The True Education

0
144

© MY180620|MTR Tangerang Raya||

Guruku dulu bilang: “Salah satu tujuan pendidikan adalah mengajarkan bahwa hidup itu berharga”. Dengan itu aku belajar dan terus ingin bealajar.

Saat ini banyak saya temukan adalah para pengajar bukan pendidik. Mereka yang sekedar menyelesaikan perintah dan instruksi jam ajar. Apakah ada yang salah dengan pendidikan kita hari ini?

Mari kita retas…

Anak-anak kita kirim ke sekolah untuk belajar menghadapi dunia nyata yang berubah sangat cepat. Ironisnya, sekolah dari dulu tidak berubah, selama ratusan tahun cara mereka diajar dan belajar selalu sama.

Banyak ahli di seluruh dunia setuju bahwa sistem pendidikan di era industri saat ini merancang manusia untuk menjadi ‘robot bernyawa’. Mentalitas yang kemudian melahirkan para ‘sarjana halu’.

Anak-anak dididik dengan serangkain instruksi, setumpuk tugas, ulangan dan PR. Kehidupan kelas diatur dalam kontrol yang ketat, dibatasi oleh bunyi bel sekolah. Sepanjang hari mereka tidak melakukan apapun selain mengikuti petunjuk dan instruksi kebijakan. Menghasilkan apa yang saya sebut ‘industrial age values’.  Masuk kelas, duduk, jangan berisik. “Buka halaman 85, selesaikan soal nomor 8, berhenti bicara”.

Dahsyat…!

Di sekolah anak dihargai untuk melakukan apa yang diberitahu saja, jangan nyeleneh, jangan tanya aneh-aneh, jangan sontoloyo. Inilah nilai-nilai era industri yang akan menjadikan mereka kelak ‘buruh pabrik’ baru.

Keberhasilan dan sukses diukur berdasarkan instruksi yang harus sama persis dengan yang sudah diberitahu. Tidak ada ruang improvisasi. Padahal di dunia saat ini, apa sih yang bisa kita capai jika hanya mengikuti petunjuk satu orang?

Manusia diciptakan Allah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Diberi akal agar menjadi kreatif, dan mampu mengomunikasikan ide-ide mereka. Nah, anak-anak tidak akan dapat kesempatan itu jika sekolah mengadopsi industrialisasi dalam pendidikannya.

Ekspresi anak terkunci…

Di sekolah anak-anak kurang mempunyai otonomi dan kontrol terhadap diri sendiri, karena setiap menit diawasi dengan ketat oleh sistem. Efeknya, ketika berhadapan dengan dunia nyata kelak, mereka tidak terbiasa menentukan sendiri, tidak terbiasa otonomi dalam berfikir dan bertindak.

Aturan dan instruksi sekolah saat ini seolah mengirim pesan dan mengajarkan bahwa mereka tidak bertanggung-jawab atas kehidupan mereka, semua jadi tanggung jawab sekolah. Mereka hanya mengikuti saja instruksi dan perintah yang sudah ditetapkan. Bukan mengambil alih dan menentukan arah hidup. Berbahaya bukan?

Para ahli percaya bahwa otonomi sangat penting bagi anak-anak. Tidak mengherankan jika kemudian anak-anak kehilangan motivasi, dan sekolah menjadi sangat membosankan.

Bayangin deh, setiap detik setiap menit di sekolah yang ada adalah aturan, aturan, dan aturan. ‘Gak siswa, ‘gak guru disibukan dengan hal yang sama.

Akibatnya pembelajaran menjadi tidak otentik, tidak murni kesadaran, kecuali hanya sekedar menghafal perintah dan instruksi yang diminta dan diharapkan orang lain.

Protes? Hmm… tabu!

Sistem yang ada seperti mendefenisikan satu sel generik pengetahuan saja, dan semua anak harus tahu, lalu setiap beberapa priode kita mengukur berapa pengetahuan yang bertahan. Ini hafalan apa pengetahuan?

Pembelajaran seharusnya bisa lebih otentik dan mengasyikan jika tidak diukur dan dihargai melaui nilai tes dan ujian saja. Hal ini menciptakan budaya yang tidak sehat antara siswa, orang tua dan guru.

Anak-anak menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menghafal yang kemudian mereka lupakan. Tidak ada ruang untuk passion dan hobi.

Gimana tidak?

Oleh sistem mereka harus belajar hal yang sama, dengan cara yang sama, dalam waktu yang sama. Mati ‘gak tuh? Padahal latar belakang, kemampuan, dan DNA beda. Jelas ini tidak sesuai dengan kodrat manusia dimana masing-masing  anak adalah unik.

Anak mempunyai ketertarikan sendiri, di mana ada kebahagiaan tak terperi ketika mereka bisa melakukan apa yang menjadi passion-nya. Apakah sistem yang ada di sekolah saat ini mampu menemukan dan membantu anak kita untuk mengembangkan passion-nya?

Nampaknya sistem saat ini tak peduli apa kemampuan yang dipelajari, apakah sesuai dengan kebutuhan anak atau tidak. Banyak mereka yang gagal di sekolah tradisional justru mampu mengubah peradaban.

Pendidikan kita terlalu rumit, dengan tuntutan gelar yang berderet-deret, hingga tanpa terasa sudah tua saat mereka lulus. Kelamaan berkutat dalam ‘ruang kelas’ tuntutan industri hingga sense of social jadi minus.

Kalau mau melihat sejarah para sahabat, berapa banyak mereka yang usia muda sudah menjadi panglima perang, imam dan ulama.

Yang agak saint, Enstein, Bill gates, Steve Jobs. Mereka semua gagal dalam sistem sekolah tradisional, mereka memilih DO. Tapi benarkah di dunia nyata mereka gagal?

Sekolah tidak memiliki ukuran berapa banyak bakat, potensi dan peluang anak yang tidak bisa diakui oleh sistem yang ada saat ini.

Padahal…

Masing-masing anak berbeda dalam cara belajar, cara menyerap dan cara memahami. Jika aku selow, kamu selow, santai, maka dianggap gagal oleh sistem.

Padahal yang anak butuhkan hanya sedikit penambahan waktu untuk bisa focus dalam mengejar ketinggalan. Ada berbagai sumber belajar yang dengan mudah dapat diakses di era ini.

Sistem tradisional yang memaksa anak berjam-jam diceramahi, dikuliahi, tanpa ada ruang untuk interaksi, maka ia akan usang dengan sendirinya. Dalam konteks ini kelas menjadi ruang pembodohan baru.

Jika kita ingin anak-anak terlepas dari pembodohan sistem dan mampu hidup dalam dunia nyata, maka tidak ada pilihan selain secara fundamental mengubah cara belajar anak kita dan tidak mengandalkan sekolah saja.

 

Wallahua’lam bissawab.

 

✍ Education For All

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here