Amir Mahudin; 3 Bulan Gabung MTR, 5 Titik Utang Lunas

0
127

Bersama Masyarakat Tanpa Riba (MTR), Pak Amr Mahudin yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam adalah ILMU KEHIDUPAN, dan ILMU KEHIDUPAN PASTI MAMPU MEMBERIKAN SOLUSI TUNTAS atas segala permasalahan yang ada dalam kehidupan ini.  

***

Pak Amir Mahudin mulai menjalankan swausaha sejak 2010 dengan membuka jasa rental mobil di daerah Bogor. Usaha itu berakhir dengan penipuan modal usaha dari mitranya. 2012 ia mencoba usaha baru dengan membangun bengkel mobil. Karena salah kelola, setahun kemudian usaha ini tutup.

Tak putus asa, Mei 2014 beliau mencoba membangun usaha Konsultan Lingkungan Hidup dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dengan badan usaha bernama Esa Daya Lestari. Produk layanan perusahaan ini meliputi  perijinan lingkungan (AMDAL dan turunannya), pengelolaan instalasi limbah cair (IPAL), Pengendalian dan pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja bidang kesehatan kerja, pelatihan sertifikasi kompetensi sumber daya manusia (SDM Lingkungan dan K3).

Awal berdiri, Esa Daya Lestari dijalankan tanpa mengandalkan utang. Namun pada 2015, ia mulai terjebak aktivitas utang dengan alasan mempercepat pengembangan usaha.

“Secara fisik usaha tampaknya berkembang, jumlah konsumen kami terus bertambah. Tapi yang membingungkan, semakin berkembang usaha, makin besar pula jumlah utang kami,” demikian pria kelahiran Brebes 17 Juli 1976 ini membuka cerita.

Di antara para pecandu utang, Pak Amir tergolong disiplin dalam mengontrol tabiat berutangnya. Ia selalu memegang kendali agar prosentase total utang tidak melewati ambang 30% dari total asset. Selain itu, ia juga nasabah teladan bagi lembaga keuangan karena aktivitas angsuran utangnya selalu lancar tanpa kendala.

Namun entah kenapa, permasalahan silih berganti tidak kunjung berakhir, Mulai dari proyek yang tidak dibayar, team yang berhianat, hingga permasalahan pekerjaan di lapangan yang selalu ada saja. Problem-problem tersebut berkelindan seperti benang kusut yang membuat timnya harus bekerja ekstra keras dan ektra waktu untuk menyelesaikan banyaknya complain dari konsumen.

Secara pribadi, kondisi tersebut mulai mengikis ketahanan psikologis pak Amir.  Ia mulai kekurangan waktu bagi keluarganya, baik secara kuantitas maupun kualitas. Selanjutnya yang terjadi, istri dan 3 orang anaknya menjadi sarana tumpahan emosi.

Ah, bila ingat waktu itu, saya malu sendiri. Bodoh banget aku ini,” sesalnya sekarang.

Iklan Seminar yang Aneh

Sampai suatu hari ketika berkendara, Pak Amir mendengar iklan yang dirasanya aneh di salah satu radio lokal. Judulnya “SMHTR – Sukses Mengembangkan Harta Tanpa Riba” yang akan diadakan Masyarakat Tanpa RIba (MTR) di salah satu hotel bintang empat di kota Purwokerto. Sebuah tema tak biasa untuk sebuah seminar. Tidak seperti seminar yang sering ia ikuti, bahkan saat ia menjadi salah satu narasumber di bidang kegiatannya.

Menuruti naluri penasaran, Pak Amir pun memutuskan untuk mendaftar dan langsung menransfer biaya kegiatan tersebut.  Seminar berlangsung sehari penuh di bulan Maret 2017. Pada sesi pertama, Pak Amir menyerap pesan luar biasa mengenai kesalahpahaman orang dalam mengartikan aktivitas utang dari sisi dalil Islam. Dan pada sesi kedua setelah makan siang, ia mendapatkan  pengalaman seperti “ditampar-tampar” yang membangunkannya dari sebuah tidur panjang”.

Bagaimana tidak,  tak hanya memberikan dampak buruk di dunia, tabiat berutang yang sangat lazim dalam dunia usaha, ternyata mengandung risiko yang sangat besar di akhirat.

“Saat itu kami merasa bodoh sekali dalam pemahaman agama Islam, lebih-lebih dalam mengimplentasikan ajaran Islam.  Kami baru menyadari bahwa selama ini kami mengaku beragama Islam sebatas pengakuan dan tidak melalui proses berpikir dalam menemukan keimanan kepada Tuhan. Yaa Allaah Mohon ampunMU atas kebodohan hamba dan kelalaian hambaMU,” ungkapnya panjang lebar kepada masyarakattanpariba.com.

Melalui seminar pertama itu, Pak Amir tersadarkan bahwa segala problema hidup dan bisnisnya selama ini bersumber dari aktivitas kemaksiatan  (utang dan riba) kepada Sang Khaliq Allaah subhana wata’ala. Tak sekadar memberikan pemahaman mengenai posisi utang di mata Allaah, para pengajar dalam seminar tersebut juga membimbing para peserta untuk bertaubat dan berazam untuk segera menyelesaikan aktivitas utang yang mereka miliki.

Begitulah, pemahaman atas dampak buruk utang (terlebih yang mengandung riba) menjadi fondasi hijrah pak Amir. Pembelajaran yang ia dapatkan dari SMHTR menjadi titik balik atas koreksi kesalahannya di masa lalu untuk menempuh jalan kehidupan yang lebih mulia.

Tak sekadar motivasi hijrah, Pak Amir juga tersadarkan bahwa penyelesaian masalah kehidupan tidak cukup dengan uang karena yang paling utama adalah ilmu. Karena alasan itu, ia pun melanjutkan ke jenjang pembelajaran MTR berikutnya yaitu PBTR – Platform  Bisnis Tanpa Riba. Dalam seminar ini diberikan materi mengenai solusi penyelesaian utnag dengan pihak lembaga keuangan.

April 2017, Pak Amir mengikuti event Platform Bisnis Tanpa Riba (PBTR) di Bogor. Dari hasil pembelajaran tersebut, ia mendapatkan bekal untuk proses penyelesaian utang di beberapa lembaga keuangan.

Mulailah pak Amir bersafari ke beberapa lembaga keuangan yang memberinya utang. Ia datangi satu per satu, menyampaikan maksudnya untuk minta penyelesaikan utang dengan bayar pokok saja (bebas BDO-bunga, denda dan ongkos-ongkos lainnya). Permintaan itu disampaikan secala lisan maupun tertulis melalui surat formal.

Apakah permohonannya langsung dikabulkan? Sudah pasti tidak.

Namun Pak Amir tidak putas asa. Ia terus berusaha membangun komunikasi dengan pihak lembaga pengutang dan melakukan pendekatan secara baik-baik.  Ia mengalami masa  di bawah tekanan debt collector, namun dengan ketenangannya sang debt collector justru kemudian menjadi bersahabat.

“Alhamdulillah, setelah melalui proses negosiasi dan komunikasi yang baik, 3  bulan setelah berazzam di acara SMHTR, 5 titik utang dapat kami selesaikan dengan pertolongan Allah subhana wa ta’ala,” ujarnya lega.

 

Transformasi Usaha Syariah

Begitulah, setelah menjalani aktivitas bisnis tanpa utang sejak 2018, Pak Amir mengaku menjadi lebih fokus dalam upaya meningkatkan kualitas layanan dan perbaikan sistem kerja. Dilihat dari sisi omset memang tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi. Namun dari  penambahan asset dan keuntungan bersih, usahanya mengalami peningkatan sekitar 30%.

Tak ingin terjebak pada kesalahan lama, sejak 2017 Pak Amir mengubah sistem pengelolaan semua bisnisnya berdasarkan prinsip-prinsip Syariah.  Ini pekerjaan penuh tantangan karena  ia harus bisa memastikan semua proyek yang dijalani benar-benar bersih dari unsur-unsur yang tidak sesuai kaidah syar’ie. Konsekuensi dari penerapan kebijakan tersebut adalah penurunan jumlah proyek dan nilai proyek yang diperoleh.

“Namun bukan semata besarnya nilai proyek yang kami harapkan sekarang, tujuan kami sekarnag adalah nilai keberkahan,” ujarnya.

Begitu pun, kinerja bisnis Esa Daya Lestari bukannya tanpa kemajuan.  Pelan tapi pasti, perusahaan yang berdomisili di Banyumas Jawa Tengah ini  semakin andal memberi layanan terhadap  sejumlah klien besar dan kecil, local maupun perusahaan asing. Selama 2019 kemarin, mereka tercatat telah melayani kegiatan pengelolaan, baik K3 mapun kegiatan lingkungan hidup untuk 50 perusahaan dengan total nilai proyek antara 2-3M/tahun.

Berkah lain, di tahun 2019 pula Pak Amir dimampukan Allaah untuk mendirikan satu usaha baru dibidang Laboratrium Pengujian dengan nama SEMESTA ESA LABORATORIUM. Badan usaha ini bergerak di bidang pengujian analisa laboratrium lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja.   Produk layanannya meliputi pengujian analysis sampel untuk parameter lingkungan hidup dan area kerja ditempat kerja, baik parameter kimia, fisik, biologi, ergonomi dan psikologi kerja.

 

Menempuh Jalan Hijrah bersama MTR

Pak Amir sangat bersyukur dipertemukan kepada komunitas yang telah menjadi jalan kesadaran atas segala pengalaman yang ia sebut sebagai “kebodohan” masa lalu.

“Kami bersyukur sekali masih diberikan kesempatan untuk menikmati hidayah taufik akan kebenaran dan kemuliaan Islam,” ujarnya penuh syukur.

Bersama Masyarakat Tanpa Riba, ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam adalah ILMU KEHIDUPAN, dan ILMU KEHIDUPAN PASTI MAMPU MEMBERIKAN SOLUSI TUNTAS atas segala permasalahan yang ada dalam kehidupan ini.

“Alhamdulillaah secara bertahap kami berupaya menerapkan ilmu kehidupan tersebut, dan hasilnya sudah kami rasakan,” pungkasnya.

Ingin mengikuti jalan hijrah Pak Amir untuk mendapatkan solusi tuntas atas segala permasalahan kehidupan Anda?  Jangan ragu-ragu menghubungi Komunitas Masyarakat Tanpa Riba di kota terdekat.

Sebagai  kunci pembuka ilmu solusi utang, silakan membaca Buku Merah MTR “Kesalahan-Kesalahan Fatal Mengembangkan Bisnis dengan Utang” yang bisa Anda dapatkan dengan menghubungi 0853-3533-5319.

 

Barakallahu fiikum.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here