Salam

0
44

© MY010620

Assalamualaikum

warahmatullahi,

wabarakatuh.

Dari ungkapan salam di atas, kalau Anda cermati, setidaknya ada tiga hal yang ingin kita dapatkan ketika mengucapkannya. Keselamatan, rahmat, dan keberkahan.

Itu jauh lebih bermakna dari sekedar ungkapan “Selamat pagi”, “Good morning”, atau “Apa kabar?” saja.

 

Tapi bagi saya, jika Anda tidak ingin mengucap atau membalasnya pun tidak apa-apa. Karena point sebenarnya hanya ingin menyampaikan bahwa banyak pesan positif dari salam sehari-hari.

Singkatnya:

Assalamu ‘alaikum = Selamat dari segala kejelekan

Wa rahmatullahi = Tercapainya kebaikan

Wa barakatuh = Tetap dan langgengnya kebaikan

 

Anda bayangkan, apa yang akan kita dapatkan selanjutnya jika pemberi dan penerima salam sadar dari awal makna pembuka dari pesan positif yang telah kita ucapkan?

Perkiraan saya, pembicaraan selanjutnya akan dibenci iblis. Karena hanya iblis yang ‘gak suka dengan hal-hal positif yang dilakukan manusia, baik sebagai ucapan apalagi terwujud dalam perbuatan.

Mungkin setan jealeous?

Karena janji Tuhan, kebaikan yang telah diniatkan, walau belum terwujud sudah mendapat pahala. Sedang kejahatan, baru akan dihitung dosa setelah dilakukan. Hmm… Entah nikmat-Mu yang mana lagi yang terus kita dustai.

Semua kebaikan akan menuntun kita ke surga. Persoalannya hanya orang beriman yang percaya surga.

‘Gak heran jika atheis sangat enggan menebar salam. Mereka malah mengolok-ngolok dan ingin mengganti salam. Mereka pada hakikatnya memang ‘gak percaya akhirat sebelum menyaksikan langsung dengan mata dan kepalanya.

Begitulah level berfikir dasar manusia model itu. Mereka baru bisa mengetahui kebenaran berdasarkan apa yang terindera oleh panca indera saja. Mereka belum bisa menemukan kebenaran di luar jangkauan mata, telinga dan alat perasa lainnya.

 

Makanya kaum SEPILIS (Sekuler, Plural dan Libralis) selalu menggiring Anda untuk mengemukakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak, dan teori relativitas dipahami dalam kacamata yang sempit untuk dibuat sesat.

Padahal…

Kebenaran dari Tuhan itu mutlak, kebenaran kitab suci yang orisinil itu juga seharusnya mutlak tanpa kontradiksi. Baik Zabur, Taurat, Injil atau Al Quran.

Faktanya kok berbeda?

Karena ada campur tangan manusia di sana, ada peran nafsu dan bisikan iblis yang mempengaruhi. Ingat, yang selalu berubah-ubah itu hanyalah pemahaman manusia terhadap-Nya, hukum Tuhan itu tetap sampai hari kiamat. Next time deh, kita bahas mengenai ini.

 

Back to salam…

Jika kita mau memahami makna salam, maka ia akan menjadi pesan yang akan membawa kedamaian, dan itu membuat kita saling mencintai.

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Wallahua’lam bissawab.

 

✍ Education For All

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here