MULYONO, UTANG 40-AN MILIAR LUNAS SETAHUN TANPA JUAL ASET

0
98

Aset meningkat namun hati tidak tenang. Bagaimana drs. Mulyono melunasi Rp40 miliar utangnya melalui konsep  Platform Bisnis Tanpa Riba (PBTR) MTR?

Seperti umumnya yang dilakukan para pengusaha, Mulyono membesarkan PT. Turrima (Trubus Prima Agro Mass) dengan memutar dana hasil utang dari  dunia perbankan. Melalui utang bank, asset perusahaan yang bergerak di bidang industry fertilizer itu berkembang semakin besar. Selama belasan tahun Mulyono terlihat tenang menjalankan bisnisnya yang semakin cemerlang.

Namun tak ada yang tahu, sekalipun usahanya sukses, hati Mulyono selalu gelisah dengan utang-utangnya. Setiap kali membaca QS Al Baqarah 275 – 280, hatinya bergetar hebat. Bagaimana tidak, selain ancaman neraka, Allah juga mengumumkan perang kepada para pelaku riba.

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)!” (QS Al Baqarah : 278-279)

Sejak tahun 2004, Mulyono terus berdoa agar bisa segera terbebas dari utang dan riba. Menangis di atas sajadah setiap malam, bersimpuh di depan Ka’bah. Kesana kemari ia berusaha mencari solusi bagaimana bisa menyelesaikan utang-utangnya agar bisa bebas dari riba yang dilarang Allah SWT.

Namun apa yang terjadi? Perusahaannya tumbuh semakin pesat, omset semakin besar dan seiring dengan itu, utangnya juga semakin menggunung hingga bilangan puluhan miliar. Mulyono semakin galau. Rasa takutnya terhadap ancaman Allah membuatnya tidak mampu lagi merasakan nikmatnya keberlimpahan harta  dunia.

Hingga pada  suatu kesempatan  di tahun 2017, mata Mulyono tertumbuk pada tulisan #masyarakattanpariba yang tercetak di kaos Mas Rofi’i, demikian ia memanggil sahabatnya yang kemudian diketahui merupakan salah satu pegiat komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR) Jawa Tengah.

Tertarik dengan tagar tersebut, Mulyono pun melakukan pencarian di kanal video Youtube. Dan berawal dari perkenalan secara virtual itulah, Mulyono memutuskan untuk mengikuti beberapa event yang diadakan MTR.

Ia rajin mengikuti hamper semua seminar MTR. Mulai dari   Platform Bisnis Tanpa Riba (PBTR), Sukses Mengembangkan Harta Tanpa Riba (SMHTR), Workshop BeMIMS (Becoming Master in Marketing & Selling), Seminar Mengembangkan Bisnis Untung Bisnis Berkah (MBUBB) dan berbagai event lainnya. Mulyono mengaku nyaman bergabung dengan komunitas MTR karena visi, misi dan kultur di MTR yang semakin meningkatkan iman dan taqwa keluarganya kepada Allah SWT.

Dari berbagai acara itulah, Mulyono mengaku mendapatkan banyak solusi terkait problem utang dengan konsep yang sangat cerdas. Untuk mengatasi masalah utang-utang yang membuat hidupnya tidak Bahagia, ia menerapkan ilmu yang ia dapatkan dari event PBTR.

“Bisa dikatakan, karena PBTR-lah kami tertolong dan berhasil membayar pokok utang saja,” ujarnya.

Sembari menerapkan strategi bersahabat dalam dakwah dengan pihak-pihak perbankan, Mulyono juga berusaha memperbaiki kinerja usahanya dari dalam. Ia disiplin mengatur cash in – cash out perusahaan, dan “puasa”  untuk tidak menambah asset seperti dulu. Ia tidak mau lagi bersikap agresif dalam berekspansi tanpa mempertimbangkan  kehalalan dan kebaikan sumber modalnya.

Selama upaya tersebut, Mulyono melakukan beberapa Langkah principal berikut ini :

  1. Mengharap ridha Allah
  2. Senantiasa berdakwah sesuai prinsip PBTR, yaitu Bersahabat dalam Dakwah
  3. Istiqomah dalam barisan MTR
  4. Mengikuti semua kegiatan yang diadakan MTR atau SyaREA World.

Dan akhirnya setelah melakukan “puasa” selama 7 bulan, betul hanya 7 bulan, Mulyono memetik hasilnya. Per 31 Desember 2018, dengan ijin Allah SWT  ia berhasil melunasi utang sebesar Rp30 miliar, tanpa menjual asset sama sekali.

Dan kini, doa yang ia panjatkan sejak 16 tahun silam, sudah dikabulkan Allah secara tunai dalam jangka waktu sangat singkat.  “Alhamdulillah, kami sekarang sudah merdeka dari utang,” ucapnya penuh syukur.

Sekarang, meski memutar bisnis dengan modal relative “kecil” (dibanding ketika masih menerima pinjaman riba), Mulyono justru merasa semakin bahagia dan kreatif. Ia merasa hidupnya semakin tertata, keluarganya tenang, dan perusahaan pun tetap berjalan sebagaimana mestinya.

“Dari MTR kami belajar bagaimana mengembangkan usaha tanpa mengandalkan utang. Rasanya semakin lega menatap masa depan,” tambahnya.

Dan untuk para pengusaha muslim yang masih mengandalkan utang dalam mengembangkan usaha, Mulyono mengajak untuk bersama-sama mencari ilmu di MTR.

“Di sini, insyaAllah kita akan semakin paham  tentang bagaimana buruknya tabiat berutang dan seputar riba,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here