PERNIKAHAN TERNYATA COBAAN

275

By Yuli Sidomampir KSW #06 Culinary

Pernikahan dilakukan untuk melengkapi kekurangan sehingga wajar setelah menikah bisa melihat kekurangan yang ada pada pasangan. Namun, apabila sejak awal pernikahan settingannya adalah surga maka itu salah.

Surga merupakan kehidupan setelah dunia. Ga ada luka, ga ada kecewa, ga ada konflik, dll. Selama hidup di dunia, surga dunia ga akan sesempurna surga aslinya. Wajar saja jika di tengah jalan menjadi bosan dan kesal karena yang dikejar kesempurnaan yang ga ada di dunia.

Settingan hidup di dunia adalah ujian. Begitu juga pernikahan.

Sebelum menikah, syetan mempunyai kepentingan agar manusia terjebak oleh nafsu. Maka yang dikipas-kipas oleh syetan yang baik-baik dari pasangan. Sebelum menikah, pasangan akan saling membayangkan satu sama lain. Si wanita membayangkan si  laki-laki seakan jelmaan nabi Muhammad, sedangkan si laki-laki membayangkan si wanita bak Siti Khodijah. Mimpi indah yang dirajut di atas kesempurnaan yang nampak dari luar pasangan.

Sesaat setelah ijab kabul diucapkan, kepentingan syetan beda lagi. Pasti panaslah syetan jika ada manusia yang menyempurnakan imannya. Maka, misinya membuat pernikahan anak manusia ini bukan sebagai penyempurna keimanan. Mulailah dikipas-kipasin yang buruk-buruknya agar kelihatan di mata pasangan dengan amat jelas.

Masalah sepele saja bisa jadi bikin sakit hati. Masalah ga penting aja bisa bikin serasa dikutuk hidup di neraka dunia. Penyesalan demi penyesalan terselip di hati yang suatu saat akan meledak sampai si wanita berkata “ceraikan aku”. Si pria pun terledakkan emosinya dengan semua yang tersimpan dalam hati dan berkata “aku ceraikan kamu.” Meski boleh tapi melakukan hal yang dibenci Allah apalagi hanya karna masalah sepele.. iblis akan tertawa senang. 😈😈😈

Ah.. andai kita faham bahwa bahagia adalah sesuatu yang bisa kita design. Bisa kita planing jauh-jauh hari. Bisa dikondisikan. Mungkin ga akan mudah kita bilang “hidup gw menderita”. Karna terkadang derita itu hanya karna masalah frame. Sama halnya bahagia itu hanya masalah bingkai.

Bukankah yang menentukan adalah apa yang ada dibenak dan yang ada di hati kita?

Seringnya, kita menyangkal kenyataan bukan menghadapi kenyataan. Itu yang membuat hidup seakan menjadi penderitaan tanpa ujung.

Bohong jika ada pernikahan yang tanpa konflik. Sesempurna Rosul saw, beliau menikah dengan para wanita yang tak dijamin sempurna. Ada konflik. Banyak konflik. Tapi Rosulullah saw dan para istrinya menghadapi konflik dan menyelesaikannya dengan bingkai yang tepat. Bukan menyangkal atau malah lari dari kenyataan dengan masih mendoktrin diri bahwa “saya benar dan dia salah”.

Sejak awal menikah belajar memilah mana yang seharusnya dijadikan masalah atau tidak. Belajar memaklumi kebiasaan yang bisa jadi ga sama dengan kebiasaan kita. Dan belajar ga perlu mempermasalahkan yang ga harus dimasalahkan.

Karna sejatinya menikah adalah pintu ujian yang baru. Maka harus tetap belajar dan belajar menjadi lebih baik hari demi hari untuk melalui setiap ujianNya. Sebagai sahabat, sebagai teman sehidup dan sesurga.

Alhamdulillah, Allah mengizinkan kita bertemu dengan orang-orang hebat dalam MTR ini, ditambah dengan SPI yang membuat kita lebih mengerti hakekat tujuan dari sebuah pernikahan.

Selamat menjadi KELUARGA PEJUANG

😊😊
============================

Penasaran?

SPI Makin membuat mesra pasangan Suami istri?

Temukan penjelasannya yang AMAZING dalam AL-QUR’AN di event SmartParent Institute:

“Membuat Peta Jalan Sukses Dunia Akhirat Bagi Orang Tua dan Anak Berdasarkan Alqur’an” bersama Dui Nasheer (Founder SmartParent Institute)

Sabtu, 13 Januari 2018
Waktu : 08.00-21.00 WIB
Tempat: Grand Tjokro Hotel, Pekanbaru.

Untuk info dan pendaftaran hubungi:

Ummu Habib: 081268507774
Kak Lira: 081266804287
Ummu khansa: 085355488722
Alfi: 085274950854

Didukung Oleh :
Kampung SyaREA World
#Masyarakat Tanpa Riba
Taruna Stadthaus