Utang, Wujud Kekalahan Akal

53

©Amir, MTR (Magister Tanpa Riba).

Bismillah, mohon ijin saya memakai gelar MTR – Magister Tanpa Riba.  Mestinya saya sudah melalui jenjang STR (Sarjana Tanpa Riba) terlebih dahulu yaa… Tapi tidak mengapa, karena ternyata saya juga sudah mendapatkan satu gelar terhormat.

Gelar ini gampang-gampang susah memperolehnya.  Pemegang gelar ini dijamin hidupnya tenang dan enjoy dalam menapaki kehidupan.

“Yang bener aja…!!!” mungkin itu sanggahan yang ingin Anda lontarkan. Benar! Saat menuliskan ini, saya melakukannya dengan enjoy…hehe. 

Anda pasti penasaran, MTR itu  sebenarnya gelar apa ya?

Okay, agar tidak semakin penasaran, saya mulai saja cerita saya.  Sebelum mendapatkan gelar MTR, Alhamdulillah saya juga sudah berhasil meraih gelar “Lc”.

 What?!! Apakah saya ustadz Lulusan Cairo?

Bukan, saudara. Meski juga ingin sekali menimba ilmu agama seperti yang telah dijalani para alim ulama,   tapi Lc yang saya dapatkan sungguh berbeda.  Gelar Lc kami, yang juga patut disandang warga  Masyarakat Tanpa Riba adalah singkatan dari Lunas Cicilan.. hehehe.

Sahabatku, bukankah sangat menyenangkan menyandang gelar STR (Sarjana Tanpa Riba), MTR (Magister Tanpa RIba) dan LC (Lunas Cicilan)? Siapa yang tak ingin tidur nyenyak tanpa utang?

Kalau ada yang bertanya, di mana kuliahnya? Saya akan menjawab penuh kebanggaan,”Aku kuliah di kampus MASYARAKAT TANPA RIBA!” Berkat kuliah di kampus ini, saya mengalami transformasi berpikir luar biasa.  

Sebelumnya, proses berfikir saya kacau balau. Saya tidak paham bahwasanya, dalam proses pengambilan kesimpulan yang berlanjut dengan perwujudan perbuatan,  ternyata melalui perang hebat antara AKAL DAN PERASAAN.  Dan dalam kasus kebiasaan saya BER-UTANG, ternyata peran perasaan sangat dominan sehingga mengalahkan akal. 

Benarkah? Untuk membenarkan pernyataan tersebut, mari kita uji dengan hipotesi “Fakta & realita di balik keputusan orang mengambil utang.” Kita mulai dengan fakta berikut ini :

1. Orang BER-UTANG,  biasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (primer)?

Yuk coba kita telaah bersama dengan pertanyaan awal.. “Jaman sekarang, ada berapa persen kira-kira orang yang berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (makan,  minum, berpakaian, pendidikan)? Berapa persen pula yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya…?”

In Shaa Allah, saya yakin  jawabannya lebih banyak digunakan untuk  memuaskan keinginan. Dan keinginan adalah ranah perasaan!

Anda tidak sepakat? Sebentar, mari coba lihat fakta di lapangan. Saat seseorang timbul keinginan untuk berutang, pasti akal akan melakukan tugasnya dengan menimbang-nimbang, ”Sebenarnya, perlu berutang atau tidak, ya?” atau, “Sebenarnya, masih ada alternative lain atau tidak?”

Di sinilah terjadi perang antara akal dan perasaan. Dan celakanya, dalam kondisi ini seringkali akal terkalahkan, dan perasaan dimenangkan melalui segala bentuk fantasi kesenangan.

Sahabat, ingat ya. Dalam situasi seperti inilah bisikan syaitan masuk  turut andil dalam mempengaruhi pengambilan kesimpulan dan keputusan.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,”

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ -“dari (golongan) jin dan manusia.” (QS.  Annas : 5-6)

Sahabatku, dari hasil telaah diatas,  hipotesa pertama bahwa “utang adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar”, menurut saya telah gagal.   Saya yakin Anda akan sependapat. Lalu bagaimana dengan hipoteasi kedua, ketiga dan seterusnya?

Ehm, sepertinya tulisan saya sudah terlalu panjang. Semoga para Sahabat berkenan sabar menanti edisi selanjutnya.

Salam hangat #LunasUtang

© Amir, MTR (Magister Tanpa Riba).

Bismillah, mohon ijin saya memakai gelar MTR – Magister Tanpa Riba.  Mestinya saya sudah melalui jenjang STR (Sarjana Tanpa Riba) terlebih dahulu yaa… Tapi tidak mengapa, karena ternyata saya juga sudah mendapatkan satu gelar terhormat.

Gelar ini gampang-gampang susah memperolehnya.  Pemegang gelar ini dijamin hidupnya tenang dan enjoy dalam menapaki kehidupan.

“Yang bener aja…!!!” mungkin itu sanggahan yang ingin Anda lontarkan. Benar! Saat menuliskan ini, saya melakukannya dengan enjoy…hehe. 

Anda pasti penasaran, MTR itu  sebenarnya gelar apa ya?

Okay, agar tidak semakin penasaran, saya mulai saja cerita saya.  Sebelum mendapatkan gelar MTR, Alhamdulillah saya juga sudah berhasil meraih gelar “Lc”.

 What?!! Apakah saya ustadz Lulusan Cairo?

Bukan, saudara. Meski juga ingin sekali menimba ilmu agama seperti yang telah dijalani para alim ulama,   tapi Lc yang saya dapatkan sungguh berbeda.  Gelar Lc kami, yang juga patut disandang warga  Masyarakat Tanpa Riba adalah singkatan dari Lunas Cicilan.. hehehe.

Sahabatku, bukankah sangat menyenangkan menyandang gelar STR (Sarjana Tanpa Riba), MTR (Magister Tanpa RIba) dan LC (Lunas Cicilan)? Siapa yang tak ingin tidur nyenyak tanpa utang?

Kalau ada yang bertanya, di mana kuliahnya? Saya akan menjawab penuh kebanggaan,”Aku kuliah di kampus MASYARAKAT TANPA RIBA!” Berkat kuliah di kampus ini, saya mengalami transformasi berpikir luar biasa.  

Sebelumnya, proses berfikir saya kacau balau. Saya tidak paham bahwasanya, dalam proses pengambilan kesimpulan yang berlanjut dengan perwujudan perbuatan,  ternyata melalui perang hebat antara AKAL DAN PERASAAN.  Dan dalam kasus kebiasaan saya BER-UTANG, ternyata peran perasaan sangat dominan sehingga mengalahkan akal. 

Benarkah? Untuk membenarkan pernyataan tersebut, mari kita uji dengan hipotesi “Fakta & realita di balik keputusan orang mengambil utang.” Kita mulai dengan fakta berikut ini :

1. Orang BER-UTANG,  biasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (primer)

Yuk coba kita telaah bersama dengan pertanyaan awal.. “Jaman sekarang, ada berapa persen kira-kira orang yang berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar (makan,  minum, berpakaian, pendidikan)? Berapa persen pula yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya…?”

In Shaa Allah, saya yakin  jawabannya lebih banyak digunakan untuk  memuaskan keinginan. Dan keinginan adalah ranah perasaan!

Anda tidak sepakat? Sebentar, mari coba lihat fakta di lapangan. Saat seseorang timbul keinginan untuk berutang, pasti akal akan melakukan tugasnya dengan menimbang-nimbang, ”Sebenarnya, perlu berutang atau tidak, ya?” atau, “Sebenarnya, masih ada alternative lain atau tidak?”

Di sinilah terjadi perang antara akal dan perasaan. Dan celakanya, dalam kondisi ini seringkali akal terkalahkan, dan perasaan dimenangkan melalui segala bentuk fantasi kesenangan.

Sahabat, ingat ya. Dalam situasi seperti inilah bisikan syaitan masuk  turut andil dalam mempengaruhi pengambilan kesimpulan dan keputusan.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,”

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ -“dari (golongan) jin dan manusia.” (QS.  Annas : 5-6)

Sahabatku, dari hasil telaah diatas,  hipotesa pertama bahwa “utang adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar”, menurut saya telah gagal.   Saya yakin Anda akan sependapat. Lalu bagaimana dengan hipoteasi kedua, ketiga dan seterusnya?

Ehm, sepertinya tulisan saya sudah terlalu panjang. Semoga para Sahabat berkenan sabar menanti edisi selanjutnya.

Salam hangat #LunasUtang