Bangsa Terbelah

0
50

©MY290520|MTR||

Masa raja-raja, era kolonial dan pasca penjajahan kita tidak pernah lepas dari trik dan adu domba politik. Tujuannya cuma satu, menguras sumber daya alam, mengangkat para penjilat, dan mendidik pengkhianat jadi pejabat.

Buah dari penjajahan yang berabad-abad itu telah berhasil membentuk sebahagian kita bermental inferior, rendah diri, akhirnya jadi pecundang.

Elit berhasil menghapus dan menghilangkan jati diri Anda sebagai rakyat yang berdaulat untuk kemudian diframing sebagai beban negara.

Gimana tidak…

Hak rakyat dianggap subsidi, sedang pejabat pesta pora menggelar rapat di hotel berbintang hasil dari pajak dan upeti kita.

Anehnya Anda menikmati dan menerima itu sebagai hal biasa lalu memaklumi. Pejabat dan penjilat memaksa Anda membentuk ketaatan baru layaknya abdi dalam. Dalam psikologi, ini persis sperti korban LGBT yang kemudian malah jadi predator baru.

Secara sosial ini penyakit masyarakat. Jika covid-19 yang 1/3 fakta, 1/3 fiksi dan 1/3 konspirasi, mampu membuat kita tunggang langgang, mengapa dengan pembodohan dan pengrusakan mental rakyat yang terstruktur ini Anda diam saja?

Tahukah Anda? Rakyat Indonesia mengolah, menyemai, dan memanen di tanah sendiri untuk dijadikan upeti kepada orang lain.

Kok bisa?

Tanah kita adalah tanah garapan yang hak pakai dan penguasaannya sebagian besar telah beralih ke swasta. Ekosistem sawit plasma rakyat dihimpit swasta, ruang gerak dan nafas petani ngap-ngap.

Kita bukan tidak mampu, tapi rakyat memang tidak pernah diberi kesempatan luas kecuali sekedar formalitas. Bisnis mereka adalah bisnis kebijakan yang jelas sangat bertumpu pada kekuasaan.

Lihat bagaimana PTPN yang menyisakan utang trilunan rupiah. Kita tunggu gimana bro Erick Tohir mengelola utang warisan Tante Rini ini nanti. Santer terdengar PTPN mau dijual lagi buat nutup utang. Itulah kelakuan elit, jual, jual dan jual. Utang, utang dan utang, sampai sini paham ya?

Saya sarankan para pegawai dan aparat pemerintahan coba ikut dan cari tahu kegiatan #masyarakattanpariba. Aku jamin nggak akan ketularan virus utang yang bikin kita nggak berdaulat itu.

Back to PTPN…

Dijual ke siapa ya kira-kira? Swasta lagi, elit lagi, konglo lagi? Lagi-lagi lingkaran setan kekuasaan.

Lihat bagaimana siklus ketika pengusaha telah jadi penguasa? Jika kurang iman maka dengan satu tanda tangan ‘kelar’ hidup kita semua.

Amati juga…

Swasta membangun dan mengatur kota layaknya negara di dalam negara. Coba anda lihat bagaimana Pantai Indah Kapuk, BSD, Sumarecon, dan lain-lain. Komplek-komplek dibangun terpisah dari lingkungan asalnya, terpisah dari kehidupan sebenarnya.

Swasta atas nama modernitas menghilangkan identitas lokal, rakyat dikotak dalam sekat-sekat perumahan, orang diclusterisasi jadi homogen, semua ruang dibuat private, dan rakyat tidak pernah dapat tempat untuk menjalin keakraban.

Keakraban warga negara sejak awal dihilangkan, lalu kita dituntut dan direkayasa intelegen dengan memutarbalikan fakta jadi sentimen agama.

Bro!!! Ini rekayasa para bohir, para kapitalis serakah, para elit yang ingin mewariskan lagi kedigdayaannya hanya pada anak cucunya saja.

Jangan sampai kita rusuh, jangan sampai isu Asing dan Aseng membuat bangsa terbelah. Itu rekayasa agar rakyat jangan kritis dan membelokkannya jadi isu rasial.

China yang kita kritisi adalah China sebagai negara, bukan sebagai etnis dan budaya. Negara itu produk politik. Anda lihat bagaimana kejamnya China Komunis terhadap sesama mereka? Pada gerakan Falun Gong lebih dari 1,5 juta jiwa diambil organ tubuhnya.

Anda cari tahu berapa yang terbunuh pada kejadian Tiananmen? Lihat bagaimana etnis Uighur diberangus? Lihat bagaimana demo berbulan-bulan rakyat Hongkong? Mereka menyebut China Komunis sebagai kekuatan Iblis yang menggerus akar budaya Tiongkok.

Mereka semua China dan mereka membenci China Komunis. Jadi ketika kita bicara China, jangan mau dipecah belah oleh kekuasaan yang kini sedang bermesraan dengan China Komunis. Power tends to corrupt, kekuasaan itu cenderung korup.

Belajarlah dari Soe Hok Gie, Kwik Kian Gie, Douwes Dekker, dll, mereka Asing dan Aseng, tapi mampu memilah mana etnis mana politis.

Liberalisme, pluralisme, sekulerisme itu dipupuk dalam rangka memecah-belah umat beragama. Agama dicampur baur, diacak-acak, agar bias. Hingga Anda frustasi, lalu selangkah lagi Anda jadi atheis, Anda meninggalkan tuhan dari kehidupan, lupa kalau ada akhirat.

Mereka memang merancang ini sejak awal, rakyat dibuat tidak berbaur, masuk perumahan ibarat masuk zona nuklir dengan pemeriksaan berlapis.

Kesenjangan sudah sangat kasat mata, pemisahan terjadi dimana-mana, yang kaya tak terbendung, yang miskin makin merana.

Bro? Hidup kita singkat? Jika tidak dihentikan dari sekarang, ini akan jadi lingkaran setan buat anak cucu kita. Emang gak nyadar untuk apa kita hidup, dan kemana kita akan kembali?

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here