Menguji Fatwa Riba di Pengadilan

372

Lembaga leasing digugat karena tidak bersedia menghilangkan sisa bunga denda yang belum dipungut.

Kejadian tersebut terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini, Senin (17/06).  Haerul Ihwan (39), pegiat MTR dari Jakarta, menggugat leasing PT. Batavia Prosperindo yang berkantor di Plaza Chasse. Gugatan dari debitor kepada kreditor ini tanpa pendampingan pengacara.

Nilai yang dipermasalahkan tidak besar, hanya Rp5,000,000 (lima juta rupiah) saja, yaitu jumlah bunga yang diminta dihapuskan.  Namun karena itu riba,  maka wajib diperjuangkan untuk menghilangkannya.

Haerul , menggugat PT. Batavia Prosperindo dengan alasan menurut keyakinan penggugat, bahwa bunga leasing ternyata haram hukumnya. Hukum agama ini baru dipahami penggugat setelah kredit leasing berjalan 20 bulan. 

Maka penggugat menggugat untuk membatalkan perjanjian leasing karena tidak sesuai dengan KUHPerdata pasal 1320 tentang syarat sahnya perjanjian dimana suatu perjanjian dilarang mengandung keharaman.

Penggugat hanya mempermasalahkan “sisa bunga denda yang belum dipungut”,  sedangkan yang sudah dipungut tidak dipermasalahkan.  Sementara untuk sisa pokok pembiayaan  yang sebesar Rp254,252,055  (setelah dihilangkan unsur bunga, denda, dan biaya lainnya) dari total pembiayaan awal sebesar Rp947,500,000)  siap segera dilunasi begitu masalah hukum ini  selesai.  Selaku umat Muslim, penggugat berpendirian utang merupakan kewajiban yang harus dibayarkan karena itu siap bertanggungjawab untuk segera melunasinya.

Haerul mengajukan gugatan ini  berlandaskan ayat Al Quran dan fatwa MUI. Juga diperkuat UUD 1945 pasal 28 dan pasal 29 yang menjamin dan melindungi kemerdekaan beragama setiap warga negara Indonesia dan beribadat menurut agama dan kepercayaannnya tersebut.

Saat ini sidang sudah berlangsung 12 kali dan memasuki agenda mendengarkan  saksi ahli yang didatangkan oleh penggugat yaitu:

1. Dr. Pujiyono, SH, MH – Ahli Hukum Perdata dari  FH Universitas Sebelas Maret Solo

2. KH. Abdul Qodim –  Ahli Hukum Islam dan Fiqh Muamalah

Para saksi ahli tersebut menguji, apakah ayat Al Quran dan fatwa MUI masih berlaku di Pengadilan?

Lalu bagaimana sikap hakim selaku wakil Tuhan di dunia, apakah akan taat kepada perintah Tuhan atau mengabaikan?

Persidangan juga dihadiri ratusan pegiat komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR) dari seluruh Indonesia yang  memberikan dukungan moral kepada Haerul.  Selain dari MTR, sidang dihadiri beberapa pemerhati hukum syariah, pelaku bisnis syariah dan komunitas anti riba lainnya. Beberapa elemen masyarakat juga menyatakan tertarik hadir karena memiliki problem serupa.