuatnya dengan sangat indah.  Jadi nggak bisa main-main kalau memang ingin berakhir indah.

“Sesungguhnya Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri”. (QS Ar Ra’d Ayat 11)

Kita bisa melakukan hal yang mustahil karena Islam mengajarkan kita tak ada yg mustahil bagi Allah. Kita bisa mengubah kenyataan jika kita memiliki cukup hasrat untuk mengubahnya.

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”. (QS An Najm Ayat 39)

Masih mimpi benefit meledak dan sukses luar biasa, sedang produk biasa-biasa saja?

Di tes belum, dirapiin enggak, di-packaging seadanya. Orang lain saja belum melihat kesungguhan kita dalam bekerja, gimana produk mau booming?

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS at Taubah Ayat 105)

Apa yang difikir dan diusahakan itu jika dirangkai dalam passion sendiri, maka orisinilitas produk akan terasa.  Produk seperti mempunyai ruh yang bernafas dan hidup.

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya,” (QS. Huud Ayat 61).

Wallahua’alam bissawab.

✍ Edication For All

Asyiknya Dakwah Rame-rame

0

©LianMTR.

Sebutir nasi tidak akan berarti. Sama halnya dengan sebatang lidi. Namun jika butiran nasi berkumpul dalam jumlah banyak,  bisa mengenyangkan. Lidi pun kalau diikat bersama, tak akan bisa di patahkan! Sama halnya dengan dakwah, akan lebih mudah dikerjakan secara berjamaah!

Tapi apakah cukup dengan berjamaah? Tentu tidak, berkumpulnya manusia dengan berbagai sifat dan karakter tentu bukan hal yang mudah. Harus ada hal yang menyatukan. Itu kata kuncinya.

Di Masyarakat Tanpa Riba (MTR), warga yang berasal dari berbagai macam daerah, dengan berbagai macam karakter, terbukti dapat bersatu. Kesamaan frekuensi menjadi salah satu pengikatnya. Yakni sama-sama  ingin terlepas dari jeratan riba, sama-sama ingin berjuang memerangi riba, sama-sama ingin berkontribusi.

Dari sekian banyak faktor pengikat, ke-IMAN-an kepada ALLOH lah yang merupakan ikatan terkuat. Karena imanlah kita tinggalkan riba, karena imanlah kita perangi riba dan karena imanlah kita melaksanakan apa yang Alloh perintahkan dan meninggalkan apa yang Alloh larang.

Dan karena imanlah kita melakukannya berjamaah. Karena tanpa berjamaah, kita seperti domba sendirian yang  mudah menjadi santapan srigala..

Bergabung di MTR, kita kaya bersama, sukses bersama dan Insyaa Alloh kelak menjadi AHLI SORGA  bersama. Asyik apa asyik?

Lampung, Mei 2019

Utang, Wujud Kekalahan Akal

0

©Amir, MTR (Magister Tanpa Riba).

Bismillah, mohon ijin saya memakai gelar MTR – Magister Tanpa Riba.  Mestinya saya sudah melalui jenjang STR (Sarjana Tanpa Riba) terlebih dahulu yaa… Tapi tidak mengapa, karena ternyata saya juga sudah mendapatkan satu gelar terhormat.

Gelar ini gampang-gampang susah memperolehnya.  Pemegang gelar ini dijamin hidupnya tenang dan enjoy dalam menapaki kehidupan.

“Yang bener aja…!!!” mungkin itu sanggahan yang ingin Anda lontarkan. Benar! Saat menuliskan ini, saya melakukannya dengan enjoy…hehe. 

Anda pasti penasaran, MTR itu  sebenarnya gelar apa ya?

Okay, agar tidak semakin penasaran, saya mulai saja cerita saya.  Sebelum mendapatkan gelar MTR, Alhamdulillah saya juga sudah berhasil meraih gelar “Lc”.

 What?!! Apakah saya ustadz Lulusan Cairo?

Bukan, saudara. Meski juga ingin sekali menimba ilmu agama seperti yang telah dijalani para alim ulama,   tapi Lc yang saya dapatkan sungguh berbeda.  Gelar Lc kami, yang juga patut disandang warga  Masyarakat Tanpa Riba adalah singkatan dari Lunas Cicilan.. hehehe.

Sahabatku, bukankah sangat menyenangkan menyandang gelar STR (Sarjana Tanpa Riba), MTR (Magister Tanpa RIba) dan LC (Lunas Cicilan)? Siapa yang tak ingin tidur nyenyak tanpa utang?

Kalau ada yang bertanya, di mana kuliahnya? Saya akan menjawab penuh kebanggaan,”Aku kuliah di kampus MASYARAKAT TANPA RIBA!” Berkat kuliah di kampus ini, saya mengalami transformasi berpikir luar biasa.  

Sebelumnya, proses berfikir saya kacau balau. Saya tidak paham bahwasanya, dalam proses pengambilan kesimpulan yang berlanjut dengan perwujudan perbuatan,  ternyata melalui perang hebat antara AKAL DAN PERASAAN.  Dan dalam kasus kebiasaan saya BER-UTANG, ternyata peran perasaan sangat dominan sehingga mengalahkan akal. 

Benarkah? Untuk membenarkan pernyataan tersebut, mari kita uji dengan hipotesi “Fakta & realita di balik keputusan orang mengambil utang.” Kita mulai dengan fakta berikut ini :

1. Orang BER-UTANG,  biasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (primer)?

Yuk coba kita telaah bersama dengan pertanyaan awal.. “Jaman sekarang, ada berapa persen kira-kira orang yang berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (makan,  minum, berpakaian, pendidikan)? Berapa persen pula yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya…?”

In Shaa Allah, saya yakin  jawabannya lebih banyak digunakan untuk  memuaskan keinginan. Dan keinginan adalah ranah perasaan!

Anda tidak sepakat? Sebentar, mari coba lihat fakta di lapangan. Saat seseorang timbul keinginan untuk berutang, pasti akal akan melakukan tugasnya dengan menimbang-nimbang, ”Sebenarnya, perlu berutang atau tidak, ya?” atau, “Sebenarnya, masih ada alternative lain atau tidak?”

Di sinilah terjadi perang antara akal dan perasaan. Dan celakanya, dalam kondisi ini seringkali akal terkalahkan, dan perasaan dimenangkan melalui segala bentuk fantasi kesenangan.

Sahabat, ingat ya. Dalam situasi seperti inilah bisikan syaitan masuk  turut andil dalam mempengaruhi pengambilan kesimpulan dan keputusan.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,”

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ -“dari (golongan) jin dan manusia.” (QS.  Annas : 5-6)

Sahabatku, dari hasil telaah diatas,  hipotesa pertama bahwa “utang adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar”, menurut saya telah gagal.   Saya yakin Anda akan sependapat. Lalu bagaimana dengan hipoteasi kedua, ketiga dan seterusnya?

Ehm, sepertinya tulisan saya sudah terlalu panjang. Semoga para Sahabat berkenan sabar menanti edisi selanjutnya.

Salam hangat #LunasUtang

© Amir, MTR (Magister Tanpa Riba).

Bismillah, mohon ijin saya memakai gelar MTR – Magister Tanpa Riba.  Mestinya saya sudah melalui jenjang STR (Sarjana Tanpa Riba) terlebih dahulu yaa… Tapi tidak mengapa, karena ternyata saya juga sudah mendapatkan satu gelar terhormat.

Gelar ini gampang-gampang susah memperolehnya.  Pemegang gelar ini dijamin hidupnya tenang dan enjoy dalam menapaki kehidupan.

“Yang bener aja…!!!” mungkin itu sanggahan yang ingin Anda lontarkan. Benar! Saat menuliskan ini, saya melakukannya dengan enjoy…hehe. 

Anda pasti penasaran, MTR itu  sebenarnya gelar apa ya?

Okay, agar tidak semakin penasaran, saya mulai saja cerita saya.  Sebelum mendapatkan gelar MTR, Alhamdulillah saya juga sudah berhasil meraih gelar “Lc”.

 What?!! Apakah saya ustadz Lulusan Cairo?

Bukan, saudara. Meski juga ingin sekali menimba ilmu agama seperti yang telah dijalani para alim ulama,   tapi Lc yang saya dapatkan sungguh berbeda.  Gelar Lc kami, yang juga patut disandang warga  Masyarakat Tanpa Riba adalah singkatan dari Lunas Cicilan.. hehehe.

Sahabatku, bukankah sangat menyenangkan menyandang gelar STR (Sarjana Tanpa Riba), MTR (Magister Tanpa RIba) dan LC (Lunas Cicilan)? Siapa yang tak ingin tidur nyenyak tanpa utang?

Kalau ada yang bertanya, di mana kuliahnya? Saya akan menjawab penuh kebanggaan,”Aku kuliah di kampus MASYARAKAT TANPA RIBA!” Berkat kuliah di kampus ini, saya mengalami transformasi berpikir luar biasa.  

Sebelumnya, proses berfikir saya kacau balau. Saya tidak paham bahwasanya, dalam proses pengambilan kesimpulan yang berlanjut dengan perwujudan perbuatan,  ternyata melalui perang hebat antara AKAL DAN PERASAAN.  Dan dalam kasus kebiasaan saya BER-UTANG, ternyata peran perasaan sangat dominan sehingga mengalahkan akal. 

Benarkah? Untuk membenarkan pernyataan tersebut, mari kita uji dengan hipotesi “Fakta & realita di balik keputusan orang mengambil utang.” Kita mulai dengan fakta berikut ini :

1. Orang BER-UTANG,  biasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (primer)

Yuk coba kita telaah bersama dengan pertanyaan awal.. “Jaman sekarang, ada berapa persen kira-kira orang yang berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (makan,  minum, berpakaian, pendidikan)? Berapa persen pula yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya…?”

In Shaa Allah, saya yakin  jawabannya lebih banyak digunakan untuk  memuaskan keinginan. Dan keinginan adalah ranah perasaan!

Anda tidak sepakat? Sebentar, mari coba lihat fakta di lapangan. Saat seseorang timbul keinginan untuk berutang, pasti akal akan melakukan tugasnya dengan menimbang-nimbang, ”Sebenarnya, perlu berutang atau tidak, ya?” atau, “Sebenarnya, masih ada alternative lain atau tidak?”

Di sinilah terjadi perang antara akal dan perasaan. Dan celakanya, dalam kondisi ini seringkali akal terkalahkan, dan perasaan dimenangkan melalui segala bentuk fantasi kesenangan.

Sahabat, ingat ya. Dalam situasi seperti inilah bisikan syaitan masuk  turut andil dalam mempengaruhi pengambilan kesimpulan dan keputusan.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,”

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ -“dari (golongan) jin dan manusia.” (QS.  Annas : 5-6)

Sahabatku, dari hasil telaah diatas,  hipotesa pertama bahwa “utang adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar”, menurut saya telah gagal.   Saya yakin Anda akan sependapat. Lalu bagaimana dengan hipoteasi kedua, ketiga dan seterusnya?

Ehm, sepertinya tulisan saya sudah terlalu panjang. Semoga para Sahabat berkenan sabar menanti edisi selanjutnya.

Salam hangat #LunasUtang