Kami Masyarakat yang Berduka

40

©NurzamanIlham

Duka! Istilah berduka kerapkali digunakan untuk mengungkapkan perasaan kehilangan.  Biasanya juga  karena ditinggalkan orang terkasih. Betulkan?

Namun ternyata tak hanya itu. Perasaan duka, ternyata juga sering menghinggapi mereka yang tengah berdakwah mengenai “Tabiat buruk Utang dan Riba”.

Bagaimana tidak? Mereka, para pelaku riba yang belum punya kesadaran, biasanya juga punya sifat “ngeyelan” tatkala mendapatkan nasihat seputar utang dan riba.  Ada saja alasan yang mereka lontarkan.

“Boleh kok, kalau sudah telanjur!”

“Kasih pinjam sini, uangmy!”

“Kalau dikit, kan boleh..”

Bla  bla  bla… lalala.

Kebayangkan, gimana rasanya???

Apalagi kalau yang kita nasehati adalah orang terkasih. Entah itu pasangan, keluarga, teman hingga mitra bisnis.

Campur adukk rasanya. Antara pengen ketawa, sedih bahkan sampai pengen ngajak ruqyah!!!

Jika Anda terus gigih berupaya menyadarkan mereka (tentanga bahaya riba), siap-siap saja risikonya.  Tak jarang hinaan akan Anda alami, minimal dijauhi. Ah, siapa sih yang tak sedih dijauhi orang terkasih.

Benar kan,  rasa duka itu bukan cuma dirasakan tatkala kita kehilangan sosok tercinta? Dalam berdakwah pun, ada  risiko duka. Yaitu saat orang yang kita nasihati tidak percaya terhadap perintah dan larangan Allah yang Maha Kuasa.

Namun Anda pasti juga sepakat. Semua rasa duka itu, tak selayaknya memadamkan semangat untuk terus mendakwahkannya.

Bagaimana caranya?

Bergabunglah dengan Masyarakat Tanpa Riba (MTR). MTR akan menghapus DUKA Anda, menemani Anda yang selalu merasa “sendirian” saat menyampaikan TABIAT BURUK UTANG & RIBA.

Last but Not Least

Dakwah “sendirian” itu berat, Broo..

Yuk BERSAHABAT DALAM DAKWAH