Sahabat Dengan AQIDAH yang sama

142

Hari ini saya dapat 2 (dua) postingan langsung dari penulisnya. Para penulis berada pada sisi yang berlawanan. Ketika di tempat penulis yang satu siang hari, di tempat lainnya malam hari. Kang Budi berada di Bandung dan Ustadz Shamsi di New York.

Saya tidak yakin kedua orang Sahabat saya ini saling kenal. Kendati demikian, karena aqidah yang sama, beliau-beliau ini menanggapi persoalan yang sama dengan pendapat yang sama.

Saya akan share kepada Warga tulisan-tulisan cerdas mereka. Namun sebaiknya Anda menyaksikan video ini terlebih dahulu.

????

Karena ternyata pembahasan pada video di ataslah yang menyatukan pemikiran mereka.

Berikut ini tulisan-tulisan mereka.
??

TIGA PENYEBAB ORANG KAFIR MEMIMPIN KAUM MUSLIMIN DI NEGERI MUSLIM

By Budi Purnomo, KSW #01
WA KSW 0811113139

Si hoax emang pinter, bikin statement penistaan agama saat isu pilkada mulai hangat. Sehingga siapapun yg mempersoalkan bisa langsung di cap sedang mempolitisasi. Walau sesungguhnya tdk ada hubungannya reaksi umat (yg paham ajaran agamanya) thd pernyataannya dg agenda politik..

Lebih konyol lagi, ketika orang yg mengingatkan haramnya memilih pemimpin kafir dianggap menggunakan isu sara. Padahal konteksnya sama dengan mengingat saudara seimannya utk tdk makan daging babi, tdk minum khamar, tdk berzinah krna sdh jelas2 diharamkan. Betul2 sama dg itu, tdk lebih tdk kurang!!

Kalo kita renungkan, ada 3 penyembab atau jalan sehingga orang kafir bisa menjadi pemimpin di negeri muslim (sesuatu yg diharamkan). Apa saja jalan/sebab itu? Yuk kita uraikan.

Penyebab 1 adalah adanya orang2 muslim yg memilihnya. Sebagai mayoritas, logikanya jika tdk ada kamu muslim yg memilih orang kafir sbg pemimpin/kepala daerah di daerah/negeri dg mayoritas penduduknya muslim, sebagus apapun program yg ditawarkan si kafir ini. Iya kan…?

Penyebab ke 2 yg memungkinkan kafaro menjadi pemimpin di wilayah muslim adalah adanya partai politik yg mencalonkannya. Dlm sistem politik yg berlaku di Indonesia saat ini, calon KDh/Presiden diajukan oleh parpol. Oleh karenanya, jika tdk parpol yg nyalonin si kafir, maka penyebab pertama tdk akan terjadi.. dan semakin ga mungkin si kafir jdi pemimpin kan…? Faktanya, justru ada parpol2 Islam (bahkan mengklaim sbg rumah besar umat Islam) yg justru mengajukan si kafir sbg calonnya. Entah, karena begitu besar atau menggiurkannya kepentingan/keuntungan yg ditawarkan shg pengurus parpol (yg harusnya sangat paham makna Al Quran) justru mengeyampingkan Al Quran?. Bahkan mereka menjustifikasi & mendorong umat utk melakukan sesuatu yg diharamkan dg memilih calon mereka c org kafir tadi???

Penyebab ke 3, nah ini yg jarang umat pikirkan sbg solusi dari kekisruhan ini. Penyebab pertama n kedua bisa ada karena kita “memilih” menggunakan sistem demokrasi yg kufur dan justru mencampakan sistem yg telah ditetapkan Alloh SWT kpd umat Islam agar menjadi umat terbaik.

Sistem demokrasi itu jelas2 bertentangan dg Aqidah. Lho??? Masa sih demokrasi melanggar aqidah??

Islam mewajibkan semua umatnya utk taat dan patuh kepada semua yg telah ditetapkan oleh Alloh dan Rasulnya. Melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Tanpa kecuali, tanpa pilah pilih. Artinya dalam menjalankan hidup dan kehidupan semua pengaturannya harus syariat Islam yg tertuang dlm Al Quran dan Hadish. Dg demikian kekuasaan tertinggi mutlak milik Alloh SWT, sehingga semua hukum yg diterapkan harus mengacu & dan tidak boleh bertentangan dg syariat Islam. Setuju kan? Atau ada yg ga setuju dg ketetapan ini? Kalo ada yg ga setuju -seperti yg sering ditanyakan oleh Uztad Samsul Arifin SBC – “lha sampeyan (muslim) terus mau diatur pake aturan mana/siapa?” Aneh bin lucu kan kalo kita selalu berdoa utk diwafatkan dlm keadaan chusnul khotimah tpi saat hidup emoh diatur oleh aturan (syariat) Islam??.

Lantas salah/jeleknya demokrasi dimana? Sampe2 dinyatakan bertentangan dg aqidah???? Coba pahami apa makna demokrasi? Siapa yg memegang kekuasaan tertinggi dlm demokrasi? Betul jawaban anda, seperti yg pernah kita pelajari di SMP mungkin SD, pemegang kekuasaan tertinggi dlm demokrasi adalah rakyat dan bukan Alloh SWT.

Dalam sistem democrazy ini maka hukum dibuat oleh (para wakil) rakyat “sesuai” keinginan rakyat (sebenarnya sih keinginan yg pya duit/cukong/pemodal alias kaum kapitalis). Sehingga sangat mungkin hukum2 yg dibuat ini tdk sesuai atau malah bertentangan dg syariat Islam. Contoh:
– UU Pornografi yg mengatur ttg pornografi. Pornografi kok diatur, seharusnya dilarang! Jdi seharusnya yg ada adalah UU Anti Pornografi!

– UU ttg minuman keras. Klo ada UU Anti narkoba, knp tdk ada UU Anti Miker?? Padahal jelas2 Miker diharamkan!!

– UU ttg Perbankan justru melegalkan sistem keuangan ribawi (yg haram n sangat besar dosanya) berlangsung secara masiv di negeri kita, bahkan pelaku besarnya adalah negara.

Klo mau ditelisik masih panjang daftar UU kita yg tdk sesuai dg syariah.. yg pada akhirnya akan mengakibatkan kita tdk bisa memeluk Islam secara kaffah…

Itulah buah dri sistem yg bernama demokrasi. Yg memang didesain lebih utk kepentingan cukong/kapitalis asing juga aseng utk bisa terus menjajah kita. Bermain dg system ini sesungguhnya hya ada 2 hasil yg bisa kita dapatkan, yaitu: kalah atau kalah…

Mau terima?? Kalo tdk mau, ya jangan ikutan main. Diam? Juga bukan pilihan!! Trus hrus bgm donk?? Berjuang dan berusahalah agara sistem yg menegakan syariah Islam bisa menjadi kehidupan dan penghidupan kita kembali…

Yok keluar dari comberan demokrasi dan berpindah ke kolam jernih bernama Islam yg in syaa Alloh akan menghantarkan kita kpd kesejahteraan dunia dan keselamatan akhirat.

Terinspirasi dri holaqoh mingguan yg dipandu uztad Nazar.

12 Oktober 2016
Budi Purnomo, KSW #01
Dan berikut ini tulisan Ustadz Shamsi Ali
Nusron Wahid antithesis NU
Imam Shamsi Ali*

Saya cukup terkejut dan sangat terusik dengan sikap Nusron di acara ILC TVOne semalam. Baik pada sikap pikirannya maupun sikap bahasa lisan dan tubuh (body language) menunjukkan kerendahan yang sangat. Ketidak mampuan seseorang menyampaikan pemikiran secara elok, walaupun seandainya benar, menunjukkan adanya sesuatu yang salah. Apalagi ketika pemikiran atau pemahaman itu memang, selain ignorant, arrogant, juga memang “blunder”.

Saya banyak tidak setuju dengan pola pikir kaum liberal. Karena liberalisme berbeda dengan logika dalam pemikiran. Logika itu sehat dan perlu. Tapi liberal bisa berarti ketidak inginan terikat dengan batas-batas keagamaan, bahkan yang disetujui sebagai batas fundamental sekalipun.

Saya sangat logis. Bahkan menganggap bahwa agama dan iman sekalipun itu memiliki basis logika yang kuat. Tapi tidak berarti batas-batas atau dalam bahasa agama “huduud” harus diinjak-injak atas nama logika. Karena selogis apapun pemikiran manusia, niscaya memiliki keterbatasan, bahkan cenderung menjadi perangkap kekeliruan. Oleh karenanya memang pada akhirnya, logika tetap harus dipergunakan pada batas-batas yang telah ditetap oleh ketetapan langit (wahyu).

Yusron tidak saja liberal. Tapi karakter yang mengekpresikan liberalisme dia dibangun di atas karakter yang tidak berakhlak. Kata-kata kasar, mimik wajah, mata terbelalak, dan jelas menampakkan emosi yang tidak terkontrol, semuanya menunjukkan siapa Yusron sesungguhnya.

Sejujurnya saya tidak terlalu kenal Yusron. Dan saya juga tidak terlalu ingin membuang energi, waktu dan pemikiran untuk membicarakannya. Karena sesungguhnya tidak terlalu bermutu untuk dibahas. Tapi dalam acara ILC itu terdapat beberapa hal yang sangat menggelitik, bahkan mengusik intelektualitas, bahkan sensitifitas iman saya.

Pertama, pernyataan bahwa yang berhak memahami Al-Quran adalah hanya Allah dan RasulNya. Pernyataan ini sangat paradoks dengan posisi keagamaan Nusron yang selau mengatakan bahwa teks-teks agama itu harus dengan logika. Bahkan yang menentukan kebenaran adalah logika manusia, seperti pada posisi dasar liberalisme.

Kedua, pernyataan di atas sejatinya bertentangan dengan tujuan dasar Al-Quran untuk dipahami oleh manusia: “inna anzalnaahu Qur’aanan Arabiyan la’allakuk ta’qiluun”. Intinya Al-Quran diturunkan untuk dipahami. Dan kalau hanya Allah dan RasulNya yang paham makna Al-Quran, untuk apa diturunkan kepada manusia? Apalagi jika memang Al-Qur’an itu ditujukan sebagai petunjuk (hudan linnas). Bisakah manusia menjadikannya sebagai manual hidup jika tidak memahaminya?

Ketiga, pernyataannya tentang pernyataan Ahok bahwa hanya Ahoklah yang paham. Nusron secara tidak langsung mengatakan semua orang harus menutup telinga dan mata dari sikap dan kata Ahok. Ada dua kemungkinan dalam hal ini. 1. Boleh jadi karena kebutaan dan ketulian Nusron menghendaki semua manusia buta dan tuli. Sehingga tidak perlu lagi atau berpura-pura tidak tahu lagi apa yang diucapkan oleh Ahok. 2. Boleh juga karena Yusron sudah menempatkan Ahok pada posisi Tuhan yang firmanNya absolut dan hanya dia yang paham.

Keempat, penampilan Yusron dengan mimik wajah yang emosional, kata-kata yang tidak terkontrol, nampaknya memang satu karakter dengan orang yang ingin dimenangkannya. Tampil dalam setting diskusi, apalagi disiarkan secara langsung le seluruh pelosok tanah air melalui televisi nasional, sangatlah tidak pantas dengan emosi yang tidak terkontrol. Biasanya sikap seperti itu sekaligus menjadi ukuran kedalaman ilmu dan kematangan kejiwaan seseorang.

Kelima, mungkin yang paling mengusik adalah sebagai kader NU (semoga benar) sikap Yusron adalah antithesis dari karakater NU yang tradisinya menghormati para ulama. Ketika Yusron berteriak-teriak menunjuk-nunjuk ulama, langsung atau tidak, maka dalam bahasa jalanan itu namanya “kurang ajar”.

Oleh karenanya semua pihak harus mencari cara agar Yusron ini tidak lagi mengulangi. Perbedaan pendapat okelah. Saya mendukung adanya perbedaan pendapat, termasuk dalam penafsiran teks-teks agama. Tapi hendaknya dilakukan pada batas-batas syar’i, dan yang lebih penting dibangun di atas dasar “khuluqi”.

Wallahu al-Muwaffiq ilaa aqwamit thoriq (penutup ala NU).

New York, 12 Oktober 2016
Shamsi Ali
* Presiden Nusantara Foundation & Muslim Foundation of America, Inc.
Bagaimana pendapat Warga semuanya? Please give us feedback. JazaakALLAAH