Mati Cara Corona

0
47

© MY230920

Akhirnya menulis lagi tentang corona, ini kali kedua. Awalnya kasihan, empati, lalu gelisah. Akhirnya muak sekaligus marah.

Sadarkah anda?

Semua ini pada akhirnya akan jadi entertain “pro” dan “kontra” saja, dimana rakyat terus terbelah. Hanya konten dan narasinya saja yang berbeda, tujuannya tetap sama, meneror atau merayu kita.

Secara ilmiah…

Darimana virus berasal, bagaimana penularan dan apa antisipasinya, saya yakin Anda semua telah “khatam” di luar kepala.

Lalu mengapa sampai hari ini dagangan para penjual ketakutan, dan penderitaan tersebut tetap dikonsumsi rakyat?

Yuk mikir…

Saat negara lain menutup pelabuhan, bandara, dll, kita malah membuka pintu selebar-lebarnya. Masih ingat promo pariwisata dan dana buzzer?

Bro…

Saat obat masih dalam riset, maka satu-satunya pertahanan adalah imun. Nah, kita malah meneror fikiran dengan pemberitaan horor tentang corona. Presiden belum apa-apa malah mengumumkan akan membantu mengirim obat corona ke China, parah ‘gak tuh?

Rakyat bukan tidak percaya virus, “No, kita sangat percaya virus itu nyata”. Bahkan makhluk halus dan jin yang tak terlihat pun kita percaya, apalagi virus yg masih tampak lewat mikroskop. Bukan itu bro, pointnya.

Yap! Anda telah berhasil dimanipulasi, diorganisir dan dibuat takut. Takut Anda nyata bukan lagi pada Tuhan, tapi pada hantu.

Para awak kesehatan yang meregang nyawa dibenturkan dengan mereka yang berusaha bertahan hidup di jalanan.  Dikotomi kesehatan dan ekonomi jurangnya terus diperlebar. Seolah hanya ada dua pilihan dan tidak bisa jalan bersama.

Sampai kapan Anda duduk dalam kesendirian menanti nasib dan berharap corona hilang? “Corona itu terus menempel di kepala Anda bro!”

Para petani berhenti berkeringat, karena takut  berkebun. Pedagang sudah tidak mempunyai lapak untuk saling kontak. “Rumah Tuhan” berubah jadi “rumah hantu dari Wuhan”. Anda terus jadi bulan-bulanan.

Lagi-lagi rakyat yang jadi sumber masalah, rakyat yang radikal, rakyat susah diatur. Sesama rakyat seolah zombie, rakyat benar-benar ingin dibuat “berjauhan”, berjarak dalam lahir bahkan batin.

Salah seorang teman pejabat yang bertanggung jawab dalam pemulihan ekonomi saja terlihat sangat stres cenderung frustrasi dalam kebijakan plin plan dan keadaan yang tidak jelas arah dan tujuannya.

Saat saya menulis ini tidak sedikit sahabat, teman, dan terakhir keluarga divonis dan harus meregang nyawa.

Bahaya itu nyata ya, bahaya-bahaya yang lain jauh lebih nyata tapi biasa saja. Korban kecelakaan jauh lebih banyak, tapi kita tetap berkendaraan kan?

Benarkah semua itu penyebabnya adalah corona atau penyakit bawaan?

Lalu bagaimana dengan yang telah sembuh, apakah sembuh sendiri atau sembuh karena obat?  Kalau karena obat, apa obatnya? Kalau karena imun kenapa kita tidak diwadahi untuk tetap beraktivitas dan bekerja?

Mengapa pesta kolam tanpa masker di Wuhan begitu cepatnya? Kok di Indonesia makit rumit saja? Apa kabar Jerman, Italy dan lainnya?

Sudahlah bro…

Mari membangun semangat, kreatif dan berkegiatan seperti biasa, agar berkeringat. Jangan cuma rebahan dan duduk-duduk menunggu nasib, itu makin membuat kita sakit dan mati dalam ketakutan itu sendiri.

Percayalah…

Kita sudah lama diasingkan dari dunia luar, dari lingkungan. Kita sudah lama menutup pintu silaturahim padahal disana ada keberkahan karena malaikat ikut hadir. Malaikat tidak hadir lewat medsos dan media sosial, tidak juga lewat WA.

Masih mau bersembunyi dalam alasan dan mati ketakutan dalam monster yang kita ciptakan sendiri?

HANYA ALLAH PENGUASA TERTINGGI DALAM HIDUP MANUSIA

Katanya: “Kuhadapkan wajahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, nyatanya?”

 

Wallahualam bissawab.

✍️ Education For All

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here