PROYEK BESAR YANG TAK BOLEH GAGAL

146

Saya sudah mengikuti SPI sebanyak dua kali. Pertama kali SPI yang setengah hari di fave hotel. Dan itu kali pertama saya bertemu lagi dengan bu dui setelah sekian puluh tahun tak bertemu. Beliau adalah kakak kelas saya di SMAKBO sekaligus kawan kakak saya.

Ada hal yang membuat saya selalu ingat dengan pertemuan itu. Seperti biasa pertanyaan bu dui ketika bertemu saya sama dengan kebanyakan orang yang sudah lama tak bersua “anaknya sudah berapa?”. Pertanyaan yang kadang bikin saya ngeri ngeri sedap. Karna biasanya pertanyaan itu berbuntut pertanyaan baru karna anak saya baru satu dan bisa jadi hanya satu. “Kok ga punya anak lagi?” “Emang aisha ga pengen adik?” Dan pertanyaan lain yang kadang saya jawab dengan nyengir kuda (btw emang kuda bisa nyengir ya 😎)

Agar bu dui tidak bertanya seperti yang lain, saya pun menjawab : ” sebenarnya saya ingin punya anak 10, tapi sejauh ini Alloh baru kasih 1.”

Jawaban bu dui bikin saya “kesetrum”. Bisa jadi karna faktor U kali ya kadang jadi BAPER yang bisa bikin rembay.

” ga apa apa, Alloh sedang punya rencana indah buat kamu” sahut bu dui sambil menepuk tangan saya.

Jawaban itu terasa banget sampai kehati saya. Saya tertegun sambil melihat bu dui yang masuk kedalam ruangan. Langsung terbayang wajah aisha, putri saya. Ya ..Alloh punya rencana indah buat saya dan ayahnya aisha, lewat aisha dan mungkin hanya aisha. Alloh swt ga mungkin salah menakdirkan sesuatu. MasyaAlloh. Melalui jawaban singkat dan mungkin bu dui pun sudah lupa pernah berkata seperti itu pada saya, tapi itu cukup membuat saya menyadari akan kuasa Alloh dan kehendaknya yang ga mungkin zolim pada hambaNya. Kita, yang kadang terlalu meminta lebih tanpa sadar itu diluar kemampuan kita. Dan merasa kesal ketika tidak beri.

Sangking membekasnya kejadian itu, sepulang SPI saya kumpul bareng aisha dan suami saya. Saya ceritakan apa yang tadi saya alami dan saya rasakan ketika bertemu  bu dui dan ketika diacara SPI

Saya bilang sama Aisha..” Sha, ternyata Alloh sedang merencanakan sesuatu yang indah buat kita. Meski sampai saat ini Alloh belum kasih adik buat aisha, itu yang terbaik yang Alloh mau buat kita dan itu pasti indah. Jadi ummi mau nambah doa. Jika Alloh berkehendak anak ummi hanya aisha, ummi mau Alloh swt memberi ummi seperti ummi memiliki sepuluh anak. Alloh kasih kesehatan aisha seperti kesehatan 10 anak, kebaikan seperti kebaikan 10 anak, kepandaian seperti kepandaian 10 anak, kelak di yaumul hisab kekita aisha menolong ummi dan abi, seperti ummi punya 10 anak. Alloh pasti kasih banyak  kebaikan buat aisha, ummi dan abi. Aisha yakin kan?” Anak perempuan yang saat itu baru mau 8 tahun ternyata menangis dan memeluk saya.

Dan seperti biasa, setiap pulang ikut acara semacam parenthing saya selalu melakukan pengakuan dosa pada aisha. Meminta maaf atas kesalahan yang selama ini dilakukan. Seperti semalam sepulang acara SPI di salak tower.

Ya…tidak ada anak yang melakukan kesalahan karna sengaja. Mereka memang tidak bisa bukan tidak mau. Kitanya, orangtua yang terkadang bahkan sering tidak mau berusaha lebih dalam memahami anak. Bukan karna tidak bisa karna tidak mau.

Tidak mau karna rasa lelah kita sehingga melegalkan rasa tidak bisa untuk menahan marah. Puas rasanya kalo anak nangis dan menganggap dia menyesali perbuatannya dan tidak mengulanginya. Padahal saat itu yang kita lakukan adalah mencederai nalurinya dan bisa jadi ingatan itu akan dibawanya sampai nanti tua.

Di SPI saya jadi tau kemana saya harus mengarahkan aisha. Sampai saat ini saya tidak pernah menyuruh dia belajar di rumah. Sekalipun dia sedang ujian. Sampai suatu aisha bertanya sama saya
” emang ummi ga marah kalo nilai aisha jelek? ”

” ga ..ummi ga marah kalo dapat nilai jelek. Ummi cuma pengen kamu bahagia di sekolah.”

Dan alhamdulillah, ternyata tanpa ada tekanan hasil raportnya kemarin sangat memuaskan saya. Dan di spi saya mendapatkan jawaban atas itu. Ketika anak bahagia. Nalurinya terpenuhi. Fitrahnya terpenuhi. Maka kepandaian itu akan nampak dengan sendirinya. Karna setiap anak itu jenius. Orangtualah yang mematikan kemampuan itu dengan banyak tuntutan yang melebihi kapasitasnya.

Alhamdulillah, Alloh pertemukan saya dengan ust syamsul juga bu dui. Orang orang baik yang selalu ada di doa saya
” ya Alloh, pertemukan saya dengan orang orang baik yang akan menunjuki aku kepada kebaikan.”
Dan kabulkan doa saya.

Wasilah bu dui melalui SPI-nya semakin jelaslah mapping yang saya buat untuk aisha. Karna Aisha adalah big project yang ga boleh gagal. Jika gagal, ga akan ada yang lain yang akan menolong saya dan suami kelak di yaumil hisab.

Mohon doanya kepada para sahabat disini untuk kebaikan, kesehatan dan keberkahan untuk aisha. Juga mohon doanya agar kami orangtuanya selalu dimudahkan Alloh untuk mendidik, membesarkan, dan menghantarkan aisha seperti yang Alloh swt mau. Aamiin 😊

Bogor, 24 Juli 2017
Yuli, KSW #34 Akhwat