Bersahabat dalam Dakwah, MTRCare Bogor melakukan penyemprotan disinfektan di Kel. Tegallega, Bogor bersama Satgas COVID-19.
@DennyMagna | MTR Bogor Raya||
Pegiat Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR) Daerah Bogor melakukan aktivitas social MTRCare Lawan Corona! Dalam kegiatan tersebut, mereka melakukan penyemprotan disinfektan di berbagai masjid, kantor polisi, sekolah, Rumah Sakit Rujukan dan sarana umum lainnya.
“Aktivitas social ini merupakan Program dari MTRCare dan perijinannya melebur dengan jadwal SATGAS Penanganan COVID-19 Kota Bogor yang jatuh hari ini, Senin (4/5/20) setelah waktu dzuhur, di Kelurahan Tegallega, Bogor Tengah,” papar Denny Maqna, Pegiat MTR Daerah Bogor, kemarin.
Latar Belakang MTRCare adalah kepedulian terhadap keadaan ummat dan peduli terhadap masa depan negeri ini. Untuk itu MTR melalui MTRCare berkomitmen untuk selalu andil bersama-sama #Lawan Corona! Dalam operasionalnya, yang bergerak di lapangan adalah Tim Reaksi Cepat & warga MTR.
Selain dalam bentuk penyemprotan disinfektan, aksi MTRCare juga dibarengi dengan membagikan “Buku MERAH MTR”. Sebanyak 300 eksemplar buku dibagikan kepada petugas Satgas di lapangan seperti petugas kesehatan, kepolisian dan masyarakat yang terlibat.
BUKU MERAH MTR adalah buku keluaran komunitas MTR yang mengungkap kesalahan-kesalahan fatal pengusaha dalam mengembangkan bisnisnya melalui UTANG. Melalui buku merah tersebut, MTR Daerah Bogor menyampaikan dakwah tentang bahaya utang kepada segenap umat.
Komunitas MTR Daerah Bogor beranggotakan ratusan pegiat. Namun menyesuaikan dengan situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sedang diterapkan Pemerintah untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus covid-19, dalam aktivitas MTRCare tersebut hanya beberapa orang Pegiat saja yang terlibat di lapangan. Selebihnya berpartisipasi melalui kontribusi Buku Merah MTR dan memberikan ratusan pak takjil untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dulu aku anggap masalah kehidupan adalah sesuatu yang lumrah. Karena semua orang juga punya masalah. Dulu pemahamanku mengembangkan usaha dengan modal utang, juga lumrah. Karena aku lihat kebanyakan orang juga demikian. Pengusaha mana yang mengembangkan usahanya tanpa utang?
Selama menjalani usaha, aku rasa ya lumrah-lumrah saja bila banyak permasalahan. Dari uring-uringan karena target tidak tercapai, pembayaran telat melulu, dikhianati mitra kerja, harus kerja dari pagi hingga larut malam, dan masih seabrek permasalahan lain yang aku hadapi.
Saat itu aku tidak tahu bahwa di balik semua yang kuhadapi itu, ternyata ada simpul permasalahan yang selama ini tidak kupahami sebagai masalah. Boro-boro tahu cara menyelesaikannya, pakam bahwa di dalam pemahamanku ada masalah saya nggak tahu.
Alhamdulillah Qadharullah, April 2017 aku diketemukan dengan komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR). Dari program MTR tersebut , aku baru sadar dari ketidaktahuan yang panjang. Ternyata pemahamanku tentang bisnis dengan utang itu adalah salah besar.
Disinilah aku tahu simpul permasalahan dari carut marut bisnis dan kehidupan yang kujalani selama ini. Berlahan aku belajar. Dan satu persatu, simpul bundet tersebut mulai terbuka.
Untuk yang mengalami permasahan seperti saya, Anda beruntung. Saat ini sudah ada BUKU MERAH MTR berjudul “Kesalahan-kesalahan Pengusaha Mengembangkan Usaha dengan Utang.” Buku ini akan memandu pemahaman Anda dari awal.
Bagi saya, buku ini sangat penting. Di dalamnya banyak sekali kemiripan studi kasus para pengusaha dengan permasalahan yang aku hadapi.
Alhamdulillah, melalui BUKU MERAH MTR tersebut, sudah banyak sahabat pengusaha dan masyarakat umum yang mendapatkan pemahaman baru dan menyadarkan mereka dari kekeliruan cara pandang tentang utang selama ini. Melalui BUKU MERAH tersebut, mereka menjadi paham bahwa utang adalah sumber kekacauan ekonomi bisnis dan keluarga.
Sebagai bukti dari keberhasilan menerapkan ilmu yang ada di BUKU MERAH MTR, alhamdulillah, sejak 2017 aku sudah terbebas dari Utang. Rasanya legaaaaa sekali.. Dampak baik lainnya, pengembangan bisnis menjadi lebih focus, terukur dan terarah. Bahkan lebih dari itu, hal ini juga memberikan pengaruh positif terhadap keharmonisan keluarga kami.
Benar adanya, membangun usaha tanpa utang adalah kunci sukses seorang pengusaha. InsyaALlah Juni 2020 ini, kami akan launching satu kegiatan usaha baru kami yaitu Environment & Occupational Health Laboratory. Kegiatan laboratorium ini dibangun dan dikembangkan dengan menerapkan standar mutu internasional ISO 17025.
Untuk Anda saudaraku semua, aku anjurkan untuk memiliki BUKU MERAH MTR. Temukan cahaya dari kebuntuan penyelesaian persoalan kehidupan dan bisnis Anda. BarrakaAllahu Lanna Wallakum Jamii’an.
زَكَاةُ الْفِطْرِ فِي الاِصْطِلاَحِ: صَدَقَةٌ تَجِبُ بِالْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ Zakaatul-Fithri secara istilah adalah shadaqah yang wajib ditunaikan dalam bulan Puasa Ramadhan dengan sebab ‘Idul-Fithri. [Kitab Syarh Az-Zayla’iy, 1/306].
Adapun Kewajiban Zakaatul-Fithri adalah berupa bahan makanan pokok lazim yang mengenyangkan di masing-masing negara. Hal ini dilandasi oleh Al-Hadits Asy-Syarif Mutawatir bil-lafzhi wa bil-ma’na berikut:
صَاعًا مِنْ طَعَامٍ “Sebesar satu sha’ dari makanan pokok”
[Al-Hadits Asy-Syarif Mutawatir Riwayat Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, Ath-Thahawiy, Abu Dawud, At-Tirmidziy, An-Nasaiy, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, Al-Bayhaqiy, Imam Malik, Ath-Thabaraniy, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaymah, Abu Nu'aim, Ibnul-Jarud, Ad-Daruquthniy, Ad-Darimiy, Ibnul-Ja'd, Abu 'Amar, Dhiya Al-Maqdisiy, Asy-Syajriy, Ibnu Zanjawih, dan Abu ‘Awanah serta Shahibul-Ma’ajim wal-Amaliyat].
Betapa banyak para Imam Perawi Al-Hadits Asy-Syarif yang memastikan dan membatasi bahwa Zakaatul-Fithri wajib berwujud bahan makanan pokok biji-bijian lazimnya yang mengenyangkan di setiap negara masing-masing. Hal itu bisa berupa gandum, kurma, jewawut, beras, Jagung, dan sebagainya.
Sehingga bila ada pendapat yang lain yang membolehkan mewujudkan Zakaatul-Fithri berupa uang, maka dengan sendirinya tertolak dan lemah. Meski mereka memiliki argumen dalil dan terbukti dalil yang mereka pakai sangat lemah haditsnya.
Berapa Takaran Timbangan Bahan Makanan Pokok Zakaatul-Fithri?
Sesuai kutipan Sabda Rasulullah Saw Mutawatir di atas yang sangat jelas bahwa besar takaran/timbangannya adalah Satu Sha’.
Dengan perhitungan cermat yang dilakukan oleh Asy-Syaikh ‘Allamah ‘Abdul-Qadim Zallum Rahimahullah sbb:
المد = 1/3 1 رطلاً بغدادياً. المد = 3/1 1 رطلاً× 408 غرامات وزن الرطل = 544 غراماً وزن المد من القمح. الصاع = 4 أمداد كيلاً. الصاع 4 أمداد × 544 غراماً وزن المد= 2176 غراماً وزن الصاع من القمح، أو = 2.176 كيلو غرام وزن الصاع من القمح.
1 Mud = 1 1/3 Rithl Baghdad. 1 Mud = 1 1/3 Rithl x 408 Gram berat Rithl = 544 Gram untuk 1 Mud Gandum. 1 Sha’ = 4 Mud takaran. 1 Sha’ = 4 Mud x 544 Gram berat Mud = 2.176 Gram berat Sha’ Gandum atau 2,176 Kg.
Jadi 1 Sha’ Gandum itu setara 2,176 Kg Gandum. [Kitab Al-Amwaal fii Dawlatil-Khilaafah, 39]
Lalu bagaimanakah dengan takaran 1 Sha’ Beras berapa Kg ketemunya?
Menurut Prof. Mahmud Yunus dalam kitabnya Al-Fiqhul Wadhih Juz 2 hal. 10, bahwa 1 sha’ Beras itu setara dengan 2187,5 gram beras. Beliau menyatakan :
ويخرج المزكي عن كل شخص صاعا من الأرز وقدره كيلوان ومئة وسبعة وثمانون ونصف قرام
“Wa yukhriju al-muzakkiyyu ‘an kulli syakhsin shaa’an min al aruz, wa qadruhu kiluwaani wa mi’atun wa sab’atun wa tsamaanuuna wa nishfu qiraamin”
“Muzakki mengeluarkan (zakat fitrah) untuk setiap jiwa sebesar satu sha’ beras, dan kadarnya (beratnya) adalah dua kilogram dan seratus delapan puluh tujuh setengah gram ( 2187,5 gram)” [Mahmud Yunus, Al-Fiqhul Wadhih, Juz 2/10].
Jadi kesimpulannya, ahsan wa afdhal untuk Umat Muslim Indonesia yang Zakaatul-Fithrinya dengan Beras dilebihkan takaran beratnya misal dibulatkan ke atas menjadi 2,5Kg perjiwa. Karena kelebihannya pun akan dihitung sebagai Shadaqah dalam Islam.
Saat ini ahsan wa afdhal Zakaatul-Fithri maupun Zakaatul-Maal langsung diberikan kepada para Mustahiq yang tinggal 5 golongan saja;
Faqir.
Miskin.
Muallaf (Baru masuk Islam belum genap setahun Hijriyyah), bila telah lebih dari setahun Hijriyyah bukan Muallaf lagi.
Ibnus-Sabiil (Musafir yg kehabisan bekal, misal Mahasiswa/Mahasiswi di Perantauan).
Fii Sabilillah (Mujahid di medan perang melawan kuffar harbi fi’lan, misal di Palestina).
Adapun yg 3 berikut:
Gharim itu yang menetapkan status Gharim adalah ‘Ummal, Wulat atau Khalifah. Asalnya Gharim itu berasal dari Pengusaha yg murni tertimpa Musibah sbg Ujian Qadha`. Dan bukan dari Pengusaha Bangkrut yang berangkat dari dana Utang Ribawi dan Begaya Hidup Hedonis!
Budak sudah tidak ada, bahkan dihapus dalam Islam.
‘Amiluz-Zakaat itu yang menunjuk dan mengangkat juga ‘Ummal, Wulaat dan Khalifah. Saat ini tidak sah adanya ‘Amiluz-Zakaat. Namun bila menamakan diri Panitia penghimpun dan pendistribusi Zaaatul-Fithri maka Boleh.
Yang wajib diwaspadai adalah Lembaga Zakat dan semacamnya yang menghimpun dana Zakaatul-Maal namun menahannya dengan dalih diputar lbh dulu. Atau diberdayakan dengan dalih yang tanpa dalil Syara’. Mereka telah berani menantang Alah SWT dan Rasul-Nya dengan menahan dana Zakaatul-Maal yang harusnya wajib langsung disegerakan dan didistribusikan kepada 5 Ashnaf/Mustahiq yang tersisa itu. Bukan diberdayakan dulu dengan dalih yang culas dan menipu Allah dan Rasulullah serta Umat Muslim.
Yuk, langsung serahkan zakaatul maal dan zakaatul fithri kepada mustahiq. Jangan kepada lembaha zakaat dan semacamnya. Karena dana zakaat itu aqad Tabarru,ah, bukan mu’awwadah tijaarah.
Demikian, semoga bermanfaat dan semoga mendapatkan pemahaman yang diberkahi ALlah SWT.
Bagi saya BUKU MERAH merupakan cermin dari kesalahan yang tentunya bisa kita perbaiki di masa yang akan datang. Karena kita yang sekarang adalah kita yang terbentuk melalui perjalanan masa lalu, sedangkan kita yang akan datang ditentukan kita hari ini.
Kita yang akan menentukan jadi apa kita selanjutnya. Dan BUKU MERAH (BM) MTR, akan menjadi sahabat dalam perjalanan dan proses menuju kita yang lebih baik. Kita yang menempuh kehidupan penuh berkah dengan keberlimpahan.
Dalam proses tersebut, membaca BUKU MERAH adalah proses yang sangat penting. Banyak pesan kebaikan luar biasa yang terkandung di dalamnya. Pesan yang jarang bahkan mungkin tidak/belum menjadi perhatian komunitas lain sebagai konsentrasi perjuangan. Pesan mengenai perubahan pola pikir dan pola sikap, untuk tidak lagi berutang dalam mengembangkan bisnis.
Karena utang itu adalah membayar kepastian dengan ketidakpastian. Saya sudah merasakan susahnya.
Semua selesai karena iman. Bukan karena kesombongan.
Begitu mudahnya Allah SWT menghentikan aktivitas mahluk ciptaanNya hanya dengan mengijinkan tersebarnya virus Corona…
Kemungkinan kita akan mati karena virus Corona bisa jadi hanya 1%,
akan tetapi kematian itu sendiri akan mendatangi kita dengan kemungkinan 100%
akankah kita lebih disibukkan dengan hal yang kemungkinannya hanya 1% tadi sehingga melupakan hal yang kemungkinannya 100%..??? MIKIR…..!!!
Kita sibuk, khawatir dan panik dengan Corona yang berasal dari Wuhan (made in china katanya??)
Lalu kenapa ditakutkan virus Corona sebagai pencabut nyawa kita? Apa nantinya mati juga akan made in china? MIKIR….????
JODOH, REZEKI dan MATI sudah diatur dan ditetapkan oleh ALLAH SWT.
Ikhtiar boleh tapi jangan memperTuhankan virus. Syarat mati tak harus nunggu sakit.
Tetapi…
kita tidak pernah sibuk, khawatir dan panik dengan virus yang sebenarnya bisa jadi sudah lama menjangkiti kita semua, yaitu virus AL WAHN (cinta dunia dan takut mati)
Takut kepada ALLAH mendatangkan KETENANGAN
Takut kepada selain ALLAH mendatangkan kegelisahan
Jika Allah Subhana wa ta’ala mendatangkan wabah ini sebagai ujian…./ Maka kami memilih menunjuk diri untuk mengambil peran…/ Walaupun itu kecil, hanya nilai manfaat yang ingin kami berikan…..//
Tak menyurutkan langkah kami untuk terus berdakwah …./Walau kondisi di tengah duka wabah …/ Tak menyurutkan Azzam yang telah terhujam kuat…./Tetap bersemangat bahagiakan ummat…//
Kami hanya jiwa-jiwa yang merindu surga…./ Yang selalu mengais pahala untuk bekal ke akhirat-NYA….//
Karena kami meyakini kebaikan yang kami lakukan…./Akan Allah balas dengan kebaikan yang berkelipatan…../ Hanya ikhlas mengharap RidhoNYA sebagai catatan….//
MTR bersama TNI dan POLRI bersatu padu dalam program MTR Care Peduli Pandemic Covid-19
Ingin seperti wortel, telur atau kopi?
@Amir| MTR Jateng||
Ini cerita lama yang sudah beredar luas di kalangan masyarakat. Namun nilainya bagus dan tidak lekang oleh waktu. Kisah tentang seorang anak dan ayahnya yang hidup dalam situasi sangat sulit.
Suatu hari, ayah dan anak itu terlibat dalam sebuah dialog. Begini cerita yang terjadi.
Sang anak bertanya kepada sang ayah, “Ayah, dalam situasi yang sangat sulit seperti ini, kita harus seperti apa?”
Atas pertanyaan anaknya, sang ayah tidak langsung menjawab. Ia malah mengajak sang anak ke dapur di belakang. Di sana, ayah mengambil 3 jenis bahan makanan dan kemudian mengajukan pertanyaan kepada putranya.
“Nak, apa yang ayah pegang ini?”
Jawab sang anak,”Ayah memegang wortel, sebutir telur dan segenggam kopi.”
Lalu sang ayah menuju tempat kompor, menyalakan kedua tungku apinya, dan meletakkan di atasnya masing-masing sebuah panci yang sudah diisi air. Ke dalam panci pertama, ia memasukkan wortel dan telur, dan di panci kedua ia masukkan biji-biji kopi yang ada di dalam genggamannya.
Sementara menunggu panci itu mendidih, sang ayah menoleh kepada anaknya.
“Nak, kita tunggu sebentar ya, amati apa yang akan terjadi pada bahan-bahan yang tadi ayah masukkan ke dalam panci.”
Putranya mengangguk, sabar menunggu apa yang akan terjadi dan menduga-duga apa yang akan disampaikan oleh ayahnya. Kira-kira 30 menit kemudian, sang ayah mematikan api kompor dan meminta anaknya mendekat.
“Kesini nak, ayah ingin menyampaikan suatu hal kepadamu?”
Anaknya mendekat.”Baik Ayah, apa yang ingin ayah sampaikan?”
“Begini nak, kau lihat sendiri, tadi ayah memasukan sebuah wortel, satu butir telur dan segenggam biji kopi kedalam panci. Semua ayah beri perlakuan yang sama. Panci ayah isi air, dipanaskan sampai mendidih, dan ketiga bahan makanan tadi ayah masukkan dengan waktu yang relatif sama.”
Anaknya menggangguk. Lalu sang ayah melanjutkan pembicaraannya.
“Coba perhatikan apa yang terjadi pada ketiga bahan makanan yang telah ayah berikan perlakuan yang sama tadi, Nak..?”
Sang anak menyentuh wortel yang sudah menjadi lunak, memecahkan cangkang telur yang sudah mengeras karena matang dan menengok ke dalam panci berisi kopi yang sekarang berwarna coklat berbau harum.
“Wortelnya lunak, ayah. Telurnya matang, menjadi keras. Dan air yang diberi kopi sekarang coklat berbau harum kopi.”
“Tepat, Nak,” jawab sang ayah. “Wortel yang tadinya keras menjadi lunak setelah ayah masukkan ke dalam air panas. Telur yang tadi cair sekarang malah menjadi keras. Dan biji kopi yang ayah masukkan, meski bentuknya tetap utuh, tapi di dalam air mendidih tersebut mampu mengubah warna airnya menjadi coklat dan memunculkan aroma harum yang menyenangkan siapa saja.”
Sang anak tampak mengerutkan keningnya. “Apa maksudnya, Yah?”
Ayahnya tersenyum dengan sabar, dan pelan-pelan menjelaskan kepada putranya yang belum paham.
“Begini Nak. Tiga bahan makanan tadi kita umpamakan sebagai 3 jenis manusia. Semuanya mendapatkan masalah yang sama, sama-sama sulitnya, dan berlangsung dalam waktu yang sama. Tapi kau lihat, masing-masing memberikan reaksi yang berbeda.”
Sang anak mengangguk, menunggu penjelasan ayahnya selanjutnya.
“Saat ada masalah yang berat, bisa jadi orang yang tadinya kuat menjadi lemah dan putus asa. Sebagaimana yang kau lihat pada wortel tadi. Tapi sebalinya, ada juga orang yang biasanya terlihat lemah, justru menjadi kuat dan percaya diri begitu ditempa permasalahan. Hal itu serupa seperti yang terjadi pada telur.”
Sang anak mengangguk-angguk, mulai paham arah pembicaraan ayahnya. “Lalu bagaimana dengan segenggam kopinya, Yah?”
Gembira dengan reaksi anaknya, sang ayah makin bersemangat melanjutkan penjelasannya.
“Ini yang istimewa. Ada orang yang benar-benar istimewa, saat ditempa persoalan hidup, ia tetap tegar, selalu berbaik sangka dan yang luar biasa, ia juga memiliki kreatifitas tinggi dan tetap optimis dalam berpengharapan.”
Sang anak semakin serius mendengarkan kelanjutan penjelasan ayahnya.
“Tak hanya itu, Nak. Orang ini juga selalu ingin berkontribusi dan memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia selalu memposisikan dirinya menjadi orang yang berupaya memberikan manfaat terbaik kepada orang lain.”
Sang anak tampak berfikir keras, sebelum akhirnya mengangkat kepalanya dengan paras cerah.
“Aku paham maksud Ayah.. Ayah ingin aku seperti kopi, yang tak hanya menjadi semakin kuat Ketika mendapat tempaan, namun juga membuat harum lingkungan dengan kontribusi kita.”
Ayahnya tersenyum lebar sembari menepuk-nepuk Pundak anaknya.
“Baiklah, Yah.. terimakasih filosofi kopinya. InsyaAllah aku akan berusaha menjadi seperti kopi, yang selalu bermanfaat untuk kehidupan.”
Dari cerita di atas, hendaknya kita bisa mengambil hikmah dalam situasi seperti sekarang. Saat kita menghadapi permasalahan wabah penyakit yang belum jelas kapan akan berakhir, sikap apa yang harus kita ambil? Apakah kita hanya akan berdiam diri dan tidak bergerak melakukan sesuatu?
Lakukanlah sesuatu untuk orang lain, untuk masyarakat luas dan untuk bangsa tercinta ini. Jangan pernah berhenti dakwah. Dakwah adalah penyampaian kabar gembira bagi segenap manusia menuju kemuliaan hidup!
Dakwah adalah kewajiban bersama. Dengan dakwah, insyaAllah akan bangkit ketakwaan makhluk hidup kepada sang Khaliq, Allah subhana wa ta’ala. Dan dengan ketaqwaan ini pula, InsyaAllah pertolongan Allah akan hadir, mengangkat musibah pandemic virus covid-19 dari kehidupan kita. Aamiin.
Semoga apa yang telah sahabat donasikan dan upayakan dalam program MTR Care peduli ini, Allah balas dengan balasan kebaikan dan kemuliaan yang lebih baik. Jazakumullah Khairon Katsiron. BaraakaAllahu Lanna Walakum Jamii’an
Cepat untuk bangkit (recovery)?/ Saling menyemangati?/ Tidak memberitakan berita kematian?//
Berita kehidupan dan berita kesembuhan?//
Tetapi kenapa netizen lebih memilih memberitakan berita ketakutan?/Apakah mereka memang ingin membunuh saudaranya sendiri?//
Bisakah?/ mulai saat ini kita hanya memberitakan berita yang penuh harapan?/ berita yang menenangkan?/ berita kehidupan?//
Bisakah kita membantu tim medis yang sudah sedemikian lelah?/ untuk berhenti membuat postingan yang menakut-nakuti?/membuat orang khawatir dan panic?/ Bisakah?//
Tahukah?/bahwa kekhawatiran berlebih akan menurunkan imun tubuh lebih cepat?//
Jangan buat mereka khawatir!/ sehingga terus menerus berbondong ke rumah sakit/ dan makin membuat lelah para pejuang medis//
Kepanikan adalah separuh dari penyakit//
Ketenangan adalah separuh dari obat//
Kesabaran adalah permulaan dari kesembuhan//
Jika kita bisa menikmati setiap proses yang kita lakukan/ dengan diiringi rasa syukur di setiap kondisi apapun/ maka kita akan menemukan kebahagiaan//
Setiap masalah ada jalan keluarnya//
Anda mungkin tidak pernah melihatnya/ namun Allah tahu jalan keluarnya//
Yakin dan percayalah pada-Nya.//
“Dan sungguh kami akan berikan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS: Al-Baqarah 155)