Balada Negeri Gatotkaca Kawe

0
116

©YusufSaliim & ©Nurur.

Ini kisah di negeri pewayangan.  Tentang seorang kepala suku wayang, yang mengaku gatotkaca. Padahal sejatinya, ia bukan kesatria urat kawat tulang besi. Bodinya kerempeng, tulangnya lembek, isi kepalanya mlenyek.

Di hadapan ratusan perwira polisi wayang dan tentara wayang, kepala suku wayang menyebut berbagai nama Tuhan, mensikretikkan bermacam agama. Ia bersumpah tanpa jiwa,  agar dicitrakan bertuhan oleh rakyat yang tidak menganggapnya.

Di negeri wayang itu, aturan perundang-undangan tidak lagi berlaku, hukum suka-suka penguasa. Kemenangan merupakan hasil pemufakatan para wayang  yang dikendalikan sang dalang, bukan lagi ditentukan oleh suara rakyatnya. Padahal selama belasan tahun mereka menganut sistim impor, yang meyakini bahwa suara rakyat adalah suara tuhan. Suara rakyat tak dianggap, mereka berangus setiap bunyi nyaring yang  mengritik keabsahan dan ketidakbecusan kepala suku wayang.

Penonton di depan layar pertunjukan melihat dengan jelas pertunjukan kecurangan itu. Yang di depan panggung melihat dengan mata kepala, yang berjarak jauh meneropong melalui teleskop.

Tapi sang kepala suku wayang tetap bebal dengan pertunjukan kosongnya. Bahkan ketika bayangan tangan sang dalang  tertangkap layar menimbulkan gambar yang gampang ditafsirkan.  

Ia tetap bangga menjadi wayang, mendapat tempik sorak rekayasa untuk setiap ucapan kosongnya.

Gatotkaca kawe baru terlihat kesepian kala dipaksa melangkah keluar dari layar sang dalang. Mati gaya, wayang-wayang pembantu gerak sang dalang tak mampu lagi merekayasa tepuk tangan. Au-au au-au ngona-nganu.. salah tingkah di hadapan kepala suku lain yang memincingkan sebelah mata, berusaha memahami pembicaraannya.

Apa boleh buat, tak ada penonton yang tahan mendengarkan ucapan hampanya.  Begitu juga bagi para kepala suku di seluruh dunia yang waktunya adalah emas. Setelah 60 detik pertama bersabar, mereka pun memutuskan mengalihkan wajah diplomasinya kepada kepala suku lain untuk negosiasi yang lebih berharga.

Para kepala suku di seluruh bumi tersenyum miring, bisa meraba peran pewayangan sang gatotkaca kawe dengan jelas!!

Nasibmu wahai rakyat negeri pewayangan.. semakin terjepit di dalam kotak wayang. Dipimpin gatotkaca kawe yang gagal total kakehan cangke.. eh cangkriman, lalu diletakkan di posisi paling rendah, terjepit-jepit dalam kesempitan yang bikin sesak bernafas.  

Setelah dicurangi dan dipecundangi, masihkah kau percaya bahwa suaramu adalah suara tuhan? Mengapa tidak kembali saja pada sistem sempurna dari Allah Azza wa Jalla’ yang mulia? Tuhan sejati seluruh alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here