RISALAH PAGI SABTU: NKRI GAGAL TAUHID

320

Bismillaahirrohmaanirrohiim. 1) Pedukunan di Indonesia di antaranya, diduga sudah kumplit. Pedukunan hadir pada hampir semua pori-pori kehidupan dan area serta waktu, mulai dari tingkat pribadi, keluarga, tetangga, masyarakat, ke-RT-an hingga tingkat Istana Negara, termasuk pada sistem pendidikan, siang dan malam. Kita ambil salah satu contoh di tingkat nasional di istana negara yang diperankan oleh Jokowi and Crew, “bahwa istana negara menganut paham klenik, dengan bukti menghadirkan kereta dari purwakarta yang dikeramatkan oleh sejumlah orang pada momentum HUTRI KE-71”.

2) Dukun dan perilaku pedukunan, sebenarnya bisa dipatahkan, dengan ilmu dan ketauhidan serta berani mengomunikasikan, sehingga cara itu bisa diklaim sebagai upaya perlawanan terhadap teori dan praktik pedukunan. Contoh: Seorang pawang hujan bisa digagalkan dan curah hujan tetap mengguyur pada saat pawang melarang hujan turun, karena pawang menggunakan teori pedukunan. Demikian pula dukun yang bertameng samuray yang bertukiskan huruf-huruf Arab. Bahkan dukun yang berhasil menguasai opini publik dengan kepiawaiannya mencetak sejumlah tumpukan uang tanpa alat digital pencetak uang.

3) Sejumlah orang sering menyelipkan kalimat, “bahwa ujian ummat islam di antaranya harta, tahta, wanita, dll”. Kalimat itu seolah-olah hanya dialamatkan kepada laki-laki dan seolah menjadi petaka yang menakutkan. Faktanya, perempuan pun diuji oleh laki-laki, termasuk perempuan juga diuji oleh tahta dan harta. Padahal, laki-laki dan perempuan bisa terhormat karena pasangannya atau bisa jadi terhina, demikian pula dengan harta dan tahta.

4) Rosululloh shollallòhu ‘alaihi wasallam, termasyhur hingga akhir zaman dalam semua sepak terjangnya, di antaranya karena kinerja dakwah kenabian beliau ditopang oleh ketulusan cinta dan tauhid serta kedermawanan salah seorang isterinya “Ibu Khodijah Al-Kubro” rodhiyallòhu ‘anhà. Seandainya Ibu Khodijah tidak tulus cinta kepada Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthollib, tidak bertauhid, dan kikir, “bisa dibayangkan, seperti kharisma kinerja kenabian beliau?”.

5) Ummat Islam wajib berupaya untuk mendapatkan harta, tahta, termasuk pasangan, dengan cara yang sesuai petunjuk ilmu dan didasari tauhid yang benar, dengan target untuk mengakkan pesan Alloh ‘azza wajalla di muka bumi. Jika tidak, ummat Islam bisa kalah dalam beberapa titik bahkan pada semua titik strategis oleh AhoK dan Hari Tanu Cs, walaupun dan padahal mereka kafir. Kecuali, jika mereka bertaubat dengan cara menjadi muslim yang benar, seperti Khoirul Tanjung Cs. Termasuk contoh yang indah, yaitu yang diperankan oleh Almaghfurlahù Muhammad Fakhrul Akbar (salah seorang anak Ustadz Hamim Ruba’i) yang berhasil meyakinkan diri dan keluarga serta mitranya, karena ia berani mempertanyakan status halal tidaknya harta yang diberikan oleh beberapa pihak kepadanya walaupun harta itu sebagai haknya. Interaksi birokrasi dan politik serta ekonomi yang diperankan oleh salah seorang anak Ustadz Hamim Ruba’i ini sangat jelas mengingatkan dan mengkritik sikap siapa pun yang asal-asalan dalam meraih Kekayaan, pangkat, jabatan, dll.

6) Ummat Islam harus peka juga, agar tidak gagal tauhid. Karen, pada buku paket pelajaran IPA, pada sekian tahun yang lalu “tertulis”, _”bahwa matahari adalah sumber energi; air adalah sumber kehidupan; …”._Jika kalimat tersebut mengikat kita termasuk keluarga dan keluarga besar lembaga pendidikan serta negara secara makro, kemudian dibiarkan dan tidak dikoreksi serta tidak diberi solusi, maka kalimat kunci tersebut sudah menyeret manusia untuk menempatkan STATUS ALLOH ‘AZZA WAJALLA BERADA DI BAWAH STATUS MATAHARI DAN AIR SERTA MAKHLUQ LAINNYA. Bukankah sumber segala-galanya hanyalah Alloh ‘azza wajalla? Matahari dan Air adalah di antara ciptaan Alloh yang melahirkan energi dan kehidupan.

7) Jika NKRI sudah melepaskan dirinya dari Sistem Alloh ‘azza wajalla, maka Alloh pun berlepas diri dari siapa pun yang merasa tidak perlu kepada Alloh. Dan NKRI tidak ubahnya, kecuali ibarat sarang labah-labah yang rapuh adanya alias tidak memiliki daya tahan walaupun hanya satu jam saja. Tetapi, kekafiran dan syahwat kekafirannya tetap di-ACC oleh Alloh sesuai keinginan manusia itu sendiri. Allòhu Akbar. Walillàhil hamd. Sampaikan!
*Disarikan dari Kajian Shubuh Sabtu, 29 Dzulhijjah 1437 H/01 Oktober 2016, di Musholla Al-Falah Jl. Puri Dago Timur I Kel. Sukamiskin Kec. Arcamanik Kota Bandung 40293, Pukul 04:35 – 06:00 WIB. Imam Sholat Shubuh dan Nara Sumber: Dr. H. Iskandar Mirza, M. Ag. Penyunting, Editor, merangkap Mustami’: Badrudin Abu Rusydi??