Yuli Sidomampir
KSW #29 Jabodetabek

Ketika taubat riba hanya ingin hutang lunas.
Bisa jadi awal semua orang yang mengikuti berbagai acara motivasi atau seminar apapun dengan tema bebas riba karna hidupnya sudah kepentok sama yang namanya hutang beriba. Dengan kata lain, janji Allooh bahwa riba itu membuat pemakannya berdirinya kaya orang kesetanan, orang tersebut sudah sangat merasakan. Terhina di siang hari gelisah dimalam hari gegara selalu disatronin sama mas deci yang ga punya hati. Stress. Hidup segan matipun tak mau.

Berharap ketika mengikuti seminar atau apapun namanya dengan tema membebaskan hutang riba, bagaikan “magic” sesaat setelah keluar ruang seminar inginnya ada hal konkrit untuk semua masalah dia. Ga jarang ada yang berfikir ikut acara tersebut bakal ada orang yang mau bayarin hutangnya. Atau minimal mendapat solusi praktik untuk masalah hutangnya yang sekali tiup “hufffh” selesai masalahnya.

Terkadang, bisa jadi tidak banyak tapi ada ketika mereka menyatakan taubat riba hanya sekedar mengambil manfaat dari itu. Apa manfaatnya? . Yaitu terlepas dari hutang yang selama ini bikin puyeng. Selebihnya dari itu tidak.

Walhasil terlihat, mana orang yang memahami makna taubat dan tidak.

Layaknya orang yang telah melakukan dosa besar, lalu ia menyadarinya kemudian berazzam untuk menjadi hambaNYA yang baik maka apapun akan dilakukan untuk menebus dosanya. Allooh akan mampu dilihat sebagai Tuhan yang utuh. Tuhan yang mengurusi seluruh urusan hidupnya bukan hanya masalah hutang riba atau muamalah.

Lalu ketika taubatnya saja belum benar dilakukan tapi kemudian sudah dalam posisi menagih janji Allooh yang akan menolong hambanya yang bertaubat dan menganti semua pembuktian tobatnya dengan cash, kok rasanya gimana ya?.

Menurut saya, ini sih jadinya “songgong” sama Allooh.

Karnanya saya selalu salut dengan mereka yang berikrar taubat riba lalu buktikan taubat mereka tanpa kata tapi dan tanpa kata nanti.

Saya belajar banyak dari orang orang ini, meskipun belajarnya jarak jauh, silent learner. 😄

Mereka berani lepas kemelekatan mereka. Propertinya dijual murah. Udah ga mikir untung yang penting hutang berkurang bahkan lunas. Dalam hatinya, jual beli mereka dengan Allooh bukan manusia. Mereka ingin “membeli” perhatian Allooh hingga Allooh mau memperhatikan mereka. Jika Allooh sudah “peduli” apa sih yang ga mungkin.

Gaya hidup mereka rubah totalitas. Kehidupan sosialita yang menyeret mereka pada dosa, ditinggalkan. Hijrahnya ga cuma hijrah riba tapi totalitas. Semua aspek kehidupan mereka rubah. Demi apa? Demi ridho Alloh swt.

Mereka berusaha totalitas dengan membuat keluarga sefrekuensi. Istri diajak taubat. Anak anak diajak taubat. Visi misinya disamakan. Hidup mulia di dunia dan di akherat tanpa utang apalagi RIBA.

Meski ketika memutuskan hijrah bahkan untuk hidup standar normal saja tidak mampu, mereka bahagia. Keluarga mereka bahagia. Karna disitu mereka tau ada dosa yang hilang . Mereka hanya butuh sabar menunggu Allooh memberikan janjiNya.

Saya belajar dari mereka bagaimana jika melakukan kebaikan yang Allooh perintahkan ga usah mikir resiko. Gimana nanti. Biar Allooh yang urus. Yang penting luruskan niat dan benarkan amal. Selebihnya urusan Allooh.

Dan ketika Allooh “membeli (mengganti)” taubatan mereka, Allooh membayarnya cash bahkan lebih banyak dari yang dikira. Allooh ganti apa yang hilang lebih dari yang di minta. Setelah kesulitan ada kemudahan. Mereka sudah buktikan itu. 😊

Pak Kris Diantoro, pak Nau Hidayat, mbak Veggy Monarika, pak Muh Ramdhani Kaysinda, bu dokter ayu, dan masih banyak lagi adalah contoh orang orang yang faham taubat riba bukan hanya sekedar ingin hutang lunas. Mereka punya kesamaan cita cita “Mardhotillah”.

Keyakinan yang kuat akan ridho Allooh membuat mereka punya kesabaran yang tinggi menghadapi ujian hidupnya terutama menghadapi mas Deci pada saat itu. Ketika orang ketemu mas deci ketakutan, mereka malah hadapi dengan senyuman dan sabar dengan prosesnya.

Mereka tau, mereka punya Allooh. Allooh akan mudahkan jika prasangkanya baik. Keyakinan yang besar dan semakin besar kepada Allooh membuat mereka bukan tipe panikan apalagi baperan. Walhasil jadi keren karna bisa jadi ngopi bareng bahkan sholat bareng sama para penagih hutang itu. Saya sih ga aneh karna bagaimana pun mereka juga manusia yang punya hati dan kewajiban sama untuk ibadah kepada Allooh. Hanya butuh startegi dan kesabaran untuk menghadapinya. Keyakinan padaNya mempermudah urusannya.

Hasil yang indah. 😍😍

Hutang terlunasi tanpa konflik. Hidup bahagia dengan keluarga yang taat padaNya. Allooh ganti semua perjuangan dan pengorbanan taubatnya dengan kebahagiaan yang ga bisa dibeli oleh uang.

Saat ini selain sebagai menjadi pembisnis ulung, mereka punya orientasi lain dalam hidup. Yaitu dakwah. Sharing. Berbagi.

Setahu saya mereka menjadi orang orang yang haus ilmu akherat. Belajar kesana kemari. Setiap ustadz yang hanif diserap ilmunya. Mereka ingin buktikan bahwa mereka berubah pada Allooh swt, Tuhannya.Dan…itu keren 😊😊.

Dalam benak mereka selalu memikirkan ” apa yang bisa diberikan untuk umat.” Sesuatu yang dulu tidak pernah mereka fikirkan apalagi peduli. Tapi sekarang beliau beliau itu menjadi bagian dari “agent of change” untuk perubahan umat yang lebih baik.

Salute 😊😊😊🙏🙏
Saya bangga dan bersyukur mengenal orang orang hebat ini 😊

Pepet terus orang orang seperti beliau ini biar kecipratan kebaikan, ketularan semangat, kewarisi keahliannya berbisnis. Pasti banyak ilmu yang bisa “diperas” dari beliau beliau.😊😁 😉

But.. ketika taubat riba hanya sekedar ingin lunas, pasti bawaan “guruh musuh”. Ga sabaran. Dikit dikit ngeluh. Baper akut. Ga mau melepas kemelekatan. Bermental korban. Apalagi taubat total.

Mereka fikir dosanya hanya riba, hingga sisi hidup yang lain ga dirubah. Ga mau dirubah. Ga ada yang fundamental yang berubah. Ga mau belajar lebih. Ga mau usaha lebih. Mereka hanya memgambil hukum Allooh sebatas azas manfaat. Wajarlah jika Allooh tak memberi lebih.

Maka wajib introspeksi diri ketika kesempitan hidup itu tak kunjung pergi meski katanya sudah bertaubat. Bisa jadi taubatnya belom sungguh sungguh. Terlalu masih banyak kata “tapi” dan kata “nanti”. Tapi nanti gimana?. Trus kalo dijual kita pakai apa??…bla ..bla.

Saya belajar dari kisah orang orang hebat diatas, Bahwa kita hanya butuh membuktikan pada Allooh taubat kita secara totalitas. Sampai Allooh membuktikan janjiNya pada kita. Allooh tidak akan menzolimi hambaNya. Masalah sudah belum kita membuktikan bahwa kita pantas jadi hambaNya.

Terimakasih ya Allooh, Kau selalu dekatkan hamba dengan orang orang shaleh 😊😊😊

(( DARI ADMIN ))

Untuk kehidupan yang lebih damai dan penuh keberkahan, keberlimpahan… Segera ikuti Program dari SyaREA World terdekat, yaitu Workshop PLATFORM BISNIS TANPA RIBA (PBTR) yang Insya Alloh akan dilaksanakan kembali pada:

Hari : Senin – Rabu. (Tiga hari)
Tanggal : 29-31 Januari 2018
Waktu : 08.00 – 21.30. (Tidak menginap)
Tempat: The Darmawan Park, Sentul City Bogor.

SILAKAN DAFTARKAN DIRI, KELUARGA, TEAM DAN MITRA BISNIS ANDA KE 0811-18-18-39 SEKARANG JUGA YA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here