Friday, January 23, 2026
Home Blog Page 18

Coach Djula Widjaja, Patron para Pejalan Hijrah

0

Layaknya chef restoran, Coach Djula menyajikan resep yang sama dari dapur bisnis yang ia makan sendiri.  Ia melakukan apa yang diajarkan.

Siapa Warga MTR yang tak kenal Coach Djula? Ia adalah salah satu fasilitator yang ikut membidani lebih dari 10 program edukasi SyaREA World, embrio Masyarakat Tanpa Riba (MTR).

Djula Widjaja, Amd.Hotel, S.Pd., adalah seorang Certified of BNSP – Intructor, business coach pada SyaREA World. Bergabung dengan MTR sejak 2008, ia adalah salah satu Life & Business Coach pada program Business Transformation Coaching (BTC).

Kelahiran Bandung berdarah campuran Sumatera dan Sunda ini bukanlah seorang “pelatih bisnis” biasa. Lebih dari sekadar teori,  ia adalah orang yang aktif di arena yang diajarkan. Teknik bisnis, shortcuts, dan rahasia-rahasia yang dibagikannya kepada para coaches,  ia dapatkan berdasarkan sekolah kehidupan yang ia jalani dengan keras.  Ia tidak hanya memompa semangat, namun menuntun para coaches pada tindakan praktis dan aplikatif.

“Ada perbedaan besar. Seringkali, seorang pelatih bisnis biasa tidak aktif di arena yang mereka ajarkan dan hanya mengajarkan apa yang telah mereka pelajari. Mereka sebenarnya tidak ada di sana, untuk melakukan itu,” ujarnya memaparkan diri.

Di SyaREA World, Coach Djula pernah aktif sebagai Facilitator &  Coach pada DINARCoach International (2008 – 2011), pada program Cara Gampang Bebas Utang (CGBU) aktif sebagai Personal Assistant of Director (2011 – 2012), Facilitator &  Coach pada program Money Conselor (2012- 2014),  Facilitator &  Coach SBC Global – Syariah Business Coaching (2013 – 2016).

Resep-resep jitunya telah digunakan oleh beberapa pemilik /pemimpin organisasi bisnis dan nirlaba untuk memperbaiki budaya institusi. Dia mengajarkan kepada mereka Aturan Permainan Bisnis (the Rule of the Games of Business) yang sangat berguna untuk melejitkan kinerja perusahaan secara terukur.

Djula mengajarkan fundamental bisnis  dan teknik di dunia nyata saat memberi kelas pendampingan, baik perihal bisnis maupun kehidupan. Ia berbagi  solusi praktis bagi para pengusaha, PNS dan masyarakat yang menginginkan berhenti dari tabiat buruk utang dan riba.  Ia adalah salah satu tim SyaREA World yang tidak pernah sedikitpun mencicipi keharaman riba.

“Dan ini terbukti berkontribusi besar dalam menghentikan kebiasaan berutang bagi warga MTR,” tegas ayah 4 anak yang berdomisili di Bandung dan Tangerang Selatan ini.

 

“Pulang”  untuk Memenuhi Panggilan Jiwa

Coach Djula adalah sosok pejalan hijrah yang bisa menjadi patron bagi warga MTR yang ingin kembali pulang. Pada usia muda,  ayah dari Toya, Thariq, Davine dan Darrielan ini telah berkarya di berbagai perusahaan “hospitality” baik yang berskala  nasional maupun multinasional. 7 tahun berkarier di industry swasta nasional, dan 9 tahun perjalanan di 15 negara telah memberinya pengalaman mendalam yang sangat berguna untuk dibagikan sebagai pengajaran aplikatif.

Sebagai seorang Coach, Djula menyadari bahwa  coaching adalah sebuah panggilan dan perintah yang sangat jelas agar seseorang menggunakan bakat yang ada untuk melayani sesuatu yang lebih besar dari lingkup dirinya, demi kebaikan yang lebih besar lagi.

“Saat ini saya sedang menjawab calling (panggilan jiwa) yang datang, menjaga tujuan hidup dari sifat selfish (egois) dan pada saat yang sama mengarahkan  keinginan terdalam untuk memanfaatkan hidup ini demi sesuatu yang lebih penting dan penuh makna. Apa itu? Ridha Allaah subhanahu wa ta’ala,” papar Koordinator Kepemudaan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bandung (2014 – 2017) ini serius.

Coach Djula berkeyakinan, pencapaian tertinggi dan value hidup yang bisa memberikan rasa sukacita dan kepuasan yang bertahan lama, berasal dari attitude untuk selalu memberikan nilai tambah bagi orang lain.

“Bagian penting dari pencapaian personal adalah perasaan bahwa kita merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada  diri kita sendiri. Bahwa apa yang kita lakukan telah menciptakan perbedaan bagi orang lain,” tambah  pria berkepribadian unik yang terlihat selalu berenergi ini.

Sebagai seorang Coach SyaREA World, Djula  sangat paham, bahwa dunia dapat menjadi tempat yang lebih baik melalui apa yang kita lakukan (creating a Better World).

Dan Anda yang pernah merasakan sentuhan berenergi dari Coach Djula, apakah masih konsisten  dalam azzam  untuk bersama-sama menjadikan dunia  ini menjadi lebih baik dalam aturan Allah – sang Raja Segala Raja?

Pengusaha, Sampai di Mana Nyalimu?

0

©MY050720|MTRTangerangRaya||

Apakah Anda punya nyali untuk berbisnis besar dengan jujur, tanpa mengandalkan fasilitas keluarga, negara, dan lobi-lobi kebijakan?

Kalau Anda merasa punya kapasitas sebagai pengusaha besar masa depan, tunjukkan nyalimu bagaimana berbisnis besar dengan cara benar.

 

Sebaliknya…

Bagi sahabat dan siapapun yang hari ini merasa berada pada  titik nadir bisnis, percayalah, itu tidak berarti kiamat dan benar-benar buruk bagi usaha Anda. Karena baik dan buruk pada hakikatnya adalah persepsi. Yang dibangun baik oleh diri Anda sendiri maupun orang lain. Baik dan buruk adalah soal subjektifitas personal.

True story…

Era jahiliyah dulu, era tender dan bisnis kebijakan, ada beberapa proyek yang harus kami lepas. Kecewa banget, karena kami PD salah satu “the best” di bidang ini.

Dalam dunia tender aplikasi pendidikan saat itu, nama kami cukup ditakuti. Terakhir malah sudah menjadi musuh bersama. Next time saya cerita itu.

Untung saja kami terbiasa “shadow” dan gak peduli “casing”, yang penting “profit”.  Apapun makanannya, minumannya harus dari kami. The true capitalist-lah…

Paham ya maksud saya?

Tapi tetap saja, satu dua hal kami dipepet, ditikung, dan disalib dari belakang. Inilah arena balapan bisnis liar tanpa iman.

Singkat cerita…

Ada beberapa tender yang gagal dan harus kalah. Pada level ini, hal itu bukan soal uang lagi. Ini menyangkut harga diri sebagai ‘the best’ di bidangnya. Ya, ini tentang pembuktian, tentang eksistensi, tentang supremasi.

Kami anggap itu kabar buruk jika harus dikalahkan. Ini bisa jadi penghancur kontrol, perusak reputasi. Kami sangat kecewa, tapi mau apalagi? Kami kalah! Titik!.

Nah, di sini menariknya…

Selang berapa tahun kemudian, terlihat di layar TV. Seseorang memakai baju orange KPK sebagai tersangka suap. Wajah dan namanya gak asing di kuping saya. Bukankah dia rekanan kami yang dulu bermain belakang hingga projek itu gagal?

Hmm…

Ternyata orang yang dulu kami anggap, baik aslinya buruk. Kemudian kami anggap buruk gegara proyek dikalahkan, ternyata kelak justru baik bagi kami. Kami harus mensyukurinya.

Persepsi baik dan buruk bisa berubah seiring dengan perjalanan waktu, karena menyangkut cara pandang  dan kesimpulan manusia yang sangat personal sifatnya.

Pantas saja kita disarankan bersabar. Ini berkolerasi dengan waktu tunggu, dan itu butuh stok sabar.

Aku jadi teringat:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Qs. Al Ashr: 1-3)

Jadi…

Apa yang hari ini kita anggap baik, jangan GR dulu itu baik. Hari ini yang Anda anggap buruk pun jangan juga terlampau sedih. Gak mudah memang. Tapi sekadar mengingatkan kembali bahwa dalam posisi apapun hadirkan iman.

Dengan “pencampuradukan” pemahaman baik dan buruk dengan benar dan salah inilah para liberalis mencoba menggiring awam untuk percaya bahwa tidak ada kebenaran mutlak. Dan ujung-ujungnya kebenaran Al Quran pun mereka pertanyakan.

Padahal…

Yang mereka dan kita bicarakan itu tentang baik dan buruk, bukan tentang benar dan salah. Kebenaran Allah itu mutlak, yang berubah adalah pandangan manusia terhadap-Nya.

Maka…

Hukum Allah itu berlaku sejak bumi diciptakan sampai akhir zaman. Lihatlah bagaimana bumi berputar sembari mengelilingi matahari, yang mereka sebut hukum alam. Padahal jelas alam itu ciptaan bukan pencipta, alam tidak punya hukum tapi Allah sang pemilik hukum.

Adapun kejadian tentang baik dan buruk tidak bisa kita sandarkan atas nama Allah. Karena itu hasil ulah dan olah fikir manusia.

Apa yang salah itu dari kita manusia, apa yang benar itu dari Allah azza wajjala.

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

Lunas Utang Miliaran melalui Taubat

0

Alhamdulillah amanah saya telah dilunaskan oleh Allaah subhanawata’ala satu per satu.

Perkenalkan, saya Reny Mayasari dari Samarinda. Sudah 8 tahun ini terlilit utang yang makin lama semakin tak terbendung. Awalnya perlu modal untuk memulai bisnis. Lama-lama untuk mengembangkan usaha, perlu utang lagi, lagi dan lagi.

Akibat kesalahan berutang, reski saya dan suami tidak berjalan lancar . Usaha tidak berkembang, dan kami juga diuji dengan berbagai kejadian seperti ibu yang tiba-tiba sakit keras.

Kewajiban semakin bertambah. Kami tidak bisa tidur memikirkan cicilan yang harus dibayar terus-menerus. Setiap datang surat berkop leasing, koperasi pinjaman atau pegadaian bank Syariah, hati kami berdegup kencang.

Saya berpikir, utang atau amanah,  banyak dan sedikit juga sama pusingnya. Tak ada jalan lain, saya lebih mendekatkan diri sama Allah SWT. Shalat sunnat taubat setiap malam.

November 2019,  saya diajak seorang teman akhwat untuk ikut Seminar Masyarakat Tanpa Riba (MTR) di Samarinda. Setelah itu saya ikut lagi event Sukses Mengembangkan Harta Tanpa RIba (SMHTR) di Samarinda juga. Lanjut Platform Bisnis Tanpa Riba (PBTR).

Namun ujian rupanya belum berakhir. Sepulang belajar dari PBTR Bogor, saya harus masuk ruangan isolasi selama 34 hari.  Yang membesarkan hati, saya mendapatkan banyak dukungan dari teman-teman MTR Kalimantan Timur. Mereka menanyakan kabar kesehatan dan memberi support yang membesarkan hati.

Saya ikhlas atas ujian yang diturunkan Allaah. Selama berada di ruangan isolasi Rumah Tidak Sehat, saya berusaha memperbaiki diri secara spiritual. Terus beribadah, berdoa dan shalawat. Saya focus pada Kesehatan dan ibadah.

Yang tidak saya sangka,  dari dalam rumah sakit tiba-tiba rezeki mengalir begitu saja. Ada yang membeli dan membayar tanah saya untuk pelebaran masjid. Putaran bisnis tiba-tiba melonjak, dan keluarga sehat semua.

Alhamdulillah, saya melunasi utang ibu saya, utang kepada supplier dan keluarga. Dua titik utang di Pegadaian Bank Syariah saya tebus terlebih dahulu dan kemudian saya jual Kembali untuk melunasi utang di koperasi. Di depan baliho lelang jual yang dipasang pihak koperasi, saya pasang juga baliho versi MTR.

Alhamdulillah, saya juga mendapatkan info tanah yang didepan laku mau dibangun ruko. Sekalian saya tawarkan kepada pembelina, apakah juga mau membeli tanah saya yang di belakang. Dan Allaah menjawab dalam beberapa hari. Orang tersebut berminat. Tentu ada proses tawar menawar, tapi harganya tetap  di atas harga jual lelang property yang dipasang pihak koperasi.

Saya bersyukur dan terus sujud syukur dalam saya masih di Rumah tidak Sehat.

Barakallah. Saya terus berdakwah dan membagikan Buku Merah. Dan memantaskan diri saya di hadapan Allah. Selalu berhusnudzon kepada Allaah dan bershalawat kepada Rasullullah Nabi Muhammad.

Memang betul, pada saat kita menghilangkan kemelekatan, satu demi satu semua berjalan dengan jalan dan caranya Allah.

Untuk utang motor, leasing bersikeras menolak pembayaran pokok saja. Akhirnya motor ditarik setelah 6 bulan kami tidak mau membayar bunga dan denda, sejak bergabung dengan MTR. Penarikan terjadi atas permintaan suami  karena motor itu atas nama suami.

Dan barakallah… Sebelum lebaran, adik saya membeli mobil lagi padahal masih ada mobil lama. Karena ingin membantu dan menyelamatkan dia dari bahaya utang dan riba, saya katakan, kalau ada rezeki saya mau membeli mobilnya. Dan karena perkataan itu, Adik saya malah memberikan mobil lamanya untuk kami pergunakan, sampai  kami memiliki cukup uang untuk melunasinya. Hilang satu muncul yang lebih baik.

Di saat yang lain, saat motor adik saya yang masih kuliah mau ditarik leasing. Tiba-tiba tante  (adik Bapak) memberikan yang warisan sebesar harga motor second dan ponsel untuk adik saya.

Saya rasakan, nikmat Allaah tidak pernah berhenti saat saya selalu minta ampunan dan bertobat serta menghentikan utang dan riba.

Harapan saya bisa terus berdakwah dan Allah memudahkan kita semua terhindar dari utang dan riba. Beli cash dan lunas utang secepatnya?

Ingin mulai hidup baru seperti saya? Mari bergandengan tangan dalam Masyarakat Tanpa Riba. 

 

Awas Virus Corona di Buku Merah

0

Bagaimana kesan Anda saat melihat sampul Buku Merah MTR  (BMM) revisi-13 yang baru? Saya sih menangkap sebuah desain yang futuristic. Langsung terbayang wajah mobil-mobil keluaran terakhir, dengan kerucut-kerucut yang berlekuk tajam.

BMM Revisi-13 mungkin akan menjadi torehan sejarah tersendiri karena memuat catatan tentang Virus Corona, yang kemudian dibandingkan dengan Virus Utang yang lebih buruk dampaknya di masyarakat. Pandemic Virus Corona sudah tentu akan menjadi catatan sejarah besar  dalam kehidupan anak cucu kita di masa depan. Dan BMM Revisi-13 ini, akan menjadi bagian di dalamnya.

Catatan lain, begitu membuka sampul depan, Anda akan menukan lebih banyak lagi tokoh-tokoh terkenal. Uniknya, semua calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2019 ada di situ. Ehm…kecuali (calon) Presidennya.  Foto-foto itu menjadi bukti, bahwa BMM telah sampai ke tangan orang yang memiliki kekuatan politik besar di negeri ini.

BMM Revisi-13 juga semakin tebal. Saya amati, ada penambahan sekitar 20 halaman.  Kalau pada cetakan sebelumnya berakhir di halaman 168, buku ini sekarang berakhir di halaman 190.

Apa yang bertambah?

Salah satu yang baru di BMM Revisi-13 ini adalah artikel mengenai Tips Cepat Lunas Utang Miliaran. Karena adanya topik ini, BMM Revisi-13 sangat cocok dijadikan hadiah untuk teman dan sahabat-sahabat kita. Yang saya jamin Sebagian besar di antaranya pasti punya  utang. Saran saya, hadiahkan saja terutama pada teman yang Anda duga memiliki utang miliaran.

Dijamin, setelah membaca BMM Revisi-13 ini, ia akan merasa ditampar-tampar saat membaca topik tentang #tabiatBurukUtang. Seperti kita dulu, mereka pasti akan bergumam pucat,”Kok, gue banget ya..” Lalu sesak badannya, dan kemudian panik mencari jalan keluar. Tapi dengan membaca tips yang berada di halaman 183  tersebut, paling tidak ia mendapat sedikit pencerahan.

Topik mengenai #TabiatBurukUtang sendiri jumlah halamannya masih sama, 36 lembar. Namun ada topik baru yaitu #TabiatBurukUtang no 35 : “Utang Menyeret Orang Lain pada Persoalan yang Ia Tidak Tahu apa-apa”.

Uniknya lagi, ada cara bagi mereka yang dalam keadaan “Emergency Utang” dan butuh pertolongan. Topik ini ada di bagian akhir BMM Revisi-13.

Anda juga belum tahu caranya ?

Foto diri Anda bersama BMM, Cantumkan nomor ponsel Anda, dan tambahkan tulisan “DICARI WARGA MASYARAKAT TANPA RIBA (MTR) DI KOTA INI YANG SIAP MEMBANTU KAMI LEPAS DARI LILITAN UTANG”.

Lalu posting di group-group WA, Telegram, dan Facebook Anda. Insya Allah warga MTR yang terdekat dengan Anda akan merespons dan menghubungi Anda untuk memberi pencerahan. Bersama rangkulan mereka, Anda akan segera terbebas dari utang miliaran.

So, segera, hadiahkan Buku Merah kepada saudara, kerabat, teman, customer Anda!

Siapa tahu itu akan menjadi wasilah bagi mereka untuk bebas dari jeratan utang miliaran, lalu memasuki kehidupan keluarga yang lebih baik. Jika itu terjadi,  insyaAllah mengalirlah pahala jariyah itu untuk Anda.

 

04072020

 

MTR MILIARDER CLUB (MMC) dalam Kacamata Pak Dahlan Iskan

0

Tanpa Riba

Jum at 03 July 2020
Oleh : Dahlan Iskan

https://www.disway.id/r/990/tanpa-riba

Tamu saya kemarin empat kelompok.

Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma.

Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka: tanpa utang pun usaha bisa berkembang. Termasuk di masa Covid-19 ini.

Ada lagi teman-teman lama yang ingin kangen-kangenan.

Lalu ada yang satu ini: Alghozi Ramadhan –si milenial nakal yang tiba-tiba ke Surabaya (Baca Disway: Milenial Nakal). Ia ingin membantu mengatasi Covid-19 di Kota Pahlawan. Yang dikesankan gawat sekali di mata nasional. Tapi ia belum tahu harus bertemu siapa. Juga belum tahu bagaimana cara bertemu para pihak itu.

Sambil menunggu jalan itu Alghozi saya ajak berbincang. Saya ajak ia ke halaman belakang kantor Harian DI’s Way – -yang juga disebut DI’s Way News House itu.

Perbincangan dengan Alghozi itu direkam. Video itu akan diunggah pekan depan. Di channel DI’s Way.

Meski baru sekali ini bertemu muka, rasanya Alghozi sama sekali bukan orang baru. Hanya kesan saya ia jauh lebih dewasa dari umurnya yang baru 22 tahun. Lihatlah sendiri videonya nanti.

Yang akan lebih banyak saya tulis di sini adalah tamu yang anti riba itu. Sedang diskusi jalan keluar pengusaha restoran akan ditulis di edisi perdana Harian DI’s Way tanggal 4 lusa –kalau jadi bisa terbit.

Yang rombongan tamu anti riba tadi jumlahnya 10 orang. Mereka tergabung dalam MMC – -singkatan MTR Milyader Club. Pengusaha yang usahanya sudah puluhan dan ratusan miliar rupiah. MTR sendiri singkatan dari Masyarakat Tanpa Riba.

Mereka datang dari berbagai kota: Jakarta, Purwokerto, Pemalang, Solo, Sragen, Ponorogo, Malang, Sidoarjo, dan Sampang.

Ada yang usaha alat kesehatan, pupuk organik, garmen, kuliner, optical, saprodi, dan ekspor kotoran cacing.

Dulunya mereka itu punya utang di bank. Semua. Ada yang Rp 20 miliar. Ada yang Rp 200 miliar. Yang terkecil ”hanya” Rp 2 miliar.

”Sebetulnya yang akan ikut ke sini 40 orang. Tapi karena Covid kami batasi 10 orang,” ujar David Mailendra pengusaha alat kesehatan –terutama rapit test. Ia sudah bergerak di rapit test sejak lebih 20 tahun lalu. Misalnya tes kehamilan, gula darah dan sebangsanya. ”Tiba-tiba istilah rapid test menjadi populer sekarang,” kata David yang kini juga dipanggil Daud Muhammad.

Ia pengusaha besar. ”Saya dulu ingin, di bidang saya ini, menjadi yang terbesar di Indonesia,” ujarnya.

Keinginannya itu tercapai. Antara lain melalui utang bank. Tapi utang itu kian lama kian besar. Hidup tidak tenang. Apalagi setelah menyadari bunga itu riba (haram).

Maka David bertekad melunasi utang. Juga tidak mau lagi berutang di bank. Ia tidak peduli lagi akan tetap jadi ”raja alat kesehatan” atau tidak.

”Sekarang sih masih yang terbesar,” kata David. ”Saya punya merk sendiri di samping menangani tiga merk dari luar negeri,” katanya.

Bagi David Mailendra  menjadi besar cukup. Tidak lagi harus yang terbesar-tapi-belepotan-riba. ”Saya pun, di alat kesehatan, tidak mau lagi ikut proyek pemerintah,” katanya. Ia tidak mau kalau harus menyogok.

Lain lagi dengan Thohir Fauzi. Yang usaha garmennya sampai ekspor ke Korea Selatan. Yang pabriknya di luar kota Ponorogo –dekat Pondok Modern Gontor.

”Utang bank itu seperti candu. Tidak bisa lepas. Selalu saja top up,” ujar Thohir. ”Tidak ada di antara kami ini yang utangnya berkurang. Dari tahun ke tahun terus naik,” katanya. ”Kami takut sampai meninggal pun masih punya utang,” tambahnya.

Padahal, kata mereka, barang siapa meninggal masih punya utang akan masuk neraka. Itulah sebabnya di kuburan selalu ada adegan deklarasi utang.

Perwakilan keluarga selalu bertanya kepada kerumunan pelayat yang ada di kuburan itu: kalau almarhum punya utang agar menghubungi keluarga. Untuk diselesaikan.

Sedang untuk utang yang kecil-kecil, pihak keluarga biasanya minta agar diikhlaskan. Terutama bagi mereka yang tidak mau menagih –karena tidak seberapa atau karena iba. Jangan sampai tidak menagih tapi juga tidak mau merelakan.

Diskusi di halaman belakang itu pun asyik –di bawah dua pohon besar di situ. Membicarakan utang memang tidak kalah menarik dari seks.

Lho apa hubungan utang dengan seks?

Ternyata ada. ”Kalau lagi jatuh tempo sampai tidak bisa melakukan itu,” ujar Arianda Dwi Wanto. ”Stress-nya luar biasa,” tambahnya.

Saat-saat jatuh tempo seperti itu, kata mereka, sering harus bertengkar dengan istri. Soal kecil pun bisa menjadi penyebab pertengkaran. Kenapa? ”Karena sensitif,” kata Arianda.

Mereka pun sepakat segera melunasi utang-utang itu. ”Sekarang, kalau kami bertemu seperti ini, rasanya lebih bahagia,” kata Fathurrozi, pengusaha optik Dooz dari Solo. ”Kalau dulu yang kami bicarakan hanya besar-besaran utang. Sekarang besar-besaran omzet,” tambahnya.

Mengapa mereka dulu utang bank?

Ternyata tidak semua karena BU. Ada yang semata-mata karena ditawari bank. Bahkan ada yang sekedar agar punya utang di bank.

”Kalau belum punya utang di bank seperti belum disebut pengusaha,” ujar Teddy Hawaii dari Sampang. ”Itu pun harus di atas Rp 1 miliar. Agar tidak disebut mracangan,” tambah Teddy yang nama aslinya Rahman Setiadi.

Teddy Hawaii sebenarnya kepala sekolah SMP. Pernah merangkap jadi wartawan lokal. Lalu membuka restoran ikan bakar di pantai Camplong, Sampang. Terbesar di sana. Laris. Apalagi sejak ada eksplorasi minyak dari bumi Sampang.

Teddy Hawaii berkembang ke martabak terang bulan. Dengan gerai banyak sekali. Hampir seratus gerai. Merk martabaknya Hawaii –karena itu Rahman dipanggil Teddy Hawaii.

”Sebenarnya usaha seperti kami ini kan tidak perlu utang. Tapi utang saya kok sampai di atas Rp 1 miliar,” katanya mengenang.

Berdiskusi dengan kelompok Masyarakat Tanpa Riba ini pikiran saya berubah. Tidak lagi seperti yang selalu saya dengar: banyak aset anggota gerakan ini yang akhirnya disita bank. Usaha mereka pun punah.

Mereka itu tidak berhasil nego dengan bank. Pokoknya tidak mau lagi bayar bunga. Itu riba. Tapi bank tentu tidak mau tahu. Bunga pun berbunga. Ditambah pula denda. Lalu disitalah jaminan mereka.

”Tidak begitu. Kami tidak ada yang seperti itu,” ujar Mulyono yang eksportir tahi cacing ke Kuwait. ”Kami semua ini bisa menyelesaikan utang,” katanya.

Ternyata mereka ini punya kiat tertentu untuk melunasi utang itu. Kiat itulah yang akan jadi topik tulisan DI’s Way besok atau lusa. Atau –seperti lagu Koes Ploes: kapan-kapan.
(Dahlan Iskan)

Ingin menjadi Anggota MTR Miliarder Club?
WA ke 0811-188-829

Lunas Utang Miliaran di Saat Pandemic Covid

0

Bismillahirrohmanirrohim.

Nikmat mana lagi yang Engkau Dustakan?

Kalimat Allah dalam surah Ar Rahman itu menjadi gambaran perasaanku siang ini. Aku bersyukur padaMu, yaa Allaah, atas ijin dan pertolonganMu. Siang ini, Engkau bebaskan aku dari himputan utang dan jerat riba.

Ternyata di saat pandemic covid, saya justru mendapat keberkahan dari Allaah subhanwata’ala. Akhirnya utang saya di Bank Syariah Mandiri lunas dan bebas BDO. #LunasUtangMiliaran dan bebas riba, menjadi jawaban atas ikhtiar dan doa yang sungguh-sungguh selama ini.

Terimakasih saya sampaikan kepada Ustadz Samsul Arifin dan para coach yang telah membimbing dan berbagi ilmunya kepada kami, semua warga MTR. Terimakasih atas dukungan dan doa sahabat-sahabat ahli surga semua.

Sahabat-sahabatku, tetaplah bersemangat dan berjuang. Kemuliaan akan segera kita dapatkan. (Reza Syafrizal, MTR)

 

Keep Moving with Gowes

0

Kangen acara kumpul-kumpul, berbagi cerita, berbagi kebahagiaan bersama sahabat-sahabat MTR?

Tak terasa, tiga bulan lebih kita lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan. Saatnya menghirup udara segar di pagi hari.

Mengapa tidak gowes saja? Sepertinya gowes bersama bisa menjadi tools untuk melakukan dakwah di jalanan.  DOT (DAKWAH ON THE STREET) with Gowes.

Mari kita mulai. Dengan bersepeda, kita bisa menyusuri jalan-jalan  protokol di perkotaan. Sembari menghirup suasana pagi, InsyaAllaah kita akan lebih bersemangat menata bisnis kita.

Jangan lupa berbekal Buku Merah, ya. Bagikan di beberapa titik saat bertemu orang yang dirasa cocok menerimanya. Cermati jika ada kerumunan di jalanan, atau saat sarapan bubur ayam di tepi jalan, atau di dekat stadion. Jangan segan menyapa duluan orang di samping Anda. Ajak cerita yang ringan-ringan. Pancing pembicaraan dan sisipkan dalam pembicaraan itu pengalaman kita lepas dari utang dan riba. Saat akan berpisah, jangan lupa berikan Buku Merah sebagai kenang-kenangan.

Belakangm jalanan yang biasa lengang saat PSBB, menjelang new normal ini sudah mulai terlihat ramai. Jalanan protocol semakin hidup, perdagangan mulai menggeliat, menambah semangat kita untuk berdakwah melalui buku merah. Sarana dakwah kita untuk mewujudkan cita-cita, lunas utang bagi semua orang.

Hari ini, masih banyak saudara kita yang kebingungan untuk mulai usaha karena sudah tidak kuat membayar cicilan. Ada juga yang merasa masih sanggup membayar cicilan dengan mengajukan top-up atau reschedule pinjaman. Apakah itu solusi?

Ya, mereka butuh pertolongan kita walau hanya dengan berbagi Buku Merah. Percayalahan, cerita kita ini akan sangat membantu mereka mendapatkan solusi.

Yuk buat acara DOT GOWES di kota kita masing-masing. Badan sehat dan dakwah tetap jalan ini. Bukankah ini sangat mengasyikkan? Apalagi sambil mengajak keluarga. Anak-anak pasti  juga kangen dengan suasana olahraga di pagi hari.

Jangan lupa siapkan bekal  minuman, helm/topi berlogo MTR, kostum MTR, masker MTR, dan tentu saja Buku Merah!

Semoga acara DOT GOWES bisa terselenggara di 100 kota di seluruh Indonesia ….

Salam hangat

Prof Dr Oz MTR

Doa Lunas Utang Miliaran

0

(Ust. Abdul Qadim Muhtadi)

The Secret of Rezeki

0

@Arianda Dewe|MTR Malang||

Rezeki itu sudah menjadi jaminan Allah. Sebagai sarana agar manusia dapat menjalankan visi misinya di muka bumi.

Tidak ada yang patut dirisaukan dengan stok rezeki. Karena stok rezeki Allah sangat berbeda dengan stok sembako di gudang Bulog yang kadang membuat cemas. Stok rezeki tersedia dalam jumlah yang cukup. Namun perkara rezeki tetap  menjadi bagian dari rahasia Allah SWT.

Burung pergi pagi pulang sore dengan kondisi kenyang.  Cicak yang tidak bisa terbang, makanannya nyamuk yang selalu terbang. Burung, cicak dan makhluk ciptaanNYA yang tidak dikaruniai akal seperti kita saja bisa hidup dan tanpa UTANG. Kenapa kita yang berakal justru terjatuh dalam pelukan UTANG.

Rezeki dari Allah selalu cukup untuk HIDUP. Tetapi tidak akan pernah cukup untuk GAYA HIDUP. Makanya kalau hidup kita banyak gaya pasti banyak tekanan yang dampaknya banyak ANGSURAN.

Bersyukur saat berkelimpahan, bersabar saat dapat cobaan. Yakinlah bahwa kita ada di dunia ini karena diciptakan olehNYA. Maka yang menciptakan pasti akan bertanggung jawab. Tidak mungkin kita akan ditelantarkanNYA.

 

#streetstory

#selfreminderAdewe

MLG28062020_08:15

#MTRBergerak, Nobar Nasional di 163 Titik

2

4 bulan lebih tidak bersua di dunia nyata, hari ini (Selasa, 30 Juni 2020)  Warga MTR mendapatkan kesempatan untuk menyalurkan rindu melalui event “Nobar (Nonton Bareng) MTR Nasional” yang mengangkat tema  “Bagaimana Warga memanfaatkan isu Covid untuk Mengembangkan Bisnis dengan memanfaatkan Merek MTR”.

Nobar MTR ini adalah moment tatap muka antar warga MTR dalam jumlah terbatas setelah lebih dari 4 bulan MTR tidak mengadakan event offline di berbagai daerah dan pusat. Masih dalam suasana PSBB yang kental di berbagai wilayah Indonesia, para warga MTR terlihat berupaya tetap menjaga protocol Kesehatan pencegahan covid ketika mengikuti acara.

Dari Sekayu, Muara Badak Kaltim, PagarAlam, Semarang,  Tanjung Pinang (Kepri), Boyolali, Madiun, Batam, Surabaya, Lampung, Muara Enim, Pekalongan, Kalteng, OKU Sulsel, Cipurwasuka, Banjar, Tasikmalaya, Balikpapan, Samarinda, Muara Badak dan Bontang, Tajung Pinang (Kepri) dan berbagai titik wilayah di Indonesia,  ratusan foto Nobar yang  kelompok-kelompok kecil warga beratribut MTR mulai menghiasi timeline di berbagai media sosial sejak pagi sekitar pukul delapan.

Inisiatif Program Nobar MTR Nasional telah disosialisasikan ke berbagai korwil dan korda MTR di seluruh Indonesia sejak pekan lalu. Segenap warga MTR yang berminat mengikuti acara nobar, diminta membuat kelompok yang harus segera didaftarkan ke Korda masing-masing. Selanjutnya, Korda mendaftarkan ke Korwil MTR dan Ketua Korwillah yang  bertugas mengatur distribusi link zoom cloud ke Korda-korda di bawahnya.

Sampai hari H pelaksanaan, fasilitator PP MTR mencatat kesertaan 163 kelompok  yang mendaftar. Ini artinya, program  Nobar MTR Nasional telah berhasil diselenggarakan di 163 titik di seluruh Nusantara.

 

Agenda utama event MTR Nasional ini adalah bedah kasus beberapa bisnis Warga MTR yang terbukti berkembang pesat ketika isu Covid melanda. Studi kasus ini berlangsung selama tiga jam dari pukul 09.00 hingga masuk waktu Dzuhur sekitar pukul 12.00.

Sebelum acara nasional, setiap titik korwil/korda dipersilakan untuk melakukan presentasi tentang MTR. Dan layaknya event MTR Nasional offline, semua titik penyelenggaraan nobar juga  mengawalinya dengan Senam 78,  WIFLE serta pembacaaan core values Ahli Surga.

 

Ah, jadi makin kangen ya  untuk kumpul bersama.

#MTRIBergerak

#KangenKumpulMTR

#MTRItuNyata