SINDROM BEBAS CICILAN

0
161

Hampir saja saya tidak kebagian sajian istimewa di kediaman Bang Irman nan lapang dan asri itu. Seperti biasa, Warga KSW/K-MTR sangat antusias melahap hidangan lezat dan bergizi ketika saling berkunjung. Karena kami faham bahwa selain lezat, nikmat dan bergizi, sajian halaalan thoyyiban di kediaman Warga KSW/K-MTR adalah sajian penuh keborakahan, karena diperoleh dengan cara yang halal dan diproses juga dengan cara yang halal lagi baik.

Namun, saat ini, saya tidak akan bercerita tentang hidangan dari keluarga Bang Irman pasca kami melakukan Dakwah On The Street (DOTS) di Kota Bengkulu itu. Karena saya akan sharing hal lain yaitu SINDROM BEBAS CICILAN.

By the way, arti kata SINDROM itu apa ya?
Mohon bantu menjelaskan apa maksud dari kata SINDROM ya..

Begitu selesai menikmati sajian istimewa penuh barokah di kediaman Bang Irman itu, kami langsung bergegas kembali ke hotel untuk persiapan Sholat Jum’at di Komplek Dosen Universitas Bengkulu. Dalam perjalanan pulang, saya ditemani atau disopiri oleh Kang Haji Yayan yang didampingi atau dikeneki oleh Kang Hidayat yang terkenal karena Roti Kota-nya itu.

Sepanjang perjalanan dengan mobil off-road kesukaan Kang Haji Yayan, kami bertiga banyak bercerita dengan riang. Mengenang perjalanan kisah masing-masing ketika berusaha lepas jari jerat si a-bank, pak-le dan eng-ko. Suka-dukanya dinikmati, karena faham itulah proses yang mesti dijalani.

“Hampir saja saya hidup tidak jelas ketika sudah lunas utang.”

Ungkap Kang Hidayat ditengah-tengah keseruan kami saling timpal cerita.

“Kunaon Kang?”
Saya menyelidik ingin mendengar kisahnya yang sering terdengar lucu, walaupun Kang Hi menyampaikannya dengan serius.

“Iya Pak. Setelah lunas utang, saya merasa bebas sebebas-bebasnya. Sehingga bingung mau ngapain. Kerjaannya hanya di rumah saja. Banyak tidur-tidruannya. Ke pabrikpun malah enggan. Mungkin karena merasa tidak ada beban ya Pak?”

“Sekarang kumaha Kang?”
Sahut saya, ingin tahu perkembangannya.

“Alhamdulillaah, sekarang saya semangat banget Pak. Terutama setelah ikut Be-MiMS kedua kalinya. Saya jadi ketemu banyak hal untuk mengembangkan usaha saya. Gairah bisnis saya bangkit kembali. Dorongannya sudah berganti, dari dorongan untuk bayar utang, menjadi dorongan untuk berkontribusi kepada Kebangkitan Ummat.”

Begitulah kira-kira diskusi seru kita di atas kendaraan, hingga tak terasa kami tiba di pelataran hotel terbaik di Bengkulu itu.

Pada kesempatan lain, beberapa waktu lalu, saya menerima pesan japri dari seorang ibu. Beliau menuturkan:

“Setelah ikut suatu acara anti riba, suami saya malah kerjaannya nonton ceramah mulu di Youtube Pak. Dia tidak ngapa-ngapain selain keseharian kebanyakan dengerin ceramah di internet. Bantu saya dong Pak, agar suami semangat kembali mengembangkan usahanya…”

Menanggapi japrian seperti itu, seperti biasanya, saya mempersilakan si ibu untuk mendiskusikannya bersama Warga KSW/K-MTR lainnya di grup. Karena tidak kepegang kalau japrian. Setiap detik, saya bisa terima japrian secara beruntun.

Nah..
The pont is..
Atau maksud saya berbagi kisah adalah..

Adakah diantara Anda yang hilang semangat juang karena keenakan setelah merasa bebas utang?
Atau adakah diantara Anda yang setelah bertaubat dari maksiyat riba malah lebih banyak berdiam diri, karena mengharapkan sesuatu yang min hayzu laa yahtasib?

Jika ada yang seperti itu, berhati-hatilah!
Karena Anda mulai gagal faham akan tujuan penciptaan diri kita di muka bumi ini.
Anda mulai mengingkari, untuk apa sebenarnya kita dilahirkan ke dunia ini.

Bebas utang dan bebas riba bukanlah tujuan utama hidup kita. Itu hanyalah awalan dari sebuah perjalanan hidup yang sesungguhnya. Yaitu menyiapkan tiga hal sebagai bekal utama ketika kita sudah tiada nanti.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631).

Oleh karena itu, saya mengajak kita semua untuk berlomba-lomba menyiapkan tiga hal itu sebelum kita meninggal nanti. Mari kita persiapkan bersama-sama bekal itu pada Program MENGEMBANGKAN BISNIS UNTUNG BISNIS BAROKAH (M-BUBB). Yang Insyaa ALLAAH akan dilaksanakan pada Hari Rabu – Jum’at, 23 – 25 Mei 2018 di Bogor nanti.

SIlakan saksikan sampai tuntas dan bagikan video penuh semangat setelah ikut UTHB ini ya. UTHB adalah cikal bakal program M-BUBB:

https://www.youtube.com/watch?v=O9QkUYJUItY

Insyaa ALLAAH pada Program M-BUBB kita akan terus bersemangat membangun bisnis dalam rangka menghambakan diri kepada ALLAAH SWT. Bisnis yang kita bangun sebagai alat perjuangan untuk menyongsong Kebangkitan Islam dan Kejayaan Kaum Muslimin.

Silakan daftarkan diri, keluarga, kerabat dan sahabat serta mitra bisnis Anda ke 0811-18-18-29 untuk ikut M-BUBB.

HIDUP INI BUKAN HANYA URUSAN UTANG DAN RIBA SAJA. SAATNYA KITA NAIK KELAS, BERKONTRIBUSI MENYELESAIKAN PROBLEMA UMMAT DENGAN BISNIS YANG SEDANG KITA KEMBANGKAN SAAT INI.

BaarakALLAAHu lana wa lakum jamii’an.

Samsul Arifin SBC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + five =