Jika kita menghadap bayangan dan mengejarnya, maka bayangan semakin jauh dan tidak pernah akan kita dapatkan
Jika kita membelakangi bayangan dan menuju sumber cahaya, maka bayangan akan mengikuti dan semakin dekat.
Dunia dan seisinya ada karena Allah
Jika kita menghadap dunia (dunia kita tempatkan di depan kita) dan mengejarnya, maka dunia semakin menjauh dan tidak pernah kita dapatkan.
Jika kita membelakangi dunia (dunia kita tempatkan di belakang punggung kita) dan menuju kepada Allah, maka dunia akan mengikuti ke manapun kita bergerak, bahkan semakin dekat dengan Allah dunia semakin dekat.
Lalu….
Bagi siapakah akhirat diperuntukkan….?
Akhirat diperuntukkan bagi mereka yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan akhirat….
Bagi siapakah dunia diperuntukkan…?
Dunia diperuntukkan bagi mereka yang meninggalkan dunia…dan menuju kepada Allah.
(Surabaya, 4 Mei 2012, beberapa poin penting sebuah ceramah)
Begitulah yang terlintas di dalam benak saat bergabung dan memandang Komunitas Bisnis Syariah ini….
Mengutamakan ketaatan kepada Allah…
Menghadap dan menuju kepada Allah…
Membelakangi, membelakangkan kepentingan duniawi…
Meneladani Rasulullah Saw…
Ya Allah….
Hamba memohon kekuatan dari-Mu….
Kekuatan untuk istiqomah dalam ketaatan kepada-Mu…
Semoga bermanfaat
Bandung , 9 Oktober 2016
Suharjono Harjodiwiryo
Ada Apa dengan Bisnis….
Ada Apa dengan Cinta…..
Sejauh saya sudah bersama Komunitas ini….
Sejauh saya sudah duduk, melihat, dan menyimak…
Kucuran Ilmu yang melimpah…
Kobaran semangat yang membara…
Ada ruh yang melekat …
KETAATAN kepada Allah…
Bisnis yang mengutamakan ketaatan kepada Allah…
Bisnis yang berorientasi bukan hanya kehidupan dunia..
Bisnis yang punya tujuan akhir kebahagiaan Akhirat…
Lalu …?
Ada apa dengan KETAATAN DAN CINTA…?
Firman Allah yang artinya :
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”
(Ali Imran: 31-32).
MENCINTAI Allah…
Taat kepada Allah…
Mengikuti Rasulullah Saw…
Bukti cinta kepada Allah, adalah mengikuti Rasulullah Saw…
Atau jika dibalik kalimatnya menjadi…
Jika kita mengikuti apa yang telah diajarkan Rasulullah Saw…
Itu pertanda bahwa kita mencintai Allah…
Atau…
Jika CINTA itu tumbuh di dalam jiwa seseorang adalah KARUNIA ALLAH…
Maka kalimatnya menjadi…
Jika kita mengikuti apa-apa yang telah diajarkan Rasulullah Saw…
Maka…
Allah akan menumbuhkan CINTA di dalam jiwa…
CINTA KEPADA ALLAH….
Semakin taat, semakin cinta…
Semakin cinta, semakin mudah melakukan ketaatan…
Semakin cinta, semakin DICINTAI Allah….
Cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan…
Cinta yang timbal balik…
Laksana bola salju…
Cinta yang semakin lama semakin besar…
Antara KETAATAN dan CINTA kepada Allah…
Bisnis dengan KETAATAN kepada Allah….
Bisnis dengan CINTA kepada Allah…
Bisnis dengan CINTA…
Melakukan apapun karena cinta kepada Allah…
Modal untuk KEMBALI kepada Allah…
Bukan hanya Syurga yang didapat…
Lebih dari itu….
Adalah PERJUMPAAN dengan Allah…
Karena…
Kenikmatan tertinggi dari cinta adalah PERJUMPAAN….
Perjumpaan dengan Allah….
Memandang wajah Allah….
Kembali kepada Allah…
Semoga bermanfaat…
Bandung, 11 Oktober 2016
Suharjono Harjodiwiryo
Kopdar hari selasa kemarin mengangkat tema yang sangat menarik…
Asymmetric War…
Kesimpulannya…
Saat ini kita dalam kondisi perang.
Saya mengamini kesimpulan ini dengan asumsi kita menjalani kehidupan ini dalam kerangka berfikir berhadap-hadapan 180 derajad.
OK,
berarti mindsetnya adalah mindset PERANG…
Berarti juga ada yang menang ada yang kalah…
Diskusi panjang kemarin, walau tidak disimpulkan secara tegas, namun dapat dirasakan bahwa kita semua ini sekarang dalam KONDISI KALAH, dan mereka sebagai pemenang.
Benarkah demikian….?
Saya coba angkat beberapa hal yang perlu kita cermati….
Dengan beberapa pernyataan dan pertanyaan…
Yang dengan ini semoga akan terjadi diskusi lanjutan di forum ini…
1. Siapakah mereka itu…? Jawaban dari saya, mereka itu adalah PEMBURU DUNIA
2. Siapakah kita…? Jawaban dari saya, kita ini adalah PEMBURU AKHIRAT
3. Apakah tujuan akhir mereka…? …jawaban saya, tujuan akhir mereka memang DUNIA
4. Apakah tujuan akhir kita..? Jawaban saya, tujuan akhir kita AKHIRAT
5. Bagaimana cara mereka berperang…? Jawabannya, mereka menghalalkan segala cara
6. Bagaimana cara kita berperang…? Jawabannya, cara kita terikat dengan aturan syariat Allah.
7. DUNIA ini hanya kita perlukan sebagai ALAT menuju akhirat
8. Kita juga hanya butuh SEBAGIAN dari dunia untuk menuju akhirat.
Dua pihak dengan TUJUAN AKHIR yang berbeda, dengan persepsi dan tingkat kebutuhan yang berbeda, dengan cara, tata aturan yang berbeda apakah perlu kita posisikan sebagai dua pihak yang berhadapan 180 derajad dengan sebutan PERANG, sehingga harus disebutkan KALAH DAN MENANG…
Kalau memang perang,
benarkah mereka layak disebut pemenang, sedangkan mereka menghalalkan segala cara ?
Benarkah kita sebagai pihak yang kalah, sedangkan kita menjalani dengan tunduk kepada aturan Allah..?
Atau ada cara pandang lain yang lebih PAS bagi kita untuk memandang fenomena ini…?
Apa definisi menang bagi kita…?
Apa definisi kalah bagi kita…?
Semoga bermanfaat…
Bandung, 12 Oktober 2016
Suharjono Harjodiwiryo
Hari ini saya dapat 2 (dua) postingan langsung dari penulisnya. Para penulis berada pada sisi yang berlawanan. Ketika di tempat penulis yang satu siang hari, di tempat lainnya malam hari. Kang Budi berada di Bandung dan Ustadz Shamsi di New York.
Saya tidak yakin kedua orang Sahabat saya ini saling kenal. Kendati demikian, karena aqidah yang sama, beliau-beliau ini menanggapi persoalan yang sama dengan pendapat yang sama.
Saya akan share kepada Warga tulisan-tulisan cerdas mereka. Namun sebaiknya Anda menyaksikan video ini terlebih dahulu.
????
Karena ternyata pembahasan pada video di ataslah yang menyatukan pemikiran mereka.
Berikut ini tulisan-tulisan mereka.
??
TIGA PENYEBAB ORANG KAFIR MEMIMPIN KAUM MUSLIMIN DI NEGERI MUSLIM
By Budi Purnomo, KSW #01
WA KSW 0811113139
Si hoax emang pinter, bikin statement penistaan agama saat isu pilkada mulai hangat. Sehingga siapapun yg mempersoalkan bisa langsung di cap sedang mempolitisasi. Walau sesungguhnya tdk ada hubungannya reaksi umat (yg paham ajaran agamanya) thd pernyataannya dg agenda politik..
Lebih konyol lagi, ketika orang yg mengingatkan haramnya memilih pemimpin kafir dianggap menggunakan isu sara. Padahal konteksnya sama dengan mengingat saudara seimannya utk tdk makan daging babi, tdk minum khamar, tdk berzinah krna sdh jelas2 diharamkan. Betul2 sama dg itu, tdk lebih tdk kurang!!
Kalo kita renungkan, ada 3 penyembab atau jalan sehingga orang kafir bisa menjadi pemimpin di negeri muslim (sesuatu yg diharamkan). Apa saja jalan/sebab itu? Yuk kita uraikan.
Penyebab 1 adalah adanya orang2 muslim yg memilihnya. Sebagai mayoritas, logikanya jika tdk ada kamu muslim yg memilih orang kafir sbg pemimpin/kepala daerah di daerah/negeri dg mayoritas penduduknya muslim, sebagus apapun program yg ditawarkan si kafir ini. Iya kan…?
Penyebab ke 2 yg memungkinkan kafaro menjadi pemimpin di wilayah muslim adalah adanya partai politik yg mencalonkannya. Dlm sistem politik yg berlaku di Indonesia saat ini, calon KDh/Presiden diajukan oleh parpol. Oleh karenanya, jika tdk parpol yg nyalonin si kafir, maka penyebab pertama tdk akan terjadi.. dan semakin ga mungkin si kafir jdi pemimpin kan…? Faktanya, justru ada parpol2 Islam (bahkan mengklaim sbg rumah besar umat Islam) yg justru mengajukan si kafir sbg calonnya. Entah, karena begitu besar atau menggiurkannya kepentingan/keuntungan yg ditawarkan shg pengurus parpol (yg harusnya sangat paham makna Al Quran) justru mengeyampingkan Al Quran?. Bahkan mereka menjustifikasi & mendorong umat utk melakukan sesuatu yg diharamkan dg memilih calon mereka c org kafir tadi???
Penyebab ke 3, nah ini yg jarang umat pikirkan sbg solusi dari kekisruhan ini. Penyebab pertama n kedua bisa ada karena kita “memilih” menggunakan sistem demokrasi yg kufur dan justru mencampakan sistem yg telah ditetapkan Alloh SWT kpd umat Islam agar menjadi umat terbaik.
Sistem demokrasi itu jelas2 bertentangan dg Aqidah. Lho??? Masa sih demokrasi melanggar aqidah??
Islam mewajibkan semua umatnya utk taat dan patuh kepada semua yg telah ditetapkan oleh Alloh dan Rasulnya. Melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Tanpa kecuali, tanpa pilah pilih. Artinya dalam menjalankan hidup dan kehidupan semua pengaturannya harus syariat Islam yg tertuang dlm Al Quran dan Hadish. Dg demikian kekuasaan tertinggi mutlak milik Alloh SWT, sehingga semua hukum yg diterapkan harus mengacu & dan tidak boleh bertentangan dg syariat Islam. Setuju kan? Atau ada yg ga setuju dg ketetapan ini? Kalo ada yg ga setuju -seperti yg sering ditanyakan oleh Uztad Samsul Arifin SBC – “lha sampeyan (muslim) terus mau diatur pake aturan mana/siapa?” Aneh bin lucu kan kalo kita selalu berdoa utk diwafatkan dlm keadaan chusnul khotimah tpi saat hidup emoh diatur oleh aturan (syariat) Islam??.
Lantas salah/jeleknya demokrasi dimana? Sampe2 dinyatakan bertentangan dg aqidah???? Coba pahami apa makna demokrasi? Siapa yg memegang kekuasaan tertinggi dlm demokrasi? Betul jawaban anda, seperti yg pernah kita pelajari di SMP mungkin SD, pemegang kekuasaan tertinggi dlm demokrasi adalah rakyat dan bukan Alloh SWT.
Dalam sistem democrazy ini maka hukum dibuat oleh (para wakil) rakyat “sesuai” keinginan rakyat (sebenarnya sih keinginan yg pya duit/cukong/pemodal alias kaum kapitalis). Sehingga sangat mungkin hukum2 yg dibuat ini tdk sesuai atau malah bertentangan dg syariat Islam. Contoh:
– UU Pornografi yg mengatur ttg pornografi. Pornografi kok diatur, seharusnya dilarang! Jdi seharusnya yg ada adalah UU Anti Pornografi!
– UU ttg minuman keras. Klo ada UU Anti narkoba, knp tdk ada UU Anti Miker?? Padahal jelas2 Miker diharamkan!!
– UU ttg Perbankan justru melegalkan sistem keuangan ribawi (yg haram n sangat besar dosanya) berlangsung secara masiv di negeri kita, bahkan pelaku besarnya adalah negara.
Klo mau ditelisik masih panjang daftar UU kita yg tdk sesuai dg syariah.. yg pada akhirnya akan mengakibatkan kita tdk bisa memeluk Islam secara kaffah…
Itulah buah dri sistem yg bernama demokrasi. Yg memang didesain lebih utk kepentingan cukong/kapitalis asing juga aseng utk bisa terus menjajah kita. Bermain dg system ini sesungguhnya hya ada 2 hasil yg bisa kita dapatkan, yaitu: kalah atau kalah…
Mau terima?? Kalo tdk mau, ya jangan ikutan main. Diam? Juga bukan pilihan!! Trus hrus bgm donk?? Berjuang dan berusahalah agara sistem yg menegakan syariah Islam bisa menjadi kehidupan dan penghidupan kita kembali…
Yok keluar dari comberan demokrasi dan berpindah ke kolam jernih bernama Islam yg in syaa Alloh akan menghantarkan kita kpd kesejahteraan dunia dan keselamatan akhirat.
12 Oktober 2016
Budi Purnomo, KSW #01
Dan berikut ini tulisan Ustadz Shamsi Ali
Nusron Wahid antithesis NU
Imam Shamsi Ali*
Saya cukup terkejut dan sangat terusik dengan sikap Nusron di acara ILC TVOne semalam. Baik pada sikap pikirannya maupun sikap bahasa lisan dan tubuh (body language) menunjukkan kerendahan yang sangat. Ketidak mampuan seseorang menyampaikan pemikiran secara elok, walaupun seandainya benar, menunjukkan adanya sesuatu yang salah. Apalagi ketika pemikiran atau pemahaman itu memang, selain ignorant, arrogant, juga memang “blunder”.
Saya banyak tidak setuju dengan pola pikir kaum liberal. Karena liberalisme berbeda dengan logika dalam pemikiran. Logika itu sehat dan perlu. Tapi liberal bisa berarti ketidak inginan terikat dengan batas-batas keagamaan, bahkan yang disetujui sebagai batas fundamental sekalipun.
Saya sangat logis. Bahkan menganggap bahwa agama dan iman sekalipun itu memiliki basis logika yang kuat. Tapi tidak berarti batas-batas atau dalam bahasa agama “huduud” harus diinjak-injak atas nama logika. Karena selogis apapun pemikiran manusia, niscaya memiliki keterbatasan, bahkan cenderung menjadi perangkap kekeliruan. Oleh karenanya memang pada akhirnya, logika tetap harus dipergunakan pada batas-batas yang telah ditetap oleh ketetapan langit (wahyu).
Yusron tidak saja liberal. Tapi karakter yang mengekpresikan liberalisme dia dibangun di atas karakter yang tidak berakhlak. Kata-kata kasar, mimik wajah, mata terbelalak, dan jelas menampakkan emosi yang tidak terkontrol, semuanya menunjukkan siapa Yusron sesungguhnya.
Sejujurnya saya tidak terlalu kenal Yusron. Dan saya juga tidak terlalu ingin membuang energi, waktu dan pemikiran untuk membicarakannya. Karena sesungguhnya tidak terlalu bermutu untuk dibahas. Tapi dalam acara ILC itu terdapat beberapa hal yang sangat menggelitik, bahkan mengusik intelektualitas, bahkan sensitifitas iman saya.
Pertama, pernyataan bahwa yang berhak memahami Al-Quran adalah hanya Allah dan RasulNya. Pernyataan ini sangat paradoks dengan posisi keagamaan Nusron yang selau mengatakan bahwa teks-teks agama itu harus dengan logika. Bahkan yang menentukan kebenaran adalah logika manusia, seperti pada posisi dasar liberalisme.
Kedua, pernyataan di atas sejatinya bertentangan dengan tujuan dasar Al-Quran untuk dipahami oleh manusia: “inna anzalnaahu Qur’aanan Arabiyan la’allakuk ta’qiluun”. Intinya Al-Quran diturunkan untuk dipahami. Dan kalau hanya Allah dan RasulNya yang paham makna Al-Quran, untuk apa diturunkan kepada manusia? Apalagi jika memang Al-Qur’an itu ditujukan sebagai petunjuk (hudan linnas). Bisakah manusia menjadikannya sebagai manual hidup jika tidak memahaminya?
Ketiga, pernyataannya tentang pernyataan Ahok bahwa hanya Ahoklah yang paham. Nusron secara tidak langsung mengatakan semua orang harus menutup telinga dan mata dari sikap dan kata Ahok. Ada dua kemungkinan dalam hal ini. 1. Boleh jadi karena kebutaan dan ketulian Nusron menghendaki semua manusia buta dan tuli. Sehingga tidak perlu lagi atau berpura-pura tidak tahu lagi apa yang diucapkan oleh Ahok. 2. Boleh juga karena Yusron sudah menempatkan Ahok pada posisi Tuhan yang firmanNya absolut dan hanya dia yang paham.
Keempat, penampilan Yusron dengan mimik wajah yang emosional, kata-kata yang tidak terkontrol, nampaknya memang satu karakter dengan orang yang ingin dimenangkannya. Tampil dalam setting diskusi, apalagi disiarkan secara langsung le seluruh pelosok tanah air melalui televisi nasional, sangatlah tidak pantas dengan emosi yang tidak terkontrol. Biasanya sikap seperti itu sekaligus menjadi ukuran kedalaman ilmu dan kematangan kejiwaan seseorang.
Kelima, mungkin yang paling mengusik adalah sebagai kader NU (semoga benar) sikap Yusron adalah antithesis dari karakater NU yang tradisinya menghormati para ulama. Ketika Yusron berteriak-teriak menunjuk-nunjuk ulama, langsung atau tidak, maka dalam bahasa jalanan itu namanya “kurang ajar”.
Oleh karenanya semua pihak harus mencari cara agar Yusron ini tidak lagi mengulangi. Perbedaan pendapat okelah. Saya mendukung adanya perbedaan pendapat, termasuk dalam penafsiran teks-teks agama. Tapi hendaknya dilakukan pada batas-batas syar’i, dan yang lebih penting dibangun di atas dasar “khuluqi”.
Wallahu al-Muwaffiq ilaa aqwamit thoriq (penutup ala NU).
New York, 12 Oktober 2016
Shamsi Ali
* Presiden Nusantara Foundation & Muslim Foundation of America, Inc.
Bagaimana pendapat Warga semuanya? Please give us feedback. JazaakALLAAH
By : +2685624210872 ( Ageng Erucakra )
MTR #22 Jabar
Saya pernah berfikir berapa ya besaran kuantitatif pahala dan siksa.
Apakah diukur dalam jumlah angka matematik misalnya dosa bohong (-) 20 poin.
Atau diukur dalam berat misalnya mencuri (-) 11 kg.
Sebaliknya baca Al Quran (+) 400 poin atau berinfak (+) 200kg.
Tanya sana sini, cari kitab sana sini ga pernah nemu jawabannya.
Kalau semua diukur dalam nilai kualitatif bagaimana cara hitungannya sampai nanti keluar hasil hitung kita dapat positif berapa atau negatif berapa di yaumil akhir.
Tapi saya sadar tampaknya besaran pahala dan siksa itu tidak menggunakan standar dunia tetapi standar penghitungan akherat.
Kebayang kalau menggunakan standar kuantitas dunia pasti kehidupan ini menjemukan sekaligus mengerikan.
Dosa mencopet (-) 100.
Pahala senyum (+) 25.
Jika seorang pencopet beraksi dua kali sehari dia tinggal tersenyum 10 kali sehari agar mendapat pahala plus.
Tidak shalat berdosa (-) 5000
Membaca al Quran berpahala (+) 3000.
Jika terlewat sekali sholat maka tinggal baca al Quran dua kali sudah dapat untung nilai pahala.
Kebayang manusia akan menganggap enteng dosanya karena sudah tahu bagaimana menutupnya.
Contoh lain.
Jika membunuh kena dosa (-) 5000.
Bersedekah bernilai pahala (+) 2500
Maka dunia akan dipenuhi pembunuh pembunuh dermawan.
Mengerikan sekali. Tetapi yang sangat mengerikan adalah dunia akan dipenuhi oleh orang orang yang menganggap enteng dosa. Toh nanti tinggal ditutup.
Kejahatan akan meningkat tajam.
Kehidupan berjalan tak normal lagi.
Kota berubah jadi hutan ketika yang cerdik dan kuatlah yang bertahan.
Subhanallah…luar biasanya keadilan Allah…
Itulah sebabnya besaran pahala tak pernah diketahui manusia.
Supaya manusia berakal dan beriman.
Jika manusia berakal dan beriman mereka akan takut melakukan maksiat dan akan sibuk menjadi mahluk yang taat.
Jika dia tak tahu akan selamat atau celaka
Maka manusia beriman akan sibuk memenuhi kas positifnya dan bukan menjebol defisit bekalnya.
Sibuk mengejar dan.mengumpulkan amal yang membuatnya diridhoi Sang Pencipta
Bukan sibuk maksiat menjadi hamba setan celaka
By : Anang Sujana ( +6282150024999 )
MTR #22 Jabar
Menunggu sahabat sedang bercengkrama tentang kekecewaan pada sahabat lainnya, ku biarkan diriku pindah ke ruang sebelah dan
memandangi liuk keemasan sebatang kara arwana yang ditemani 50 an ikan kecil beserta getaran kecemasanya.
Ikan kecil itu sadar bahwa kapanpun hidupnya bisa berakhir, mirip dengan seseorang yang tervonis pindana mati yang dimana banding, grasi dan PK enggan dihadirkan sekalipun untuk menengoknya.
Ikan dan narapidana itu mungkin sekali berdoa setiap saat agar hidupnya lebih lama, tepatnya hidup lebih lama dalam ketakutan.
Dalam skala berbeda apa yang terjadi di dalam akuarium dan dibalik jeruji tidak ada bedanya dengan kita semua yang terpenjara dalam dunia dan terkerangkeng dalam tubuh ini.
Pertanyaannya berapa banyakkah dari kita yang sadar bahwa kematian bisa menjenguk kita kapanpun?
Sadarkah kita, bahwa kita semua ini telah di vonis mati dan tanpa pernah tahu kapan eksekusi itu akan dilakukan.
Setiap hari kita melihat atau mendengar orang lain meninggal, namun kita merasa itu hanya akan terjadi tidak dalam waktu dekat.
Kita melihat bayangan malaikat pencabut nyawa seperti arwana dan algojo ketika usia uzur atau dalam kondisi kesehatan yang kritis.
Kematian adalah Guru besar, ia mengajarkan ketidakkekalan dan banyak hal lainnya, sayang tidak banyak yang mau dan siap menghadapinya, kebanyakan kita takut atau menyangkalnya.
“Nanti kalau saya mati bagaimana dengan kehidupan anak dan istri saya?” seorang sahabat bertanya
Belum saya sempat menjawab teman lain langsung menyahut “Jangan berperan menjadi Tuhan ya, bahwa kehidupan orang lain itu tergantung kamu, ada banyak janda dan yatim yang baik-baik saja setelah ditinggal suami dan bapaknya, bahkan ada yang lebih baik hidupannya”
Kematian kita takuti karena kita tidak siap menghadapinya, kita merasa tidak cukup bekal yang akan dibawa.
Wajar sekali, karena setiap hari manusia mengumpulkan sesuatu yang akan ditinggal kelak, sementara jarang Ia mengkoleksi sesuatu yang akan dibawanya
Disisi lain ketakutan ini bertambah dengan banyaknya memori bernada seram tentang apa yang terjadi setelah seseorang meninggal.
“Mati selagi hidup” ini adalah istilah dalam praktiknya mungkin sama seperti apa yang diucapkan Nabi
Muhammad dalam hadis “Matilah sebelum kematianmu tiba”
Seorang Guru pernah berkata” Bagaimana mungkin kita mengharap bertemu dengan Pencipta setelah kematian,sementara selama hidup kita tidak bisa menenumuiNya, bahkan tidak mau mengambil langkah kearahNya.”
Bagi kebanyakan orang jangankan belajar kematian, membayangkan saja sudah membuat perasaan kacau,
Namun kebalikan bagi sedikit orang, yang di dunia Sufi disebut Kekasih Allah, setiap saat mereka rindu untuk pulang dan bertemu denganNya.
Kerinduan inilah yang perlu dibangkitkan, dengan cara belajar ke dalam sehingga kesadaran bangkit dan membangunkan jiwa kita yang tertidur.
Alangkah anehnya kita belajar begitu banyak hal yang tidak pasti dan tidak menghiraukan satu-satunya Guru yang pasti menjenguk kita semua yaitu kematian.
Mengapa COPAS dari GRUP SEBELAH begitu menarik…
Mengapa COPAS dari TETANGGA SEBELAH begitu mempesona
Karena…
Semangat menyampaikan kebaikan kepada orang lain dengan harapan mendapat pahala atau kebaikan.
Tidak mudah menulis sendiri, dengan pemikiran sendiri, atau hasil membaca sendiri.
Sehingga….
Saat mendapatkan postingan di media sosial, seakan mendapat karunia besar, laksana durian runtuh.
Begitu dibaca sekilas dan dinilai sangat baik untuk disampaikan ke yang lain, seketika itu juga COPAS…FORWARD….
Apa yang berikutnya terjadi…
– Di media sosial berseliweran copas-copas tausiyah tausiyah, kisah kisah heroik, teori-teori, sampai gossip-gosip, yang merebak ke sana dan kemari, bahkan tidak sedikit sampai kembali ke yang pertama kali posting.
– Karena semangat berbagi kebaikan begitu besar, banyak yang ASAL COPAS, tidak teliti dalam membaca, sehingga berseliweran juga tulisan tulisan yang perlu dikritisi sudah terlanjur merebak ke mana-mana.
– BUDAYA LATAH akhirnya merebak, seseorang menyampaikan kebaikan begitu mudah, tinggal klik-klik-klik…akan tetapi tidak diikuti dengan usaha menjalankan kebaikan yang disampaikan.
– Tidak sedikit yang menyesal setelah menyadari ketidak cermatannya dalam membaca, belakangan diketahui yang di COPAS salah, dan sudah terlanjur merebak.
Ada kalimat indah yang baik untuk direnungkan….
Nasehat itu kalau asalnya dari HATI akan sampai ke HATI…
PESAN MORAL….
Berhati-hatilah saat akan copas.
Semoga bermanfaat…
Bandung, 9 Oktober 2016
Suharjono Harjodiwiryo
Oleh Samsul Arifin, KSW #29 Jabodetabek
WA KSW 0811-113-139
Sudah lama saya tidak menampilkan kemampuan saya sebagai seorang magician, bahasa keren dari tukang sulap.
Hehehe..
Iya, saya sudah lama belajar seni sulap. Berguru kesana-kemari untuk mendalami trik-trik sulap, baik yang tradisional, sampai yang kesan modern seperti mentalist dan lain-lain.
Yang paling saya suka adalah Impromptu Magic, yaitu seni sulap menggunakan alat-alat apa saja di sekitar kita. Untuk memberikan kesan super kerreen karena tanpa persiapan. Padahal, kita sudah lama latihan keras untuk membuat tangan-tangan menjadi sangat terampil menyembunyikan triknya.
Bahkan saking cintanya pada atraksi magic tersebut, program pengembangan diri dan bisnis yang pertama kali saya buat untuk umum, saya beri nama FIND THE MAGIC IN YOU. Pada program inilah Ustadz Felix Siauw menjadi team saya. Dan Mas Jamil azZaini pernah mengundang saya untuk membantu mengembangkan kinerja teamnya.
Saksilan dan share juga video-video ini ya..
Saya ingat, terakhir saya menampilkan kemampuan magic modern ala “mentalist” saya di depan umum pada Program Anatomi Hidup Berkah, khusus untuk team internal kami pada Tahun 2009 yang lalu.
Sudah lama sekali ya..
Tradisional magic yang sering disebut debus juga saya kuasai, dan saya tampilkan pada program MLC. Anda yang pernah ikut MLC, saya bekali “senjata” yang disimpan di dompet untuk menakut-nakuti Mas DeCi yang datang menggertak Anda. Masih ada kan di dompet Anda?
Alhamdulillaah..
Saya menguasai banyak trik sulap, termasuk mengadakan uang. Atau mengubah uang pecahan seribuan menjadi pecahan berapa saja, bahkan pecahan tertinggi, seratus ribuan. Sebagai senjata rahasia ketika suatu saat diperlukan.
Karena beberapa hari belakangan ini santer pemberitaan atraksi sulap termahal sejagad yang dipertontonkan oleh Taat Pribadi, tak usah disebut Dimas Kanjeng ya..
Saya jadi pengen menampilkan kemambuan saya men-silep mate banyak orang dengan kemampuan “magic” saya.
Pada Hari Rabu, 5 Oktober 2016 kemarin, sebelum saya memulai program Mengatasi Kemandegan Bisnis dan Kehidupan di Hotel Santika Surabaya, saya mengajak peserta untuk beratraksi sulap bersama saya.
Alhamdulillah.. Atraksi yang “tanpa persiapan” itu berjalan lancar. Dan bisa meyakinkan peserta bahwa Taat Pribadi hanyalah seorang tukan sulap yang berhasil mengelabui para moron.
Pada pertunjukan saya kemarin, saya ceritakan bahwa magician di tv-tv semunya adalah pekerja seni, yang pintar story telling. Selain keterampilan tangan dan bantuan alat, para tukang sulap itu membungkus triknya dengan stroy telling.
Nah.. TP adalah tukang sulap yang membungkus triknya dengan spiritual story telling. Spiritual Story Telling adalah level tertinggi untuk membuat seseorang percaya pada apa-apa yang dilakukan tukang sulap.
TP adalah tukang sulap yang berhasil mengelabui mereka, para moron yang terjangkit penyakit fool & greedy. Mereka yang lupa bahwa Money is result, uang adalah hasil dari pertukaran energy (value creation). Hanya para moron yang meyakini yang bisa muncul dari jubah tulang sulap.
Saya senyum-senyum membaca postingan-postingan tentang Taat Pribadi yang menggunakan pendekatan aneka ilmu. Mulai dari aqidah, klenik, sihir sampai teori fisika kuantum.
Kami sekeluarga pencinta seni sulap. Suatu ketika kami sekeluarga pernah terpingkal-pingkal di mobil ketika mendengar seorang Ustadz di sebuah radio yang mencontohkan Deddy Corbusier, Master Limbad dan magician lainnya sebagai contoh tukang sihir.
Kena dech sang ustadz..
“Saya mau nimbrung biasa dgn cara yg nyeleneh. Tulisan bisa berpindah atau digandakan (sms / whats app) dgn bantuan alat. Suara dari jauh bs terdengar (telepon) pakai alat. Nah menggandakan uang atau memindahkan uang juga bisa dilakukan dengan menggunakan alat. Biasanya disebut alat sulap”
By Iwel Sastra, FSS
“TP adalah tukang tipu”
By Limbad, Pos Kota
Beruntung Mbak Lubeca bukan moron, sehingga nggak kena tipu sama si TP
”Aniway.. Waktu saya saya dulu galau banyak utang sempat di tawarin ke dimas kanjeng lho.. Mahar 3 jt dapatnya 800 jt. Hehehe”
By Lubeka, MTR #05 Samarinda
Ternyata betul bahwa problem keuangan akibat mempertahankan kebiasaan berutang akan membuat orang cerdas dan waras menjadi moron yang mudah tertipu. Baik tertipu oleh tukang sulap, maupun tertipu karena tukang rangkai business opportunity berkedok syirkah.
Hehehe…
Anda bukan para moron kan?
Yuk belajar keuangan yang benar agar tidak kena tipu pada program ini ya:
Jumat minggu yang lalu, pada saat pembahasan tentang GADAI
Ada diskusi yang menarik, terkait dengan jaminan hutang.
Pertanyaannya :
“mengapa perawatan dan pemeliharaan jaminan ditanggung oleh yang memberi hutang ?”
“Bukankah yang memberi hutang sudah membantu ?”
“Kok malah yang memberi hutang harus repot lagi mengeluarkan beaya untuk pemeliharaan ?”
Karena pembahasan fikihnya memang seperti itu, maka saat itu jawabannya sederhana…
“Kalau tidak mau repot dengan pemeliharaan atau perawatan, …ya nggak usah minta jaminan…”
Jawaban ini kelihatan sederhana, tetapi membangkitkan semangat untuk mencari HIKMAH di balik peristiwa TIDAK MEMINTA JAMINAN.
Beberapa hikmah yang sempat saya renungkan diantaranya…
Hikmah dari sisi yang memberi hutang :
– Mendapatkan VALUE yang lebih tinggi, perjuangan yang lebih tinggi, karena benar benar BERPISAH sementara dengan harta atau uang yang selama ini ada pada dirinya. Sedangkan jika meminta jaminan, sesungguhnya dia TIDAK BERPISAH dengan hartanya, karena ada jaminan.
– Melatih dirinya untuk berpisah dengan materi,
– melatih dirinya untuk tidak terikat dengan materi
– melatih dirinya untuk menyandarkan urusan materinya kepada Allah
– melatih tawakal kepada Allah
– Implementasi terhadap keyakinan bahwa semua milik Allah
– Dan sekiranya karena satu dan lain hal yang menerima hutang tidak bisa mengembalikan, maka dia punya kesempatan emas untuk membebaskan hutang tersebut, sehingga VALUE terhadap harta yang dititipkan Allah kepada dirinya menjadi sangat tinggi (hartanya sangat bermanfaat).
Hikmah dari sisi penerima hutang :
– Karena tanpa jaminan, maka asset penerima hutang tidak berkurang, terlebih jika asset tersebut adalah harta yang produktif. Harta produktif yang tetap ada padanya akan membuat dia lebih mudah untuk mengembalikan hutang.
– Dia sedang mendapatkan TAULADAN yang baik dari pemberi hutang yang tidak meminta jaminan, sehingga pada saat dia punya harta dan ada orang lain yang membutuhkan pinjaman maka dia akan melakukan hal yang sama, MEMINJAMKAN UANGNYA TANPA MEMINTA JAMINAN.
Semoga bermanfaat
Bandung, 9 Oktober 2016
Suharjono Harjodiwiryo
Bismillaahirrohmaanirrohiim. 1) Pedukunan di Indonesia di antaranya, diduga sudah kumplit. Pedukunan hadir pada hampir semua pori-pori kehidupan dan area serta waktu, mulai dari tingkat pribadi, keluarga, tetangga, masyarakat, ke-RT-an hingga tingkat Istana Negara, termasuk pada sistem pendidikan, siang dan malam. Kita ambil salah satu contoh di tingkat nasional di istana negara yang diperankan oleh Jokowi and Crew, “bahwa istana negara menganut paham klenik, dengan bukti menghadirkan kereta dari purwakarta yang dikeramatkan oleh sejumlah orang pada momentum HUTRI KE-71”.
2) Dukun dan perilaku pedukunan, sebenarnya bisa dipatahkan, dengan ilmu dan ketauhidan serta berani mengomunikasikan, sehingga cara itu bisa diklaim sebagai upaya perlawanan terhadap teori dan praktik pedukunan. Contoh: Seorang pawang hujan bisa digagalkan dan curah hujan tetap mengguyur pada saat pawang melarang hujan turun, karena pawang menggunakan teori pedukunan. Demikian pula dukun yang bertameng samuray yang bertukiskan huruf-huruf Arab. Bahkan dukun yang berhasil menguasai opini publik dengan kepiawaiannya mencetak sejumlah tumpukan uang tanpa alat digital pencetak uang.
3) Sejumlah orang sering menyelipkan kalimat, “bahwa ujian ummat islam di antaranya harta, tahta, wanita, dll”. Kalimat itu seolah-olah hanya dialamatkan kepada laki-laki dan seolah menjadi petaka yang menakutkan. Faktanya, perempuan pun diuji oleh laki-laki, termasuk perempuan juga diuji oleh tahta dan harta. Padahal, laki-laki dan perempuan bisa terhormat karena pasangannya atau bisa jadi terhina, demikian pula dengan harta dan tahta.
4) Rosululloh shollallòhu ‘alaihi wasallam, termasyhur hingga akhir zaman dalam semua sepak terjangnya, di antaranya karena kinerja dakwah kenabian beliau ditopang oleh ketulusan cinta dan tauhid serta kedermawanan salah seorang isterinya “Ibu Khodijah Al-Kubro” rodhiyallòhu ‘anhà. Seandainya Ibu Khodijah tidak tulus cinta kepada Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthollib, tidak bertauhid, dan kikir, “bisa dibayangkan, seperti kharisma kinerja kenabian beliau?”.
5) Ummat Islam wajib berupaya untuk mendapatkan harta, tahta, termasuk pasangan, dengan cara yang sesuai petunjuk ilmu dan didasari tauhid yang benar, dengan target untuk mengakkan pesan Alloh ‘azza wajalla di muka bumi. Jika tidak, ummat Islam bisa kalah dalam beberapa titik bahkan pada semua titik strategis oleh AhoK dan Hari Tanu Cs, walaupun dan padahal mereka kafir. Kecuali, jika mereka bertaubat dengan cara menjadi muslim yang benar, seperti Khoirul Tanjung Cs. Termasuk contoh yang indah, yaitu yang diperankan oleh Almaghfurlahù Muhammad Fakhrul Akbar (salah seorang anak Ustadz Hamim Ruba’i) yang berhasil meyakinkan diri dan keluarga serta mitranya, karena ia berani mempertanyakan status halal tidaknya harta yang diberikan oleh beberapa pihak kepadanya walaupun harta itu sebagai haknya. Interaksi birokrasi dan politik serta ekonomi yang diperankan oleh salah seorang anak Ustadz Hamim Ruba’i ini sangat jelas mengingatkan dan mengkritik sikap siapa pun yang asal-asalan dalam meraih Kekayaan, pangkat, jabatan, dll.
6) Ummat Islam harus peka juga, agar tidak gagal tauhid. Karen, pada buku paket pelajaran IPA, pada sekian tahun yang lalu “tertulis”, _”bahwa matahari adalah sumber energi; air adalah sumber kehidupan; …”._Jika kalimat tersebut mengikat kita termasuk keluarga dan keluarga besar lembaga pendidikan serta negara secara makro, kemudian dibiarkan dan tidak dikoreksi serta tidak diberi solusi, maka kalimat kunci tersebut sudah menyeret manusia untuk menempatkan STATUS ALLOH ‘AZZA WAJALLA BERADA DI BAWAH STATUS MATAHARI DAN AIR SERTA MAKHLUQ LAINNYA. Bukankah sumber segala-galanya hanyalah Alloh ‘azza wajalla? Matahari dan Air adalah di antara ciptaan Alloh yang melahirkan energi dan kehidupan.
7) Jika NKRI sudah melepaskan dirinya dari Sistem Alloh ‘azza wajalla, maka Alloh pun berlepas diri dari siapa pun yang merasa tidak perlu kepada Alloh. Dan NKRI tidak ubahnya, kecuali ibarat sarang labah-labah yang rapuh adanya alias tidak memiliki daya tahan walaupun hanya satu jam saja. Tetapi, kekafiran dan syahwat kekafirannya tetap di-ACC oleh Alloh sesuai keinginan manusia itu sendiri. Allòhu Akbar. Walillàhil hamd. Sampaikan!
*Disarikan dari Kajian Shubuh Sabtu, 29 Dzulhijjah 1437 H/01 Oktober 2016, di Musholla Al-Falah Jl. Puri Dago Timur I Kel. Sukamiskin Kec. Arcamanik Kota Bandung 40293, Pukul 04:35 – 06:00 WIB. Imam Sholat Shubuh dan Nara Sumber: Dr. H. Iskandar Mirza, M. Ag. Penyunting, Editor, merangkap Mustami’: Badrudin Abu Rusydi??