The Game Plan (vs Business Plan)

763

When You decides to GO RUN for X-miles, “business plan” was not enough. I’ts time to run with “the game plan”.

Saat baru mulai usaha beberapa tahun silam, mungkin Anda terpaku pada business plan sebagai kompas perjalanan. Karena belum membayangkan berbagai kemungkinan, yang mampu Anda tulis di sana adalah prospectus yang indah-indah.
Dalam perjalanan waktu, Anda akan menemukan bahwa business plan saja ternyata bisa tidak berdampak apapun terhadap bisnis Anda. Masalah yang datang silih berganti dalam perjalanan bisnis, tidak tertampung dalam business plan.
“Inilah saatnya Anda harus masuk dengan The Game Plan,” tegas Choach Makbul. Dia bicara pada sesi pertama di hari ketiga dari event Execution Strategy yang berlangsung di IPB Convention Centre, Bogor. Event premium untuk para pengusaha Muslim tersebut berlangsung dari 26 – 28 Maret 2019.

Game Plan = Simulasi
Anda yang semakin matang setelah melalui berbagai pengalaman buruk, tentu semakin mampu memetakan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa menjadi kendala dalam bisnis. Itulah bekal paling penting dalam penyusunan Game Plan.
Di dalam game plan, Anda tidak melulu menuliskan prospek-prospek utopis, Anda harus mampu memperhitungkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin akan Anda hadapi beserta simulasi cara mengatasinya.
Misalnya, apa yang harus diperbuat jika ada karyawan yang mencuri, bagaimana jika perusahaan kita didemo masyarakat sekitar, bagaimana jika serikat karyawan mogok kerja?
Tanpa kemampuan memetakan berbagai potensi buruk tersebut, Anda akan tidak siap saat salah satu dari kondisi genting itu terjadi.
Bagaimana menyusun game plan?
Pada dasarnya game plan adalah simulasi dalam menghadapi berbagai kemungkinan buruk. Asalkan Anda jujur terhadap diri sendiri, Anda akan tahu apa kekuatan dan kelebihan, beserta kekurangan dan kelemahan Anda.
Misalnya kecenderungan Anda yang selalu berubah, tidak mau melakukan pengulangan sehingga produk yang Anda hasilkan pun tidak memiliki standarisasi. Anda bisa melakukan analisis dari semua variable yang muncul secara mendalam sehingga bisa dirumuskan langkah-langkah apa yang harus diambil.
Target game plan tidak harus selalu berupa keberhasilan. Boleh saja Anda memasang target agar program tim Anda gagal, karena hidden targetnya dalah menyatukan tim. Atau saat launching produk baru, target awal Anda tidak harus berupa keuntungan, namun awareness.
Rencanakan dan perkirakan segala kemungkinan itu secara matang. Tidak harus sekali, Anda bisa membuat rencana lagi menuju target kedua. Agar lebih mantap, Anda harus memasang target yang lebih sulit dan spesifik agar pikiran kita bekerja lebih serius. Dengan demikian, otak kita akan terstimulasi untuk mencari cara dalam mewujudkan target yang lebih spesifik dan lebih tinggi.
Kalau level target itu membut Anda menjadi gamang, choach Makbul berbagi tips ini. “Lakukan teknik chunking!”
Teknik chunking (mengecilkan) adalah memecah target dalam beberapa skala yang lebih lebih kecil-kecil. Namun begitu, Choach Makbul mengingatkan agar kita tetap mampu mengelola perasaan “instan gratification”, yaitu kepuasan sesaat karena berhasil meraih target antara dalam teknik chunking tersebut.
“Kalau tidak hati-hati, kepuasan sesaat itu akan mengelabui otak kita sehingga bisa menyesatkan dari tujuan awal,” ujarnya.