MENGAKHIRI HIDUP HINA DALAM KUBANGAN RIBA​

157

By : Daniel Mohammad Rosyid #MTR 13 Surabaya

Merespons pelemahan Rupiah selama beberapa minggu terakhir Gubernur Bank Indonesia baru-baru ini menyalahkan riba sebagai penyebabnya. Segera harus dipahami bahwa riba tidak saja merusak ekonomi, tapi juga merusak akhlaq pelakunya, dan alam semesta serta memperbudak manusia. Soalnya adalah : apa yang bisa dilakukan untuk mengakhiri hidup hina berkubang riba ini ? Sementara ulama mengatakan bahwa riba dihalalkan dalam kondisi darurat. Kondisi darurat seharusnya bersifat sementara, tidak berlama-lama. Ini fatwa menyesatkan karena kondisi darurat ini justru disebabkan oleh praktek riba yang dibiarkan. Fatwa ini seperti menghalalkan pelacuran yang pasti menggerogoti pernikahan.

Riba melekat pada sistem keuangan global saat ini dan hutang adalah oksigen sistem ini. Hutang adalah instrumen perbudakan para ​bankster​ ( ​bankers​ sekaligus ​gangsters​) atas seluruh ummat manusia tidak peduli agama dan bangsanya. Ini bukan hanya soal bunga pinjaman, tapi juga soal uang kertas (uang kertas sejatinya juga surat hutang) serta berbagai surat hutang dan turunannya. Sejak konstitusi IMF menghalalkan uang kertas dan mengharamkan dinar (emas) sebagai alat tukar, dunia masuk kedalam jeratan riba yang memiskinkan hampir semua manusia di planet ini namun memperkaya segelintir ​bankster​ itu yang menguasai sistem keuangan global.

Sementara orang mengatakan bahwa kita miskin karena kita bermental korup, tidak produktif, malas dan kampungan. Seperti yang pernah dikatakan rekan saya James Wharram 20 tahun silam saat berkunjung ke ITS : ” ​Indonesians do the corruption in a disorganised way while we western peoples do it in a much more systematic and well organised way”​ yaitu melalui sistem keuangan ribawi. Dengan sistem ini, Bank Sentral AS yg sering disebut ​The Fed​, memonopoli dan dapat mencetak uang kertas US Dollar tanpa harus menambah cadangan emasnya ​out of thin air​ saja. Ini diperburuk lagi melalui sistem ​Fractional Reserve Banking​ sehingga manusia hidup dalam kubangan hutang yang jumlahnya melebihi jumlah uang yang beredar.

Perampokan terstrukstrur besar-besaran ini dilakukan terus oleh para ​banksters​ dan boneka-bonekanya di bebagai negara -dengan mengkadali Perserikatan Bangsa-Bangsa- menguras sumberdaya alam negara-negara miskin dan berkembang selama bertahun-tahun. Kemakmuran yang dinikmati negara-negara yang dengan congkak menyebut dirinya modern dan pejuang HAM ini dilakukan di atas penderitaan massal manusia terutama yang hidup di negara dunia ketiga. Bung Karno tahu persis laku nekolim ini lalu dengan berani menyatakan keluar dari PBB pada 1960an. Tidak lama kemudian dia dijatuhkan.

Kita perlu menuntut keras reformasi total PBB atau meniru langkah Bung Karno dulu dengan menyatakan keluar dari PBB, tidak terikat lagi dengan konstitusi IMF dan membentuk ​New Emerging Forces​ bersama India, China, Rusia, Turki dan Brazil serta Afrika Selatan. Iran, Pakistan, dan Malaysia mungkin perlu diajak turut serta. Perdagangan di antara anggota NEF ini ditransaksikan dalam emas/dinar atau komoditi lainnya seperti kurma, beras, gandum atau garam.

Saat Rupiah melemah terus karena riba dan Pemerintah RI makin mengandalkan pendapatannya dari hutang baru, Kita tunggu langkah Gubernur Bank Indonesia untuk memimpin perang melawan riba ini. Jika tidak berperang melawan riba, maka kitalah yang akan diperangi oleh Allah dan RasulNya dan kita tahu tidak mungkin menang.

Gunung Anyar Surabaya, 5/7/2018