By Yuli Sidomampir, KSW #34 Akhwat
WA KSW 0811113139

BAHAGIA

Saat menunggu bapak yang sedang fisoterapi tiba tiba ada dua orang mbak-mbak duduk pas disebelah saya. Serius mereka ngobrol tidak mempedulikan saya yang benar benar duduk didekat mereka. Karna pendengaran saya masih normal, obrolan merekapun terdengar oleh saya yang saat itu.

Salah satu dari mereka bertanya, “menurut kamu apa itu bahagia?”. Sang kawan menjawab ; “ketika kamu bisa penuhi apa yang kamu mau itu bisa jadi bahagia.” Su penanya bertanya lagi ; “tapi apa iya setiap kemauan kita bisa bikin bahagia?”. Dan lalu mereka berdua hening.

Ternyata si penanya googling mencari arti kata bahagia. Saya tau itu ketika mereka akan beranjak pergi, si penanya tadi dengan suara sedikit kencang (pas itu saya kaget, soalnya dari hening tetiba dia bersuara agak kencang) ; “ternyata arti bahagia itu banyak, ini deh baca !!” Ujarnya sambil beranjak pergi meninggalkan saya yang jadi ikut mikir apa itu arti  BAHAGIA

Seketika ingatan saya melayang pada hari minggu saat acara SPI di salak tower. Saat itu kakak saya juga ikut SPI. Disaat break sholat pas sesaat selesai sholat, kakak saya bertanya, “saya punya banyak teman dan mereka nampak baik baik aja, bahagia aja, kayanya anaknya ga pada punya masalah.” Dan saat itu saya menjawab tapi tidak detail ” tergantung teh, dari sisi mana teteh membingkai kata BAHAGIA.

Kalo teteh membingkainya dengan bingkai kemapanan dunia, maka ketika anak kita bisa dapat nilai bagus, nanti kerja dapet gaji, atau nikah dengan lelaki yang mapan. Itu udah cukup buat bikin bahagia. Tapi yakin ga bahwa itu bahagia yang ga akan ada akhirnya atau hanya bahagia sesaat atau semu.” Dan kakak saya hanya terdiam entah apa yang ada difikirannya.

Karna obrolan mbak-mbak itu saya jadi memikirkan lagi tentang apa itu bahagia. Ya..BAHAGIA yang jadi tujuan dan cita cita semua manusia.

Semua orang bekerja mati matian, sampe nabrak riba, atau sampe nyajen di gunung kawi buat apa? Buat BAHAGIA

Mereka yang memakai narkoba juga untuk apa? Untuk merasa BAHAGIA

Mereka yang terjebak pada jiwa yang retak (skizofrenia) itu kenapa? Karna tidak merasa BAHAGIA

Kita push anak anak kita untuk jadi juara kelas, untuk jadi anak yang bisa kita puji puji didepan orang lain, demi apa?  Demi BAHAGIA

Perampok itu merampok orang bahkan bunuh orang biar apa? Biar BAHAGIA

Semua orang bergerak menuju satu titik BAHAGIA.

Sejenak saya menarik nafas saya yang tetiba terasa sesak. Yaa..semua yang manusia lakukan hanya untuk survive agar mereka bahagia. Satu perasaan yang membuat senang dan tentram karna keinginannya sudah terpenuhi. Tidak membahas cara, yang penting senang.

Tapi masalah, benarkah bahagia yang kita punya adalah bahagia yang hakiki. Bukan bahagia yang membawa derita. Kadang menerka standar bahagia itu ada diluar jangkauan manusia.

Rasanya apa yang dijelaskan Ibu Dui di SPI menjadi jawaban dari perenungan saya. Yang ikut SPI pasti masih ingat bahwa Alloh swt ketika menciptakan manusia menyertakan manual book sebagai panduan hidup yaitu al quran. Jika buku panduan ini diikuti maka kebahagian hidup di dunia bahkan di akherat bisa tercapai. Maka jika punya masalah apapun tanyalah pada Alloh swt. Cari jawabannya dalam al quran.

Ya..sebagai muslim tentunya kita harus mengartikan kata bahagia dengan bingkai islam. Jika tujuan tertinggi hidup seorang muslim adalah ridho Alloh swt. Maka cukuplah ketika kita tau Alloh swt ridho maka itu membuat kita bahagia. Sebaliknya, jika itu membuat Alloh swt ga ridho maka itu membuat kita sedih.

Alur ini membuat kita semakin bisa memetakan arti bahagia untuk diri sendiri dan keluarga. Sehingga sesulit apapun masalah kita yang ditanya atau yang dijadikan standar bukan orang lain tapi Alloh swt. Misalnya, gegara taubat riba akhirnya ga punya rumah, ga punya mobil. Kalo standarnya kata manusia, pasti sedih.

Tapi kalo standarnya Alloh, bahagia luar biasa yang ga bisa diukur dunia. Manusia yang berakal dangkal ga akan bisa jangkau ini. Jadi wajar jika ada yang mencibir, mencela atau bahkan menjelekkan langkah hidup yang diambil.

Meski anak anak kita ga jago matematika kaya anak orang lain ga akan jadi aib dimata orangtuanya yang bikin sedih dan gusar, karna kita tau bahwa nilai matematika ga akan ditanya Alloh swt di yaumil hisab tapi itung itungan zakatlah yang ditanya. Cukuplah anak kita menjadi anak yang kelak pasti selalu mengeluarkan zakatnya dengan hitungan yang pas itu cukup membuat kita BAHAGIA .

ah..ternyata kita, manusialah yang membuat hidupnya sulit sendiri. Bukankah hidup kita ini ujungnya kematian. Dan kematian adalah gerbang kehidupan abadi yang tak ada kematian lagi setelahnya. Maka kebahagian hakiki ada disana, setelah kematian. Tetapi siapa yang memiliki kehidupan abadi itu?. ALLOH SWT . Maka sangat wajarlah jika IA yang menentukan aturan main dalam hidup ini termasuk menentukan arti bahagia dan tidak bahagia.

Tergantung bingkai apa yang mau dipakai dalam hidup ini dan sulit tidaknya kita menjalani hidup ini tergantung apakah bingkai itu sesuai dengan fitrah penciptaan kita sebagai manusia, hambanya Alloh swt.

Dan saya BAHAGIA karna bisa menghantar bapak saya fisioterapi dan menunggunya selama 2 jam karna saya yakin Alloh swt meridhoi saya meski sambil ngantuk nunggunya ..😄😄😄

SELAMAT BERBAHAGIA TEMAN 😊😊😊

KAMI TUNGGU TULISAN WARGA LAINNYA. ANDA SUDAH BISA MEMBACA KAN? MULAILAH MENJADI PENULIS
Pembaca mengikuti ide orang lain. Penulis memberikan ide kepada orang lain.

BAGIKAN
Berita sebelumyaDI PERSIMPANGAN JALAN
Berita berikutnyaKEEP LEARNING

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here