Mental Korban

0
84

© MY120420

Penjajahan dirasionalisasi dalam jenis struktur Darwin; yang kuat yang bertahan hidup. Karena kalian jajahan, maka kalian adalah lemah.

Itu yang ditanamkan dikepala kita terus menerus, sehingga membentuk mental inferior.

“Saya ini dizalimi. Sudah bekerja dengan baik, tapi tidak dihargai, karena saya berada di sistem yang buruk. Apa boleh buat. Terima saja nasib saya. Memang takdir saya begini. Semoga Tuhan segera mengeluarkan saya dari sini. Semoga yang menzalimi saya kelak mendapat azab.”

Apakah Anda pernah terjebak bertahun-tahun berada dalam situasi seperti itu?

Karena tidak tahan menerima keadaan sulit, selalu merasa kalah, hingga terus mengasihani dirinya sendiri secara berlebihan.

Efek turunanya, kecanduan simpati yang ujung-ujungnya caper, pencitraan, sok manja, sok imut, sok sweet, dan lain-lain. Sederhananya KPKD, kurang piknik kebanyakan drama.

Mereka berlebihan mengasihani diri sendiri dan cenderung mengurung diri. Hanya mau kontak dengan orang yang bisa memberinya perhatian dan dukungan yang dia butuhkan saja. Egois nggak tuh orang?

Pikiran orang-orang kalah begini biasanya tertambat ke masa lalu terus, nggak move on banget. Gegaranya sederhana sih, nggak ikhlas dan kurang paham qadha dan qodhar. Makanya terus marah dan sedih terhadap beban di masa lalu.

Mereka selalu mengingat kisah tragis kehidupan tanpa pernah mengambil pelajaran dan manfaat dari itu. Walau bertampang Rambo tapi hatinya tetap Rinto. Melow penuh drama, yang ada hanya kumpulan intrik untuk terus menarik perhatian orang lain.

Dalam situasi lain…

Lahirlah perasaan tidak dicintai atau merasa tidak layak untuk dicintai, dan mengaitkan kejadian apapun pada diri sendiri. Padalah nggak ada hubungannya, tapi terus aja di kait-kaitkan. Apa-apa dibawa perasaan, pokoke ego sentris nih orang.

Di bawah sadar, ketika menemukan kesulitan menerima kesalahan pada apa yang sudah Anda komitmenkan, kadang Anda cenderung lari dari kenyataan dengan membuat diri sebagai korban. Dalam keadaan ini biasanya sikap mengasihani diri sendiri jadi seperti sebuah bentuk pembenaran pertahanan diri.

So what?

Berdoa akan menyembuhkan banyak luka hati, kawan… Hanya pada-Nya, bukan selain-Nya. Bukan pada batu, kayu apalagi hantu. Bukan kata mitos, bukan kata berita, apalagi katanya.

 

Iman yang benar akan menuntun kita tahu tujuan hidup yang sesungguhnya. Dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan kemana kita akan kembali.

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia diberikan akal untuk terus bisa mengembangkan diri agar tetap memimpin dan bermanfaat bagi semesta alam. Tidak membuang waktu menyesali diri, tidak menghindari perubahan, tidak memberikan kekuasaan pada setan untuk mengontrol nafsu Anda.

Fokus !!!

Jangan takut mengambil risiko, tapi jangan juga membuat kesalahan yang sama berulang-ulang. Kalau sekali salah mungkin khilaf, tapi kalau berkali-kali, itu mah sengaja. Jangan khawatir untuk tidak bisa menyenangkan semua orang.

 

Ingat !!!

Kesuksesan orang lain itu seharusnya menjadi inspirasi bukan untuk dibenci. Jangan pernah mengharapkan hasil segera, pelajari bagaimana mereka yang tidak menyerah setelah kalah, begitu juga seharusnya kita.

 

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For Alls

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here