JANGAN SALAH EKSEKUSI

473

Idenya bagus, rencana sudah berjalan dengan baik, strategi jitu, tapi mengapa masih gagal juga? Kuncinya adalah kelemahan dalam melakukan eksekusi! Tanpa eksekusi yang tepat, Anda akan rugi waktu, uang, dan kapasitas diri.

Demikian salah satu intisari dari choaching sesi pertama dan kedua sebagai bagian dari Training “Execution Strategy” yang dipersembahkan oleh SyaREA World dan Masyarakat Tanpa Riba (MTR). Event ini akan berlangsung selama tiga hari (26 – 28 Maret), bertempat di IPB International Convention Center (IICC), Bogor.

Menurut Choach Erik Sitepu, salah satu jenis kelemahan eksekusi adalah bertindak seperti superman. Bermain sendiri tanpa melibatkan kesertaan tim.

Dalam sesi kedua yang dipandu oleh Choach Djula Widjaja, tiga peserta berbagi pengalaman saat salah melakukan eksekusi beserta sebab-sebabnya.

Bapak Eko Wahyu, dari Banjarmasin misalnya, mewakili atasannya Bapak H. Busyron, memaparkan pengalaman bisnis mereka di bidang property. Berdasarkan analisa internal, kesalahan mereka dalam melakukan eksekusi adalah salah dalam memilih karyawan/personel yang lebih didominasi factor perasaan. Seorang karyawan sampai dipenjarakan karena melakukan penyelewengan keuangan saat berhubungan dengan masalah legal.

“Akibatnya kami rugi uang, kesempatan dan habis energy,” ujar Bapak Eko.

Peserta lain yang bergerak di industry perlengkapan dapur dari stainless steel menganalisa kesalahan eksekusi mereka disebabkan karena terlalu dikendalikan pemesan. Selama bertahun-tahun, mereka selalu berusaha menuruti kemauan konsumen, terutama dari pasar Australia dan Jepang yang selalu menghendaki spesifikasi dan bentuk khusus.

Hal ini seringkali menjadi problem karena tidak semua insight pemesan bisa ditangkap dan diterjemahkan dengan mudah. Ketika mereka salah menerjemahkan kemauan konsumen, biaya menjadi mahal karena harus mengulang-ulang proses produksi.

Keputusan untuk selalu menuruti kemauan konsumen ini berkembang menjadi senjata makan tuan ketika barang China mulai membombardir pasar Indonesia. Mereka tidak mampu bersaing dari sisi harga karena proses produksi selama ini butuh biaya tinggi. Bukan hanya di pasar Australia, kondisi serupa ternyata juga terjadi pada pasar Jepang yang selama ini menjadi tujuan mereka.

Hasil rembugan dengan tim, akhirnya diputuskan mereka harus menciptakan produk yang didesain, dibentuk, diproduksi serta dipasarkan sendiri, dan pemesanlah yang harus menyediakan dengan produk yang ada.

Problem lain adalah, mengapa eksekusi sering gagal dilakukan? Dalam hal ini, Choach Djula menyebut beberapa kecenderungan yang seringkali menjadi penyebab kegagalan eksekusi.

Pertama, keinginan untuk cepat sampai. Kecenderungan ini risiko besar karena proses yang cepat biasanya linear dengan bahaya. Proses selalu butuh skill dan tools. Semakin besar bisnis, butuh skill yang semakin tinggi.

Karena itu, pahami risiko dari keinginan Anda tersebut. Jangan memaksakan diri untuk cepat-cepat sampai. Misalnya dengan memperbesar investasi di luar kemampuan. Jika tidak benar-benar mahir mengendalikan diri dalam proses tersebut, Anda bisa jatuh dalam masalah baru, bahkan mengalami kegagalan yang semakin fatal.

Secara sunatullah, tidak ada yang instan dalam proses eksekusi. Lakukan eksekusi secara proporsional, sesuai level bisnis Anda. Perlakukan bisnis Anda pada posisi yang tepat.

Kedua, mencari gampangnya. Saran Coach Djula, hindari apa yang Anda sukai, tapi cintai apa yang harus dilakukan. Tidak ada pilihan, jangan main-main dengan waktu dan melakukan banyak hal yang tidak ada gunanya, karena istrirahat itu hanya boleh dilakukan setelah di surga.

Selanjutnya, Choach Djulla mengingatkan 3 prinsip yang harus diperhatikan saat mengambil eksekusi , baik yang berhubungan dengan bisnis maupun kehidupan.

Pertama, pastikan Anda tidak melukai orang lain saat melakukan eksekusi. Kedua, pastikan Anda berbuat baik untuk orang banyak, tidak hanya untuk diri sendiri. Misalnya saat Anda berhasil menyelesaikan utang-utang, pikirkan juga bagaimana caranya agar orang lain juga bisa segera melunasi utangnya. Misalnya dengan melakukan pendampingan.

Ketiga, pastikan Anda melakukan eksekusi itu dengan kesadaran penuh sebagai pelayan yang baik. Tim yang baik adalah tim setiap anggotanya sadar akan tanggungjawab masing-masing. ***