Alhamdulillah, di sela kesibukan Ustadz Das’ad Latif (Azj Zikra) dalam mengisi acara “Damai Indonesiaku” yang disiarkan langsung oleh TV One dari Majelis Az Zikra Sentul, beliau bersilah ukhuwah dengan Warga MTR.
Mengambil tempat di Rumah Makan Tumbar Jinten Sentul, Ustadz Das’ad menerima 1001 Buku Merah MTR yang kami serahkan secara simbolis. 1001 Buku Merah itu, InsyaAllah akan beliau bagikan kepada warga Makasar Kota, di mana beliau berdomisili.
Dalam perbincangan santai, Ust. Das’ad menyatakan penghargaan atas keberadaan MTR yang berkhidmat dalam dakwah untuk membantu penyadaran masyarakat mengenai bahaya utang.
“Utang memang diperbolehkan. Namun ada mudhorotnya yang sangat berbahaya,” demikian ucap beliau.
Moment ini bahkan memberikan inspirasi tersendiri bagi Ust Das’ad. Beliau menyatakan ketertarikannya untuk membuat program khusus tentang utang di layer kaca agar cakupan dakwah ini tersiar lebih luar.
Hijrah karena sekedar ingin lunas utang atau hijrah karena ALLAAH dan RosulNya, adalah dua pilihan yang dibentangkan seluas langit dan bumi oleh ALLAAH ‘Azza wa Jalla bagi kita semua.
Senantiasalah luruskan niat, karena ketika hijrah hanya untuk urusan dunia, yang kita dapatkan pasti hanyalah sekedar dunia dengan segala kepalsuan dan tipu dayanya.
Tetapi ketika niat hijrah kita lurus dan kuat untuk bisa kembali kepada ALLAAH dan RosulNya, insya ALLAAH di situlah akan terkuak jalan keberkahan dan keberlimpaham yang tiada batasnya, laluan jalan kebenaran yang akan bisa mengantarkan diri dan keluarga kita menuju tujuan hidup sejati …JANNATI,
Kenikmatan hakiki yang tak pernah terbayang dimata dan terlintas di pikiran ..,tempat yang hanya layak dan pantas diperuntukkan bagi insan-insan yang hijrah semata karena berharap RIDHO ILAAHI ROBBI.
Salah satu jenis kematian yang sangat mengerikan sebelum kematian yang sesungguhnya adalah matinya hati.
Hati yang mati dapat didefinisikan sebagai hati yang tidak memiliki kehidupan di dalamnya. Hati yang mati tidak akan mengenal Allah Subhan awa ta’ala dan Rasulullah Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam.
Ia hanya akan menuruti hawa nafsu dan hanya mengejar dunia. Bahkan tidak akan peduli pada amalan baik apa yang sudah ia kerjakan, seakan bakal hidup di dunia untuk selamanya. Ia tidak akan dapat menerima nasihat baik dan tidak dapat menerima kebenaran yang jelas sudah pasti adanya. Karena Allah telah menutup mata hatinya dan menutup pintu hidayah untuknya. Astaghfirulloh.
Adapun tanda-tanda hati yang telah mati, diantaranya:
Terus menerus berbuat maksiat. “Hubbul ma’asyi”. Lalai, sungguh merupakan penyakit hati yang berbahaya. Ketika ia sudah menjalar dalam hati dan bersarang dalam jiwa manusia, maka ia akan menutup hati seorang hamba dan menjadikan anggota badan saling mendukung untuk menutup datangnya hidayah, sehingga hati akan terkunci rapat. Hati yang mati dan hati yang terkunci rapat akan selalu dapat berbuat maksiat.
Salah satu pemilik hati yang akan mengalami kematian, jika mereka tidak segera sadar dan menyegerakan taubat adalah hati hati para pelaku Riba. Jika tidak segera sadar atau disadarkan, maka niscaya, mereka akan menjadi pemilik hati yang mati, hati yang telah tertutup dari hidayah Allah.
Maka, memerdekakan diri dari utang dan Riba, adalah langkah dan tindakan yang sangat penting. Teramat penting sekali agar terhindar dari matinya hati. Terselamatkan dari tertutupnya pintu hidayah dari Allah. Sehingga terbukalah kesempatan mendapatkan ampunan dari Allah dan akhirnya Allah ridho kepada kita. Dengan ridho Allah, selamatlah hidup kita di dunia maupun di akhirat kelak.
Maka pilihannya cuma,
Merdeka (bebas dari jeratan utang dan Riba) atau Mati (matinya hati)!!
Semoga Allah menjadikan kita hamba2 yang mendapat RidhoNya.
JARANG pengusaha punya mimpi seperti ini: “Umur 45 tahun sudah harus tidak punya utang.” Mimpi itu sedikit meleset. Tapi yang penting tercapai. Hanya meleset 2 tahun. Kini ia sudah tidak punya utang sama sekali.
Nama orang merdeka ini hanya satu kata: Mulyono. Ia orang Gemolong, Sragen, Jateng. Utang terakhirnya: Rp 40 miliar. Yakni utang ke BRI di daerahnya: Sragen.
Setelah tidak punya utang itu bisnis Mulyono kian cepat berkembang. “Setelah tidak punya utang pikiran lebih kreatif,” ujar Mulyono.
Bisnis lamanya masih terus berkembang. Bisnis barunya terus saja lahir. Tanpa modal dari bank lagi. Yang terbaru adalah: Mulyono berternak …belatung! Binatang ulat kecil yang dulu dianggap menjijikkan itu justru ternyata menjadi sumber protein yang terbaik.
Sebelum berternak belatung itu Mulyono beternak lalat. Lalat Sungguhan. Lahan ternak lalatnya saja 6.000 m2. Masih pula akan terus diperluas.
Ternak lalat itu dia lakukan untuk mendapatkan telur lalat. Telur lalat itulah yang dia tebar di sampah yang dia kumpulkan dari pasar-pasar. Ia sangat senang mendapat sampah pasar buah. Buah busuk itu subur sekali untuk ditaburi telur lalat. Agar telur lalat itu menjadi belatung.
Sebelum berternak lalat itu, Mulyono beternak cacing. Sukses besar pula. Sampai bisa ekspor. Cacing ternyata juga sumber protein yang luar biasa bagusnya.
Sebelum beternak cacing Mulyono berternak ikan. Berbagai macam ikan ia kolamkan: gurami, nila, lele, sampai ikan hias.
Sebelumnya lagi Mulyono giat mengembangkan pabrik pupuk organik. Pupuk kompos. Sampai saat ini Mulyono memiliki 9 pabrik pupuk kompos. Termasuk yang di Wonogiri dan Lampung. Ia tidak akan tertarik mendirikan pabrik pupuk kompos kalau tidak terancam dipermalukan.
Yakni ketika awalnya Mulyono jualan pupuk organik kecil-kecilan. Itulah pekerjaan pertama setelah lulus kuliah. Ketika ia masih sangat muda. Saat baru lulus dari UNS Solo. Di universitas itu Mulyono mengambil bidang studi MIPA Kimia.
Saat menjadi mahasiswa kimia itulah Mulyono mengetahui soal perlunya mengembangkan pupuk organik. Tapi ia belum punya modal. Yang ia punya adalah semangat. Mulyono pun kulakan pupuk ke pabrik. Untuk disalurkan ke para petani.
Lama-lama Mulyono punya banyak pelanggan. Sampai-sampai pabrik pupuk organik yang ada tidak bisa memenuhi permintaannya.
Mulyono sempat bingung. Ia sudah menerima pesanan. Tapi tidak bisa mendapatkan pupuk dalam jumlah yang cukup.
Itulah yang mendorong Mulyono membuat pabrik pupuk sendiri. Itulah pabrik pupuk organik yang pertama yang ia punya.
Sukses.
Bikin pabrik kedua.
Sukses lagi.
Bikin yang ketiga.
Lagi-lagi sukses.
Bikin yang keempat. Dan seterusnya.
Mulyono sampai punya formula sendiri untuk pupuknya itu. Kini beberapa peternak besar pun menggalang kerjasama dengan Mulyono. Agar Mulyono mau membuat pabrik pupuk di dekat peternakan itu. Dengan menggunakan formulanya.
Mulyono juga ingin membantu peternakan ayam. Agar kotoran ayam itu bisa jadi pupuk yang berharga.
Pabrik pupuk, ternak ikan, ternak cacing, ternak lalat dan ternak belatung itu kini jalan semua. Pun di zaman Covid-19 ini. Tidak ada bisnis Mulyono yang terganggu.
“Ternak ikan itu tidak akan untung kalau tidak bisa mengembangkan sumber protein sendiri,” ujar Mulyono.
Saya merasa beruntung bisa bertemu sosok seperti Mulyono. Yang ia datang ke Harian DI’s Way beberapa waktu itu. Bersama rombongan anggota MTR –Masyarakat Tanpa Riba itu.
Soal bisnis semua menyenangkan. Yang membuat ia gelisah adalah utang bank itu. Yang kian tahun kian besar nilainya. “Utang ke bank itu seperti mengisap candu. Bisa kecanduan,” katanya. Pun kian lama utang itu kian besar pula.
Di tengah kegalauan itu Mulyono mendengar istilah MTR (Masyarakat Tanpa Riba). Mulyono pun ingin bergabung menjadi anggota MTR.
Ia akhirnya memang bisa menjadi anggota MTR (Masyarakat Tanpa Riba), tapi tidak seperti yang ia bayangkan. “Dulu, saya bayangkan asyik sekali. Dengan menjadi anggota MTR (Masyarakat Tanpa Riba) kita akan mendapat pinjaman tanpa bunga dari MTR untuk melunasi utang bank yang berbunga,” ujar Mulyono. “Pokoknya yang saya bayangkan itu sangat asyik,” guraunya.
Ternyata tidak begitu.
Dengan menjadi anggota MTR (Masyarakat Tanpa Riba), Mulyono hanya mendapat kesempatan pendidikan bagaimana bisa melunasi utang. Pendidikan itu berjenjang. Satu tahap perlu waktu dua hari.
“MTR (Komunitas Masyarakat Tanpa Riba) menjadi kampus baru saya. Dari unlearning ke relearning,” katanya. “Kami kembali belajar bisnis, manajemen, keuangan dan juga belajar kehidupan yang lebih bermakna,” katanya.
Kapan-kapan saya akan menulis soal model pendidikan MTR (Masyarakat Tanpa Riba) ini. Berikut jenjangnya. Terutama bagaimana kurikulum itu bisa ‘meracuni’ anggotanya untuk melunasi utang.
Kebetulan mertua Mulyono itu aktivis Muhammadiyah di Sragen. Ia guru SMAN Gemolong untuk ilmu ekonomi. Gemolong adalah satu kecamatan di Sragen (40 km) tapi lebih dekat ke Solo (20 Km).
Istrinya sendiri lulusan akuntansi Universitas Muhammadiyah Solo. Awalnya sang istri ingin jadi pegawai negeri. Sang suami sebenarnya tidak ingin istrinya jadi pegawai negeri. Tapi sang istri nekat.
Pada hari pertama berangkat bekerja, sang istri berubah pikiran. Di tengah perjalanan menuju instansi tempatnya bekerja itu sang istri berhenti. Lalu balik pulang. Akhirnya dia ikut kehendak suami.
Sekarang sang istri menjadi kepala keuangan perusahaan suaminyi itu. Dengan karyawan tetap 60 orang dan karyawan tidak tetap 500 orang.
Di Gemolong itu pula Mulyono kini dipercaya untuk membangun lembaga pendidikan Muhammadiyah. Di atas tanah-tanah waqaf.
Pelunasan utangnya sendiri dilakukan setelah ia mendapat pendidikan di MTR (Komunitas Masyarakat Tanpa Riba) itu. Hari itu juga Mulyono pergi ke bank. Kepada petugas bank, Mulyono mengatakan ingin mengakhiri utangnya. Ia akan membayar seluruh pokoknya. Tapi ia minta dibebaskan sisa bunganya.
Petugas bank, kata Mulyono, sampai marah-marah. Utang kok dilunasi. Bank sangat senang mempunyai nasabah seperti Mulyono. Pembayaran pokok dan bunganya lancar. Tidak pernah telat. Usahanya pun terus berkembang. Kok tiba-tiba tidak mau punya utang.
Tentu petugas bank tidak bisa memutuskan. Terutama soal pembebasan bunga akibat pelunasan itu.
Sambil menunggu putusan pimpinan bank, Mulyono tidak mau lagi membayar bunga. Setiap kali ditagih Mulyono tinggal mengatakan: kan sudah bilang tidak mau lagi membayar bunga.
Tentu bank mengajaknya berdialog: mengapa punya sikap begitu.
Mulyono berterus terang: itu soal keyakinan agama. Bahwa membayar bunga itu haram. Dia tidak ingin terlibat masalah haram.
Berhasil. Yakni setelah enam bulan terus membangun komunikasi dengan bank.
Akhirnya Mulyono mendapat surat pembebasan bunga itu. Dan ia pun melunasi utangnya.
Mulyono pun merasakan apa itu Merdeka! (Dahlan Iskan)
Begitu ucapan spontan Helmy Yahya ketika berkunjung ke kantor KSW, Sentul, Bogor, Selasa (18/08) tadi.
Direncanakan jauh-jauh hari, mantan Direktur Utama TVRI ini dengan sukarela datang ke markas MTR tanpa perlu dijemput. Memenuhi undangan kami, beliau bersedia meluangkan beberapa jamnya yang sangat berharga untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana “Menggali Ide Kreatif Mengembangkan Bisnis pada Era Pandemi”. Pemaparannya yang penuh insight mendalam berdasarkan praktik, dan pengalaman bisnis, serta latar belakangnya sebagai akuntan, terasa sangat mengayakan.
Selain kepentingan sharing pengalaman, pada moment itu kami juga “menitipkan” 1001 Buku Merah, untuk beliau bagikan kepada para followernya. Melalui raja reality show Indonesia ini, kami berharap pesan mengenai bahaya utang (dan riba) bisa tersebar ke masyarakat yang lebih luas, dari berbagai lapisan. Seperti halnya yang kami lakukan kepada Musisi Ahmad Dani sehari sebelumnya.
Yup, tepat pada hari kemerdekaan, musisi kenamaan itu menerima segenap warga MTR di vilanya yang terletak di Cisarua Bogor. Kepada pentolan Grup Band Dewa itu, kami juga menyampaikan 1001 Buku Merah. Tak berselang lama, akun media sosialnya mengumumkan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan Buku Merah dipersilakan datang ke alamatnya. Mudah-mudahan pesan kami melalui buku merah juga sampai ke segmen penggemar Ahmad Dani.
Lalu apa pendapat Dani sendiri terkait utang? Di channel Youtube yang ia luncurkan untuk menyambut HUT RI ke-75 ini, pentolan band Dewa itu menyampaikan pendapatnya sebagai warga negara dan bangsa, bahwa utang adalah salah satu indicator kemerdekaan.
Selama kita masih berutang dengan syarat yang berat, menurutnya, secara nyata sebenarnya kita belum mencapai kemerdekaan yang hakiki, terutama di bidang ekonomi. Apalagi jika syarat-syarat yang mereka ajukan kemudian mendikte kebijakan-kebijakan di dalam negeri kita. Misalnya dengan mempersyaratkan penggunaan TKA dari negara pemberi utang dalam proyek yang dibiayai utang dari negara tersebut.
Di sisi lain, lanjutnya, hal itu sekaligus menunjukkan ketidakmampuan kita dalam melakukan negosiasi yang baik (menguntungkan) terhadap pemberi utang. “Mungkin boleh berutang, tapi negosiasinya harus baik sehingga kita masih punya kedaulatan sebagai bangsa,”lanjutnya.
“Yaah, tapi memang sulit bicara merdeka ketika masih punya utang banyak. Teriakan merdeka adalah sesuatu yang absurd ketika kita masih dikuasai kreditur (asing),” pungkasnya pahit.
Ah, Anda yang sudah memiliki pengalaman panjang berutang sebelum bertemu MTR, pasti paham sekali rasa hilang kemerdekaan seperti yang dibilang Dani. Kapok, kan?
Pak Nurhadi, pengusaha suplier kuliner asal Tangerang ini punya banyak kisah inspiratif bagaimana beliau mulai berproses untuk lunas utangnya hingga 7 milliar rupiah. Terasa bedanya sebelum dan sesudah pak Nurhadi ikut event MTR sebagai jalan hijrah bebas riba.
Apa saja yang dilakukan Pak Nurhadi agar segera bebas utang miliaran dan menghentikan kebiasannya berutang riba?
Bagaimana pak Nurhadi menghadapi debt collecter dan bernegosiasi dengan pihak bank?
Simak obrolan lengkap nan penuh hikmah beliau dalam video PODCAST MTR berikut.
===
Jika Anda ingin keluar dari tekanan utang riba dan Ingin merasakan bahagianya hidup dan berbisnis tanpa utang?
Awali dengan membaca buku merah masyarakat tanpa riba. Dan hadiahkan buku ‘ajaib’ ini pada kerabat dan rekan bisnis Anda sebagai amal sholeh.
WA SEKARANG JUGA ke salah satu nomor di bawah ini untuk pemesanan bukunya.:
untuk pemesanan bukunya. 😊
.
===
Terhubung dengan komunitas Masyarakat Tanpa RIba:
.
*Yuk, TEKAN TOMBOL SUBSCRIBE-nya dan bunyikan loncengnya agar Anda selalu mendapatkan update video terbaru dari kami.*
Nasihat Ust. Abdul Somad untuk siapa saja terutama warga komunitas masyarakat tanpa riba yang telah berhijrah (riba), mudah-mudahan istiqomah. Untuk menjaga istiqomah, jangan pernah meninggalkan jamaah. Jamaah yang sama-sama pernah dililit utang dan sama-sama berkomitmen untuk melepaskan diri dari jeratan utang dengan berzikir, berdoa, munajat sehingga Allah menurunkan keberkahan dalam hidup.
Untuk itu, menjaga keistiqomahan terutama dalam hijrah riba harus ada pengetahuan. Jawabannya ada dalam buku merah masyarakat tanpa riba yang bisa Anda dapatkan secara free, terutama bagi warga Pekanbaru Riau.
Lengkapnya, silakan simak nasihat Ust. Abdul Somad pada video berikut.
===
Jika Anda ingin keluar dari tekanan utang riba dan Ingin merasakan bahagianya hidup dan berbisnis tanpa utang?
Awali dengan membaca buku merah masyarakat tanpa riba. Dan hadiahkan buku ‘ajaib’ ini pada kerabat dan rekan bisnis Anda sebagai amal sholeh.
WA SEKARANG JUGA ke salah satu nomor di bawah ini untuk pemesanan bukunya.:
Teriakan takbir dan yel-yel merdeka/ bergema menguak tabir angkasa raya//
Sang saka merah putih dikibarkan/ sebagai pertanda berbuahnya mujahada//
Merdeka/ yang kononnya diakui atas rahmat ALLAAH yang Maha Kuasa//
Jelang 75 tahun proklamasi di kumandangkan/ apakah benar rakyat negeri ini telah memenangkan perjuangan?//
Betulkah bangsa ini tak lagi dalam penindasan dan penjajahan?//
Tanyakan ke masing-masing mata hatimu/ siapa sesungguhnya yang telah menikmati hari-hari kemerdekaan//
Mengaku merdeka karena rahmat dan kasih sayang Allah/ namun mengapa syariat ALLAAH malah dijauhi dan bahkan dimusuhi //
Menyatakan bisa merdeka karena ALLAAH yang Maha Kuasa/ tapi mengapa menghambakan diri pada bangsa-bangsa yang menjadi Dukun sakti penebar Riba/ seolah menganggap ALLAAH itu lemah dan tiada berdaya menolong serta memberi kemakmuran untuk negeri ini//
Sibuk senandungkan nyanyian NKRI harga mati/ namun bermaksiat dan bertingkahlaku yang selalu membuat menangis sang ibu pertiwi//
Bersuara lantang nyanyikan tembang merdeka/ tapi selalu saja tanpa rasa bersalah dan malu/ sibuk menjual murah serta menggadaikan bermacam harta kekayaan negara//
Merdeka itu bukanlah syair nyanyian dungu/ Merdeka itu bukanlah teriakan palsu/ bukan pula sekedar sorak sorai guna menutupi segala sandiwara kekisruhan / dan kezaliman yang semakin tak menentu//
Merdeka adalah mensyukuri semua nikmat yang telah dilimpahkan//
Merdeka itu hanya bisa tercapai dengan segala penghambaan dan keta’atan//
Merdeka yang seutuhnya hanya bisa diraih,bila kita melaksanakan dengan kaffah semua yang telah ALLAAH hidayahkan//
Bersenandung kemerdekaan bahkan berteriak merdeka dengan lantang di dalam Penjara Riba yang semakin hari semakin menakutkan/ adalah satu bentuk kamuflase dan kemunafikan serta kebodohan// yang kalau tidak segera di akhiri/ akan mengundang dan menuai berbagai bencana kehancuran/ dan membawa negeri ini ke jurang kebinasaan/ Na’uzdubillaah//
Saudaraku sebangsa/
Pahlawan Merdeka telah menyerahkan hartanya/ Pahlawan Merdeka telah relakan tangan dan kakinya/ Pahlawan Merdeka telah korbankan darah dan nyawanya//
Semoga kita tidak termasuk dalam kumpulan manusia-manusia serakah yang tak jua lelah mengkhianati cita-cita perintis bangsa//
Hanya pahlawan picisanlah yang sanggup merusak cita-cita dan harapan kemerdekaan//
Pahlawan sejati tiadakan pernah merelakan sejengkalpun tanah airnya untuk digadaikan apalagi sampai terjajah Kembali//
Merdeka sejati hanya pantas dimiliki oleh bangsa yang yang beriman dan bertaqwa kepada satu-satunya Zat yang bisa memberikannya/ ALLAAH ’Azza wa Jalla. WALLAAHU ‘Alam//
Yang sudah LUNAS UTANG MILIARAN bolehlah berteriak kencang-kencang MERDEKA sambil kepalkan tangan tinggi-tinggi, dan melompat tinggi-tinggi juga boleh. Namanya kan sudah LUNAS UTANG MILIARAN
You are really freedom
Sedangkan bagi yang masih ada tanggungan utang miliaran, perlu mikir dulu mau teriak merdeka.
Merdeka apanya? Menjelang jatuh tempo selalu cemas, khawatir tidak ada kas. Jadilah pasang wajah melas…
Kendati demikian, pagi hari yang sejuk ini, mari kita lepas penat sejenak dengan menyaksikan sampai tuntas dan membagikan video inspiratif BELA NEGARA MTR ini 👇
Anda serius mau LUNAS UTANG MILIARAN?
Mulailah dengan membaca BUKU MERAH seperti pada foto terlampir
Alhamdulillah, mereka Warga MTR yang sudah LUNAS UTANG MILIARAN, memulainya dengan membaca BUKU MERAH.
Sahabat, 75 tahun sudah usia kemerdekaan Indonesia…
Apakah kita sudah bebas dari nafsu yang tak pernah berhenti ingin menguasai apapun?
Apakah kita sudah merdeka dari rasa takut pada makhluk, hingga lupa kalau Allah satu-satunya penguasa tertinggi dalam hidup manusia?
Apakah kita sudah lepas dari pengaruh iblis yang senantiasa menyesatkan kita?
Faktanya…
Kita tidak benar-benar percaya bahwa berkah jauh lebih penting ketimbang jumlah.
Kita selalu gagal dalam prioritas dan tata kelola, efek dari tak mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
Hingga Indonesia tidak pernah bebas dari bunga dan utang riba yang menjadi alat penjajahan baru para kapitalis.
Jadi…
Bebas dan merdeka dari apa?
Mulai hari ini, ayo kita tata ulang agar Indonesia bisa berdaulat kelak. Mari kita mulai dari diri sendiri untuk segera merdeka dari belenggu utang dan riba.
Semoga Indonesia jadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang menjadi dambaan dan impian seluruh manusia.