Helmy Yahya : “Sinergitas, Kekuatan MTR”

0
72

Seperti ikan koi masuk ke dalam kolam  yang jernih. Itu kesan  yang bisa ditangkap saat melihat Helmy Yahya,  berbaur dengan  warga MTR di kantor KSW beberapa waktu lalu. Bahasa tubuhnya rileks dan ia  terlihat tidak perlu kerja keras untuk menyamakan persepsi dan adab para warga.

Sejak bincang-bicang awal, Helmy sudah menegaskan semua bisnisnya –properti, tambang serta media (rumah produksi), halal dan berjalan nyaris tanpa utang. Kesamaan visi tersebut membuatnya ingin mengabarkan kepada publik tentang keberadaan dan cara pandang komunitas MTR dalam berbisnis yang membawa kebarokahan serta ketenangan hati.

“Secara tidak sadar,  arah bisnis saya sama dengan komunitas ini. Tidak mengandalkan utang, berdikari dan tidak tergantung pada siapapun. Kalau kita ikhlas, insyaAllah semua sudah diatur oleh Allaah,” ujarnya.

Dengan prinsip seperti itu, mantan Dirut TVRI ini mengaku hidupnya happy, dan rezkinya juga stabil. Bisnisnya berjalan lancar walau dalam kondisi pandemic covid,  investasi stabil dan ia masih sempat menikmati travelling bersama sang istri.

Saat diminta menjadi Dirut TVRI pada tahun 2017, Helmy mengaku tidak terlalu berambisi.  Sebagai anak pedagang kaki lima, ia merasa apa yang telah dicapai dalam hidupnya sekarang lebih dari cukup. Dua orang anaknya anaknya sudah menikah, satu sudah lulus kuliah, tinggal si bungsu yang masih menjadi tanggungjawabnya.

“Semua usaha berjalan baik, PH saya memproduksi program yang membantu orang, undangan konsultan terus berdatanga. Saya pikir, ah sudahlah, sekarang tinggal memperbanyak ibadah dan membantu orang,” papar pria berusia 57 tahun ini

Maka ketika ia mulai  menakhodai TVRI, misi utamanya adalah membenahi manajemen, rebranding dan transformasi bersama para awak untuk mengejar ketertinggalan dari para competitor yang sudah berlari jauh di depan.

Ini bukan pekerjaan ringan. Selama ini TVRI sudah terpersepsi sebagai institusi milik pemerintah yang terjebak dalam comfort zone sehingga kurang lincah mengikuti gerakan televisi-televisi  swasta lainnya.  Ia harus mampu mengajakstafnya untuk berlari dalam kreativitas dan kuantitas kerja, guna mengejar ketertinggalan dari  para pesaing. Padahal  secara internal  terdapat problem keuangan yang berat karena gaji para karyawan terbilang kecil, bahkan tunjangan mereka belum bisa turun.

Namun Helmy memiliki prinsip leader has to be seen & walk to talk”. Jika ingin membawa kapal dalam perubahan, nakhoda juga harus konsisten dengan apa yang dicanangkan, tidak boleh hanya memerintah di belakang meja.  

Maka, Helmy pun turung langsung ke lapangan.  Dengan pengalamannya sebagai bos PH dan pembaca acara senior, ia mengajari anak buahnya mengatur kamera dan menulis naskah, menanamkan attitude siaran hingga mencermati penampilan mereka di depan layer kaca. Berdasarkan latar belakangnya sebagai akuntan ia mengajari cara menghitung anggaran yang benar, dan lainnya.

Memang butuh pengorbanan besar. Sehari-hari dalam kurun 2 tahun kepemimpinannya, Helmy selalu datang ke kantor TVRI sebelum jam kerja, dan pulang di belakang para karyawannya. Bahkan pada  pada Sabtu dan Ahad pun, ia masih sempatkan datang untuk mengawal pekerjaan akhir pekan anak buahnya. Dalam hal ini, Helmy berterimakasih atas kesamaan visi para direksi yang mendukungnya di layer kedua. Ia memuji attitude mereka yang ia sebut  “tegak lurus”  berjuang bersama.

Perjuangan mereka tidak sia-sia. Setahun berjalan, posisi TVRI naik  dari urutan ke 15 menjadi peringkat 10 dari sekian banyak stasiun televisi di tanah air. Revenue juga naik, reformasi birokrasi berjalan. Kualitas produknya juga menjadi kincong tak kalah dengan televisi-televisi swasta lainnya.

Belajar dari pengalaman hidupnya,  lulusan Sekolah Tinggi Administasi Negara (STAN) ini berprinsip tidak ada yang tidak mungkin di dunia. Asalkan ada niat dan dilakukan penuh keyakinan untuk memperjuangkannya, InsyaAllah semua target akan tercapai.

Selain itu, ia juga tidak pernah segan selalu belajar kepada orang lain. “Karena, begitu berhenti (belajar) selesailah kita,” tegasnya.

Tak ubahnya dalam silaturahim dengan warga MTR kemarin, Helmy mengaku banyak belajar dan menyerap pengalaman para warga dalam perjalanan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap utang.  Ia mempelajari testimoni para warga yang lebih bebas dan bahagia setelah bebas dari riba.

“Mungkin karena secara psikologis tidak ada tekanan, tidak bekerja untuk orang lain sehingga lebih bebas dan bahagia. Itu yang saya simpulkan. Saya pribadi ingin terus belajar,” ujarnya.

Helmy mengaku beruntung bisa bersilaturahmi dengan komunitas MTR karena bisa saling berbagi pelajaran. “Sinergitas, saling dukung dan mengingatkan. Itu kekuatan yang harus ditularkan MTR kepada lebih banyak orang!” pungkasnya apresiatif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here