Thursday, January 22, 2026
Home Blog Page 15

Berkah Jum’at, 5,3M Lunas 17 Bulan

0

Siapa yang ingin dapat BDO 100%?

Alhamdulillah,  aku ucapkan padaMu Ya Allah. Hari ini, Jum’at 24 juli 2020, atas RidhoNYA sertifikat bisa saya bawa pulang..

Terima kasih, saudaraku MTR. Yang telah mengajakku untuk berhijrah. Saya ikut SMHTR Jogja bulan Februari 2019 dengan utang sejumlah Rp9 miliar. Waktu itu saya berazam bisa lunas dalam waktu satu tahun. Target saya, Februari kemarin sudah lunas semua utang.  Namun Allah ternyata belum mengijinkan.

Begitupun, saya bersyukur, selama 17 bulan ini, utang saya sudah terbayarkan Rp5.3M, tanpa perlu membayar bunga, denda, dan ongkos-ongkos (BDO) lainnya. Masih ada utang sejumlah Rp3.7 miliar. Mohon doanya ya, saudaraku. Agar segera lunas semuanya.

Pesan buat saudara-saudaraku yang belum berhasil mendapatkan BDO, jangan putus asa dan tetap semangat. Tingkatkan ibadah dan dakwahnya. (Suryo – MTR Boyolali).

Short time or Long Time

0

@C. Agung Mantari Kayo | MTR Padang||

Yap, bagi utang-ers,  apalagi yang ada Riba-nya pasti ingin secepat mungkin menyelesaikannya. Bukan apa-apa, menjadi utanger artinya selalu disergap was-was. Antara ketakutan terhadap terror bank dan yang lebih ngeri lagi, ketakutan akan laknat ALLAAH subhanawata’ala.

Pada level ini, semestinya kita belajar akan pentingnya  knowledge/pengetahuan. Karena semua permasalahan dimulai dari  ilmu global al’amal. Mendahulukan ilmu sebelum amal.

Anda tak mungkin melakukan sesuatu tanpa mengetahuinya terlebih dahulu. Dengan kata lain, bagaimana mungkin kita bisa melakukan suatu amalan dengan baik dan benar, sebelum mempelajarinya terlebih dahulu? Sedangkan ibadah itu adalah amal yang butuh ilmu sebelum melakukannya.

 

Terussss…

Belajar itu kewajiban. Bagaimana kita harus tahu skala prioritas dalam hidup. Level Warga MTR yang sudah ikut program SMTHR, seharusnya sudah paham, bahwa hasil yang diperoleh sekarang adalah akrena perbuatan di masa lalu. Bahwa akibat buruk utang yang dirasakan sekarang, lantaran dulu gagal paham terhadap bahaya utang dengan bunganya yang dikira harum padahal haram.

 

Lalu, bagaimana caranya menjalankan golden key berupa dakwah dalam menyelesaikan masalah ini? Ahhhh….ada hubungan apa coba, antara utang dan dakwah?

Pemanasan dimulai ketika kita memutuskan untuk tidak lagi membayar kewajiban bulanan, di mana masih ada percampuran antara yang wajib dengan haram.

Konsekuensinya, kita bakal kena caci-maki bahkan ancaman hidup serta shock therapy oleh pemberi utang. Yang level menakutkannya bahkan lebih tinggi daripada minta pertanggungjawaban kehamilan di luar nikah. Ohhh.. No!

 

Tapi..

Pertanggungjawaban  mesti dituntaskan. Perlu disadari, Fiqih Auawiyyah menjelaskan bahwa meninggalkan keharaman jauh lebih utama jauh lebih utama ketimbang mengerjakan kewajiban. Jadi yang mesti ada dalam mindset adalah utang wajib dibayar namun tidak Ribanya.

Dakwah tadi gunanya untuk apa?

Yah itulah, filterisasi hidup kita bagaimana 3 dimensi hidup ini berjalan semestinya. Bagaiamana hubungan terhadap sang Pencipta Allah SWT, hubungan terhadap diri sendiri dan hubungan terhadap sesama manusia.

YES… Proses akan mencapai klimaks ketika masalah ini clear.  Masalah utang, apalagi RIBAnya, yang wajib dibayar adalah UTANG tidak RIBA-nya.

Bagaimana kita seorang penDAKWAH dengan berbekal pengetahuan, bisa sesuai antara pola pikir, pola sikap dan pribadi Islami…

So masih adakah penDakwah yang mengharamkan Riba namun membayar Riba karena terpaksa walau sudah belajar?

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِا للّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّفَرِّقُوْا بَيْنَ اللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍ ۙ وَّيُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَّخِذُوْا بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا ۙ 

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain), serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir).(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 150)

Kalau sekadar selesai masalah utang walau pakai riba mau sedikit atau banyak ndakpapa,  nanti sholat taubat saja, pelepas sensasi, terus buat apa Dakwahnya

 

Klimaks!

Berpikir merupakan proses yang melibatkan: (1) fakta/realitas; (2) indera; (3) otak; dan (4) informasi yang dimiliki. Dengan proses berpikir ini akan terbentuklah sebuah kesadaran. Apa yang disebut ‘teori ilmiah’ pada hakikatnya merupakan kesadaran seseorang terhadap realitas.

Hanya butuh Komitmen dan Konsisten dalam meninggalkan Riba…

Dalam hidup kami dapatkan arti tawakal sebelum, saat dan setelah ikhtiar adanya Al Asbab dan Al Haal. Dimana kami sangat meyakini Allaah lah segala-galanya dan sebagai manusia, ada hal-hal yg bisa kami upayakan dengan kebenaran dilandasi keimanan

Mencari simpati Allaah atau simpati manusia? Pilihannya ada pada Anda… Manusia bisa Anda kelabui, namun kemana Anda akan lari dari Penglihatan  Sang  Maha Melihat

Wallahu’alam Bishowab…

July 23, 2020. PadangSiti

Mereka telah Pulang

0

Alhamdulillah, ajaibnya Buku Merah. Kini para sertifikat itu telah kembali dengan riang gembira. Aman tersimpan di brangkas. (Sri Surgiani – Bekasi)

MTR Itu Omdo

0

Ya, bagi yang belum “action”,  apa yang dibahas dalam MTR adalah Omdo – omong doang.

Karena yang menyelesaikan masalah, sudah semestinya  adalah kita, bukan MTR.  MTR “hanya” merupakan gerbang untuk mencerdaskan umat, gerbang kebangkitan umat.

Alhamdulillah dengan meluruskan niat dan action, ALLAAH senantiasa memudahkan jalan kami. Satu demi satu masalah terselesaikan.

Siapa saja yang mau masalahnya  selesai, segera action,  saudaraku…!!!

Semoga ALLAAH memudahkan jalan kebaikan bagi kita semua. Aamiin.. 🙂 (Dika Anggara Putra -SMHTR Pekalongan 09/19)

Lunas Utang Miliaran di Rumah Sendiri

0

Assalamualaikum Warohmatullaahi  Wabarakatuh

Siapa yang ingin LUNAS UTANG-NYA, angkat tangan kanannya  dan katakan ,“SAYAA!🖐🖐”

Siapa yang ingin hidupnya berkah dan berlimpah, angkat tangan kirinya dan katakana,”SAYAA!🖐🖐”

Siapa yang ingin kedua-duanya katakan,”SAYAA!🖐🖐”

 

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, tak hentinya rasa syukur itu kami panjatkan kepada ALLAAH Subhana wa Ta’ala,  Sang Penguasa Alam.  Lagi-lagi ALLAAH menampakkan kekuasaanNya..😭😭😭

Senin,  tanggal 13 Juli 2020, tepatnya pukul 10.20 WIB kemarin, kami kedatangan tamu.

Tamu yang memang kami undang,  lengkap  dengan perangkat elektronik, plus pengawalan lengkap dari petugas berwajib.

UNLOGIC ALLAH itu memang ada! Akhirnya kami berhasil melunasi pinjaman di bang Beri. Di kediaman kami, di rumah kami sendiri.

Wasilah pembelajaran yang kami jalani di Masyarakat Tanpa Riba (MTR), melalui pembelajaran Platform Bisnis Tanpa Riba (PBTR), telah saya terapkan. Kitalah yang menjadi produsernya, bersama bimbingan sahabat ahli surga. Khususnya warga MTR Nasional, Warga MTR Sekayu, Warga MTR Sumatera Selatan.

Kami sekeluarga besar “Pancaroba Group Sekayu”, mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya. Mudah-mudahan ALLAAH membalas semua kebaikan saudaraku🙏🙏🙏 Lunas Utang itu enak bangeett.. Apalagi Lunas Utang Miliaran. (Iwan Bawang – Sekayu)

DNA dan Rumus Usang Teror Riba

0

©MY220720|MTR Tangerang Raya||

Semalam saya ditelepon sahabat hijrah. Dia cukup mapan dan menghidupi banyak karyawan.

Seperti biasa, karena satu dan lain hal, utang menjerumuskan mereka hingga jatuh pada titik nadir dari hidup. Dan itu mereka jalani bukan dalam waktu yang pendek, karena lewat setahun proses berjalan.

Saya ingin ingatkan sahabat semua, efek teror dan rayuan dari para “pelaku riba” akan terus menjadi lingkaran setan jika tidak bisa Anda retas.  Alhasil Anda jadi frustasi dan mulai goyah. Bagaimana, tidak? Walau proses sidang masih berlangsung, proses lelang tetap berjalan.

Lalu apakah upaya yang Bapak/Ibu lakukan itu sia-sia?  Hmmm…

Tidak ada yg sia-sia. Belajar itu bukan tentang hasil, tapi tentang proses.  Nanti waktu yang menjawab, apakah Anda akan lulus atau tetap mau jadi pecundang.

Sampai kapan? Terserah anda. Lho kok? Hanya Anda yg mampu menjawab.

Jika landasan sedang dan telah Anda upayakan, maka waktu jadi ‘point of view’. Waktu berkolerasi dengan menunggu. Dan menunggu itu menjemukan, makanya Allah wanti-wanti dengan sabar.

Nggak percaya?  Coba ngamuk, marah-marah, atau berteriak sekeras-kerasnya.  Menangis histeris, mendayu-dayu, atau mungkin ingin guling-guling? Apa yang Anda dapatkan setelah itu?  Atau malah makin bingung?

Menangis dan tertawalah karena Allah! Bukan karena terror, apalagi karena modus para pelaku utang dan riba yang coba mengontrol hidup Anda.

Pahami DNA dan rumus terror;

  • Mulai dari permainan kata di WA, tindakan mempermalukan by phone, sampai ancaman dan tekanan psikis lainnya.
  • Surat pemberitahuan lelang yang hadir sebulan sebelum lelang, adalah rangkain dari permainan panjang 30 hari teror.
  • Pemasangan spanduk dan penulisan lelang di tembok rumah adalah teror of social.
  • Memaksa Anda harus dan terus riba dengan berbagai argumen adalah teror terhadap aqidah.

Ini berbahaya! Bagiku inilah iblis dari kalangan jin dan manusia yang sesungguhnya.  Karena…

Anda diajak mempertaruhkan agama dan menukar akhirat dengan dunia. Dan Anda mau? Nauzubillahi min dzalik.

Hanya para pecundang enggan belajar,  yang mampu mereka teror berkali-kali. Jika Anda ingin menjadi orang besar, tentu ujiannya juga besar. Nggak mungkin mau tesis doktor tapi ujiannya ‘high school’.

Lagian, modus-modus teror ala debt collector, leasing dan sejenisnya itu, sebenarnya sangat klasik dan usang banget.  Itu bentuk kelemahan dan ketidakmampuan mereka dalam berkomunikasi dengan klien.  Anda jangan ikutan ya?

Makanya penting memahami bersahabat dalam dakwah, di mana aku, kamu dan kita semua akan masuk dalam bimbingan-Nya.

 

Nanti lanjut, mau bantu istri persiapan halaqoh ahwat by zoom. Ini salah satu resep agar istri nggak mempan mereka teror.

Mereka selow, aku selow, kamu selow, jadi santai aja. Belum pake ayat lho?

Coba bayangkan jika Anda meluangkan waktu sedikit dengan menelusuri ayat, hadist dan kitabnya. Maka tak akan ada pelaku riba yang bisa meneror dan merayu anda.

Wallahua’lam bissawab.

✍️ Education For All

Ini Harapan Gusti Prabu kepada MTR

0

@Sudjamal|Ketua MTR Korda Sleman||

Selasa (21/7/20), MTR#03 Jogjakarta  bersilaturahmi dengan GBPH Prabukusumo,  adik Sri Sultan Hamengkubuwono X yang juga menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia Provinsi DIY.

Sesuai undangan beliau, pertemuan diadakan di Warung Soto Pak Gimin, Jl. Bantul km 7,5 Jogjakarta. Dari MTR hadir 9 orang pengurus Koordinator Wilayah (Korwil) dan Koordinator Daerah (Korda) yang ada di provinsi DIY.

Dalam pertemuan tersebut, Pak Sigit Ismanto, selaku Ketua Korwil menyampaikan visi dan misi komunitas MTR dalam melakukan dakwah penyadaran bahaya utang.  Dakwah ini merupakan perwujudan  aspek bela negara warga MTR dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Tak lupa kami menyinggung juga keberadaan dan aktivitas MTR Care  yang aktif terjun ke masyarakat.

Dalam sambutannya, Gusti Prabu menyampaikan harapan agar kehadiran MTR di Jogjakarta  membuat masyarakat  semakin tercerdaskan, sehingga muncul semakin banyak pengusaha mandiri dan  tangguh.

“Untuk itu, ada baiknya proses dakwah MTR ini diikuti dengan pendampingan berkelanjutan karena sudah pasti penyelesaian proses tersebut  (utang piutang)  tidak instan, kan?” lanjutnya.

Gusti Prabu bahkan menyampaikan harapan khusus, agar MTR mampu mengingatkan pemerintah dengan memberi usulan-usulan program yang penuh keberkahan.

Silaturahmi berlangsung sekitar satu jam. Pada akhir pertemuan, MTR  menyerahkan  Buku Merah yang diikuti sesi foto bersama.

Anugerah itu Bernama MTR

0

@MIslamBasri|MTR Riau||

MTR memang bukan segalanya

Namun, ketika kita belum menyadari  dan tak bisa memahami dengan baik tentang Utang dan Riba serta segala  risiko dunia dan akhiratnya.., lewat MTR-lah ALLAAH membukakan laluan kebenaranNYA,

Dan di saat sang diri mengalami segala  kebuntuan dalam menyelesaikan persoalan utang yang semakin hari semakin menyusahkan dan menggelisahkan..,  lewat MTR-lah ALLAAH menguakkan  bermacam tabir yang menjadi penghalangnya.

Dan ketika kita selalu berkerut kening serta bermasam muka dalam menghadapi persoalan Utang.., lewat MTR-lah  ALLAAH membuat kita bisa Kembali bergairah serta dengan ceria dan riang gembira, menjalani berbagai proses penyelesaiannya.

MTR memang bukan segalanya

Namun tatkala usaha yang kita miliki  selama ini dijalankan tanpa arah tujuan yang jelas dan pasti serta lebih hanya  mengandalkan pengalaman.., lewat MTR-lah ALLAAH membukakan ilmu yang baik dan benar, bagaimana memiliki dan  menjalankan serta mengembangkan suatu usaha,

Yang ternyata harus diiringi dengan membangun suatu sistem yang baik dan benar, dengan memadukan antara “The Great System” dan “The Great People” dalam satu Team Work yang apik dan solid. Sesuatu yang dulunya boleh jadi belum kita laksanakan dan upayakan dengan baik, bahkan kebanyakan  dari kita sama sekali belum pernah mendengar istilah-istilah tersebut, apatah lagi memahami dan menjalankannya.

Dan yang harus jujur kita akui, ketika dulu tujuan kita saat memulai dan menjalankan serta  melakukan pengembangan usaha lebih didominasi oleh kepentingan dunia,lewat MTR-lah ALLAAH menunjukkan ke mana tujuan sejati ketika kita diberi amanah usaha dan harta, yang tak lain dan tak bukan,hanyalah semata  untuk memantaskan diri menjadi  penolong agama ALLAAH dan RosulNYA.

MTR memang bukan segalanya

Tetapi manakala, berbagai macam guncangan hebat dari hembusan badai  yang kuat dan ombak yang besar, telah membuat begitu banyak bahtera-bahtera rumah tangga terombang-ambing dalam gelombang serta situasi  mencekam yang setiap saat bisa menghancurkan dan mencerai-beraikan, lewat MTR- lah ALLAAH memberi jalan keluar dan petunjuk keselamatan.

Dan saat sebagian besar dari kita, tak mengetahui dengan baik cara mendapatkan, membesarkan serta  bagaimana cara mendidik anak yang sesuai dengan yang ALLAAH dan RosulNYA inginkan, lewat MTR-lah ALLAAH menguak kesadaran akan kesalahan dan ketertinggalan kita dalam merencanakan masa depan yang terbaik bagi pendidikan anak keturunan kita.

MTR memang bukan segalanya

Namun sungguh, ketika di masa lalu sebagian besar dari kita hanya menjadi  followers serta menjadi pendengar terbaik dalam blantika usaha dan dakwah,  lewat MTR inilah, ALLAAH kemudian membukakan hamparan jalan besar yang disebut sebagain laluan utama para Nabi dan RosulNYA, yakni disaat kita mendapatkan ilmu yang luas dan  jelas, bagaimana bisa menjadi seorang Pemimpin atau seorang Leader yang mumpuni serta sekaligus bisa menempuh Jalan Dakwah.., suatu berkah yang sangat indah dan sangat luar biasa, yang dulunya tak pernah terbetik di hati, terbayang di mata dan terlintas dalam pikiran.

Dan Alhamdulillaah, di saat ALLAAH  lewat MTR membentangkan jalan kebaikan dan kemudahan serta memberi kesempatan kepada kita semua untuk bersegera memantaskan diri mendapat pertolongan ALLAAH dan memantaskan diri menjadi penolong agama ALLAAH  dan RosulNYA, dengan jalan senantiasa berusaha memperbaiki diri dan keluarga,  memperbaiki hubungan dengan ALLAAH dan sesama manusia, senantiasa mau belajar guna perbaikan dan pengembangan usaha serta bergerak bersama dalam perjuangan risalah dakwah..,

Maka ketika semua itu kita dapatkan  dalam kehidupan yang sekejap serta  sementara ini, masih sanggup dan pantaskah kita  untuk menafikan atau bahkan mendustakan segala anugerah yang sangat dan teramat besar ini?

PIKIR dan RENUNGKANLAH

BangKamRi 0,97 Dzulqoddah 1441

Karakter Warga MTR, Anda Tipe Mana?

0

@Haris Abu Muthiah|MTR||

Hadirnya komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR) menjadi ‘magnet’  bagi masyarakat terutama kalangan pengusaha. Bukan sekadar pengusaha,  lebih spesifik lagi pengusaha yang terlilit utang. Mereka menaruh harapan besar agar utangnya bisa lunas, sehingga masalah yang selama ini mengimpit kehidupannya, baik dalam urusan bisnis maupun usahanya segera teratasi.

Seiring berjalannya waktu dan semakin membesarnya komunitas ini,  ternyata karakter warga MTR yang tergabung di dalamnya berbeda-beda. Penulis mengamati, paling tidak ada tiga jenis warga MTR.

Pertama, tidak ‘hijrah’- tidak dakwah. Model warga seperti ini rata-rata hanya ingin bergabung karena ingin dibantu lunas utangnya. Biasanya mereka memposisikan diri sebagai mental korban, minta dibantu uang agar utangnya segera lunas.

Mereka berpikir, hijrah 100 persen nanti saja jika utangnya benar-benar lunas. Tidak perlu menyibukkan diri dengan dakwah, toh sudah banyak yang berhasil lunas utang tanpa terjun dalam kegiatan dakwah. “Yang terpenting sekarang bagaimana selesai utang dulu, karena setiap saat perbankan terus menerus menagih, kepala pusing dan hidup tidak tenang,” begitu kata sebahagian warga MTR.

Kedua, hijrah tanpa dakwah. Warga seperti ini tidak sekedar ingin lunas utangnya tapi minta diskon pokok dan potongan bunga 100%, karena dia paham bahwa bunga bank adalah riba, riba hukumnya haram. Dosa riba lebih berat daripada zina. Rasulullah Saw bersabda, “dosa riba ada 73 tingkatan, yang paling ringan adalah sama dengan seorang anak laki-laki yang menzinahi ibu kandungnya sendiri,”.

Karakter warga MTR seperti ini biasanya pemikirannya mulai terbuka dan memahami bahwa perbankan yang menjadi salah satu jantung perekonomian negara dalam sistem kapitalisme hanya menjadikan bunga sebagai ‘alat’ eksploitasi pengusaha. Karenanya sistem perbankan yang mengharuskan bunga adalah zalim, selain memaksa juga tidak mempertimbangkan untung rugi pengusaha.

Hanya saja, kelemahan karakter ini adalah tidak ingin terlibat secara masif dalam kegiatan dakwah. Masih berpikir individualistik, tidak menambah ilmu fiqhinya terkait dengan bisnis. Merasa puas dengan apa yang dimilikinya sekarang. Tidak punya visi yang jelas bagaimana mengubah umat.

Ketiga, hijrah dan dakwah. Karakter warga MTR yang benar-benar hijrah 100% dan terjun di medan dakwah. Dari sisi kuantitas jumlahnya tidak signifikan, tapi dari sisi kualias luar biasa. Mengapa?, karena mereka tidak lagi memikirkan utangnya. Bagi mereka utang bukan dipikir tapi diibayar, yang dipikir adalah usahanya. Utang wajib dibayar tapi riba haram dibayar.

Selain berusaha mengembangkan bisnisnya dengan segenap kemampuan manajemen yang dimilikinya, ia tidak melupakan tanggung jawab kepada keluarganya. Bahkan yang tidak kalah pentingnya adalah berusaha menambah ilmu agamanya melalui kegiatan kajian mingguan, bulanan, atau kegiatan tatap muka sesama warga MTR lainnya.

Tidak hanya sampai disitu, mereka berusaha menyadarkan umat tentang tabiat buruk utang di dunia maupun di akhirat. Mereka menjelaskan bahaya buruk yang ditimbulkan akibat bisnis yang dikembangkan harta riba, bahwa riba tidak akan menyuburkan bisnis tapi pintu awal rusaknya bisnis.

Lalu bagaimana caranya utang lunas jika hanya fokus belajar agama dan dakwah?. Inilah yang disebut perkara UNLOGIC, hanya bisa diterima dengan keimanan kepada Allah SWT. Bagi warga MTR belajar agama melalui halqah-halqah pekanan dan dakwah di tengah umat adalah wajib hukumnya, sekaligus sebagai wasilah untuk memantaskan diri dihadapan Allah SWT.

Mengapa? Karena ada jaminan dari Allah SWT bagi orang yang memantaskan diri ditolong. Lalu apa jaminannya? Di antaranya, memberikan jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapinya, memberikan jalan- jalan rezeki dari arah yang tak terduga. Nah, bagaimana, kalau sudah berusaha memantaskan tapi pertolongan belum datang?

Jika pertolongan belum datang, boleh jadi masih ada yang belum maksimal dilakukan. Maka teruslah bersabar, teruslah berazzam, teruslah bertawakkal, teruslah berikhtiiar. Jangan pernah ada sedikit pun maksiat dalam bisnis kita, karena Allah hanya menerima yang bersih–bersih saja.

Nah, sekarang, Anda warga MTR tipe mana?

Wallahu a’lam bi as shawab.

Prof. KH. Didin Hafidhuddin : “MTR Jihad di Ekonomi Riil”

0

@Sarwo|MTR Jakarta||

Sungguh menarik nasihat yang disampaikan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.S. kepada rombongan Masyarakat Tanpa Riba (MTR) dalam acara “Meminta Nasihat Tokoh Nasional” yang digelar Sabtu, 18 Juli 2020 di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor lalu.  Rombongan MTR disambut  Pak Kyai, panggilan akrab Prof. Didin, dengan didampingi oleh beberapa Direkturnya di Gedung Pasca Sarjana.

 

Dalam pengantarnya, Pak Kiai menyampaikan QS Ar-Room ayat 39 yang turun pada saat Nabi diboikot secara ekonomi di Mekkah.

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah….” QS. Ar Rum [39]

Menurut Pak Kyai,  ayat ini menunjukkan bahwa praktek riba sudah parah pada jaman itu (+1400 tahun yang lalu – red), sehingga turunlah peringatan Allah terhadap riba. Namun begitu, jika dibandingkan kondisi sekarang, praktek riba jaman sekarang  sebetulnya lebih parah. Kalau dahulu, riba dikenakan setelah yang berutang tidak bisa melunasi pada waktu yang telah disepakati. Sekarang, bahkan mulai  tanda tangan kontrak utang pun, riba sudah dikenakan.

Islam adalah agama yang mengutamakan proses, tidak hanya melihat hasilnya saja. Sedangkan, sistem riba hanyalah dilihat dari hasil. Jika uangnya bertambah besar, itulah hasil yang dikehendaki, tidak mempedulikan bahwa prosesnya merupakan sesuatu yang dilarang dalam agama.  Sekarang ini, negara pun sudah menumpuk utang. Tidak ada kesungguhan untuk keluar dari utang dan tidak ada kepercayaan bahwa utang bisa segera diselesaikan.

Melihat di MTR kebanyakan anggotanya berasal dari kalangan pengusaha,  beliau menuturkan bahwa dalam An Nur 37, Allah memberikan pujian kepada para sahabat Nabi. Mereka adalah para pedagang (businessman) yang ulet di pasar, namun begitu mendengar azan, mereka bergerak bersama ke masjid. Tidak lupa juga mereka dengan zakat dan infaqnya.

Mereka melakukan hal itu itu karena takut nanti bertemu dengan Allah dalam keadaan terbelalak matanya mendapati bahwa apa yang mereka lakukan dahulu, yang mereka sangka adalah perbuatan baik, ternyata tidak.

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”, QS An-Nur [37]

Perbuatan ibadah dan muamalah ini harus jalan bersamaan. Pak Kyai berharap semoga MTR bisa menjadi contoh dan pelopor.  Saat ini yang diperlukan adalah “Quran berjalan”, contoh pengusaha yang jujur, jauh dari riba. Itulah pengusaha yang sukses. Sukses sendiri harus dilihat bahwa sukses itu adalah setelah kita meninggal nanti.

Selanjutnya, agar MTR istiqomah, beliau memberikan petuah agar kita membangun kebersamaan, dan Islam mengajarkan hal itu. Pak Kyai menyebut bahwa MTR adalah merupakan bagian dari dakwah yang luar biasa. MTR merupakan dai dalam bidang ekonomi, dalam bidang usaha yang bersih. Ini adalah jihad dalam bidang ekonomi yang riil.