Begini Cara Pak Nurhadi Negosiasi dengan Bank untuk Bebas BDO

0
440

Proses paling “menakutkan” bagai pengutang yang ingin lepas  riba adalah berhadapan dengan lembaga finansial pemberi utang.  Bagaimana pembelajaran  yang diberikan MTR untuk menghadapi proses tersebut? Simak pengalaman Pak Nurhadi, pengusaha supplier kuliner yang berangsur-angsur mulai lunas utang miliaran di bawah ini.  

Awalnya Pak  Nurhadi punya utang sekitar 7M. Utang  tersebar di 3 bank  masing-masing sebesar 4,5M; 1,5M; dan 800 juta, plus beberapa ratus juta di berbagai supplier.  Utang sebesar itu  ternyata belum membuatnya kapok. Ia bahkan mengajukan lagi 3M di sebuah bank plat merah.

Begitulah tabiat buruk utang, sekali berutang, ia akan kecanduan, “Demen dah, pingin nambah top up lagi aja,” ujarnya kepada tim KSW.

Padahal ia menyadari, uang untuk bayar cicilan masih dalam ketidakpastian.  Padahal pula, ia mengaku sendiri, sejak punya utang riba, doanya tumpul, kadang  tidak terkabul. Kalaupun terkabul, waktunya  lammaa atau diberi sedikit sekali dari kebutuhannya.

Pada posisi tinggal tandatangan  utang langsung cair itu, tiba-tiba Allaah memberinya hidayah. Ia melihat postingan promo  acara PBTR (Platform Bisis Tanpa RIba) yang dihelat Masyarakat Tanpa Riba (MTR) di facebook. Tertarik dengan promo tersebut, ia pun mendaftarkan diri di acara yang akan berlangsung selama 3 hari tersebut.

Jadilah, Pak Nurhadi pun ikut seminar PBTR di Bogor  bersama lebih dari 300 peserta lainnya. Baru hari pertama, ia merasa  materi yang diberikan mengena sekali, dan memutuskan langsung “action” hari itu juga.

Telepon  kepada anaknya yang telah diberi kuasa untuk mengurus kredit yang sudah nyaris cair, ia perintahkan untuk membatalkan hari itu juga.  Sang anak bingung, tentu saja. Agar lebih mudah menjelaskan, ia suruh anaknya menyusul ke Bogor dari Tangerang. Ia jelaskan kepada anaknya tentang materi yang ia pelajari selama acara,  tentang tabiat buruk utang dan konsekuensi riba yang sangat berat.

Merasa mendapatkan sesuatu yang berharga, dua minggu kemudian ia memutuskan ikut Seminar Mengembangkan Harta Tanpa Riba (SMHTR) di Semarang. Kali ini ia tak mau “pinter” sendirian. Ia ajak seluruh keluarganya; istri dan 5 orang anak-anaknya yang sudah dewasa.

Dari dua event MTR itu, Pak Nurhadi mulai mendapatkan ketenangan. Padahal sebelumnya, tiap malam keringatan walaupun tidur di ruang ber-AC. Kalau siang ia pun ketakutan, dikejar-kejar debt collector hingga berganti-ganti nomor handphone berkali-kali. Ketenangan juga datang karena  ia mulai menguasai ilmu paling mendasar dari proses lunas utang miliaran yaitu mendekatkan diri kepada Allaah SWT.

Secara teknis, di kedua event tersebut Pak Nurhadi  diajarkan teknik-teknik negosiasi dengan pihak lembaga keuangan pemberi piutang, dengan prinsip bersahabat dalam dakwah.  Pak Nurhadi mengaku, MTR sama sekali tidak membantu secara finansial. Yang ia dapatkan adalah  sistem bagaimana menghadap bank secara baik-baik dan melunasinya dengan baik-baik pula.

Maka Pak Nurhadi pun mulai praktik apa yang telah ia dapatkan dalam pembelajaran di MTR. Ia datangi baik-baik bank pemberi utang untuk melaporkan diri sudah tidak mau mengangsur riba dan menyatakan itikadnya untuk segera mau melunasi utang-utangnya.

Dengan pendekatan persuasive dan prinsip ‘bersahabat dalam dakwah’, itikadnya diterima dengan baik oleh pihak perbankan. “Yang penting adalah itikad baik mau lunasin utang. Kalau perlu bilang kita punya asset yang bisa djual untuk menutup utang tersebut,” ujarnya.

Menurut Pak Nurhadi, pada tahap inilah pengutang akan mendapatkan ujian untuk melepas kemelekatan terhadap unsur dunia. “Kalau memang harus lelang, kenana mesti takut. Kalau mau hijrah 100%, karena harta itu sesungguhnya bukan milik kita,” tegasnya.

Tekad itu Pak Nurhadi buktikan dengan mengembalikan mobil BMW senilai Rp900 juta yang baru beberapa bulan ia kredit dari leasing. “Pokoknya stop riba.  Nggak perlu lagi  kelihatannya kaya, punya BMW, Pajero, Fortuner tapi sebenarnya hasil utang riba,” tegarnya lagi.

Dengan prinsip bersahabat dalam dakwah pula, Pak Nurhadi menjadi tidak takut lagi bertemu dengan debt collector. Ia sambut  mereka baik-baik, suguhi minuman dan penganan, ajak ngobrol yang ringan-ringan, abang-abang Dessi itu seperti tidak mendapatkan ruang untuk marah-marah menagih pembayaran  utang.

“Padahal dulu, dia datang dengan marah, saya lebih marah lagi. Tapi kita kan tidak selamanya bisa menghindar. Kalau mereka nggak datang, malah saya datangin,” kisah pak Nurhadi menggambarkan sikap kooperatifnya.

Melalui proses seperti itu, alhamdulillah dengan bantuan Allaah, sekarang prosesnya berangsur-angsur mulai lunas kendati asetnya belum ada yang terjual. Ia juga  merasa hidupnya menjadi semakin tenang setelah sama sekali tidak memiliki tanggungan riba.

Mengingat betapa sakit dan sulitnya proses lunas utang, Pak Nurhadi menyampaikan pesan khusus kepada para pengusaha yang belum pernah berutang. Jangan sekali-kali berutang, apalagi riba, karena Allaah sudah menyatakan perang kalau kita tidak mau meninggalkan sisa riba.

Efek riba, menurutnya, tidak hanya berimbas pada bisnis, namun juga pada psikologis dan hubungan keluarga. Ia sudah merasakannya  di dalam keluarga, yang masing-masing menjadi temperamental sehingga komunikasi antar anggota keluarga banyak mengalami salah paham.

“Lebih baik jalankan dengan modal seadanya,” sarannya.

Sementara bagi yang sudah tercebur utang, segera dekatkan diri kepada Allaah dan taubat dari segala maksiat dan stop riba. Agar tidak stres, “Jangan dipikirin kalau nggak bisa bayar. Bilang saja baik-baik nggak bisa bayar dan nggak  mau lanjutin riba karena dilarang Allaah, minta hapus BDO. Tapi utangnya tetap harus dibayar karena ini kewajiban.”

Pengalaman pribadinya dalam proses lunas utang miliaran inilah yang sering ia bagikan saat melakukan dakwah kepada masyarakat agar tidak terjerumus utang dan riba. Ia selalu memberikan contoh dirinya sendiri untuk menguatkan pesan bahwa berbisnis dengan cara utang (riba) itu salah. “Karena punya utang riba itu sakiit banget,” pungkasnya.

Anda ingin lepas dari rasa sakit terjerat utang riba seperti Pak Nurhadi? Hubungi komunitas MTR terdekat pada nomor-nomor di bawah ini,  dan dapatkan pencerahan awal melalui BUKU MERAH “Kesalahan-kesalahan Fatal Pengusaha Mengembangkan Bisnis dengan Utang.”

☎️ 0853-353-353-19 

☎️ 0811-1818-29 

☎️ 0852-8966-9696 

☎️ 0811-1888-29

 

InsyaAllah akan Anda  dapatkan jalan untuk menggapai hidup tenang tanpa utang dan riba di  jalan dakwahNya.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here