Penasaran dengan Faktor Unlogic dalam Proses Lunas Utang Miliaran? Ini Penjelasannya.

0
154

Hampir semua warga MTR yang berhasil menyelesaikan utang-utangnya selalu menyebut faktor “unlogic” sebagai hal paling krusial dalam perjalanan lunas utang miliaran mereka. Apa maksud unlogic di sini? Seperti apa prosesnya? Apakah kita yang berutang, lalu Allaah yang membayarkannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah ungkapan penasaran yang rutin kami dapatkan dari luar MTR. Terutama dari para penderita “penyakit tabiat buruk utang” yang masih berkubang mencari jalan keluar. Bagaimana menjelaskan faktor X ini dalam proses lunas utang miliaran ala pengusaha MTR? Simak penjelasan dari Pak Nursakti, Pengusaha Konstruksi Listrik asal Cilacap yang dalam tempo singkat berhasil mengatasi separuh dari utang 5M-nya setelah melalui proses unlogic tersebut.

“Itu faktor benar-benar di luar akal tapi kita meyakininya. Bahwa Allaah Maha membantu, Maha Kuasa, Maha Kaya.  Saya sendiri kadang nggak habis pikir, semua seperti mengalir saja. Kita hanya melaksanakan hal teknis, tetap bekerja seperti biasa, tapi (setelah bergabung dengan MTR) banyak kemudahan (dalam menyelesaikan utang). Kemudahan-kemudahan itulah yang saya artikan sebagai faktor unlogic,” paparnya dalam perbincangan dengan  awak MTR.

Namun Pak Nursakti memberi catatan penting. Di balik unlogic factor  tersebut, harus ada keberserahan kepada Allaah, mendekat dengan mematuhi segala syariatNya dan menjauhi segala maksiat. Maka Allaah akan memberi kemudahan. Memantaskan diri di hadapan Allaah, demikian istilah yang sering disebut para warga MTR.

Karena prinsip pembelajaran “menjauh maksiat” dalam kurikulum MTR itulah, Pak Nur berani meninggalkan usaha kontraktor listrik  yang diwarisi dari orang tuanya. Alasannya meninggalkan maksiat riba dan rasuah yang sangat kental ketika berhubungan dengan mitra, terutama dari instansi pengelola negeri.

Keberanian ini tidak lepas dari dorongan Ust.Mansur, warga MTR ahli konstruksi yang sudah melepas semua proyek kontruksinya karena risiko rasuah sangat berat. Dari MTR,  mata hati Pak Nursakti terbuka bahwa rejeki murni kekuasaan Allah. Karena itu, ia memutuskan harus melepas jalan rezeki yang penuh maksiat dan mencari yang lebih berkah.

Sebagai gantinya, ia meluncurkan  produk baru, sebuah varian produk lampu LED. Produk itu ia ciptakan setelah mengikuti program BeMMS pada awal 2019.  Lampu yang ia branding dengan nama “Qaiser”  dan ia komunikasikan sebagai lampu yang tepat untuk penerangan membaca Al Qur’an.  Istimewanya lagi, saat dinyalakan akan muncul logo MTR di permukaannya .

Pak Nur mengaku, MTR telah membalik mindset-nya 180 derajat. Bahwa bekerja adalah ihtiar sebagai  bagian dari ibadah yang menjadi tujuan segala aktivitas hidup kita. Semua dikembalikan pada aqidah.

“Dan utang, awalnya karena lemah aqidah. Tapi untuk sampai (kesimpulan) ke sana memang perlu perjalanan panjang yang saya dapatkan melalui pembelajaran di MTR,” ujarnya.

Pak Nursakti yang pernah sekolah dan tinggal di luar negeri ini mengaku terus terang, sebelum bertemu dengan MTR,  jalan pikirannya sangat sekuler. Ia takjub dengan “kemajuan” di negara barat dan berfikir mengapa Indonesia tidak bisa seperti itu. Namun dalam perjalanan dengan MTR ia menyadari, dunia barat tidak sesempurna yang ia lihat melalui mata kasat. Dan visi MTR, ternyata jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan masalah-masalah utang. MTR menawarkan solusi Islam atas segala permasalahan kehidupan yang hanya bisa dipahami melalui thalabul ‘ilmi.

 

Setiap Acara MTR Selalu Menangis

Pak Nur bertemu MTR melalui Pak Pujiono, warga MTR Purwokerto. Waktu itu ia tengah bingung, karena  proyek-proyek yang dikerjakan selalu saja mengalami berbagai masalah. “Saya heran ada apa sebenarnya.”

Dalam kondisi itu, Pak Pujiono mengajak ke acara TPW. Pak Nur menurut saja, padahal saat itu ia mengaku tidak memiliki uang. Hidayah memang bisa datang dengan cara apa saja. Saat dipaparkan tentang tabiat buruk utang, ia merasa semua permasalahan itu persis seperit yang ia alami. Utang semakin hari semakin besar, hingga suatu saat tidak bisa membayar.

Pak Nur saat itu dalam kondisi punya utang 5M, setelah sebelumnya menutup satu titik utang, lengkap dengan perangkat BDOnya. Dari event TPW itu ia tersadarkan betapa banyak maksiat (terutama riba dan rasuah) yang sudah ia lakukan selama ini.Tak bisa dicegah, waktu sholat Ashar air matanya membanjir tidak bisa ditahan.

Begitu juga ketika kemudian ia setuju ikut SMHTR atas ajakan Pak Amir. “Tiap kali ketemu MTR pasti saya menangis. Sudah berusaha menahan diri, tapi nggak bisa. Semua mengalir begitu saja karena sudah ketemu ruhiyahnya,”  ceritanya.

Dari tahap-tahap pembelajaran MTR, Pak Nur akhirnya paham mengapa pada akhirnya setiap warga diarahkan  untuk menempuh jalan dakwah yang merupakan tugas setiap Muslim. Dan proses pembelajaran itu, ia peroleh tanpa biaya melalui berbagai pelajaran yang diadakan MTR secara rutin, baik melalui UBL maupun ULC.

“Padahal waktu di UBL saya berhadap belajar jadi manajer muslim yang andal. Ternyata diajak menjadi pendakwah, ya saalamm tidak pernah terpikirkan karena saya bukan ustadz,” ujarnya sambal tersenyum kecil.

Lalu bagaimana perkembangan utangnya sekarang?

Alhamdulillah, melalui kuasa dan kemudahan dari Allaah,  separuh nilai utangnya sudah terselesaikan. Separuh lagi dalam proses penyelesaian. Tentu saja dengan menerapkan kurikulum MTR.

Belajar dari pengalamannya, Pak Nur berpesan kepada saudara-saudara yang masih terjebak utang, kembalikan segala permasalahan kepada aqidah dan  tanamkan kepada diri bahwa Allaah Maha Kuasa, Maha Kaya.  Yakinlah bahwa kita adalah umat terbaik, oleh karena itu Allah pasti akan memberi kemudahan asal  kita meninggalkan maksiat.

“Syarat utamanya adalah taubat. Nanti ada saja kemudahan, entah piutang yang tidak tertagih akhir dibayar  dan macam-macam faktor unlogic lainnya. Kalau kita beproses, nanti Allah akan memberi kemudahan unlogic,” pungkasnya.

Ingin ikut merasakan sentuhan unlogic untuk mengatasi problem utang Anda? Mari bergabung, bergandeng tangan dalam kurikulum pembelajaran MTR.  Anda bisa menghubungi (+62) 811-113-139 atau (+62) 853 – 3533-5319. Dan sebagai langkah awal, silakan  baca buku merah MTR yang akan memberi Anda  pencerahan tentang “Kesalahan-Kesalahan Fatal Pengusaha dalam Mengembangkan Bisnis Melalui Utang”.

Barakallaah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here