Festival Demokrasi

22

© MY100719.

Mahasiswa UI rame-rame demo menentang kenaikan biaya parkir di kampusnya.

Emang urgent banget ya, persoalan parkir UI buat rakyat? Wow! Kepentingan rakyat banget ya? Hahahahahaha…

Giliran kemaren BBM naik, kemane aje? Giliran ratusan petugas KPPS mati, kalian ngapain? Saat rakyat ditembakin, ente tidur? Sejak kapan mahasiswa terlepas dari persoalan rakyat luas? Malu ama emak-emak, Tong !!!

Kelakuan kalian ‘gak kalah seru dari para pendahulu yang  sekarang sibuk rebutan kursi kekuasaan, pasca pengelabuan besar-besaran dalam parade demokrasi yang tulul kemaren. Mulai dari ketua DPR, MPR, MENTERI, BUMN, dan lain-lain.

“Tapi stttt…., keknya jabatan KAPOLRI and the gank aman”. Ya maklumlah, ‘hajatannya’ sukses berat. Apalagi baliho TITO dan HADI, udah kek UPIN &  IPIN.

It’s democracy, stupid…!!!

Hampir semua sistem tata kelola yang telah dicoba umat manusia belum memihak pada rakyat yang sesungguhnya. Termasuk demokrasi. Ia hanya perilaku yang disesuaikan dengan seperangkat aturan sangat spesifik tempat mereka dilahirkan. Hal ini menjelaskan mengapa Aliran Nusantara tidak keluar dari konteks lokal geografis. JLEB !!!

Kita memang tidak pernah bisa keluar secara keseluruhan dari sistem demokrasi. Kita terlahir dengan sistem yang telah seperti ini,  dan kita tidak bisa memesan lahir di mana. Tetapi kita bisa mengabaikan banyak hal jika mau. Apalagi jika memang bertentangan dengan aqidah. Simple khan?

Demokrasi sesungguhnya melahirkan kandidat sempurna ‘wong licik’ versi ‘wong cilik’, gambaran pria lemah tentang pria kuat, gambaran pria bodoh tentang pria bijak. Dalam sistem demokrasi sejati, orang miskin, lemah, dan bodoh memiliki hak yang sama untuk memilih sebagai orang lain. Walhasil lahirlah boneka…

Demokrasi memberi ruang kepada siapapun untuk menjadikan media sebagai tempat yang berbahaya, sekaligus surga bagi para penipu. Internet dan medsos sumber daya yang fantastis untuk pikiran yang ingin tahu, sekaligus merusak. Walhasil lahirlah pencitraan, framing dan penggiringan isu…

Pekarjaan baru pun tercipta. Buzzer bayaran, jual beli follower, subscriber, dll. Jadilah semua hancur-hancuran, efek dari aturan yang hanya dalam ukuran moral, tanpa imbal balik akhirat yang mereka anggap khayalan. Agama jadi sebagai spritualitas personal dan pengalaman batin yang sifatnya private. Ada-ada saja…

Anda memang tidak pernah bisa memilih keluar dari keseluruhan sistem global. Tetapi  sebenarnya, Anda punya kesempatan memilih untuk mengabaikan beberapa aspek negatif dari perkembangan global. Kalau alasan Anda adalah kemajuan teknologi, ketahuilah bagaimanapun teknologi itu pasti netral, tapi sayangnya ia tidak independen.

Sebagai manusia kita tidak boleh netral, tetapi harus memihak kebenaran. Manusia punya akal pikiran dan hati nurani, makanya kata netral sama dengan abu-abu atau munafik. Sekarang sudah paham maksud kaffah kan?

Bagaimana dengan media? Tidak mungkin media tidak berpihak. Tapi apakah pegiat media tersebut independen? Silahkan tanya pada ulama yang berzikir…

Ok, selanjutnya bagaimana bisa bersikap indepanden dan tidak masuk dalam jebakan kibul-kibul yang menyesatkan?

Sederhananya sih back to quran dan sunnah aja. Hmm… kok anda mulai mengkerut? Awas tanda-tanda sekuler sudah merasuk di hati anda yang soleh sekalipun, jika ibadah mau dilepas dari urusan dakwah.

Hihihihi, lanjut nih…

Agar independen Anda harus berhenti mendengarkan mesin propaganda yang berjalan di jaringan media negara apalagi pro rezim. Televisi jadi sihir pembodohan besa-besaran tiap desa dan kota.

Analisa saja semua acara dan jam tayangnya, siapa aktor-aktornya. Lihat juga bagaimana jaringan global lewat aplikasi menjadikan handphone sebagai mesin pengrusak dahsyat.  Bahkan mobile legand pun jadi candu baru yang legal atas nama negara. “Ruuaaar biasa stupidnya…!!!”

Wallahua’lam bissawab.

✍ Education For All